ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Hal Baru


__ADS_3

Setelah bangun dari tidur sore itu, Shafa turun kebawah. Menghampiri bik Nani yang sedang sibuk memasak untuk makan malam.


"Aku bantuin ya Bik!" ujar Shafa.


"Tidak usah Non. Bibik saja yang masak. Non istirahat saja."


"Shafa pengen belajar masak Bik. Udah segede gini Shafa belum bisa masak," ujar Shafa. Membuat Bik Nani terkekeh. Karena selama ini Shafa memang tak pernah menyentuh peralatan dapur. Bik Nani sangat telaten menghadapi putri majikannya itu. Dengan sabar Bik Nani memberi tahu Shafa macam-macam bumbu dapur dan kegunaannya. Begitu juga dengan peralatan dapur. Rasa haru menyelimuti hati wanita paruhbaya yang dari dulu telah membesarkan gadis yang berada disampingnya saat ini. Mereka berdua pun memasak bersama.


Setelah selesai memasak, Shafa membersihkan diri dan bersiap menanti waktu maghrib. Ia duduk disofa kamar sambil mengotak atik laptop. Ada sesuatu yang harus ia siapkan.


Termasuk rencana tempat kuliah yang akan menjadi pilihannya. Semua harus ia diplanning dengan matang dalam waktu sepuluh hari kedepan.


Shafa berhenti dari aktifitasnya saat mendengar notif Whatsapp dari ponsel miliknya. Ia mengerutkan dahi saat mengetahui si pengirim pesan yang ia beri nama Mr.Alay.


Mr.Alay: Assalamu'alaikum My Ara! How are you in this beautiful day?


Shafa tersenyum sumringah. Setelah sekian lama sahabatnya itu tak pernah mengirim pesan, baru kali ini ada pesan lagi yang sampai keponselnya.


Shafa: Wa'alaikumsalam! Yes, I am fine. How about you?


Mr.Alay: I'm fine and always fine. I am strong boy.🐼


Shafa: Kenapa strong boy muka panda begitu?


Mr.Alay: Lagi nahan kentut, jadinya muka panda kayak gitu.


Shafa: 😅😅😅 Kayaknya tuch pantat perlu dibawa ke ketok magic biar normal.


Mr.Alay: Dibawa kekamu aja


Shafa: Iiiihhhh... nggak mau aku sama orang jorok kayak kamu.


Mr.Alay: Eh, tunggu dulu! Sejak kapan manggilnya berubah jadi " aku, kamu"? Apa selama setahun belakangan kamu udah insyaf jadi cewek yang dulu petakilan dan sekarang jadi cewek yang anggun?


Shafa: Dikira kucing kali ya petakilan!


Mr.Alay: Kalau kucingnya imut kayak kamu, abang mau kok ngerawat dengan sepenuh hati dan dengan segenap jiwa raga abang. Bahkan mati pun abang rela demi eneng.


Shafa: Mulai dech alaynya! Eneng nggak mempan abang gombalin kayak begitu. Gombalin aja tuch pacar kamu.


Mr.Alay: Dia udah tiap hari dapat gombalan. Sampai bosen mungkin.


Shafa: By the way, udah maghrib. Lanjut nanti aja ya. Bye....


Mr.Alay: Ok! Don't forget, a little pray for me. Call my name if you need me. I will be always in your heart, in your mine and in your fate.

__ADS_1


Shafa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis setelah membaca pesan terakhir dari orang yang ia anggap sebagai sahabatnya. Bisa-bisanya pemuda itu mengirim pesan seperti itu.


Dasar alay! Setahun nggak pernah kontek udah semakin gila aja nih anak. Kalau Anin tau bisa habis kamu Sam. Gumam Shafa.


Ia pun segera menuju mushola dilantai bawah untuk sholat berjama'ah. Ternyata Steven sudah pulang dari kantor dan sudah rapi dengan baju koko.


"Daddy tumben sudah pulang?" Shafa menyapa ayahnya dengan binar kebahagiaan yang tampak jelas diraut wajah cantiknya. Jemari lentiknya meraih tangan kokoh sang ayah, kemudian menciumnya.


Steven membalas dengan usapan lembut dikepala putrinya yang berbalut mukena, senyum bahagia juga tersungging dari bibir pria yang masih terlihat tampan diusianya yang menginjak kepala empat.


"Pekerjaan Daddy tidak terlalu banyak hari ini. Jadi, Daddy bisa pulang cepat," ujar Steven.


