ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Simple


__ADS_3

"Astaghfirullahal 'adzim!" Fachri tersentak kaget saat tiba-tiba Clara sudah duduk dikursi sebelahnya.


Clara menatap Fachri sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.


"Hai!" ujar Clara sambil cengengesan lalu mengedipkan mata dengan ekspresi menggoda.


Hal itu membuat Fachri langsung memalingkan wajah, menghindari tatapan Clara. Kembali fokus dengan layar laptopnya.


"Balik lagi nih sifat cueknya, pengen gue remes wajah Lo Fachri biar lentur." Batin Clara


"Lo tersinggung sama ucapan gue tadi?" tanya Clara. Ia tak bisa lagi memendam rasa penasarannya.


"Tidak Non. Lagi pula yang Non katakan tadi benar adanya," jawab Fachri tanpa menatap lawan bicaranya. Menyibukkan diri dengan tugas yang ia kerjakan.


Clara pun tak tau harus bicara apa lagi. Kediaman Fachri membuatnya merasa bersalah.


"Kenapa perasaan gue jadi ribet kayak gini sih? Come on Clara, Lo sudah punya Aldi"


Clara mencoba menenangkan hatinya. Lagi-lagi ia harus berperang melawan perasaanya sendiri.


"Fachri, gue bosan," ucap Clara malas.


"Lalu?" ujar Fachri cuek.


"Ajakin jalan lah!"


"Tadi kan udah!" masih dengan nada datar. Membuat Clara kesal sendiri.


"PR nya tadi udah selesai?" sambung Fachri.


"Belum. Bantuin dong lagi seret otak gue!" pinta Clara.


"Ya sudah ayo, saya bantu."


Fachri menutup laptopnya lalu bangkit dan berjalan masuk diikuti oleh Clara.


Saat sudah didalam Fachri berbelok menuju kamarnya.


"Katanya mau bantu tapi kenapa malah kekamar," gumam Clara


Ia pun masih berdiri mematung menatap Fachri yang berlalu.


Tak lama Fachri sudah kembali dengan sesuatu ditangannya.


" Pakai ini Non!"


Fachri menyodorkan apa yang dibawanya pada Clara.


Clara mengamati benda yang ada ditangannya. Sebuah baju rompi panjang berwarna biru dengan lengan panjang.


Dengan wajah kesal Clara memakainya.


" Ini kita mau pergi kondangan Ri?"


"Maaf Non ini untuk menghindari agar saya tidak ternoda lagi," ucap Fachri kemudian menuju ketempat dimana tadi Clara belajar.


"Kalo ternoda bisa pake Rinso Fachri," ujar Clara kesal.


Sebegitu buruk kah dirinya dimata Fachri. Kenapa harus seribet ini berurusan dengan Fachri.


"Cieeeeee. . . " Randi tiba-tiba muncul. "Ada yang mau jadi Aisyah nie kayaknya?"


"Diem Lo Randi!" teriak Clara.


Randi pun langsung pergi setelah menggoda Clara. Sudah waktunya ia menjemput Tuan Steven.


Kemudian Clara menyusul Fachri. Ia pun duduk seperti tadi saat belajar dan bersebelahan dengan Fachri.


Laki-laki itu tampak mengamati buku pelajaran Clara, membuka satu persatu.

__ADS_1


"Tinggal matematika yang belum gue kerjain,"


ujar Clara membuka percakapan.


Lalu Fachri mulai memberi arahan tentang rumus yang belum di mengerti Clara.


Clara sendiri beberapa kali terkena pukulan pensil karena salah memasukkan rumus. Hal itu ternyata sengaja Clara lakukan untuk menarik perhatian Fachri.


Saat ini Clara berasa mempunyai guru privat. Sesekali ia juga tersenyum sendiri telah berhasil mengerjai Fachri dengan pura-pura tidak mengerti.


"Non tahu siapa penemu rumus pithagoras?" tanya Fachri. Setelah Clara menyelesaikan tugasnya.


"Semua juga tahu Fachri, penemunya yang bernama Pythagoras juga"


"Kalau bapak Al jabar?" pertanyaan Fachri terus berlanjut.


"Diophantus"


"Bapak geometri?"


"Ecluides"


"Kalau penulis Bismillah yang pertama kali?"


Pertanyaan Fachri kali ini tak bisa dijawab oleh Clara.


Kenapa dari matematika malah jadi Bismillah?


" Mana gue tahu Fachri?"


"Mangkanya Non belajar sejarah islam juga. Jangan hanya ilmu umum saja," ujar Fachri gemas.


"Terus yang nulis Bismillah pertama kali siapa?"


" Nabi Sulaiman As," awab Fachri singkat.


Clara merebahkan tubuhnya diatas ranjang, melepas penat. Meregangkan saraf otaknya yang sudah ia ajak bermain dengan berbagai rumus.


Lalu ia meraba baju yang tadi diberikan Fachri, membuat Clara senyum-senyum sendiri sambil mengeratkan baju itu ketubuhnya.


Ternyata memakai pakaian tertutup nyaman juga. Tak seperti bayangannya selama ini, pakaian seperti itu akan membuatnya gerah dan kepanasan.


Apakah karena itu pemberian dari Fachri?


Tapi tunggu dulu, dari mana Fachri mendapat pakaian itu? mengapa Fachri mempunyai pakaian perempuan? jangan-jangan itu pakaian pacarnya Fachri?


Clara kembali pada pikiran yang membuatnya pusing sendiri. Sejak kapan ia peduli pada urusan pribadi orang lain?


Tanpa terasa Clara sudah terbuai oleh indahnya alam peraduan. Rasa lelah membuatnya cepat terlelap.


