
Pagi itu Clara dan Fachri hampir telat bangun. Mereka berdua segera berwudlu untuk sholat shubuh. Untung saja matahari belum waktunya terbit. Jadi, masih ada kesempatan untuk sholat.
Gara-gara semalam begadang, mereka berdua tak mendengar saat alarm berbunyi. Padahal rencananya mereka akan jogging dipagi buta seperti biasa.
Mereka pun memutuskan untuk lari pagi sebentar sebagai pemanasan. Randi juga ikut serta.
"Sekarang kita akan belajar pernafasan," ujar Fachri setelah melakukan pemanasan untuk meminimalisir cedera otot.
"Siap Bos!" ucap Clara dan Randi serentak.
Fachri memberi intruksi agar keduanya duduk bersila. Ia juga ikut duduk memberikan contoh.
"Tarik nafas perlahan dari hidung lalu keluarkan dari mulut. Kemudian tahan nafas selama sepuluh hitungan."
Mereka melakukan hal itu beberapa kali.
"Sekarang tarik nafas dan tahan selama dua puluh lima detik," ucap Fachri lagi memberi intruksi. Ia berdiri sambil menghitung. Baru saja sampai hitungan ke dua puluh Randi sudah terengah-engah tak kuat menahan nafas.
"Aku mau pingsan Ri." Randi menumbangkan tubuhnya kelantai.
Clara masih bisa menahan nafas sampai hitungan kedua lima. Tapi kemudian ia juga ikut limbung disamping Randi.
"Kalian harus berlatih lagi dalam pernafasan. Ini baru dua puluh lima detik. Belum satu menit."
"Gila aja Ri nahan nafas satu menit. Bisa langsung berangkat kerahmatullah kita," ujar Randi.
"Lo aja Rand yang berangkat. Gue belum cukup bekal," sahut Clara.
Fachri meminta keduanya terus mencoba sampai bisa dan terbiasa menahan nafas. Tentunya Fachri melakukan dengan perlahan dan memberi jeda untuk istirahat.
"Bagaimana? kalian masih sanggup melanjutkan latihan?" tanya Fachri.
"Sanggup!" jawab keduanya masih bersemangat.
"Ok. Sekarang kalian ambil posisi seperti Yoga."
"Kamu tahu Ri kepanjangan Yoga?" tanya Randi berniat mengajak bercanda.
"Yo gak ngerti," jawab Fachri.
"Kok tau sih Ri. Gagal dong tebakanku."
"Temanku ada yang dari Solo Rand. Jadi sedikit tau tentang bahasa jawa." Fachri mengambil posisi duduk bersila seperti yoga.
Clara dan Randi juga mengambil posisi yang sama.
"Sekarang pusatkan pikiran kalian pada satu titik. Lakukan konsentrasi penuh. Kosongkan pikiran. Lepas semua beban. Ingat konsentrasi!" Fachri memberi penekanan pada ucapan terakhir.
Mereka bertiga memejamkan mata dan mengikuti intruksi Fachri. Beberapa kali Randi melirik kearah Clara. Ia hendak mengatakan sesuatu.
"Konsentrasi Rand. Jangan celingukan!" tegur Fachri dengan mata masih terpejam.
Randi langsung memejamkan matanya kembali.
Setelah lima belas menit, Fachri mengakhiri latihan. Mereka beristirahat sejenak. Kemudian membersihkan diri.
****
Saat turun dari tangga, Clara mendapati Ayahnya masih ada dimeja makan sambil membaca koran. Ia dengan riang memeluk Ayahnya dari belakang.
"Daddy!" panggil Clara dengan mengalungkan dua lengannya dileher Sang Ayah dari belakang. Lalu bergelayut manja sejenak.
"Anak manis!" Steven mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang. Clara menghadiahi kecupan dikedua pipi Steven.
Kemudian menarik satu kursi dan duduk disampaing Ayahnya. "Tumben Daddy masih dirumah jam segini?" tanyanya.
"Daddy kangen sama kamu. Jadi, hari ini Daddy ingin menghabiskan waktu bersama kamu."
"Lalu kerjaan kantor gimana Dad?" Clara meraih gelas berisi air putih lalu meminum sampai habis. Ia kehausan karena latihan tadi.
"Kan ada Andi yang bisa menghandle semuanya. Lagi pula Daddy tidak terlalu sibuk." Steven masih melanjutkan membaca korannya.