"Shafa seneng kalau Daddy punya waktu lebih banyak dirumah."


"Daddy juga senang bisa punya waktu untuk princess Daddy yang satu ini." Steven mencubit gemas hidung Shafa.


Mereka pun segera sholat berjamaah setelah semua orang berkumpul. Shafa sendiri merasa ada yang hilang. Biasanya Fachri yang menjadi imam. Melantunkan kalam yang bisa menyejukkan hati pendengarnya. Namun hal itu kini hanya menjadi kenangan saja. Tak akan ada lagi suasana seperti dulu. Kini Steven yang menjadi imam setelah kepergian Fachri.


Tak terasa Shafa menitikkan air mata tanpa terisak dalam sholatnya. Dia hanya manusia lemah yang masih terikat dengan duniawi. Menangis pun adalah hakikat manusia yang memang punya air mata. Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, membuat ia tak berdaya. Bahkan membuatnya hampir hilang akal dengan mencoba mengakhiri hidup. Dia pun hanya insan dhoif yang membutuhkan pengampunan tuhan atas kesalahannya yang telah lalu.


Sekembalinya Shafa kekamar, ia membaca kalam tuhan dengan berderai air mata. Ingatannya masih terperangkap dengan kenangan bersama Fachri. Baru beberapa ayat yang terlantunkan, Shafa sudah tak sanggup melanjutkan. Air matanya keluar tanpa diminta. Sungguh hatinya masih belum bisa menepis kenangan bersama laki-laki yang sudah menghanyutkannya dalam kalam cinta.


Bagaimana tidak? Setiap kalam yang Fachri lantunkan mampu membawa jiwanya melayang menembus dunia yang penuh dengan kenyamanan. Mampu menyembuhkan jiwanya yang sempat terluka. Mengganti lukanya dengan sesuatu yang penuh cinta. Tapi kini, jiwanya seolah terhempas kembali kedasar jurang kehampaan. Membuatnya terpuruk untuk yang kedua kali. Entah siapa kali ini yang mampu mengentaskannya dari keterpurukan? Hanya masa depan yang akan memberinya jawaban.


Shafa tersadar dari tangisannya saat terdengar ketukan pintu dan suara Randi yang meminta izin masuk. Ia pun mengizinkannya.


"Nangis lagi... nangis lagi. Terus aja nangis ampe nih kamar banjir bandang. Sampai mata Non jadi mata badak," ucap Randi.


"Apaan sih lo Rand? Gue masih butuh pelepasan." Shafa bangkit untuk melepas mukenanya.


"Pelepasan apa Non? Dari kemaren saya dan yang lain udah jadi korbannya. Sampe-sampe Maya pingsan dan demam selama dua hari karena ulah Non Shafa," ujar Randi.


"Ya sorry Rand!"


"Non, ditunggu tuan dibawah untuk makan malam." Randi beranjak dari duduknya.


"Iya, sebentar lagi gue turun."


Setelah Randi keluar dari kamarnya, ia segera membasuh muka. Lalu memoles sedikit bedak untuk menutupi matanya yang agak bengkak. Dirinya tak mau sang ayah tahu bahwa ia habis menangis. Hal itu akan membuat ayahnya ikut sedih dan Shafa tak mau melihat kesedihan diwajah ayahnya.


Kini Shafa sudah berjalan menuju meja makan. Steven sudah menunggu disana.


Bik Nani terlihat masih menyiapkan makanan dimeja makan.


"Ini tadi Non Shafa lho yang masak makanan ini, Tuan," ujar Bik Nani dengan antusias.

__ADS_1


"Bibik berlebihan dech! Shafa kan cuma bantuin aja tadi," sanggah Shafa.


"Setidaknya kan ada campur tangan Non Shafa dalam masakan ini," ucap Bik Nani lagi. Tangannya sibuk menuangkan minuman kedalam gelas.


"Tumben kamu mau belajar masak, biasanya deket kompor aja takut. Kalau malam laper pasti gedor-gedor kamar Randi sebelum ada Fachri," ujar Steven dengan tatapan menggoda kearah Shafa.


"Udah lah Dad. Jangan mulai lagi! Shafa kan pengen belajar mandiri." Gadis itu membalik piring dan mulai mengambil nasi serta lauknya. Bik Nani sudah undur diri kebelakang. Ikut makan bersama pelayan yang lain. Steven tak mengizinkan para pekerja dirumah itu makan makanan sisa dirinya dan Shafa. Karena itu makanan yang dimeja makan sesuai porsi untuk mereka berdua.


