5 Pendekar Ling

5 Pendekar Ling
6. Perjalan tanpa arah


__ADS_3

Seorang anak usia 12 tahun terus menelusuri hutan berkabut dia hanya beristirahat jika kelelahan dan naik ke atas pohon.


Tanpa dia hiraukan ada siang atau malam karena tak ada cahaya yang memasuki hutan berkabut itu.


Hanya dari kicauan burung atau suara binatang lain nya yang menandakan ada nya siang dan malam, semakin jauh berjalan semakin timbul rasa penasaran nya.


Tetapi aneh nya semakin dalam itu tidak ada binatang buas yang mendekat dan menyerang nya entah apa yang dirasakan, apakah ini sebuah berkah atau sebuah ketenangan sebelum badai.


Semakin kedalam semakin sepi dan ternyata sudah mendekati malam hari tapi dia terus berjalan hingga akhir nya dari jauh dia melihat hamparan luas yang tetap tertutupi oleh dedaunan di atas nya semakin mendekat dia melihat ada nya sebuah gua tertutup batu dan batang pohon yang besar sekali. Gua itu terlihat hanya dapat dimasuki seukuran tubuh nya. Dia semakin penasaran antara itu adalah sebuah gua biasa ataukah tempat tinggal binatang kecil yang terlihat seperti gua kelinci yang agak besar.


Menghilangkan rasa penasaran nya ling zia long memasuki gua itu karena berfikir dapat beristirahat dengan tenang di sana. tanpa harus memanjat pohon dan berfikir dapat tidur dengan nyaman tanpa harus tidur dengan posisi terduduk sambil terjaga akan binatang binatang buas yang melewati nya.


Dia membuat api pada ranting pohon dan dengan sobekan pakaian nya membuat penerangan untuk berjalan memasuki lebih dalam gua tersebut.


Dalam benak nya hanya terlintas semoga tidak ada bahaya di dalam sana semakin jauh melangkah dan semakin dalam tanpa terasa bahwa jalan lorong gua itu seperti turun pada kedalaman tanah, hingga pada akhir nya dia melihat diujung gua itu ada pembatas yang menutupi gua, dengan disampingi nya ada tetesan air yang seperti mata air. Pada sebuah batu yang menjadi cekung kedalam akibat tetesan air dan terlihat seperti mangkuk batu terisi air murni yang sangat jernih.


Dan tanpa dia sadari air itu adalah sumber mata air yang terbuat dari berbagai esensi bumi esensi alam dan tanah bahkan esensi pepohonan yang tercampur menjadi embun dan menetes pada batu tersebut.


Mungkin orang di luaran sana menyebut air ini dengan esensi air kehidupan murni.


Tanpa banyak berfikir ling zia long meminum air itu supaya menghilangkan rasa haus dahaga yang dia rasakan berhari hari itu dalam hutan.


Dengan senang menghilang kan rasa dahaga nya tersebut, tapi setelah beberapa saat kemudian dia merasakan tubuh fisik nya menderita rasa rasa sakit yang teramat sangat, baik dari dalam perut nya tubuh nya bahkan tulang tulang nya seperti tertimpa beban yang sangat berat.


Dia berlari kesana kesini meloncat bahkan terduduk kemudian bangkit kembali, menahan rasa sakit tanpa menghiraukan keadaan gelap didalam sana karena telah menjatuhkan tongkat api yang dipegang nya.


Rasa sakit itu tak pernah hilang seakan tersiksa sepanjang hidup nya.


Dia berfikir apakah ini akibat meminum air didalam gua tersebut tanpa sepengetahuan pemilik nya. Tapi dimanakah pemilik air ini!


Dia tidak sadar bahwa yang diminum nya adalah air suci kehidupan yang dapat membuat tubuh bertambah kuat untuk menempa tulang dan darah nya, dan seharusnya meminum air tersebut hanya beberapa tetes saja sudah dapat menguatkan tubuh nya.


Ling zia long terus berteriak meminta pertolongan dan terus berteriak menahan sakit seakan rasanya hidup nya akan berakhir.


Dalam keadaan gelap tersebut dia memukul memukul apapun yang ada disekitar nya entah itu lantai batu, dinding batu bahkan memukul dirinya sendiri seperti orang gila.


Tak sengaja dengan pukulan pukulan nya dia membuat retakan pada dinding batu yang yang menghalangi jalan atau sebagai penutup ujung gua tersebut.