"Oh ya, bagaimana jalan-jalan kemarin bersama Fachri dan Randi?"
"Asyik sih Dad. Fachri banyak memberi pelajaran sambil langsung praktek. Clara jadi heran."
"Heran kenapa? Kamu kan memang belum mengenal dekat Fachri. Perlahan kamu pasti bisa mengenalnya. Biarkan waktu yang akan menunjukkan siapa sebenarnya suami kamu itu."
"Fachri penuh misteri Dad. Kemarin waktu dikampus aja teman-temannya ngomong pake bahasa arab. Fachri juga gitu, malah dia disuruh ngajar juga. Fachri kan mahasiswa arsitektur," ujar Clara sambil mengenang kejadian waktu dikampus.
Steven hanya tertawa ringan mendengar keluhan putrinya. "Itulah kehebatan Fachri. Kuliahnya apa. Ngajarnya juga apa."
Clara tak lagi bertanya ketika melihat Fachri sudah berjalan kearahnya.
"Pagi Ayah!" sapa Fachri.
"Pagi Fachri!"
Mereka bertiga sudah berkumpul. Bik Nani juga sudah selesai menyiapkan sarapan. Acara sarapan pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya karena keluarga kecil itu berkumpul.
"Ayah, setelah ini Fachri ingin mengajak Clara berkunjung kemakam mama dan papa," ucap Fachri setelah selesai sarapan.
"Sekalian ayah ikut kalian. Ayah juga sudah lama tidak berkunjung kemakam sahabat ayah."
"Makam sahabat Daddy ditempat yang sama dengan makam orang tua Fachri?" tanya Clara.
"Iya Sayang."
Saat tangan Clara meraih gelas minum, Fachri melihat ada memar disana. Hal itu langsung menarik perhatian Fachri. Padahal dia tidak pernah menyakiti gadis itu.
"Lengan kamu kenapa Ra? Kenapa bisa seperti ini?" Fachri meraih lengan Clara untuk memeriksanya. Ada beberapa memar yang terlihat. Warnanya sudah membiru.
Clara terlihat biasa saja. Sebenarnya dia tidak merasa kesakitan, memar dikulit langsatnya baru saja ia ketahui saat Fachri bertanya. "Ini tidak apa-apa Ri, sudah biasa kayak gini."
"Tidak apa-apa bagaimana Ra. Kamu habis jatuh?" Fachri terlihat khawatir dengan luka istrinya.
Steven hanya diam memperhatikan keduanya. Ia tahu luka Clara seperti itu hal yang biasa. Jadi, tak perlu ada yang dikhawatirkan.
__ADS_1
"Iya aku jatuh Fachri. Jatuh cinta sama kamu," ujar Clara sambil tersenyum.
Steven pun juga ikut tersenyum. Putrinya memang suka bercanda.
"Aku bertanya serius Clara."
"Aku jawabnya juga serius." Mereka saling bersitatap sebentar, saling diam.
"Lukaku ini hal biasa Fachri. Lama-lama juga hilang memarnya."
"Maksudnya?"
"Kulitku memang seperti ini kalau kecapean. Suka muncul memar tanpa aku duga. Seperti kamu yang tak terduga. Susah ditebak orangnya." Clara menopang dagu dengan satu tangan menatap Fachri sambil cengar-cengir.
Yang ditatap tampak gemas-gemas kesal. Kekhawatirannya malah dibalas dengan candaan oleh Clara.
"Kamu tenang saja Ri. Itu hal biasa. Kulit Clara memang begitu kalau dia kelelahan. Nanti kita mampir ketempat dokter Revan untuk periksa. Jangan khawatir!" Steven bangkit dari duduknya lalu menepuk bahu Fachri.
"Kamu kayak gini gara-gara latihan yang aku beri?" Fachri bertanya dengan gurat penyesalan dalam nada bicaranya.
"Enggak Fachri. Aku justru seneng kamu mau ngajari aku ilmu beladiri. Itu keinginanku sejak dulu,"
"Tapi kulit kamu memar-memar seperti ini Shafa. Aku tidak tega lihat kamu kesakitan."
"Masih ingat saja ya kalau berdua panggil Shafa. Tadi aja didepan daddy panggil Clara."
"Shafa" Memanggil dengan penuh penekanan.
"Iya-iya Fachri. Aku beneran tidak apa-apa. Ini tidak terlalu sakit. Hanya nyeri sedikit." Clara menekan memarnya sendiri. Menunjukkan pada Fachri bahwa ia baik-baik saja.
