Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 10


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Pagi ini aku dan mas Darren baru saja selesai sarapan. Setelah beberapa hari aku menemani dan menghiburnya, mas Darren akhirnya terlihat jauh lebih baik.


Sekarang dia sudah bisa tertawa, meski pun belum sepenuhnya tertawa lepas. Sekarang penampilan mas Darren juga sudah terlihat jauh lebih baik dan rapi, tidak seberantakan saat dia pertama kali muncul di hadapanku beberapa hari yang lalu.


Dan akhirnya yang aku tunggu-tunggu, hari ini dia sudah memberiku ijin untuk kembali lagi ke rumahku. Hore ... saking senangnya aku sampai jingkrak jingkrak. Hehe tidak tidak. Aku hanya bercanda.


"Dek, Mas antar kamu pulang, ya?" tawarnya sebelum kami sama-sama bangkit meninggalkan meja makan.


"Boleh," jawabku tidak keberatan sama sekali. Kalau begini 'kan aku tidak perlu lagi repot-repot memesan taksi.


.


.


Saat dalam perjalanan menuju rumahku yang diantar oleh mas Darren, aku tiba-tiba saja mendapat panggilan telepon dari ibu. Langsung saja aku menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Bu," jawabku.


"Kei ...."


"Iya, Bu."


"Kamu sekarang ada di mana Sayang?" tanya ibu.


"Kei sekarang ada di jalan, Bu, sama Mas Darren," jawabku.


"Oh, kamu lagi sama Masmu toh, Nduk."


"Ehehe, iya Bu." Aku cengengesan sambil melihat sekilas ke arah mas Darren.

__ADS_1


Pagi ini ibu menelpon di waktu yang tepat. Kalau beliau mengetahui aku pergi diantar oleh mas Darren, kesannya 'kan ibu pasti mengira kalau selama ini hubungan aku sama mas Darren sangat baik. Padahal, baru beberapa hari ini kami kembali akrab.


"Memangnya kalian berdua mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya ibu lagi.


"Mm Mas Darren mau mengantar Kei kembali ke rumah, Bu. Kei kangen sama rumah kita," jawabku.


Kali ini aku benar-benar jujur. Aku tidak lagi membohongi ibu karena kenyataannya memang seperti itu. Aku berbicara apa adanya. Aku merindukan rumah karena beberapa hari ini aku tidak pernah kembali ke sana karena aku tinggal di rumah mas Darren untuk menghibur dan menemaninya.


"Oh kebetulan sekali, Kei."


"Kebetulan? Kebetulan kenapa, Bu?" tanyaku penasaran.


"Ibu menelpon kamu karena cuma ingin bilang, kalau rumah kita sudah ada yang membeli," jawab ibu yang sukses membuatku sangat terkejut mendengarnya.


"Apa, Bu? Kenapa bisa secepat ini?" Seketika aku menjadi sedih dan kecewa.


Padahal, beberapa hari yang lalu aku kembali ke sana karena ingin menghabiskan waktu di sana sebelum rumah itu laku terjual. Tapi sekarang aku tidak punya waktu lagi untuk itu.


Aku tidak menyalahkan mas Darren dalam hal ini. Sama sekali tidak. Aku tidak menyesal karena sudah menghabiskan waktuku selama berhari-hari untuk menemani dia. Apalagi aku melihat usahaku selama beberapa hari ini tidak sia-sia, sekarang keadaan Mas Darren sudah sangat jauh membaik.


"Baik, Bu." Aku menjawab tanpa semangat sedikit pun. Aku benar-benar belum rela rumah itu dibeli oleh orang lain.


Setelah ibu memutus sambungan telepon kami, aku akhirnya sudah tidak tahan lagi ingin segera menumpahkan air mataku. Kali ini aku tidak memperdulikan keberadaan mas Darren. Pokoknya, detik ini juga, saat ini juga, aku ingin menangis.


"Dek, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya mas Darren.


