
Ceklek
"Gimana, apa Zuu sudah mau makan?" Tita hanya menggeleng lesu tanpa banyak bicara seperti biasa. Sembari mengangkat nampang yang berisi makanan yang sejak pagi belum juga disentuh atas pertanyaan Jony padanya.
Sejak hari dimana Zuu dipecat Ia bahkan belum makan selama dua, dirinya bukan hanya di pecat tapi juga patah hati karena Kenzio sudah memutuskannya secara sepihak, bisa dipastikan bukan hatinya sakit berkali-kali lipat.
"Sudah dua hari Dia mengurung dirinya, entah apa yang terjadi padanya, kalau begini terus Dia bisa mati" Tita menghela nafas berat
"Kamu tuh ya. Sekalinya bicara, udah deh gak kekontrol dah itu mulut" Jony yang sejak tadi bingung, harus berbuat apa dan bagaimana agar Zuu keluar dari persemediannya tambah dibuat pusing dengan ocehan Tita, temannya satu itu.
" Gue itu lagi ngomongin fakta, dia itu belum makan sejak kemarin dan ini belum disentuh sama sekali, lagian tuh anak kenapa sih, gak biasa-biasanya dia kayak gitu" ujarnya frustasi dengan keadaan Zuu yang sudah dua hari mendiamkannya.
"Ini pasti semua gara-gara si Kenzio breeengsek itu, dasar pria tengik, berani banget dia selalu bikin nangis teman gue" ujarnya mengebu-gebu seperti orang yang hendak berperang
"Aawwkk...,sakit dude" Tita mengusap kepalanya yang ditoyor keras dengan teluntuk oleh Jony
" Pria brengsek yang kamu bicarakan itu, Bosmu onel, lho mau dipecat?"
"Eh, iya juga sih" Tita menanggapi dengan nyengir kuda memperlihatkan giginya
"Tapi emang benerkan apa yang gue bilang, dia itu memang breeengsek, kemarin aja Dia nonjokin lho, sekarang Dia bikin nangis si Zuu, Emang dasar yah pria gak tahu diri, untuk cakep"
"Eeh, tunggu dulu gue heran deh sama lho , kenapa lho malah belain Dia. Dia kan udah bikin lho babak belur kayak gini tapi kenapa lho masih belain Dia?" Tita yang merasa heran dengan temannya itu menyipitkan matanya dengan tajam mengintimidasi lawannya.
"Karena kalau sampai bos kamu dengar, lalu kamu dan Zuu dipecat, Aku disini yang merasa dirugikan karena menanggung dua orang pengangguran sekaligus" jawab Jony asal yang sontak membuat mata Tita membeliak tajam, setajam pisau dapur emakmu.
"APA"
" Dasar teman durjana, awas kau yah" Tita sudah siap untuk menambah jejak bonyok pada wajah teman lucknatnya itu dan sialnya Jony yang jeli dalam situasi sudah melarikan diri dari tempatnya, Tita pun tidak mau tinggal diam dan dengam segera mengejar teman gak punya perasaan itu. Bisa-bisanya diwaktu genting seperti ini Ia masih saja perhitungan.
__ADS_1
" Mau kemana lho? Sini lho jangan lari dasar temen gila perhitungan banget"
" Sekolah dimana sih loh, perkalian lho aja dapat nilai A tapi bembanding terbalik dengan bagi-bagi lho, nol besar"
"Gue sumpahin lho bakal punya cewek matre"
"Biarin. Matre itu realistis"
Tita terus mengejar Jony yang terus berlari menghindari hantaman dan lemparan barang yang dilempar olehnya, dan pada saat kaki Jony kesandung akhirnya Jony terjatuh pas didepan pintu kamar Zuu yang terbuka dari dalam dan tanpa disengaja Tita yang berlari kencang kearah Jony ikut terjatuh di atas tubuh Jony.
"Ka-kaaliaan... ngapain depan kamar gue?Kalau mau enak-enak itu jangan disini, sana lho pada, dikamar kalian. Ngapain didepan kamar gue" Suara serak yang sejak kemarin mereka rindukan akhirnya terdengar juga, tapi terdengar sangat judes. Dan kini bukan lagi memakai kata aku kamu, tapi lho gue yang artinya Zuu saat ini dilanda kekesalan luar biasa.