"Baiklah! Sekarang kita berangkat. Ayah sudah ada didepan."
"Ok. Aku keatas dulu ambil rompi sama selendang dari kamu kemarin." Clara pun segera menaiki tangga.
Fachri hanya mengulas senyum tipis dibibirnya. Clara memang hanya memakai kaos santai lengan pendek dan celana jins.
Ia pun berjalan keteras, berbincang dengan ayah mertuanya mengenai pekerjaan.
Tak lama kemudian, Clara sudah keluar dengan rompi muslimah berwarna biru dan juga selendang biru yang menutupi kepalanya.
"Ra, kamu ajak Randi agar ikut bersama kita!" perintah Steven.
Clara pun masuk kembali memanggil Randi.
Mereka berempat segera berangkat menuju pemakaman yang lumayan jauh.
***
Dimakam kedua orang tuanya, Fachri membacakan Surat Yaasiin dan Tahlil. Begitu juga dimakam sahabat Steven, yang tak lain adalah makam orang tua kandung Clara.
Hanya Clara yang tak mengetahui itu adalah makam kedua orang tuanya. Semua memang masih disembunyikan oleh Steven. Belum saatnya Clara tau siapa dirinya.
Setelah dari makam, mereka kerumah sakit tempat Revan bekerja. Steven sudah memberi tahu bahwa mereka akan datang.
"Clara tidak apa-apa. Ini kadang memang terjadi karena kelelahan. Ada peredaran darah yang tidak lancar pada titik tertentu." Dokter Revan memberi sedikit penjelasan. Sebelumnya, Clara juga pernah mengalami hal itu. Jadi, dokter Revan sudah tahu bagaimana kondisi Clara yang memang tidak mengalami hal yang serius.
"Aku bilang apa Ri. Ini hal yang biasa. Tak perlu khawatir," sahut Clara yang sudah duduk disamping suaminya.
"Itu artinya Fachri sangat menyayangimu Clara." Dokter Revan menimpali.
Fachri tak menanggapi ucapan dokter Revan. Ia pun pamit. Menggandeng tangan Clara keluar dari ruangan.
Kemudian mereka langsung pulang. Fachri ingin Clara beristirahat saja dirumah. Walaupun gadis itu merengek ingin jalan-jalan, Fachri tak mengizinkannya.
****
Didalam kamar, Fachri membantu Clara mengoles salep yang diberikan oleh dokter Revan.
Clara juga sudah berganti dengan pakaian santainya.
"Fachri, keluarlah sebentar! Aku harus mengoles salep dibagian lain," ucap Clara.
"Dibagian mana? biar aku lihat seberapa parah memarmu," pinta Fachri.
"Aku malu Fachri, biar aku sendiri yang mengoles. Kamu keluar saja." Clara mendorong tubuh Fachri agar beranjak dari tempat tidur. Tapi tubuh Fachri tak bergeser sedikit pun.
"Aku kan suamimu. Kenapa harus malu."
"Pokoknya aku malu. Kamu keluarlah sebentar!" pinta Clara sekali lagi.
Belum sempat Fachri berkata, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari wali kelas Clara. Fachri beranjak menuju balkon untuk menerima panggilan.
Dengan cepat, Clara mengoleskan salep pada bagian yang tidak ingin dilihat oleh Fachri.
"Mana bagian yang harus dioles lagi?" tanya Fachri saat sudah kembali.
"Sudah selesai," jawab Clara singkat.
Fachri memberi tatapan menelisik. Membuat Clara agak kikuk sendiri.
"Kau mau aku membuka bajumu atau kau tunjukkan luka memarmu yang kau sembunyikan?" ancam Fachri.
"Dasar Fachri majnun!" Clara mengeratkan selimut ketubuhnya.
"Kau lebih suka aku membuka bajumu Shafa." Fachri semakin mendekat, merangkak naik keatas tempat tidur.
"No Fachri. No!" Suara Clara meninggi.
"Aku hanya ingin memastikan istriku baik-baik saja." Fachri sudah memegang kuat bahu Clara.
"Baiklah akan aku tunjukkan." Clara menyerah. Ia menyingkirkan selimut dan perlahan menaikkan keatas celana selutut yang ia kenakan. Menunjukkan luka memar yang ada dipahanya.
"Begitu saja kau malu menunjukkan padaku," gumam Fachri. Tapi Clara masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Fachri katakan.
