
"Sekarat kok masih bisa sombong"ia pun memapah tubuh besar Kenzio dan membawahnya ketepi sungai untuk membersihkan luka lebam dan darah yang mengering dibagian kanan wajahnya.
dirinya menyeret tubuh Kenzio dengan tertatih karna tubuhnya yang tidak sebanding dengan tubuh besar Kenzio yang hanya sebahu pria itu.
Zuu memang tahu, adanya sungai didalam hutan tersebut setelah beberapa kali berjalan menelusuri bagian tepi sungai, sungai itu juga yang mengalir dan yang membentang ke pinggiran pemukiman warga desa tempat tinggalnya.
Sungai yang cukup lebar dan juga arus sungai yang tak begitu deras serta memiliki air yang jernih, sehingga tak jarang penduduk sekitar memanfaatkannya sebagai sumber air bersih dan salah sumber mata pencarian setiap harinya.
Dengan berpenduduk kurang lebih 20 rumah, desa yang begitu jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan, karena desa tersebut memanglah berada di tengah tengah hutan rimba yang jauh dari pusat kota.
Setelah sampai di tepi sungai Zuu membawa tubuh besar Kenzio agar bersandar ke batu yang lumayan besar agar bisa beristirahat disana.
"ah...huh...huh..., akhirnya sampai juga"
dengan menghela nafas lelah, dan peluh sudah menetes di pelipisnya, Zuu menjatuhkan dirinya disamping Kenzio dan ikut bersandar.
Dihamparan sungai yang berkilau, oleh cahaya bulan yang terang memberikan nuansa yang indah pada sungai dihadapannya, sangat sejuk dan nyaman bila mata memandang.
******
"Iskh" dengan perlahan dan sangat lembut Zuu membersihkan kulit wajah yang penuh lebam dengan darah yang sudah mengering dengan menggunakan kain bersih yang ada didalam ranselnya.
"Eh,maaf....maaf, sakit banget ya?"
Zuu ikut meringis disaat kain basah menyentuh pilipis kenzio yang sobek. dengan perlahan Zuu meniupnya agar mengurangi rasa perih yang dirasakan pria itu.
Kenzio pun otomatis mendongakan kepalanya setelah merasakan sejuk di bagian atas wajahnya yg perih, Zuu ikut melirik Kenzio yang tengah menatapnya dengan intens.
deg
Mata begitu tajam hingga menembus hati itu, mata yang saling bertaut seakan tidak ada yang ingin melepasnya, "ternyata dia sangat tampan, mata tajamnya seperti mata elang yang jika dipandangi seakan aku tenggelam kedalamnya, alis yang tebal, serta hidungnya yang kokoh dan juga rahang yang tegas walaupun ditumbuhi dengan bulu-bulu halus tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya, itu justru semakin menambah maskulin dan berkarismanya pria ini, apalagi___"
"bibirnya....tidak.....tidak....., bibir itu.....bibir yang sebelumnya melebur dengan bibir ku.....ihh....dasar otak mesum" Zuu tanpa sadar pun tersenyum geli dengan wajah bersemu merah.
Dengan perlahan Kenzio mengangkat tangannya untuk menyentuh tangan Zuu yang berada di keningnya kemudian menggenggam nya dengan lembut seraya mencium jemari gadis didepannya. Entah pikiran dari mana tapi hasratnya kepada Zuu sangatlah tinggi sehingga ia ingin menjadikan Zuu sebagai miliknya
__ADS_1
deg
Jantung Zuu semakin berpacu dengan nafas yang naik turun akibat debaran jantungnya yang terasa bergemuruh, gemercik air dari sungai yang mungkin saja di karena ikan atau apalah itu, tapi hal itu tak membuatnya ingin menoleh, Entah inisiatif dari mana ia seakan terhipnotis oleh tatapan pria yang ada dihadapannya, sehingga ia menutup mata seperti sedang menunggu sesuatu.
Kenzio yang mendapat lampu merah dari Zuu, tersenyum senang melihat betapa manisnya gadis yang ada dihadapannya. Tidak ingin kehilangan momen indah itu, ia segera mendaratkan kecupan di kening sang gadis yang berharap lebih.
Kenzio bukanlah pria yang tidak ingin mengambil kesempatan yang diberikan Zuu padanya, akan tetapi ia masih ingin mengenal Zuu lebih dalam dan ia ingin melakukan hal itu setelah ia betul-betul mendapatkan hati gadisnya dan itu bukan dari nafsu sesaat.
Kenzio adalah tipikal pria yang gentle dan sangat menghormati wanita, apalagi saat ia memiliki perasaan spesial pada wanita tersebut, ia akan berusaha menjaganya dan melindunginya.
Dengan begitu canggung dan malu, Zuu membuang mukanya yang sudah merah bak kepiting rebus itu. Kenzio yang melihat tingkah Zuu yang menggemaskan membuatnya tersenyum samar. Ingin sekali ia merengkuh dan mengukung Zuu dibawahnya, andai saja hal itu tidak bertolak belakang dengan norma-norma dan kepribadiannya yang selama ini dia jaga.
"ada apa denganku, aku sampai tidak mengenal diriku lagi. Gadis ini sangat menggemaskan membuatku tidak bisa menolak pesonanya"
"Ehm"Kenzio berdehem menetralkan perasaannya "aku ini kenapa,apa yang kulakukan,beberapa jam yang lalu tanpa sadar aku menciumnya, sekarang.....gila sebenarnya aku ini kenapa,atau jangan jangan otak ku yang cerdas ini bermasalah dan bener apa yang dikatakan gadis ini,kalau aku ini memang geger otak" ia menggeleng dan menyangkal, yang benar saja mana ada amnesia. Amnesia hanya ada dalam sinetron dan novel-novel kesukaan emak-emak....