Dia terus memukul nya dengan rasa sakit di sekujur tubuh nya hingga terdapat lubang sebesar kepala dan semakin membesar seukuran tubuh nya jika dia masuk celah tersebut.

__ADS_1


Tetapi rasa sakit yang tak pernah hilang itu membuat nya tidak sadarkan diri. Didepan batu pembatas yang sudah ada celah tersebut.


"Bruk. . . .


Tubuhnya terjatuh ketanah dan tidak sadarkan diri


***************


Ling zia long membuka mata nya langsung terkaget membuka mata lebar lebar, karena berada di suatu tempat dengan hamparan rumput luas dan aroma wangi bunga, tumbuhan herbal dan wangi dari pohon pohon yang menyentuh hidung nya dia berasa berada di dunia lain seakan berada di surga.


"Apakah aku sudah mati"


ling zia long berpikir demikian, "dan apakah ini surga yang diceritakan di dongeng dongeng sebelum tidur, dan dari kitab kitab yang pernah aku baca sebelum nya".


"Jika ini surga dimanakah para penghuni surga yang lain nya. Bukan kah jika orang yang sering membuat masalah dan membuat onar akan terlebih dulu masuk kedalam neraka sebagai pencucian dosa".


"Tapi mengapa aku berada di surga, apakah aku sebaik itu pada sebelum nya. Tanpa sadar dia bergumam dengan suara terdengar oleh nya sendiri.


"Akhir nya Kau sudah bangun bocah", ada suara di telinganya yang terdengar sangat asing.


Tapi begitu dia menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian kebelakang dia tidak dapat melihat seseorang yang mengeluarkan suara itu.


Hingga akhir nya dia bangun berdiri dari duduknya dan berteriak!


"Apakah ada seseorang disini, dimanakah ini?" "Apakah ada orang lain disini?"


"Lihat lah keatas bocah", ucap suara tersebut


Tanpa sadar ling zia long menengadahkan kepala nya keatas dan melihat sebuah siluet binatang dengan ukuran panjang sekali dan besar bagaikan gunung binatang itu berwarna emas, dengan berbentuk ular panjang dengan kaki seperti cakar elang dan kepala yang menyeramkan dengan kedua tanduk, yang menampilkan kegagahan dan keagungan dari seekor binatang suci.


Tanpa sadar ling zia long berkata,


"apakah ini adalah naga yang legendaris itu?"


"Hahahahaha"


"Hahahahahahah"


"Apakah kau tau aku seekor naga bocah", ucap suara yang terdengar ditelinga nya itu.

__ADS_1


Ling zia long mengangguk tanda mengiyakan suara itu.


Suara itu kembali berkata


"setelah ribuan tahun lama nya tidak pernah ada yang menginjakan kaki di gua ini dan tidak mengetahui gua ini".


"Baru sekarang kau yang memasuki nya bocah, dan seperti yang kulihat kau hanya manusia biasa yang tidak ada jejak aura sama sekali".


"Apakah zaman ini tidak ada yang namanya kultivator bocah?" Naga itu bertanya


Ling zia long menangkupkan tangan nya tanda menghormati suara itu.


"Ling zia long memberi hormat pada ....."


Dia berfikir akan menyebutnya dengan apa?


Kau dapat memanggil naga leluhur saja. Ucap naga itu.


"Ah iya maaf"


"Ling zia long memberi hormat naga leluhur." Sambil menangkupkan tangan nya.


"Apakah aku boleh bertanya naha leluhur?"


"Dimanakah aku saat ini. Apakah ini di surga?"


"Dan apakah aku sudah mati?"


Naga leluhur itu tersenyum melihat tingkah dari seorang anak anak berkata demikian.


"Bisa dikatakan kau mati dan tidak, karena saat ini hanya jiwa mu saja yang masuk ke dunia ini, karena tubuh mu masih tertinggal di gua sebelum kau masuk kesini bocah", dan dunia ini adalah dunia kecil dunia jiwa dari seseorang yang telah lama meninggal dunia".


"Dan aku sendiri hanya pecahan jiwa saja yang menjaga dunia ini."


"Jika kau dapat melatih jiwa mu hingga maksimal kau dapat memasuki gua ini dengan tubuh fisik mu". Dan lagi disini banyak sumber daya dan sumber energi melimpah untuk para pendekar yang ingin menjadi kuat dan . . . . .


Naga menjelaskan secara rinci keadaan dunia itu.


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

__ADS_1


__ADS_2