
penderitaanya tidak sampai disitu, ia juga sering mendapat tindakan pel***han dari orang yang di sebut boss atau ketua disana, untungnya setiap kali pendapat tindakan pele**han dan sempat akan diper**sa ada saja suatu hal yang menghentikan sang Ketua yang ingin lebih intim menyentuh Zuu, sepertinya keberuntungan masih berpihak pada Zuu yang sering mendapat tindak kekerasan dan hampir kehilangan kehormatannya
akan tetapi Zuu tidak mau mengambil resiko untuk tetap tinggal disana, itu sebabnya ia mengambil kesempatan ketika Ketua meninggalkan desa tersebut maka ia akan masuk kedalam hutan untuk mencari jalan alternatif agar bisa melarikan diri bersama dengan ibunya
Ketua itu sangat ingin memiliki Zuu dan terobsesi pada Zuu karena ia terpesona oleh paras cantiknya yang memiliki bulu mata yang lentik dan mata yang indah serta hidung yang mancung,gadis itu juga memiliki kulit yang putih mulus dengan bentuk tubuhnya yang ideal sehingga banyak pria yang tertarik padanya tanpa terkecuali sang Ketua yang dikenal dengan kekejamannya
akan tetapi Zuu sering menolak dengan halus karena ia tidak ingin mendapat masalah atau mati dengan konyol ditangan Ketua itu,
bahkan pria itu sering memaksakan kehendaknya kepada Zuu
Zuu yang merasa ketakutan setiap kali ingin dilec**kan bukannya tidak ingin berteriak ataupun meminta tolong pada warga setempat, Zuu pernah melakukannya dan itu hanya sia-sia karena tidak yang berani menolongnya,sang Ketua itu di takuti setiap warga yang ada disana, mereka tidak ingin mati konyol hanya untuk menolongnya
Zuu yang tidak bisa apa-apa hanya bisa memohon dan meminta pertolongan hanya kepada sang Haliq yang Maha memberikan perlindungan
dan benar saja setiap kali dalam keadaan terjebak ada saja hal yang menggagalkan pria itu untuk menyentuhnya
Zuu juga sering menolak dengan halus karena ia tidak ingin mendapat masalah atau mati konyol ditangan Ketua
flashback off
Zuu menghela nafasnya kasar setiap kali mengingat kejadian-kejadian yang membuat dadanya sesak
"baiklah aku akan meminta ibu agar tidak memberi tahu siapapun kalau kamu akan tinggal disini secara diam-diam"Zio menganggukan kepalanya setuju dengan perkataan Zuu
"Bu...."
"Ibu.... buka pintunya Bu aku pulang...."
untungnya rumah Zuu berada jauh dari pemukiman warga sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka datang ditambah langit sudah mulai gelap menandakan saat ini matahari sudah hampir tenggelam
ceklek
"ibuuuu...."Zuu menghambur kepelukan ibunya
"Zuu sayang kamu dari mana saja nak, ibu sangat mengkhawatirkan kamu"tanyanya kepada anak semata wayangnya
"kamu tidak kenapa-napa kan nak,ibu takut terjadi sesuatu sama kamu,semalam kamu kemana?"lirihnya mengusap dan terus mecium telapak tangan anaknya, air mata keduanya membanjiri pelupuk mata "ibu sangat bersyukur kamu pulang dalam keadaan selamat nak"
"iya Bu kita masuk dulu yah,ada yang ingin Zuu katakan"Zuu membawa ibunya masuk dan duduk di kursi yang berada di ruang tamu dan mempersilahkan Zio untuk masuk
"di-dia si-siapa,dia siapa nak?"Zuu tidak menjawab pertanyaan dari ibunya ia langsung berdiri untuk menutup dan mengunci pintu terlebih dulu setelah Zio masuk
"begini bu, ini Zio aku bertemu dengannya didalam hutan yang sedang terluka parah,dan lagi dikejar-kejar oleh orang jahat bu" jelasnya dengan jujur dan membuat ibunya terkejut,bingung dan khawatir secara bersamaan
"dan Zio ini ibuku"Zio mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ibu Zuu,akan tetapi ibu Zuu yang masih bingung hanya diam saja tak menerima uluran tangan Zio hingga membuat Zio mengerutkan keningnya
Zuu hanya menghela nafasnya,lalu dengan sabar ia mengambil tangan ibunya untuk menerima uluran tangan dari Zio,Zio hanya tersenyum simpul melihat kelakuan Zuu yang menurutnya begitu menggemaskan
__ADS_1
"Aku Kenzio, ibu bisa memanggilku Zio seperti Zuu"ucapnya memperkenalkan diri
ibu hanya diam saja,matanya seperti mengintimidasi kearah Zio
Zuu yang mengerti kebingungan kecurigaan ibunya menarik tangan ibunya untuk berbicara didalam kamar meninggalkan Zio sendiri diruang tamu
lama Zio menunggu ibu dan anak itu berbicara,sampai akhirnya keduanya pun keluar
ibu Zuu menatap sekilas kepada Zio dengan tatapan datar yang sulit untuk diartikan,dan melenggang kearah dapur
sedangkan ia hanya melihat Zuu tersenyum dan berlalu meninggalkannya kedalam kamarnya"ada apa dengan kedua ibu anak itu"
ia bergumam dalam hati merasa bingung sendiri
tak lama Zuu keluar membawa handuk dan pakaiannya tak lupa pula ia menyediakan hal yang sama pada Zio "kamu tidurlah dulu dikamarku dan aku akan tidur bersama ibu,tapi sebelum itu kamu harus mandi dulu bau". Zuu menyerahkan handuk dan pakaian ganti untuk Zio milik ayahnya
"tetapi tunggu setelah aku keluar karena kamar mandinya hanya satu"ia tersenyum mengejek kepada Zio yang terlihat kesal karena dikatakan bau
kruukruk....
