
Semenjak dirinya dipecat serta hubungan antara dirinya dan Kenzio merenggang, entah bagaimana ia harus mendefesinikan hubungannya kini, karena hubungan keduanya dari awal memang sudah tidak jelas, mantan kekasih juga sepertinya itu tidaklah pantas karena Kenzio memiliki tunangan.
Ya memang hubungan mereka sejak awal bertemu keduanya tidak memiliki satu ikatan yang kuat sehingga berharap kelanjutan hubungan yang bahagia sepertinya mustahil.
Mungkin karena itu pula Zuu meresa hanya dirinya saja yang terlalu berharap lebih atas hubungan ini, Ia seperti malam yang gelap tak berbintang yang merindukan bulan untuk menerangi dirinya, dan itulah dirinya dahulu yang menanti pertemuan dengan Kenzio sejak lama, dan kini setelah beberapa saat kemarin ia bersama dengan pujaan hati, harinya penuh dengan warna pelangi seperti dulu dan itupun hanya sesaat dan kini hatinya kembali meredup bak matahari yang akan meninggalkan singgasananya dan memjadi gelap gulita, yaa setelah Kenzio tak mau lagi bertemu dengannya, kini kehidupan Zuu ikut suram, tanpa cahaya.
Sudah satu bulan ini Zuu kembali bekerja, tapi tidak lagi di Perusahaan BRAMASTA GROUP. Ia sekarang bekerja disalah satu butik ternama dan termasuk salah satu butik terkenal, Butik yang menjual dan pemasok barang-barang Branded , sebenarnya ia juga merasa heran kenapa ia bisa diterima di butik tersebut dengan sangat mudah, padahal saat itu ia melamar kerja disana hanya mengandalkan peruntungan saja, dan alangkah beruntungnya ia karena paginya melamar siangnya sudah diterima bekerja tanpa adanya Interviuw terlebih dulu.
Walaupun Zuu sudah tidak bekerja diperusahaan yang sama dengan Tita, akan tetapi Zuu sangat bersyukur karena sahabatnya itu masih tetap bekerja disana, karena itu impian Tita sejak dulu, yaitu bekerja Di Perusahaan BRAMASTA GROUP yang menjadi impian setiap orang, yang ingin memulai karier atau pengalaman kerja.
Sekarang ini Zuu akan fokus menata hidupnya dan tak ingin lagi berharap sesuatu yang semu. Biarlah waktu yang akan menjawab segalanya dan sang pencipta yang menentukan kemana takdirnya tertuju.
Seperti siang ini Zuu sengaja mengalihkan pikirannya dengan giat bekerja melayani para pengunjung, sementara temannya yang lain sedang asyik menonton pemberitaan yang menghebohkan di sosial media, yaitu pemberitaan pernikahan putra tunggal Tuan Indra Hermawan yang tak lain adalah pewaris tunggal BRAMASTA GROUP, siapa lagi kalau bukan Kenzio Aprilio Bramasta, CEO muda tampan dan kaya raya tersohor yang memiliki pesona yang meluluh lantahkan hati para kaum hawa.
Tidak heran banyak wanita yang bertekuk lutut padanya dan siap jadi partner ranjangnya walau hanya semalam.
" Waah beruntung banget ya jadi Jasmine, andai saja aku yang jadi Jasmine entah sebahagia apa aku sekarang" ucap salah satu teman kerja Zuu yang bernama Amel
"Ngimpi loe. Bangun wooii..., mana mau Kenzio sama babu kayak loe" ucap Sarah kesel dengan Amel yang kebayakan berkhayal.
"Hahahahaha..." semua yang mendengarnya iku tertawa mengejek Amel
" Gak tahu nih, ada-ada aja" yang lain ikut menimpali
"Ih resek, sirik aja loe" ucap Amel dengan wajah cemberutnya sambil memicingkan mata tajamnya kepada sarah
"Halah, jangankan Amel Gue juga pengen kali"
__ADS_1
"Iya juga sih, si Jasmine emang beruntung banget, selain cantik dia juga salah satu model berbakat international, yang di kotrak beberapa brand terkenal"
Zuu yang mendengar percakapan mereka membuat telinga dan hatinya panas.