"Kamu kan memang sudah mandiri Fa. Sudah bisa mandi sendiri," ucap Steven diselingi tawa kecil.


"Udah dech! Shafa mau makan. Jangan digoda terus."


" Daddy tidak diambilkan makan?"


"Daddy bisa ambil sendiri kan!" ucap Shafa sok cuek.


Steven semakin tertawa lebar, menggoda putrinya adalah hiburan yang terindah baginya. Tak ada hiburan lain selain gadis kecilnya yang sudah beranjak dewasa, meski umurnya baru belasan tapi Shafa sudah terlihat dewasa. Pemikirannya pun juga sudah seperti orang dewasa. Hanya saja ia sering bersikap manja dan bertingkah konyol.


Setelah makan malam, kini Shafa dan ayahnya duduk dikursi taman belakang. Menikmati waktu yang masih bisa Shafa habiskan bersama ayahnya.


"Apa Daddy sangat mencintai mama Olivia?" tanya Shafa tiba-tiba.


"Tentu saja Daddy sangat mencintai wanita yang telah melahirkan putra Daddy," jawab Steven dengan penuh keyakinan.


"Karena itu Daddy masih bertahan untuk sendiri, tanpa mencari wanita lain. Padahal belum tentu mama Oliv mau kembali sama Daddy. Shafa juga tahu banyak client Daddy wanita singgle yang cantik-cantik, bahkan mereka ada yang terang-terangan menggoda Daddy," ujar Shafa sambil menatap lekat wajah ayahnya.


Steven menarik nafas perlahan, tatapannya menerawang jauh keatas. Melihat bintang yang masih tertelan oleh awan mendung. Hanya beberapa yang samar-samar terlihat.


"Shafa, menikah adalah sebuah komitmen untuk menetap pada satu hati. Bertahan pada satu hubungan dengan menerima kekurangan masing-masing. Menyempurnakannya dengan kelebihan yang kita miliki. Sebuah komitmen untuk membangun kesetiaan pada seseorang dengan landasan sebuah kepercayaan dan keyakinan. Kalau salah satu dari kita melanggar komitmen itu. Maka hancurlah hubungan yang selama ini terbina. Daddy yakin mama Olivia akan kembali suatu saat nanti. Bahkan dia tak pernah sekalipun menghianati Daddy. Karena itu Daddy juga akan setia menunggu dia kembali bersama kakakmu. Daddy sudah berkomitmen untuk melabuhkan hati pada satu wanita yaitu wanita yang telah menjadi istri Daddy."


Shafa hanya terdiam mendengar penuturan ayahnya. Ternyata selama ini ayahnya sangat menghargai sebuah ikatan pernikahan. Bahkan ayahnya tak pernah berpaling meski sudah lama berpisah dengan istrinya. Setahu Shafa, mereka memang belum resmi bercerai.


Hubungan pernikahan memang patut untuk diperjuangkan bila memang pasangan kita adalah seseorang yang pantas untuk diperjuangkan. Menjadi sebuah prinsip seseorang untuk menikah hanya sekali seumur hidupnya. Ya, pernikahan adalah sebuah ikatan yang sangat sakral. Suamilah yang paling bertanggung jawab dalam hubungan itu. Menjadi tiang penyangga paling kuat dalam hubungan pernikahan. Meski peran istri juga tak kalah pentingnya.


Shafa janji Daddy, akan membawa mama dan kakak kembali kerumah ini. Kita pasti bisa hidup bahagia bersama. Kita akan berkumpul lagi menjadi keluarga yang utuh. Ini adalah janji Shafa, Dad.


Shafa pun telah bertekad untuk mencari tempat tinggal mama dan kakaknya. Membawa mereka kembali kerumah. Selama ini dia mencari tahu sendiri keberadaan mereka berdua. Kalau pun bertanya pada ayahnya, pasti tak akan mendapat jawaban. Karena Steven selalu menyembunyikan keberadaan istri dan putranya. Ia pun tak pernah memaksa mereka untuk pulang, karena dirinya tahu butuh waktu bagi mereka berdua untuk menerima kenyataan.


Walau ia juga tahu saat ini mungkin Olivia tak mempermasalahkan keberadaan Shafa yang memang benar-benar putri dari sahabatnya. Tapi terkadang ego seoarang wanita mengalahkan segalanya. Dan harus ada yang mengalah demi kebaikan bersama.


.


.


.

__ADS_1


.


Thanks buat kalian semua!


__ADS_2