"Tadi siapa yang menelpon?" Clara mengalihkan pembahasan.
"Wali kelas kamu. Besok waktunya ambil raport."
__ADS_1
Clara hanya ber "oh" menanggapi jawaban Fachri. Setelah pengambilan Raport ia akan dapat libur panjang.
Fachri menyuruh Clara tidur siang. Ia sendiri pergi keruang kerja Steven untuk membahas beberapa pekerjaan. Fachri harus bekerja dari rumah karena perhatiannya harus lebih fokus pada Clara.
Siang itu juga ada kurir yang mengantar paket atas nama Clara. Satpam yang menerima paket itu, memberikan pada Fachri. Kebetulan pembahasannya dengan Steven juga sudah selesai. Jadi, Fachri membawa paket itu kekamar.
Ternyata Clara tidak tidur, ia hanya tiduran sambil bermain game dilaptopnya.
Fachri memberikan paket yang ia bawa. Clara menerima dengan wajah sumringah. Ketika Clara membuka isinya. Ternyata itu adalah dua buah buku dengan sampul foto mereka berdua yang bertuliskan "Zahra Akbar".
Fachri tersenyum gemas dan kemudian mengajak Clara tidur siang sebentar.
***
Sore itu langit senja tampak begitu menyilaukan mata. Clara yang sudah rapi setelah mandi, tak menyia-nyiakan kesempatan menikmati langit jingga favoritnya.
Fachri juga ikut berdiri disana. Memandang wajah istrinya yang terpejam dibawah langit jingga. Clara yang menyadari kedatangan Fachri, membuka mata. Lalu ia mempunyai sebuah ide. Diambilnya dua buku Zahra Akbar dan dua pulpen.
"Fachri, sekarang kamu tulis sesuatu disini. Nanti aku juga akan menulis sesuatu setelah membaca tulisanmu."
Kini mereka berdua sudah duduk dibangku yang ada dibalkon.
Fachri meraih buku dari tangan Clara dan menulis sesuatu.
*Shafa Fikriatuz Zahra. . .
Namamu yang indah telah tertulis dalam lembaran kisahku
Dirimu bersinar seperti cahaya bulan dalam gelapnya malam
Sinarmu telah menembus kegelapan hatiku
Kau berikan cahaya cinta yang begitu terang
Senyumanmu. . .
Laksana angin sepoi-sepoi yang meruntuhkan ranting kesedihan
Mematahkan sayap-sayap kehampaan hatiku
Menerbangkan duka laraku menjadi bayangan indah
Menyemaikan benih kerinduan dalam taman cinta
Shafa Fikriatuz Zahra. . .
Kau seperti bunga yang tumbuh berseri dipadang pasir
Kau seperti sumur Mahabbah dalam gersanganya kemarau hati
Kau adalah pemuas dahaga musafir cinta
Dan kau kini adalah kidung asmaraku*
Clara membaca untaian kata dari Fachri dengan seksama. Ada bunga bermekaran dalam hatinya. Ia pun mencoba membalas tulisan Fachri.
*Fachri Maulana Akbar. . .
Jika namaku tertulis indah dalam lembaran kisahmu
Maka, namamu telah terpatri dalam hatiku
Jika aku adalah cahaya bulan
Maka, kau adalah pelita dalam hidupku
Engkau adalah jawaban atas doaku dibawah langit jingga
Lukisan wajahmu berpadu dengan keindahannya
Engkau telah menanamkan Lathifatul Qolbi dalam dadaku
Engkau begitu bercahaya
Hingga aku terbuai dalam kilaunya
Fachri Maulana Akbar. . .
Ketika aku menjadi bunga padang pasir
Maka, kau menjadi hujan dalam kemaraunya jiwaku
Ketika aku menjadi sumur cintamu
Maka, kau penuntunku dalam samudera Haibah pada Ilahi
Kaulah penghias ruang kosong lembaran hati
Dan aku adalah dirimu
Dirimu adalah aku*
Clara menyerahkan tulisannya pada Fachri. Mata laki-laki itu terlihat berkaca-kaca dengan goresan pena istrinya.
Dan dibawah langit jingga, mereka saling menuangkan isi hati dengan bahasa cinta.
Meski tak terucap tapi goresan pena telah membantu mengungkapkan. Pena pun tak akan mampu menguraikan bahasa hati dengan sempurna. Karena cinta pun tak mudah untuk diungkapkan.
.
.
.
.
Thanks untuk partisipasi kalian!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!