Memdengar pria yang telah dicintainya dan diharapkannya, kini sebentar lagi akan menikah dan akan berstatus suami orang.
"Mungkin ini memang jalannya, dan aku harus ikhlas dengan apa yang ditakdirkan Tuhan padaku".
"Kerja-kerja jangan hanya makan gaji buta kalian" ujar Bu Intan sebagai atasan di butik tempat mereka bekerja
Memdengar suara lantang dari sang atasan mereka kompak membubarkan diri, namun Zuu yang hanya diam saja, akhirnya ia pun mendapat teguran dari Bu Intan karena posisinya berdiri tak jauh dari sana
"Apa kau juga sedang berkhayal dari upik abu menjadi cinderella" suara tegas itu membuat Zuu tersentak kaget disebabkan ia mang sedang melamun.
"Haah, dasar mereka, apa mereka pikir butik ini milik ibu mereka seenak jidatnya bergosip di tempat kerja"
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 dan semua karyawan bergegas meninggalkan butik. Zuu yang keluar belakangan merasa bulu kuduknya berdiri, ia baru menyadari bahwa sudah tak ada seorangpun di parkiran saat ini.
Ia pun segera berjalan dengan cepat menuju Halte bus, tanpa ia sadari sejak tadi ada yang mengikuti dirinya yang sedang memandangnya dari jauh.
"Target sudah ada didepan mata" ucapnya dalam sambungan telepon. Setelah mengatakan itu, pria misterius itu kembali mengawasi setiap pergerakan Zuu.
Zuu yang mulai curiga sedang ada yang mengawasi segera menghubungi nomor poncel Tita dan menanyakan sudah berada dimana sahabatnya itu sekarang, karena sore tadi Tita sudah bilang akan menjemput dirinya.
Belum sempat Tita mengangkat sambungan teleponnya, mulutnya lebih dulu di bekap dengan tangan kekar dan tak tahu dari mana datangnya tiba-tiba mobil sudah ada didepannya dan membawa dirinya pergi dari sana dengan sangat cepat karena memang saat ini keadaan sekitar yang memang sangat sepi sehingga mempermudah mereka membawa Zuu pergi.
Sambungan teleponnya diankat oleh Tita akan tetapi tidak ada jawaban darinya. Karena tidak ada sahutan dari Zuu membuat Tita merasa khawatir dan akhirnya melesatkan motor maticnya dengan sangat kencang.
__ADS_1
Sesampainya di Halte, ditempat dimana Zuu sering menunggunya, tetapi orangnya malah tidak ada membuat Tita panik dan sangat khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Zuu.
"Zuu...Zuujuu..," teriaknya "kemana anak itu"
Dengan tergesah ia kembali menghubungi Zuu, akan tetapi phoncel itu berdering tak jauh dari tempatnya berdiri.
"I-ini kan Poncelnya Zuu, Yaa Tuhan...Zuu....Zuuu" Ia sudah tidak dapat menahan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya karena kepanikan dan tak ada seorangpun yang berada disana
"Ha_"
" Halo Jhon"
"Jhony"
"Halo Tita kamu kenapa? ada apa?"
"Jhon, Zuujuu Jhon Dia tidak ada disini, Zuu hilang bagaimana ini, apa yang harus gue lakuin, jhon, kemana Zuu pergi. Phoncelnya ada di sini tapi orangnya tidak ada"
"Apa"
"Ok, loe tenangin diri dulu, tunggu gue kesana sekarang"
"ya baiklah"
Setelah sambungannya terputus Tita terduduk lemas diatas bangku yang tersedia di halte tersebut." Loe dimana Zuu, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengab loe"
Tak lama kemudian Jhony datang menghampiri Tita yang tidak berhenti-hentinya menangisi Zuu. Ia pun menceritakan kalau Zuu sudah tidak ada saat Ia sampai dan hanya menemukan phoncelnya saja.
__ADS_1