Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 12


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Hari ini adalah hari dimana mas Darren mengikuti sidang perdana perceraiannya dengan Felicya. Dia menghadiri sidang itu ditemani oleh ibu, ayah, dan beberapa orang kerabat terdekat.


Aku tidak bisa ikut menemani karena sekarang aku sibuk menyelesaikan cake pesanan beberapa orang pelanggan baru.


Semenjak toko kueku dibuka, aku menjadi lumayan sibuk. Dan semenjak tokoku ini dibuka, aku tidak tinggal lagi di rumah mas Darren. Sekarang aku sudah mendapat ijin dari ibu, ayah, dan mas Darren untuk belajar hidup mandiri. Meski pun awalnya mereka tidak menyetujui keinginanku, tapi karena aku merajuk dan tidak mau makan, barulah mereka bertiga memberiku ijin.


Aku merasa sangat lega sekarang karena akhirnya aku tidak tinggal satu atap lagi dengan kakak tiri tercintaku itu. Dan sekarang, aku ingin belajar melupakannya dengan cara belajar dekat dengan pria lain. Meski pun sebenarnya hatiku belum merasakan apa-apa ketika dekat dengan pria lain.


Saat ini aku benar-benar sedang dekat dengan seorang pria. Siapa lagi kalau bukan kak Rey. Semenjak 3 hari yang lalu, kak Rey menjadi sering menghubungiku. Bisa dibilang komunikasi kami lewat whatsapp beberapa hari ini sangat lancar. Bahkan sekarang ini kak Rey sedang melakukan panggilan video karena dia ingin melihat apa yang sedang aku lakukan.


"Memangnya sekarang Kak Rey nggak sibuk? Kok jam segini bisa video call?" tanyaku sambil memasukkan beberapa bahan dasar kue untuk dimixer bersamaan di dalam sebuah wadah.


"Sibuk sih, iya. Tapi sekarang klien yang aku tunggu belum datang, jadi aku memutuskan untuk menelpon kamu. Aku kangen sama kamu Kei," ucap kak Rey.


"Idih." Aku melihat kak Rey senyam-senyum setelah menggodaku. Dasar tukang gombal.


"Kenapa? Aku serius loh kangen sama kamu Kei. Kamu tidak percaya?" ucapnya lagi.


Tapi entah mengapa aku malas mendengar gombalan kak Rey. Aku lebih memilih menyalakan mixer ketimbang mendengar rayuan gombalnya.


"Kak Rey ngomong apaan sih? Kei nggak dengar. Mixer-nya lagi nyala nih," ucapku pura-pura tidak mendengar.

__ADS_1


Padahal saat ini aku sedang menggunakan headset bluetooth, jadi aku bisa mendengar ucapannya dengan jelas meski pun ponselku aku letakkan ditempat yang cukup jauh dan mixer-nya aku nyalakan.


"Ya sudah, kamu yang semangat bikin kuenya. Klien aku juga sudah datang nih. Nanti siang aku ke toko kamu ya. Bye. See you cantik," ucap kak Rey sebelum akhirnya dia menyudahi panggilannya.


Huh, dasar tukang gombal.


Sebenarnya aku sedikit khawatir mengenai kedekatanku dengan kak Rey. Biasanya laki-laki tukang gombal seperti dia itu seorang playboy. Biasanya.


Eh, biar aku penjelasan sedikit. Aku tidak mengatakan kalau kak Rey itu sudah pasti seorang playboy ya. Aku tadi hanya mengatakan biasanya. Tapi kata Laras sih dia berani jamin kalau kakak sepupunya itu setia dan sudah lama tidak memiliki kekasih. Jadi katanya aku tidak perlu khawatir mengenai hal itu.


.


.


Jika saja perempuan lain yang diperlakukan seperti ini, sudah pasti baper duluan. Apalagi kak Rey itu paket komplit, sebelas banding dua belas sama mas Darren. Tampan, mapan, dan dewasa. Dan yang pasti bisa mengayomi. Eaa.


Tapi ini aku yang diperlakukan seperti itu. Yang justru malah bingung harus menjawab apa. Aku tidak pernah menyangka bahwa kak Rey akan menyatakan cintanya padaku secepat ini. Ditambah lagi dia menembakku di saksikan oleh puluhan orang pengunjung. Aku jadi semakin shy-shy cat dibuatnya.


Melihatku hanya terdiam dan salah tingkah, kak Rey kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk yang kedua kalinya.


"Kei, sekali lagi aku bertanya, apa kamu mau menerima aku jadi pacar kamu?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Aku bisa melihat sorot matanya yang menatapku begitu dalam, menantikan jawaban akan pertanyaannya. Tapi aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Aku ingin menjawab iya, tapi aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap kak Rey. Aku ingin menolaknya tapi ... aku juga butuh seseorang untuk mengantikan posisi mas Darren di hatiku.


Aduh ... aku jadi serba salah. Semoga saja nanti aku tidak salah dalam mengambil keputusan.


Tapi jika aku menerima cinta kak Rey, apa mungkin ini adalah keputusan yang tepat? Apa mungkin kak Rey mampu menggeser posisi mas Darren di hatiku jika nantinya kami menjadi sepasang kekasih?


"Terima! Terima! Terima!" Serentak saja para pengunjung bersorak. Entah sejak kapan mereka semua menjadi begitu kompak untuk menjadi pendukung di belakang kak Rey.


Tapi ada baiknya kalau aku tidak terburu-buru dulu dalam mengambil keputusan. Aku harus meminta waktu untuk memikirkan jawaban yang tepat atas pernyataan cinta kak Rey padaku.


"Mm ... Kak Rey, sebelumnya Kei mau minta maaf-" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tapi kak Rey sudah memotongnya duluan. Mungkin dia berpikir kalau aku meminta maaf karena ingin menolak cintanya. Padahal, aku hanya ingin meminta waktu untuk memikirkan jawaban yang tepat.


Kak Rey berkata sambil menggenggam kedua tanganku dengan erat, seperti tidak rela melepasnya lagi. "Kei, please ... aku sangat mencintai kamu, Kei. Tolong terima aku jadi pacar kamu, ya. Aku tahu, sekarang ini kamu belum mencintai aku. Tapi nanti perlahan-lahan, aku pasti bisa membuat kamu jatuh cinta padaku. Please Kei, jangan tolak aku, ya. Please ...."


Kak Rey menampakkan wajah memelasnya bak seorang pengemis yang sangat butuh dikasihani. Matanya seketika memerah dan berkaca-kaca. Ah, aku jadi terharu. Apa seperti ini rasanya sangat dicintai oleh seseorang.


Jujur, aku pernah berada di posisi kak Rey, menyatakan cinta pada seseorang sampai mengemis-ngemis seperti ini. Aku tahu persis seperti apa rasanya ditolak oleh seseorang yang teramat sangat kita cintai.


Seketika aku berpikir, aku pernah berada pada posisi yang sama. Dan rasanya itu sangat tidak enak dan menyakitkan. Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah, apa aku tega melakukan hal yang sama pada orang lain?


Jawabannya adalah ... tidak. Detik ini juga, saat ini juga, aku memutuskan untuk menerima cinta kak Rey tanpa perlu meminta waktu lagi untuk berpikir.

__ADS_1


"Kak Rey, aku ..." terlihat jelas bahwa kak Rey benar-benar gugup menantikan jawabanku. Aku merasa bahwa saat ini dia menggenggam tanganku dengan semakin erat lagi "aku ... aku mau jadi pacarnya Kak Rei."


Setelah mendengar jawabanku, sontak saja kak Rey langsung berdiri memelukku. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih."


__ADS_2