Tita dan Jony hanya saling tatap, merasa bingun dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu ditambah lagi penampilan Zuu saat ini sangat kacau berantakan, mata sembab dan bengkak serta rambut yang acak-acakan bak singa jantang dengan tatapan tajamnya.Tetapi hanya seperkian detik karena didetik berikutnya Tita dan Jony baru sadar dengan posisi mereka.
"I-ini gak seperti yang lho lihat Zuu, Gue bisa jelasin semuanya" ucap Tita berusaha menjelaskan agar temannya itu tidak salah faham. Sedangkan Jony hanya diam tanpa ingin menjelaskan sedikitpun.
"Gue sama sekali gak peduli. Lho berdua ngapain itu urusan kalian. Lagian ngapain juga lho harus jelasin ke gue, gue bukan pacarnya ataupun istrinya yang minta penjelasan dari lho" ujarnya panjang lebar masih dengan kejudesannya.
"Bangun lho. Betah banget lho kayaknya diatas tubuh gue" ujar Jony
"Idih geer. yang ada najis gue" ujar tita menimpali tak kala sengit.
"Terus ngapain masih disitu?"
" Eh iya ngapain gue masih disini" Tita pun segera bangkit dan tanpa sengaja lututnya menghimpit keras benda pusaka milik Jony.
"Aaakh" pekik Jony secara otomatis memegang benda tumpul yang nyeri itu dengan meringis kesakitan
"Lho mau buat adek kecil gue gak berproduksi lagi. Hah" bentaknya yang membuat Tita menunduduk karena merasa bersalah.
__ADS_1
"Ya Maaf"
" Lho tuh makan apaan sih, akhir-akhir ini lho nyebelin banget" Tita kembali kemood awal.
" Kok gue, Elo tuh yang nyebelin" seru Jony tak terima. Dirinya yang menderita disini, dan dirinya pula yang dikatain nyebelin, parah bangetkan.
"Stop....Kalian tuh apaan sih, tadi pelukan sekarang berantem, gak peka banget sama perasaan gue...huh" Zuu menghela nafas jengah dengan tingkah kedua temannya itu. Ia sama sekali tak beraksi apapun, walau hanya sekedar menangisi atau menertawakan keduanya bertingkah sangat konyol.
"Aku itu lagi patah hati guys, tapi kalain malah sibuk dengan urusan kalian sendiri. Aku tuh butuh kalian, Aku dipecat, aku patah hati, Aku sendiri, kalian malah sengaja banget nambah kekesalanku" suaranya masih serak akibat Ia tak henti-hentinya menangis selama dua hari ini. Akan tetapi suara itu sekarang sudah melemah dari yang tadi 700 oktaf.
Tita yang mendengar pengakuan dari temannya, segera mendekat dan memeluk tubuh Zuu dengan erat "Maaf...Maafin Gue ya, Gue gak tahu kalau lho lagi galau" Zuu segera mengangguk dan menatap Jony yang masih diam dan meringis akan tetapi mendapat tatapan tajam dari Zuu ia segera mendekat dan menepuk-nepuk bahu Zuu yang sedang meminta dukungan.
"Yang sabar yah, Gue dan Tita ada kok buat lho" ucap Jony meredam emosi sahabatnya agar tidak merajuk
"Ya udah Aku maafin, tapi...tapi...." ucapnya masih dalam pelukan Tita
"Tapi apa?" jawab kedua nya bersamaan
"Tapi Aku lapar" Zuu mengusap perutnya yang keroncongan karena memang sangat kelaparan
Mendengar pengakuan kedua Zuu, Jony dan Tita sontak saling menatap dan didetik berikutnya keduanya tertawa terpingkal-pingkal, bagaimana tidak temennya satu itu begitu aneh bin ajaib.
.
.
.
Setelah menghabiskan makanan yang telah disiapkan oleh kedua teman, Jony dan Tita segera meminta penjelasan tetang apa yang terjadi pada diri Zuu dua hari yang lalu, dan Zuu pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
__ADS_1
Happy Reading🤗😍
"Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah"