
"Aku tidak perlu alasan untuk melakukannya, karena aku punya hak untuk itu" ucap Kenzio dengan sangat tegas tanpa menunggu jawaban dari Daddy-nya.
"Aku berhak melakukan apapun yang aku ingikan, apalagi memilih pendamping hidup, aku akan menentukannya sendiri dengan siapa aku akan menikah dan sudah pasti itu bukan dengan Jasmine. Dan asal Daddy tahu, aku kesini bukan untuk berdebat atau meminta persetujuan darimu, aku kemari hanya untuk memberitahukan hal ini saja" lanjutnya.
"Bagaimana bisa kamu memutuskan sepihak begini, Daddy nya Jasmine terlanjur mengundang kita malam ini, untuk membahas pernikahan kalian, apa kamu mau membuat Daddy malu dihadapan mereka, mau ditaroh mana muka Daddy?"
"Kamu jangan se egois itu dong Zio, kamu mau menyakiti hati Jasmine dengan penolakanmu itu, setelah beberapa waktu lalu kamu sendiri yang mengumumkan pernikahan dan menggelar pertunangan kalian, dan dengan seenaknya kau memutuskan secara sepihak begini?" ujarnya tak kalah lantangnya, mencoba memberi anaknya pengertian. Entah apa yang ada diotak Kenzio saat ini, Tuan Indra sendiri tidak habis fikir dengan pola pikir putra sematawayangnya itu.
Kenzio terdiam saat mendengar penuturan Daddy nya, ia benar-benar kehilangan kata-kata untuk menyanggah semua yang dikatakan oleh pria baru baya itu
Bagaimanapun apa yang dikatakan oleh Daddy nya itu memang sangatlah benar. Ia mengurutuki kebodohannya sendiri yang dengan mudahnya membuat pengumuman tak masuk akal, hanya karena ingin melihat Zuu terluka saat itu.
"Kenapa diam?" pak Indra sengaja memprovokasi anaknya agar ia tidak lepas tanggung jawab terhadap perlakuannya terhadap Jasmine. Bagaimanapun Kenzio sudah sangat keterlaluan, tapi apakah pemuda itu peduli, dan jawabannya tentu saja tidak.
Tuan Indra bukannya tidak tahu, anaknya itu dekat dengan siapa saat ini, akan tetapi semuanya sudah terlanjur dan mau tidak mau, Kenzio harus bertanggung jawab dengan konsekuensi dari semua yang ia lakukan.
"Apa yang Daddy katakan itu memang tidak salah, dan saya akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri".
" Dengan cara apa?, Keluarga Jasmine sudah ada di Jakarta dan kamu harus menemui mereka malam ini juga!"
__ADS_1
"Kamu jangan lupa siapa ayahnya Jasmine, Kamu tidak bisa berbuat semaumu begini, salah sedikit kamu yang akan hancur"
*****
Ditempat lain, tepatnya diruangan presdir FG Group Zuu sedang mondar mandir bak setrikaan dengan muka kusutnya. Bagaimana tidak kusut sejak tadi ia menghubungi nomor kontak Kenzio namun sama sekali tidak aktif. Dirinya ingin sekali menanyakan keberadaan pria itu tetapi nihil pesan yang dikirimpun masih centang satu, ingin sekali memaki pria yang dicintainya itu karena sejak tadi Ia sudah lama menunggu sampai berjam-jam tetapi pria itu tidak muncul-muncul juga. sebenarnya kemana Dia.
"Ini kamu dimana sih Zio?", Dasar pria tengik". Tuhkan keluar juga akhirnya umpatan yang sejak tadi ia tahan saking kesalnya. Ia mulai gelisah, malam sudah semakin larut dan Kenzio belum menampakkan batang hidungnya.
"Apa telah terjadi sesuatu" semua hal-hal negatif sudah merasuki fikirannya, entah sudah berapa puluhan kali ia kelaur masuk diruang tersebut untuk memastikan keberadaan prianya, tapi tetap saja nihil karena Kenzio memang tidak ada didalam gedung perusahaan, Ia belum pulang sejak ia pergi pagi tadi. Dan sekarang sudah sangat sepi karena sudah larut malam dan kariawan sudah lama pulang hanya menyisahkan dirinya.
