
Sudah 3 Minggu sejak Zuu dipindahkan dari rumah sakit sebelumnya, kini ia masih terbaring lemah didalam ruang perawatan mewah di gedung Rumah Sakit dibawah naungan perusahaan BRAMASTA GROUP ini yang memang kupersiapkan dengan sangat nyaman untuknya, sebenarnya kondisinya mulai membaik dan masuk dalam tahap pemulihan, namun sampai saat ini, Zuu belum juga sadarkan diri, dan itu membuatku begitu cemas dan bingung dengan kondisinya.
Sudah banyak dokter ahli dari luar yang aku datangkan untuk memeriksa keadaannya, namun kondisinya tetap sama, Dokter beranggapan bahwa keadaan Zuu saat ini mengalami koma yang disebabkan oleh traumatik, entah itu faktor dari penembakan yang dialaminya atau faktor lain yang bisa menyebabkan ia sulit untuk kembali pulih dari alam bawah sadarnya, mungkin juga dikarenakan ia merasa tertekan atau semacamnya, Karena Keadaan fisiknya saat ini sudah sangat baik dan bisa dinyatakan sembuh.
Oleh karena itu dokter memberikan saran agar keluarga dan karib kerabatnya, bisa selalu memberinya dukungan dan semangat agar Zuu secepatnya pulih dari komanya.
(ini karangan author aja yak guaess, agar lebih masuk feel-nya aja)
Dan karena itu pula aku tidak ingin meninggalkan Zuu sendiri dan setiap saat selalu menunggu ia kembali sadar , kalaupun ada pekerjaan yang urgent barulah aku pergi dan kembali secepatnya, itu semua aku lakukan agar bisa mengajaknya berbicara, yaa walaupun aku tahu dia tidak akan merespon apa yang aku katakan, namun aku ingin berada disisinya setiap saat, dan ketika ia sadar dan membuka matanya, aku ingin yang pertama kali ia lihat itu adalah aku.
Jangan tanyakan pendapat Jasmine yang selalu saja uring-uringan, saat menemukanku yang terus berada didalam ruangan Zuu.
Dia selalu saja bertanya dan mengoceh tidak jelas, mungkin ia tidak rela dengan apa yang aku lakukan, setiap kali ia datang mencariku, aku selalu saja berada disisi Zuu dan itulah yang membuatnya bertanya-tanya kenapa aku sampai sepeduli itu pada Zuu yang bukan siapa-siapa bagiku, karena dirinya masih beranggapan bahwa Zuu hanyalah wanita yang aku bayar untuk memanipulasi pertunangan kami, seperti yang sering aku lakukan.
"Bukankah wajar, kalau aku peduli pada Zuu yang telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelematkan hidupku dari maut"
__ADS_1
Kalimat itulah yang sering aku jadikan alasan agar dia tidak banyak berkomentar tentang apa yang sedang aku lakukan.
Ingin sekali rasanya aku mengatakan yang sebenarnya, seperti apa perasaanku terhadap Zuu kepadanya, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
Hari ini aku kembali lagi kerumah sakit saat setelah mengerjakan beberapa pekerjaan yang memang sangatlah penting, yaitu mendatangi markas Black Hunters untuk mengeksekusi para Bandit-bandit dan juga dalangnya yang sudah tertangkap dan mereka semua menerima balasan atas semua kekacauan yang mereka perbuat, dan juga aku tidak segan-segan memberikan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Zuu masih terbaring lemah dan koma di ruang rawat rumah sakit.
Dan disinilah aku sekarang berada disisi wanita yang membuat aku merasa takut beberapa hari ini dengan kondisinya, yaa aku sangat takut akan kehilangan dirinya.
Aku genggam tangannya dengan erat menciumnya kemudian aku menatapnya dengan intens, kali ini aku akan mengungkap sebuah fakta yang selama ini aku simpan dengan rapat, dan berharap apa yang akan aku sampaikan kali ini ia bisa sedikit saja mendengarnya. Aku kembali mengelus kepalanya lembut kemudian turun ke pipinnya yang masih pucat sembari menciumnya lalu aku mulai bercerita panjang lebar, seperti yang sering aku lakukan akhir-akhir ini.
Bahkan aku tidak mengeluarkannya setetes pun saat kakek meninggal.
Aku kembali menatap Zuu dengan intens, kemudian melanjutkan apa yang ingin aku nyatakan. "Aku tahu, aku sudah sangat menyakitimu, selama ini aku selalu menyangkal rasa yang telah hadir diantara kita, bahkan aku dengan teganya memberimu luka sampai kamu berniat untuk pergi dariku"
"Apa semarah itukah kamu terhadapku, sehingga sembuh pun kamu masih tetap saja enggan untuk melihatku"
__ADS_1
"Kamu tahu. Sejak kita bertemu, aku merasa kita sudah punya ikatan yang sangat kuat yang aku sendiri tidak tahu, entah darimana rasa itu berasal. Mungkinkah sebelumnya kita adalah pasangan kekasih yang terpisah dan dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda. Apa aku renkarnasi dari seseorang yang sangat mencintaimu dari kehidupan sebelumnya?"
" Dan apa itu mungkin, aku bahkan tidak percaya dengan hal-hal konyol seperti itu, tapi perasaan apa yang sejak kita bertemu itu, perasan yang membuatku selalu tertarik kearahmu dan kenapa wajahmu selalu saja terbayang disetiap benakku, seakan duniaku berpusat hanya padamu saja. Oh iya....dan lebih anehnya lagi, semenjak kita bertemu aku tidak pernah lagi bermimpi hal-hal aneh itu lagi"
"Bukankah menurutmu itu semua aneh...?"
"Zulaikha. Siapa kamu sebenarnya?____" lirihku dengan suara nyaris berbisik, dan diwaktu yang bersamaan pertanyaan demi pertanyaan yang aku lontarkan seketika terhenti saat tangan yang sejak tadi kugenggam mulai bergerak dengan perlahan di ikuti dengan lenguhan lemah dari bibir pucatnya, serta mata yang perlahan terbuka.
"Sayang....Sayang hei....kamu sudah sadar?" pertanyaan konyol itu keluar begitu saja. Aku mendaratkan kecupan yang sangat dalam di keningnya kemudian kecupan itu beralih ke setiap jengkal wajahnya.
"Dokter.....Dokter...." Aku berteriak histeris karena merasa sangat senang dan segera menekan tombol nurse call untuk memanggil dokter serta perawat yang menangani Zuu
Dengan cepat dokter serta perawat datang keruangannya kemudian segera memeriksa keadaan Zuu yang baru saja pulih dari komanya.
"Semuanya baik, motorik semuanya sudah normal" ucap sang dokter paruh baya itu setelah memeriksa mata serta detak nadi Zuu dan semua yang dianggap perlu oleh sang dokter.
__ADS_1