Aku menggeleng. Untuk saat ini aku masih belum mampu untuk berbicara. Aku benar-benar sedih karena rumah itu bisa laku terjual dalam kurun waktu yang menurutku sangat singkat.


"Dek, kalau kamu punya masalah itu ya di bicarakan, jangan dipendam sendiri," ucap mas Darren lagi tapi aku tetap tidak peduli.


Pokoknya untuk saat ini aku hanya ingin menangis saja, tidak mau berbicara. Keinginanku ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

__ADS_1


Mungkin karena melihatku terus-terusan saja menangis dan tidak mau berbicara, mas Darren akhirnya memutuskan untuk berhenti bertanya. Sepertinya dia benar-benar tipe orang yang cukup pengertian.


.


.


Beberapa puluh menit kemudian. Kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Tadinya tangisanku sudah mulai mereda, tapi setelah memasuki rumah ini, aku kembali menangis. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.


Sementara itu mas Darren tidak bertanya apa-apa lagi. Dia hanya membiarkanku menangis sambil mengekori langkahku ke mana pun aku pergi.


Setelah selesai menyusuri sudut demi sudut, ruangan demi ruangan, tangisanku akhirnya mereda. Dan sekarang aku sudah bisa mengatakan kepada mas Darren kenapa aku menangis.


"Mas, rumah ini ... rumah ini sudah laku terjual Mas," ucapku. Tidak terasa air mataku kembali menetes. Aku benar-benar masih belum rela kehilangan rumah ini.


Mas Darren berjalan menghampiriku lalu membawaku ke dalam pelukannya.


"Sudah, jangan menangis. Kalau rumah ini sudah terjual, kamu bisa tinggal di rumah, Mas. Mas malah senang kalau kamu tinggal sama Mas."


Sepertinya mas Darren salah paham. Aku menangis bukan karena aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi, tapi karena rumah ini memiliki banyak sekali kenangan. Terutama kenangan masa kecilku bersama mendiang ayah.


"Kei menangis masalahnya bukan gara-gara Kei nggak punya tempat tinggal lagi, Mas. Tapi Kei sedih karena Kei harus kehilangan rumah ini. Rumah ini memiliki banyak sekali kenangan. Terutamanya kenangan Kei bersama mendiang ayah selama beliau masih hidup dulu," jelasku.


"Iya, Dek. Mas mengerti. Apa kamu lupa, kita berdua sama-sama dibesarkan di lingkungan ini. Dulunya 'kan kita adalah tetangga. Dulu Mas bersama kedua orang tua Mas tinggal di rumah sebelah. Dan sekarang rumah itu sudah sangat lama kami jual. Kenapa rumah itu dijual? Karena setiap sudutnya, setiap ruangannya mengingatkan Mas pada mendiang ibunya Mas. Dan hal itu membuat Mas jadi sedih berlarut-larut. Melihat Mas yang sedih terus-menerus karena mengingat mendiang ibu membuat ayah Gilang mengambil keputusan untuk mengajak mas pindah dan menjual rumah itu. Alhasil, keadaan Mas bisa jauh lebih baik di tempat tinggal baru. Mas harap, kamu juga bisa seperti itu nantinya."


Yang dikatakan mas Darren banyak benarnya juga. Meski pun ayah sudah meninggal sekitar 7 tahun yang lalu, tapi aku masih sering suka menangis ketika mengingat kenangan tertentu bersama beliau.


.


.


Usai mengemasi barang-barang yang menurutku sangat penting untuk dibawa, aku dan mas Darren akhirnya kembali ke rumahnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Tidak terasa tadi kami menghabiskan waktu selama lebih dari setengah hari hanya untuk mengemasi barang-barangku.


Untuk sementara barang-barangku itu diungsikan terlebih dahulu ke rumahnya mas Darren sampai aku memiliki tempat tinggal baru untuk dijadikan sebagai rumah sekaligus toko kue.


__ADS_2