
"Berhenti Zulaikha, sedikit saja kau melangkah, aku akan menghabisinya"ujarnya tegas dan penuh penekanan disetiap kata-katanya yang penuh dengan ancaman.
Zuu menatap tajam kearah Kenzio yang sedang menatap dirinya tak kalah sengit, nyalin Zuu yang yang sempat membara, seakan menciut tak bersisa oleh pandangan tajam yang menghunus jantungnya saat ini....
Tangan Zuu ditarik paksa oleh Kenzio dan membawanya pergi dari tempat tersebut, seketika itu juga Jhonny jatuh terduduk di kursi taman, dan hampir saja terjatuh, ia memperbaiki cara duduknya sambil memegang bibirnya yang pecah kerana dihajar habis-habisan oleh Kenzio.
"ckck....dasar pria aneh"ujarnya berdecak sembari tersenyum kecut memperhatikan punggung dua orang yang saling mencintai itu sudah pergi menjauh.
"Niat hati ingin berbagi malah dibagi. huh....kalau makanan yang dibagi mah enak, kenyang, ini malah bogeman yang dibagi...iizh....Aahh.....br*ngs*k" ujarnya menggerutu dan tak sengaja menyentuh lukanya yang perih.
*******
"keterlaluan" Ingin rasanya Zuu berteriak sekencang-kencangnya untuk menghilangkan rasa frustasinya, bagaimana tidak, jika ia dipaksa meninggalkan orang yang sedang terluka, dan parahnya lagi orang itu adalah sahabatnya sendiri, sahabat yang selama ini selalu menjaganya seperti adiknya sendiri.
Jhonny adalah saudara seperjuangannya untuk bertahan hidup selama ini, dan sekarang ia harus meninggalkannya seorang diri dengan banyak luka ditubuhnya.
"Tuan....tolong lepaskan saya. Saya ingin membantunya tuan, kenapa kau tega sekali. Tuan saya mohon......, kenapa kau tidak mengerti?"ujarnya memohon dan memaki secara bersamaan, sebab tidak satupun perkataannya yang ditanggapi oleh Kenzio.
Pria itu hanya diam seribu bahasa dan terus menarik tangan Zuu berjalan dengan langkah lebarnya menuju mobilnya sedang terparkir, tanpa memperdulikan Zuu yang kesusahan dalam mengimbangi Langkahnya.
Kenzio segera membukakan pintu mobilnya yang terparkir depan lowby, kemudian mendorong tubuh Zuu masuk kedalamnya, setelah itu iapun berlari masuk ke dalam kemudi dan menguncinya, dengan amarahnya yang masih membuncah ia segera menancap gas dengan sangat cepat.
Tidak menunggu lama, mobil mewah milik Kenzio sudah terparkir didepan sebuah Apartemen. Apartemen itu adalah Apartemen yang pernah Kenzio berikannya kepada Zuu, saat setelah menandatangani perjanjian yang mereka sepakati berdua, akan tetapi Zuu tidak pernah berminat untuk pindah dari khosannya, karena menurutnya di tempat kostnya jauh lebih nyaman dan ramai, walaupun di kostnya sempit akan tetapi para tetangga khosnya sangat baik dan ramah-tamah terhadapnya.
__ADS_1
"Tuan...sebenarnya untuk apa lagi kita kesini?, sudah aku katakan aku tidak mau tinggal disini....?"tanyanya bingung sekaligus menolak kalau-kalau ia diminta untuk tinggal di apartemen yang sunyi itu, seperti tinggal diarea pemakaman yang jauh dari pemukiman.
"apa kau punya pilihan nona? kita kesini bukan karna aku memberimu pilihan yang harus kau pilih-pilih, ini hukuman karena kau sudah melanggar perjanjian yang kita sepakati".
"Kau pikir selama ini aku tidak tahu, kalau kau itu masih berhubungan dengan pria brengsek itu?"
"kau itu sungguh naif"ujarnya nyeleneh
"maksudnya?"ujar Zuu yang semakin bingung
"jangan sok polos begitu. kau pikir aku bodoh?'' ucapnya lagi dan semakin meninggi.
"tapi sungguh tuan. Aku sungguh tidak mengerti apa yang anda bicar....,"ucapnya terhenti oleh suara tegas Kenzio
"iya"jawabnya
Kenzio tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa kepada Zuu yang selalu saja membantahnya.
"kenapa dia selalu saja marah" cicitnya yang takut-takut melihat kearah Kenzio, akan tetapi aktifitasnya itu tak luput dari perhatian pria itu.
" hah" Kenzio sampai membuang nafasnya kasar melihat ekspresi wajah Zuu yang menggemaskan disaat dirinya dalam mood yang sedang marah padanya
"kenapa dia selalu saja membuat jangtungku tak beraturan seperti ini, aku bisa gila dengan tingkahnya yang menggemaskan itu" ujarnya berdecak dalam hatinya frustasi akannperasaannya sendiri,walau begitu senyumnya tetap terbit di wajah akibat itu.
__ADS_1
Kenzio menuntun Zuu masuk kedalam lift yang membawa mereka kelantai dimana Unit Apartemen Zuu berada, selama berada didalam lift, Kenzio terus diam sembari menggenggam tangan Zuu posesif.
tiing
Suara lift berhenti mereka tiba dilantai diamana apartemen Zuu berada. Setelah menekan password untuk mengakses pintu apartemen, Kenzio pun segera membawa Zuu masuk kedalam agar wanita itu tidak kabur lagi seperti beberapa waktu yang lalu.
"Duduklah"ucap Kenzio memerintah, yang mau tidak mau Zuu harus menurut apalagi saat ini mood prianya sedang tidak baik. Sedikit saja ia melawan maka semakin banyak hukuman yang akan ia dapatkan.
setelah Zuu duduk, Kenzio segera masuk kedalam yang entah untuk berbuat apa.
"dia itu kenapa sih?aneh deh..."gerutunya, memperhatikan punggung Kenzio dibalik dinding kaca pemisah antara ruang tengah dan meja makan serta dapur.
setelah 2 menit menunggu akhirnya pria itu keluar dengan membawa kotak obat, kemudian bersimpuh didepan Zuu yang sedang duduk di sofa
"Ehh.... Zio mau ngapain?"ujarnya sambil berdiri
"Duduk"desaknya kepada Zuu, sembari menarik tangannya agar terduduk kembali, kemudian ia mengangkat satu kaki jenjang Zuu yang terlihat memerah dan ia meletakkan nya di atas pahanya agar bisa lebih mudah untuk mengobatinya.
Dengan telaten dan sangat lembut Kenzio mengoleskan krim salep agar bisa mengurangi rasa sakit dan perihnya.
Keringat pun bercucuran bukan di dahi Zuu yang sejak tadi menahan rasa sakit, melainkan Kenzio yang sedang dingin menahan panas didalam hati dan tubuhnya, terutama bagian bawah perutnya, membuat jiwa lelakinya haredang....
"Akhh....sial hanya karna kakinya saja sudah membuat adik kecilku bangun" ucapnya dalam hati menggerutu
__ADS_1
~Happy reading~🥰