Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 54


__ADS_3

1 Minggu setelah kami resmi menikah, kak rey mengajak aku untuk pindah ke apartemennya. Mama dan papa juga tidak ada yang melarang karena menurut mereka, itu hak kami yang menentukan mau tinggal di mana. Dan memang, jauh sebelum suamiku mengalami kecelakaan, dia memang sudah tinggal seorang diri di apartemennya. Apalagi sekarang mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan putra mereka karena sekarang sudah ada aku yang mengurus dan merawatnya.


Saat ini kondisi kak Rey sudah sangat jauh membaik. Dia tidak pernah lagi dibantu atau pun dipapah saat berjalan, dan dia sudah bisa naik turun tangga sendiri tanpa dibantu, meski pun napasnya masih ngos-ngosan setelah melakukannya. Dia sudah bisa beraktivitas normal namun belum boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat. Kata dokter, memang butuh waktu 2 sampai 3 bulan agar kondisinya bisa kembali sehat dan bugar seperti sedia kala.


Setelah menata barang-barangku beserta barang-barang kak Rey ke dalam lemari, aku pun segera beranjak menuju dapur. Aku ingin memeriksa apakah di sana ada kebutuhan dapur atau tidak. Dan setelah aku periksa, ternyata tidak ada sama sekali. Aku pun memutuskan untuk turun berbelanja di minimarket yang ada di ruang basement apartemen, tepatnya di samping tempat parkir.


"Aku mau turun belanja kebutuhan dapur, kamu nggak apa-apa 'kan kalau aku tinggal sendiri di sini?" tanyaku pada suamiku, kak Rey.


Sebelum pergi, terlebih dahulu aku harus meminta persetujuannya. Karena biasanya, aku harus selalu dalam jangkauan penglihatan matanya, tidak boleh jauh-jauh.


"Tidak apa-apa. Maaf karena aku masih belum bisa menemani kamu," jawabnya.


"Nggak apa-apa. Lagian mini marketnya juga ada di bawah kok, jadi aku nggak perlu ditemani."


Huft ... syukurlah. Akhirnya kak Rey setuju untuk aku tinggal. Karena kalau tidak, aku lebih memilih untuk delivery makanan ketimbang membawanya ikut serta bersamaku berbelanja. Aku khawatir dia belum kuat untuk mengikutiku menyusuri sudut demi sudut mini market.


.


.

__ADS_1


Saat aku baru saja keluar dari lift yang ada di ruang basement, tepatnya tidak jauh dari letak mini market berada, aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita cantik. Dia benar-benar sangat cantik, rambutnya ikal, panjang, serta berwarna pirang. Kulitnya juga putih bersih dan mulus. Wajahnya jangan ditanya lagi, sangat cantik, nyaris sempurna tanpa cela. Pakaiannya juga sangat modis dan seksye. Aku saja yang perempuan sampai terkagum-kagum melihat kecantikanya. Apalagi kalau yang melihatnya laki-laki, aku yakin, pasti akan langsung jatuh hati. Begitulah kesan pertamaku saat melihat wanita cantik tersebut.


"Kalau jalan pakai mata dong! Hampir aja kamu ngerusak kue yang mau aku kasih ke pacarku!" Wanita cantik itu berkata dengan tinggi sambil menatapku dengan tatapan tidak suka.


Aku tidak menyangka, melihat wajahnya yang sangat cantik dan anggun, ternyata dia sangat galak. Kalau tahu begini, aku tidak jadi kagum padanya.


"Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucapku.


"Maaf maaf! Untung aja kuenya nggak rusak, karena kalau kuenya sampai rusak, aku bakalan buat perhitungan sama kamu! Ergh!"


Setelah memarahiku, wanita cantik itu melenggang masuk ke dalam lift. Sementara aku, aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengelus dadaku dengan pelan.


Huft .... Mimpi apa aku semalam sampai bisa bertemu orang segalak itu pagi-pagi begini?


.