"Tidak. Tidak! mungkin saja ia terjebak macet atau masih berada dikontruksi dan Hp nya mati karena memang sedang kehabisan daya" anggapan terjadi sesuatu yang buruk itu Ia singkirkan dan menganggap pria itu baik-baik saja. Terusterang menduga-duga tentang dirinya yang kenapa-napa membuat susah untuknya bernafas, terlalu sesak hanya untuk memikirkan nya.
"Ceklek ".
"Kau datang?" Diantar banyaknya pertanyaan dalam benaknya, hanya dua kata itu yang keluar dari bibirnya. Ia hanya takut kehilangan cukup dirinya mengalami semua itu selama ini, tidak kali ini, Jangan.
Lima menit tidak mendapat respon dari Kenzio, tidak merespon kata-kata maupun pelukannya, membuat hatinya bertanya-tanya , ada apa dengannya. Ia tak ingin berasumsi macam-macam ia pun memberanikan diri untuk menatap mata hazel nan teduh itu tanpa melepaskan pelukannya.
satu menit, dua menit berlalu tanpa kata, hanya saling memandangi wajah masing-masing seakan tidak pernah puas untuk saling menatap satu sama lain menyiratkan berbagai pertanyaan dengan tatapan. Sungguh diluar expektasi, beberapa waktu lalu Ia ingin menhajar pria itu kini lenyap entah kemana.
__ADS_1
"Hem" Kenzio mengalihkan tatapannya terlebih dulu dan segera beranjak dari sana.
"Tu-tunggu" suara Zuu tercekak ditonggorokan atas respon yang diberikan Zio padanya. "Ada apa? apa yang terjadi? Dan kamu darimana saja? Aku_"
"Cukup, sebaiknya kamu pulang" ucap Zio tegas
"Ta-tapi kenapa? Apa kesalahanku, sebenarnya Kau ini kenapa?, kumohon jangan buat aku bingun seperti ini dengan sikap kamu yang berubah-ubah" ujarnya dengan mata sudah berkaca-kaca
"Apa aku ada salah?", katakan apa kesalahanku" Zuu kembali memeluk tubuh Zio dari belakang, Kristal bening sudah luruh jatuh membasahi pipinya, Ia tidak bisa lagi menahan rasa sesak yang sejak tadi ia tahan.
"Aku sudah bilang cukup, ya cukup." ujar Kenzio dengan suara tegas tak terbantahkan, ia segera menyentak tangan mungil yang sedang melingkar di pinggangnya.
"Kau dipecat dan mulai hari ini aku tidak ingin melihatmu lagi ada dikantor ini"
"A-APA" lirihnya, Zuu yang mendengar perkataan dari Kenzio tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dunianya runtuh seketika, ada apa ini?.
"Kau tidak dengar, kau dipecat dan jangan menampakkan wajahmu dihadapanku lagi" ujarnya sambil berlalu pergi.
Zuu tersentak dengan apa yang baru saja didengarnya , ia seakan tuli, kata-kata Kenzio berputar-putar dalam otaknya, tubuhnya luruh kelantai yang dingin, seakan kakinya tak kuat menahan beban tubuhnya, ia tidak merasakan apapun kecuali rasa sesak yang mendalam semakin menghimpit hatinya, seperti sembilu menusuk dadanya hingga rasa sakit menyerang jiwanya. Sungguh Ia tidak menyangka, perasaan yang berbalas manis tadi pagi hanya sebuah ilusi saja, tidak nyata semuanya palsu dan semu.
__ADS_1
"Apakah Dia memang bukan Zio dan aku tidak akan pernah bisa bersamnya. Kenapa dunia ini semuanya manipulatif, apa yang salah dengan diriku, kenapa semua orang meninggalkanku". Lirihnya
Setelah beberapa menit berlalu, Zuu pun akhirnya menyeret langkah kakinya gontai keluar menyusuri lorong-lorong ruangan kantor dengan keadaannya yang kacau. Ia pun Menuntun kakinya berjalan menuju lift, sementara itu disudut ruangan ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya, sedang menghela nafas sangat beratnya.