
Dalam keheningan malam yang syahdu. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang berdzikir dengan bahasa masing-masing. Semua insan tengah tenggelam dalam indahnya alam peraduan.
Fachri terbangun dengan nafas tersengal-sengal seperti habis lari cepat. Keringat membasahi anak rambut dikeningnya.
Berkali-kali kalimat istighfar ia ucapkan untuk menenangkan diri. Jam menunjukkan pukul 1.30, Fachri mengusap kasar wajahnya. Lalu mengangkat kedua tangannya
Allahumma inni a'uudzubika min 'amalisy syaithooni wa sayyi-aatil ahlaami
"Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syetan dan dari mimpi-mimpi yang buruk"
Pertanda apakah ini?
Fachri bertanya pada dirinya sendiri. Rasa khawatir mulai ia rasakan. Fachri melihat bayangan seorang gadis tengah dalam kesulitan, ia berusaha menolong tapi tak bisa. Kemudian ia hanya bisa melihat gadis itu menangis pilu sambil memeluk lututnya disebuah ruangan. Keadaanya sangat kacau, sesuatu yang buruk telah terjadi pada gadis itu.
Hati Fachri ikut menangis membayangkan keadaan gadis dalam mimpinya.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu. Tapi bukan dari pintu kamarnya.
Clara sedang mengetuk pintu kamar Randi. Penghuni kamar keluar dengan malasnya sambil menguap. Matanya pun terlihat merah tanda saat Clara mengetuk pintu ia sedang terlelap dalam tidurnya.
"Ada apa Non? Ini masih tengah malam." tanya Randi sambil terus menguap.
"Gue laper Rand. Bikinin gue makanan dong"
Pinta Clara.
Randi yang masih mengantuk melihat Fachri keluar dari kamar.
"Fachri tolong buatkan non Clara makanan. Aku ngantuk banget." Randi pun menutup pintu kamarnya.
Tanpa berkata apapun Fachri langsung menuju dapur. Sedangkan Clara menunggu dimeja makan sambil menyalakan Tv kecil yang ada disudut ruangan.
Fachri mencari bahan makanan yang bisa dia masak.
Tak butuh waktu lama Fachri sudah selesai. Lalu menyodorkan hasil masakannya pada Clara.
"Maaf Non saya hanya bisa membuat omelet sayur."
"Ok. Tak masalah yang penting bisa dimakan."
Fachri pergi kekamar mandi lalu menuju musholla yang ada dirumah besar itu. Fachri menunaikan shalat malam. Berdoa agar mimpinya tadi hanyalah bunga tidur semata. Berharap tak terjadi apa-apa dengan gadis yang muncul dimimpinya.
Setelah selesai makan Clara kembali kekamarnya. Melanjutkan tidur yang terusik karena rasa lapar.
****
"Non saya pinjam Hpnya sebentar?" pinta Fachri.
Clara pun memberikan Hpnya. Terlihat Fachri juga mengeluarkan Hp miliknya.
"Kalau ada apa-apa Non hubungi saya. Nomor sudah saya save disini." Fachri mengembalikan Hp Clara. " Dan jangan menonaktifkan GPS, agar saya bisa melacak posisi Non Clara. Kalau pulang lebih awal hubungi saya, jangan kemana-mana sampai saya datang." Tutur Fachri.
"Iya Fachri. Jangan khawatir gue nggak akan kabur lagi." ujar Clara.
"Bagus kalau begitu. Saya akan kekampus dulu. Setelah selesai saya langsung kesini lagi." Fachri masuk kemobil dan segera melaju.
"Sejak kapan Fachri jadi cerewet begini. Aneh." Gumam Clara.
__ADS_1
Ia pun segera menuju kekelasnya. Rasanya ia sangat merindukan sahabatnya. Sudah 1 minggu ia tidak sekolah. Disamping karena hari libur, ditambah ia sakit saat hari liburnya telah habis.
Saat Anin datang, Clara sangat bersemangat memeluk sahabatnya itu. Mereka bercengkrama sebentar hingga bel masuk berbunyi.
"Ra Lo di tunggu Aldi diruang musik tuch." tutur Samuel yang datang menghampiri Clara dan Anin.
"Iya gue kesana." Jawab Clara sambil merapikan bukunya.
"Kita kekantin yuk. . .!" ajak Samuel kepada Anin.
Belum sempat Anin menjawab, Clara sudah angkat bicara
"Udah jadian nich ceritanya. . .!"
"Masing digantung dipohon ciplukan gue Ra."
"Tenang Sam. Kagak bakalan mati juga."
"Mati lumutan sih iya Ra. . .!"
"Tinggal dilempar ke empang dong"
Anin pun mencubit pinggang Samuel, Lalu ia berlari keluar. Aksi kejar kejaran pun terjadi. Clara hanya menatap kedua sahabatnya heran. Sudah seperti Tom and Jerry saja.
Clara sendiri menemui Aldi keruang musik.
Mereka berdua bermain musik dan bernyanyi bersama. Aldi berencana mengajak Clara keluar nanti malam.
" Aku usahain dech Al. Soalnya harus mengelabuhi Fachri dulu biar bisa keluar." ujar Clara.
" Jam 7 malam aku tunggu didepan rumah. Kamu tinggal mikirin gimana bisa keluar dari gerbang."
Mereka menyudahi kegiatan karena bel masuk berbunyi.
Hari itu jam pelajaran sudah normal seperti biasanya. Sebelum pulang Aldi menghampiri Clara dan memberikan sebuah papper bag. Ia bilang itu untuk acara nanti malam.