Sebenarnya tidak ada hal aneh-aneh yang dilakukan oleh keduanya, bahkan suamiku terlihat duduk menjaga jarak dengan wanita itu. Hanya saja disaat seperti ini, sebagai seorang wanita sekaligus sebagai seorang istri, perasaanku lebih cenderung terpakai ketimbang otakku sendiri.


Aku sangat tidak suka mendapati kenyataan bahwa suamiku sedang berdua-duaan dengan seorang wanita yang jauh lebih cantik dariku di dalam apartemen saat aku sedang tidak ada.

__ADS_1


Dan lagi, seingatku wanita itu tadi memarahiku karena aku tidak sengaja menabraknya sehingga kotak kue yang ada di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai. Dan katanya lagi, kue itu tadi akan dia berikan kepada pacarnya, makanya dia sangat marah jika kuenya sampai rusak gara-gara aku. Sekarang, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat kotak kue itu ada di atas meja tepat di hadapan kak Rey. Berarti pacar yang dimaksud oleh perempuan itu adalah ... suamiku.


Tiba-tiba, perasaanku yang tadinya sudah tercubit kini berubah menjadi nyeri. Aku tidak pernah menyangka, bahwa selama ini kak Rey juga ternyata berselingkuh dariku. Aku benar-benar tidak percaya ini.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Kak Rey berkata seraya bangkit dari duduknya.


Yang membuat aku semakin kesal, ini pertama kalinya aku mendengar kak Rey memanggil aku dengan panggilan 'sayang' semenjak dia mengalami amnesia dan semenjak kami berdua menikah. Harusnya aku senang dipanggil 'sayang' olehnya, tapi kenapa aku malah semakin kesal dan jengkel. Aku juga tidak tahu kenapa. Apa mungkin karena sekarang aku merasa cemburu melihat suamiku dekat dengan wanita lain. Apalagi wanita itu jauh lebih cantik dari aku dan wanita itu juga mengaku kalau dirinya adalah pacar suamiku.


Melihat mereka lama-lama membuat aku jadi semakin sakit hati. Lebih baik aku masuk saja ke dalam ruang dapur sambil membawa serta semua barang-barang belanjaanku. Karena kalau aku tetap di sini, bisa saja aku hilang kendali dan mengamuk pada mereka berdua.


"Jadi kamu beneran sudah menikah, Rey? Dan cewek itu adalah istri kamu?" Aku mendengar wanita itu bertanya pada kak Rey. Mungkin dia sedikit terkejut. Ditambah lagi dia sempat memarahiku tadi.


"Iya benar, dia adalah istriku. Bukannya tadi aku sudah bilang berkali-kali sama kamu, bahwa istriku sedang turun berbelanja di bawah. Kamu malah tidak mau percaya."


"Kamu tidak salah? Dari segi penampilan, dia tidak ada apa-apanya dibanding aku. Yang lebih cocok disandingkan sama kamu itu adalah aku Rey. Bukan dia."  Samar-samar aku mendengar wanita itu berkata seperti itu pada suamiku.


Ya, yang dia ucapkan memang benar. Dari segi penampilan, aku memang jauh di bawahnya. Jika diukur dari segi status sosial suamiku dan keluarganya, dia bahkan bisa mendapatkan gadis yang berpuluh-puluh kali lipat lebih cantik dan lebih baik dari aku untuk dijadikan sebagai istri.


Aduh ... kenapa rasanya aku malah ingin menangis. Kenapa hatiku terasa semakin sakit memikirkan itu semua. Semakin berpikir rasanya aku semakin tidak kuat menahannya.

__ADS_1


Huft ... aku menarik napasku dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Sebisa mungkin aku harus bisa menguasai diri. Aku tidak boleh cengeng, apalagi sampai menangis. Lebih baik sekarang aku menyusun belanjaanku di dalam kulkas, dan setelah itu aku masuk ke dalam kamar untuk mandi air dingin. Siapa tahu dengan begitu, hatiku yang saat ini sedang panas karena terbakar api cemburu, bisa berubah menjadi hangat kembali.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2