
"jedarrrrr"
"Akkhhhh......"
Suara tembakan dan pekikan dari orang-orang bersahutan begitu memekikkan telinga, akan tetapi bukan itu yang menjadi sumber kepanikanku, wanitaku saat ini sedang terjatuh di pelukanku dengan darah segar yang sudah mengalir deras dan merembes dari balik punggungnya, jantungku seperti berhenti berdetak melihatnya terluka. Lututku menjadi lemas, tulang-tulang ku seperti terlepas dari persendian. Nyawaku bak hilang entah kemana.....
Zuu mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan diriku......wanita yang telah aku hancurkan hatinya itu dengan suka rela mengorbankan hidupnya sendiri agar bisa menyelamatkanku dari anak peluruh yang akan mengarah padaku.
Aku seperti kehilangan arah...."ini semua salahku, aku yang telah membuatnya seperti ini, karena diriku semua ini terjadi" Aku mulai hilang kendali, aku mencercau tak karuan dan untungnya Leo segera menyadarkan ku, kalau Zulaikha saat ini lebih membutuhkan pertolongan medis daripada penyesalanku.
Aku segera mengangkat tubuhnya yang sudah berlumuran darah dan membawanya keluar dari kericuhan yang terjadi. Untungnya Leo, Yogi dan juga Jerry segera menangani semuanya sehingga ayah, Jasmine dan juga orang-orang tak bersalah lainnya segera diamankan. Dan aku hanya sibuk membawa Zuu keluar dari gedung hotel tersebut, tanpa memperdulikan bahaya sekitar yang mengintai, untunglah Leo dan beberapa pengawal lainnya, melindungi kami dari serangan musuh, sehingga aku bisa membawa Zuu pergi dari sana dengan aman.
Aku segera membawa Zuu kerumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil yang telah Leo persiapkan. Ku rebahkan tubuh Zuu di pangkuanku, dan Leo yang membawa kemudi mobilnya.
"eughh...I-ibbu.....ibu....izh....,ibu sepertinya ak-aku akan segera menyusulmu bu...izh" lenguhan serta rintihan terdengar lirih dari bibirnya yang berusaha untuk bebicara.
"apa yang sedang kamu katakan sayang, itu semua tidak benar" aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku lalu kemudian kubenamkan wajahnya itu di dadaku agar ia berhenti mengoceh tidak karuan yang membuat dadaku menjadi lebih sesak.
"Hei sayang.....aku mohon jangan katakan itu, aku mohon.....Tenanglah, aku tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi padamu" ucapku meyakinkan namun, aku sendiri saat ini sedang kalut dan sangat-sangat takut.
"sayangku aku mohon....aku mohon, jangan seperti ini tolong buka mata kamu Zuu.....buka mata kamu kumohon.....Agrrrh......." gelisah, panik, khawatir dan takut menjadi satu melihat keadaannya membuatku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, baru kali ini aku merasa sangat takut kehilangan seseorang dan itu adalah Zulaikha Zalsabila "Yaa Tuhan selamatkan hidupnya aku benar-benar takut. Tuhan"
Tubuh Zuu semakin dingin serta wajahnya sudah memucat
__ADS_1
"Leo....Leo"
" Ba-baik Tuan" Leo seperti mengerti apa yang aku rasakan, sehingga ia dengan cepat menambah kecepatan laju mobilnya sehingga tidak butuh waktu lama, mobil yang mereka kendarai sampai di lowby salah satu rumah sakit terdekat.
"Dokter....dokter...." Aku berteriak-teriak seperti orang gila. Mungkin petugas rumah sakit itu telah mengerti kepanikan ku sehingga mereka langsung membawakan brankar untuk membantuku. Setelah itu Zuu dibawa kedalam ruang ICU.
"Maaf tuan anda tidak boleh masuk, biarkan kami yang menangani dan memeriksa keadaannya" ucap petugas rumah sakit melarang.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkannya sendiri, aku akan selalu berada disisinya, biarkan aku masuk atau kau akan kuhajar" pangkas ku melawan dan sudah mengcengkram kerah baju putih yang dikenakan oleh perawat tersebut dengan raut wajah ketakutan disebabkan oleh kepalan tangan yang sudah berada didepan wajahnya.
"Tetapi anda tidak bisa masuk tuan, ini sudah menjadi prosedur rumah sakit ini. saya harap anda mengerti, istri Anda akan segera kami tangani secepatnya, agar semua bisa berjalan dengan lancar jadi kami berharap pengertiannya tuan" ujar sang petugas memberikan pengertian. beranggapan bahwa Zuu adalah istriku, mungkin karena saat ini aku seperti seorang suami yang panik dan sangat takut kehilangan istrinya.
"Baiklah" aku pun mengalah, dan melepaskannya agar Zuu secepatnya bisa mendapatkan perawatan.
"Terimakasih Tuan" setelah mengucapkan itu, sang petugas pun menutup pintunya sebelum berlalu pergi.
"Sungguh aku tak rela jika kehilangan dirinya, aku menyesal....aku sungguh menyesal"
"Tuan....anda baik-baik saja?" tanya Leo khawatir dengan kondisiku. Tak ingin mengundang perhatian Leo memapah ku untuk duduk di kursi tunggu.
"Leo, apa yang terjadi, kenapa kita sampai kecolongan seperti ini. siapa mereka?"
"Sepertinya mereka suruhan dari para Bandit-bandit perusahaan yang kita eksekusi dulu tuan" jawab Leo dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"APA..... Br*ngs*k, berani sekali mereka"
"Iya tuan. tetapi ini masih perkiraan saja tuan, untuk membuktikannya kami akan mengintrogasi mereka"
"Baiklah, kau bereskan semua kekacauan ini!"
"Baik tuan"
Waktu terasa berjalan dengan sangat lambat, aku sudah tidak sabar menunggu pintu ruangan ICU itu terbuka dan mengetahui keadaan Zuu. ingin rasanya kudobrak saja pintu si*lan itu.
Setelah lama menunggu dengan perasaan cemas, pintu yang sejak tadi tertutup kini kembali terbuka dan beberapa perawat dan seorang dokter keluar mencari wali dari Zuu.
"Bagaimana keadaannya dokter?dia baik-baik saja bukan?" tanyaku dengan panik, membuat dokter kewalahan untuk menjawabnya.
"Anda wali dari pasien?"tanya dokter tersebut
"Iya dokter ini suaminya"jawaban itu keluar bukan dariku melainkan petugas yang sejak tadi menganggap Zuu adalah istriku.
""Maaf tuan, saat ini istri anda masih dalam keadaan kritis akibat luka yang dalam sehingga ia menguarkan banyak darah,oleh karena itu kami membutuhkan banyak darah, akan tetapi rumah sakit ini sedang kekurangan golongan darah istri anda yaitu golongan darah AB" jelas dokter panjang lebar
"selamatkan dia dok, saya akan membayar berapapun, tetapi pastikan dia selamat"
"kami hanya bisa berusaha Tuan, istri anda akan baik-baik saja jika persediaan darah yang dibutuhkan segera ditemukan dan kalau anda bisa mencarikan pendonor untuk istri Anda, itu sudah sangat membantu" ucapan sang dokter menginterupsi
__ADS_1
"Leo, Kau dengar kan apa yang dikatakan oleh dokter, segera cari kesemua rumah sakit yang ada di ibu kota dan membawa semua stock darah dengan golongan darah yang sama dengannya dan cari pendonor yang memiliki golongan darah Ab, capat!!"
"Baik tuan"jawab Leo sambil berlalu