Setelah cukup lama dalam lecanggungan dan berselancar difikiran masing-masing, kini Zuu memulai percakapan.
"Buka" ucap Zuu menatap pria dihadapannya.
"Ayo buruan di buka" Kenzio yang merasa tingkah Zuu begitu aneh mengerutkan keningnya hingga menyatu.
plak
"Aduh" Kenzio mengusap kepalanya lagi saat Zuu kembali memukulnya.
"Ngeres sih otaknya.....izzh....dasar otak mesum. Aku meminta bajumu dibuka agar lukanya bisa aku diobati" ucapnya dengan memanyunkan bibirnya sebal.
"Ayo buruan buka" dengan tidak sabaran Zuu membuka kemeja putih yang digunakan pria itu yang sudah berwarna kecoklatan, disebabkan noda darah dan juga noda seperti lumpur yang sudah mengering.
"Ya ampun"saat Zuu berhasil membuka kemeja Kenzio. luka sayatan di diperutnya dan luka tembak di lengan kiri pria itu kini terpampang jelas dimata Zuu yang membuatnya bergidik ngeri, Zuupun meraba luka itu dengan sedikit meringis "apakah ini sakit? Ini pelurunya masih didalam deh kayaknya" pertanyaan konyol berhasil keluar dari mulutnya tanpa dosa.
Kenzio hanya menjawab dengan menganggukan kepala sembari terkekeh atas pertanyaan konyol dari gadis itu.
"kamu harus mengeluarkannya, bila tidak segera dikeluarkan aku tidak yakin akan bertahan lebih lama"
__ADS_1
"Ak-aku tidak bisa melakukannya.....aku takut'' ucapnya takut-takut melihat betapa ngerinya luka-luka tersebut.
"Saya yakin kamu pasti bisa.... saya harus segera keluar dari hutan ini"
Setelah berpikir lama Zuu akhirnya mau membantu Kenzio mengeluarkan anak peluru dari dalam tubuhnya. Zuu pun mengumpulkan ranting-ranting pohon yang kering dan membakarnya, setelah itu Kenzio menyerahkan pisau kecil milik Zuu yang ada padanya.
Zuu menatap dengan heran kearah Kenzio "ini kan pisauku?"
Pria itu tidak menjawab ia hanya terkekeh menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Zuu padanya.
Zuu memanaskan pisau dalam api dan setelah dirasa cukup ia mulai mencungkil lengan kiri Kenzio yang terdapat anak peluru yang bersarang didalamnya, sebenarnya dia masih merasa ragu untuk melakukannya, akan tapi apa yang dikatakan pria itu memanglah benar, karena saat ini wajah pria itu sudah sangat pucat ditambah lagi tubuhnya juga sudah mulai dingin.
"Arrggh" pekikan yang tertahan dari
Kenzio yang sedang membungkam mulutnya sendiri dengan kain yang diberikan Zuu padanya. tetesan-tetesan keringat membanjiri dahi dan seluruh tubuhnya, rasa panas dari pisau yang telah di panaskan rasanya seperti melelehkan kulit-kulitnya, terlebih saat pisau kecil itu dicungkil kan pada lengannya yang terkena peluru, sakitnya sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Keringat bukan hanya membanjiri tubuh Kenzio akan tetapi Zuu pun sama berkeringat nya dengan kenzio, Zuu yang dilanda rasa takut, tegang, dan kekhawatiran yang berlebihan secara bersamaan membuatnya tak bisa melanjutkan apa yang sejak tadi ia lakukan.
"Sepertinya aku memang tidak bisa melakukannya maaf...." lirihnya menyesal karena sejak tadi ia berusaha tetap saja gagal mengeluarkan anak peluru tersebut.
"maaf ni terlalu sulit untukku.....hiks....hiks.....sungguh aku tidak bisa melakukan ini"cujarnya dengan tangis sesegukan, merasa bersalah karena sudah gagal dengan usaha yang sejak tadi ia lakukan.
"Heii...kau menangis...maaf karena membuatmu berada dalam situasi yang sulit" Kenzio menyentuh bahu Zuu untuk menenangkannya.
"Tapi aku ingin kau mencobanya sekali lagi. Apa bisa kau melakukannya untukku" Kenzio kembali memberikan dorongan agar Zuu kembali berusaha agar anak peluru yang bersarang di lengan kirinya bisa segera dikeluarkan.
Zuu merasa tidak enak hati menolak permintaan pria itu, jadi kali ini ia akan mencoba dan berusaha agar peluru si*lan itu bisa keluar.
Setelah beberapa kali mencoba, peluru yang bersarang ditubuh Kenzio akhirnya berhasil Zuu keluarkan"Aaaahhhh....akhirnya bisa keluar juga.....syukurlah" pekiknya begitu bahagia saat ia berhasil melakukannya. Saking senangnya ia sampai tak melihat Kenzio yang sudah tak sadarkan diri.
"Hei...heii..., kau bisa mendengarku" Zuu yang merasa khawatir dengan keadaan Kenzio yang semakin parah dari sebelumnya mengguncang-guncangkan kedua bahunya.
"Apa mungkin aku memang berhasil mengeluarkan pelurunya akan tetapi sudah terlambat, bagaimana ini......bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, apa yang harus aku lakukan" serunya merasa frustasi atas situasi yang terjadi.
"Hiiks...hiks...hiks...kenapa jadi begini. hei..bangun kenapa telapak tangannya bertambah dingin"
__ADS_1
"Apa dia mati"
~happy reading~🥰