*****


Sekitar pukul 3 sore, Steven dan Randi sudah pulang. Fachri dipanggil keruang kerja Steven. Ada pembangunan proyek yang membutuhkan campur tangan Fachri. Untuk 2 hari kedepan ia akan bertukar tugas dengan Randi.


Hari sudah menjelang senja. Randi menghampiri kamar Clara, karena gadis itu tak kunjung turun juga.


"Bangun Non!" Randi mengguncang tubuh Clara.


"Nggak sopan banget sih Lo sama majikan," gerutu Clara sambil membuka mata. Mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.


"Sudah sore ini Non. Langit senja sudah menanti kehadiran ocehan sang putri."


"Bahasa Lo Rand. Tumben!" Clara pun bangun dan duduk. Dilihatnya langit sudah mulai jingga, tampak jelas dari dinding kaca dihadapannya.


"Non harus siap-siap nanti habis maghrib Tuan mengizinkan kita jalan-jalan," ujar Randi lalu keluar dari kamar.


Clara masih duduk diam mencerna kata-kata Randi. "Jalan-jalan" rasanya Clara sangat senang ayahnya mengizinkan keluar malam minggu. Dengan riang ia bangkit dari duduk dan menuju kamar mandi.


Lalu Clara memilih baju yang sekiranya tidak membuat Fachri istighfar. Tapi ternyata semua bajunya berukuran minim. Akhirnya Clara memakai kaos dan celana jins, lalu memakai baju rompi pemberian Fachri. Clara bercermin sambil menguncir kuda rambutnya dan merapikan poni.

__ADS_1


Dengan riang Clara menuruni setiap anak tangga.


"Wah putri Daddy cantik sekali!" puji Steven saat melihat putrinya yang tampak beda hari ini.


"Cantiklah Dad. Kan putrinya Daddy." Clara memeluk ayahnya dengan erat.


"Sudah, kamu berangkat sana." Steven mengusap rambut Clara penuh kasih sayang. "Randi dan Fachri sudah menunggu didepan," lanjutnya.


Fachri tampak terkejut Clara mau memakai baju yang ia berikan tadi sore. Gadis itu tampak lebih anggun.


Mereka bertiga pun berangkat, mendatangi Mall dan pasar malam bermain dengan suka ria. Membeli apa yang Clara suka, mulai dari makanan dan barang yang menarik baginya.


Malam itu yang paling heboh adalah Clara dan Randi, Fachri masih tampak canggung. Dirinya tak pernah bermain-main. Sebagian besar waktunya ia gunakan untuk belajar dan bekerja.


Sedangkan Randi dan Clara sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Hingga hubungan mereka seperti kakak dan adik.


Tempat terakhir yang mereka datangi adalah sebuah taman. Clara dan Fachri duduk diatas hamparan rumput hijau dan pohon bunga disekelilingnya. Berhias kerlap kerlip lampu kecil.


Sedangkan Randi sedang membeli minum dan makanan ringan.


"Fachri!" panggil Clara.


"Iya Non."


"Menurut Lo bahagia yang simple itu gimana?"


"Kenapa Non tanya itu. Apakah Non selama tidak bahagia?" tanya Fachri tanpa menatap Clara.


"Bahagia, gue bahagia selama ini. Dengan segala kemewahan yang daddy beri, gue merasa bahagia, walau tak sepenuhnya itu bisa membeli kebahagian yang gue inginkan. Tapi setidaknya gue lebih beruntung dari pada mereka yang hidup pas-pasan."


" Non memang lebih beruntung dari segi materi. Tapi kebahagian orang tak bisa diukur dari materi."


"Karena itu gue pengen tahu bahagia menurut Lo yang simple dan sederhana itu gimana?"


"Bahagia yang simple itu bisa saja Non, tapi sesimple pula apa yang dirasakannya. Proses hidup inilah bisa disebut bahagia. Bagai berjalan dengan 2 kaki yang melangkah beriringan namun tak serempak. Selalu ada suka duka yang mengiringi setiap proses kebahagiaan. Tanyakan pada hati Non sendiri bahagia yang bagaimana yang ia inginkan. Karena tingkat kebahagian setiap orang berbeda."


"Kalau mau bahagia terus bagaimana Ri?"


Pertanyaan itu terdengar konyol, bisa-bisanya Clara melontarkan pertanyaan yang tak masuk akal. Mana ada orang yang bisa bahagia terus. Pasti ada duka yang mengiringi setiap kebahagiaan.


Fachri pun tersenyum mendengar pertanyaan gadis disampingnya.


"Kalau mau bahagia terus ya jadi Pocong aja Non. Kan jalannya dua kaki bersamaan."


Clara jadi ikutan tertawa, Pertanyaan konyolnya dijawab dengan jawaban yang sama konyolnya.


"Begini nih kalo dua orang pinter ngobrol, jadinya somplak," sahut Randi yang entah sejak kapan sudah kembali.


Randi menaruh kantong kresek berukuran sedang dihadapan mereka.


"Lo tuch datang-datang langsung nyaut aja," omel Clara.


Malam semakin menunjukkan keanggunannya. Udara dingin mulai menyeruak menembus pori-pori kehidupan malam. Masih banyak muda mudi yang bertahan dalam dinginnya malam.


Ketiga insan yang sudah menghabiskan waktu bersenang-senangnya, kini mereka melangkahkan kaki meninggalkan taman dan keindahan malam. Clara mengalungkan tangannya di pundak Randi, berjalan sambil diiringi bercanda dan tawa kecil dari keduanya. Fachri hanya bisa menatap keakraban Randi dan Clara. Ikut merasakan kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang sederhana.


.


.


.


.


Real happiness is so simple that most people do not recognize it


Halo readers !


Semoga kalian selalu diberi kebahagiaan dalam menapaki setiap langkah kehidupan ini. . . Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2