kruukruk...
belum sempat Zuu beranjak meninggalkan Zio
keduanya tertawa terbahak-bahak saat perut mereka keroncongan secara bersamaan karena sejak kemarin tidak terisi apapun
"terima kasih Bu atas semuanya"Zio membungkukkan badan sebagai rasa hormat dan terimakasihnya kepada wanita paruh bayah
yang telah menangpungnya,melihat itu ibu Zuu tersenyum dan menepuk bahu Zio dan berlalu pergi
setelah makan Zuu maupun Zio duduk diruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga, Zuu memberi obat dan mengoleskan salep pada luka memar dibagian tubuh Zio yang terluka,tak lupa juga mengoles antiseptik pada luka tembak dan luka sayatan yang kemarin hanya diobati ala kadarnya
dengan telaten Zuu mengobati luka-luka Zio, Zio yang diperlakukan seperti itu hatinya menghangat dan seperti ada petasan yang menjalar didalam tubuhnya"kenapa kamu begitu baik dan hatimu begitu lembut,kamu selalu tulus padaku yang baru kamu kenal ini"
"kenapa setiap kali kamu dekat denganku dadaku seperti sesak, dan suara jantungku hah s**l".ia buru-buru berdiri untuk menormalkan detak jantungnya ia takut Zuu mendengarnya
"loh kok malah berdiri,kan belum selesai"Zuu menarik tangan Zio dengan kasar agar pria itu terduduk kembali, tetapi bukannya terduduk pria itu malah jatuh menimpanya
deg
posisi yang begitu dekat hingga tidak ada jarak sedikitpun serta bibir yang tidak sengaja bertubrukan untuk beberapa saat hening dan belum ada yang tersadar,mereka berdua hanya saling menatap dalam diam sampai akhirnya Zuu mendengar suara detak jantungnya sendiri,
sedangkan Zio masih tidak sadar ia masih terus menikmati suasana yang ada dan tersenyum-senyum sendiri
buk
"aduuh"pekiknya dan mengusap kepalanya saat tangan Zuu memukulnya
__ADS_1
"kamu itu apa-apaan sih main nimpuk kepala orang sembarangan"kesalnya karena Zuu sudah mengganggunya yang sedang menikmati wajah Zuu dari dekat
buk
"ihks....sakit Zuu,suka banget mukul orang sembarangan"ia terus mengusap kepalanya yang sakit karena dipukul kembali oleh Zuu
"sembarangan...sembarangan kamu tuh yang nimpuk aku dengan badan kamu yang berat bukan sebliknya"kesalnya karena merasa ia yang dipersalahkan
"awas"sambungnya mendorong tubuh Zio,bukannya mengangkat tubuhnya dari Zuu ia malah memeluk Zuu dan malah sibuk
menghirup aroma sampo dari rambut Zuu
"awaas gak kamu itu berat tahu"pekiknya tapi yang sebenarnya ia merasa malu dan sepertinya sekarang ini mungkin pipinya memerah seperti kepiting rebus
Zio mengangkat tubuhnya dan berdiri setelah mendengar nama Zuu dipanggil oleh ibu dari dalam kamar
Zuu segera berdiri dan berlalu begitu saja karena tidak ingin Zio melihat pipinya yang yang memanas
Zio terus memandangi punggung Zuu yang menghilang dibalik pintu,ia sejak tadi tersenyum dan terus tersenyum lebar melihat tingkah Zuu apalagi pipinya yang merah bak kepiting rebus dan itu sungguh menggemaskan dimata Zio
Zio pun memutuskan masuk kedalam kamar Zuu untuk beristirahat dan ingin segera membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang empuk
didalam kamar Zio dengan tidak sabar mendaratkan tubuhnya diatas kasur yang ia kira sangat empuk akan tetapi ekpektasi nya tidak sesuai dengan realita yang ternyata kasurnya begitu tipis membuat punggungnya sakit kerena terlalu beremangat mendaratkan tubuhnya secara kasar
"bagaimaba gadis itu bisa tidur dengan kasur tipis seperti ini"ia merasa sedih saat bayangan tubuh Zuu yang meringkuk di atas kasurnya yang tipis
ia menghela nafasnya dengan kasar dan kembali membaringkan tubuhnya dengan kasar,dengan lengan yang dilipatkan keatas sebagai bantal sambil terus memandangi setiap sudut kamar Zuu yang menurutnya tidak layak untuk ditempati
bukan merasa risih tetapi ia merasa kasihan dan prihatin atas kehidupan yang selama ini dijalani oleh Zuu,lama ia berkecimpung dengan pemikirannya sendiri akhirnya Zio pun terlelap
.
.
.
.
******
Ditempat lain dibelahan dunia yang sama dimarkas besar black hunters (nama ini aku pake menurut tingkat khayalan aku jadi kalau ada kesamaan dengan nama gengnya dimaapin yak )🙏🙏🙏
Yogi ketua dari tim black Hunters sedang menginterupsi anggotanya yang kesemuanya berjas hitam itu, jika dilihat dari banyaknya akan capek sendiri menghitungnya
Yogi mengarahkan kembali para bawahannya untuk mencari lebih gencar lagi disetiap kota yang ada dinegara tersebut karena menurut informan nya yang terus melacak keberadaan pemimpin dari black Hunters yaitu Kenzio Aprilio Bramasta masih berada dinegara yang sama
"yo lihatlah aku menemukan petunjuk dimana bos Ken terakhir bisa dilacak,kita mulai lagi mencari dititik ini"Jerry menunjuk layar monitor laptop nya dimana ia menemukan titik terakhir dimana bosnya menghilang bak ditelan bumi
__ADS_1