Fachri sendiri sudah stand by diparkiran sekolah. Menunggu Clara yang belum juga muncul.
Saat dalam perjalanan pulang Fachri tampak diam. Sesekali ia melirik kearah gadis disampingnya yang sedang sibuk dengan Hp ditangannya.
Pikiran Fachri masih terbayang-bayang oleh mimpi buruk semalam. Entah kenapa ketakutan mulai hinggap didirinya. Sepertinya gadis itu telah masuk dalam bagian terbesar agenda hidup Fachri. Masuk dalam agenda orang yang akan ia jaga dengan segenap jiwa dan raganya.
Malam itu Clara pura-pura sibuk belajar dilantai bawah seperti biasa. Pulpen ditangannya menjadi bahan mainan, sesekali ia gigit ujung pulpen itu. Pikirannya sibuk mencari cara agar bisa keluar dari rumah.
"Ngerjain apaan sih Non? muka sampek kayak tisu kusut gitu." tegur Randi yang datang menghampiri.
"Nggak usah ngurusin gue. Lo sholat aja sana Fachri dah masuk mushola."
"Non juga harus siap-siap"
"iya ntar gue nyusul."
Clara merapikan bukunya. Lalu naik keatas, ia bersiap untuk pergi dengan mengenakan dress mini selutut pemberian Aldi.
Clara menuruni tangga sambil menenteng sepatunya. Mengendap endap seperti maling yang takut ketahuan.
Semua orang masih berada di Mushola, Clara keluar lewat pintu dapur. Dua satpam yang berjaga sedang asyik menonton pertandingan sepak bola. Sehingga tak menyadari ada Clara sedang berlari menuju gerbang.
__ADS_1
Saat mendengar suara gerbang dibuka barulah kedua satpam itu sadar ada orang yang keluar. Mereka berusaha mengejar tapi terlambat. Clara sudah masuk kedalam mobil Aldi dan meluncur dengan kecepatan tinggi.
"Gawat ini Randi. . .!" ujar salah satu satpam dengan nafas tersengal-sengal. Mendatangi Randi dan lainnya yang masih dimushola.
"Ada apa Mang Didin?" Tanya Randi yang ikut panik.
"Non Clara kabur. Ada mobil yang menjemputnya." Jawab satpam yang bernama Didin.
Fachri yang mendengar hal itu langsung bangkit dari duduknya. Ia bergegas kekamar mengganti sarungnya dengan celana panjang. Lalu segera meraih kunci mobil.
Randi juga segera mengikuti Fachri.
"Kita harus segera mencari Non Clara." ucap Fachri dengan nada serius.
"Kamu tenang aja Ri. Palingan Non Clara ketempat balapan."
"Kalau begitu kita kesana sekarang."
Fachri dan Randi mulai menyusuri jalanan malam yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan. Ketegangan tampak jelas diwajah Fachri. Berbeda dengan Randi yang lebih santai, karena ia sudah tahu kebiasaan Clara.
Disisi lain, Aldi dan Clara sudah sampai ditempat tujuan. Clara merasa tak nyaman dengan tempat itu. Kenapa Aldi membawanya ketempat berisik itu?
"Al kita ketempat lain saja. Aku tidak terbiasa dengan tempat seperti ini."
Clara mengeluh sambil memegang lengan Aldi yang membawanya berjalan melewati kerumunan orang-orang yang sedang berjoget. Suara musik terdengar sangat keras. Ditambah bau alkohol yang mulai menyeruak kehidungnya.
Membuat Clara sedikit merasa pusing.
"Tenang saja Ra. Ini Club milik Heru, Kita kesini merayakan ulang tahun Erik. Aku nggak enak datang sendiri. Makanya aku ajak kamu."
Ujar Aldi sambil celingukan mencari keberadaan temannya.
"Jangan lama-lama Al. Kita sebentar saja setelah itu cari tempat lain."
Clara hanya bisa mengikuti langkah Aldi.
Saat ini keduanya sudah bergabung dengan teman Aldi yang sudah berkumpul disebuah meja bundar. Mereka duduk berjajar melingkar. Minuman berbau alkohol memenuhi meja itu.
Sesekali Aldi juga ikut minum padahal Clara sudah melarangnya. Entah kenapa Aldi tampak beda malam itu. Bukan Aldi yang selama ini dikenal Clara. Teman-teman Aldi ternyata membawa pengaruh buruh bagi dirinya.
Clara pun mendapat ejekan dari teman Aldi karena tak mau ikut minum. Ia juga di paksa mencicipi minuman laknat tersebut. Clara menolak hingga orang yang memaksanya jatuh mengenai meja. Membuat semua berantakan.
Tanpa ia sangka Aldi menarik tangan Clara membawanya masuk kekamar yang ada disudut club. Heru dan Erik menyeringai senang, mereka sudah mengira apa yang akan dilakukan Aldi dalam keadaan setengah sadar.
Didalam kamar itu Aldi menghempaskan tubuh Clara keatas ranjang. Belum sempat Clara bangun Aldi sudah menindih tubuhnya. Mencengkeram erat kedua tangan Clara. Hingga gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.
Suara tangisan dan teriakan dari dalam kamar itu tak mampu mengalahkan kerasnya musik yang berdentam keras diluar.
Dalam keadaan yang tak pernah dibayangkan oleh dirinya, Clara memanggil nama Fachri. Berharap keajaiban membawa laki-laki itu datang menolong dirinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Ketika Takdir sudah memainkan perannya, apalah daya kita sebagai tokoh yang harus mengikuti alur cerita Nya
.