
"Ras, kamu kenapa nangis? Coba cerita sama aku," tanyaku pada sahabat terbaikku itu, Laras.
Bukannya menjawab pertanyaanku, tangisan Laras malah semakin pecah, membuat aku khawatir dan penasaran sekaligus.
"Ras, kamu kenapa sih? Cerita dong ..." tanyaku seraya mengurai pelukan kami. Kedua tanganku memegang pundak Laras sambil aku menatap wajahnya dengan lekat. Ku lihat mata Laras sudah merah dan membengkak. Aku yakin, matanya seperti itu karena dia sudah terlalu lama menangis.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Laras? Kenapa wajahnya bisa menjadi semenyedihkan ini? Apa mungkin sekarang Laras sedang putus cinta?
"Ras, kamu nangis karena putus sama pacar kamu?" tanyaku ingin memastikan.
Plak. Bukannya menjawab Laras malah memukul lenganku.
"Enak a-ja. Pacar da-ri mana? Dari Hong-kong?" ucapnya terputus-putus sambil masih terisak. Ternyata di sela tangisannya, Laras masih bisa bercanda.
"Ya terus kenapa? Cerita dong. Jangan buat aku penasaran," ucapku tidak sabar.
Plak.
"Auwh, saakit, Ras." Aku mengaduh kesakitan karena kali ini Laras memukulku lebih keras dari sebelumnya.
"Kamu kenapa sih, Ras, berubah jadi kasar dan suka mukul kayak gini?" tanyaku sambil mengelus-elus lenganku yang terasa sedikit sakit, bekas pukulan Laras.
"Ka-mu tuh yang nye-belin. Huhuhu ..." ucapnya lalu kembali menangis dengan keras.
"Loh, kok jadi aku yang disalahin?" protesku tidak mau disalahkan tanpa tahu salahku apa sebenarnya.
"Iya. Si-apa suruh no-mor ka-mu nggak bisa di-hubu-ngi, dan ka-mu ng-gak bisa di-temui sa-ma se-kali," jelasnya.
__ADS_1
Aku terdiam mendengar penuturan Laras. Yang ada di pikiranku saat ini adalah, mungkin beberapa hari ini Laras berusaha menghubungi dan menemui aku untuk menceritakan masalah yang sedang dia hadapi, tapi tidak bisa karena aku menon-aktifkan ponselku dan berpesan pada Mawar untuk tidak mengijinkan siapa pun menemuiku apa pun alasannya.
Aku menarik tangan Laras masuk ke dalam kamarku untuk mengajaknya duduk di atas tempat tidurku, akan tetapi dia menolak.
"Ya udah, sekarang kamu cerita sama aku, kenapa kamu nangis sampe mata kamu sipit kayak gitu?" tanyaku penasaran.
Sebelum menjawab, Laras sedikit mendongak menatapku karena tinggi badannya sekitar 10 senti di bawahku.
"Kei kamu ta-hu, kak Rey-" Mendengar nama kak rey disebut, aku langsung memotong ucapan Laras.
"Kak Rey? Kak Rey kenapa, Ras?" tanyaku dengan panik sambil menguncang tubuh mungil Laras. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada kak Rey. Dan bisa jadi ... semua itu ada kaitannya denganku.
Ku lihat Laras dengan sekuat hati menjawab, "Kak Rey ... ddi-dia ... dia kece-lakaan, Kei. Dia su-dah 3 hari tidak sa-darkan diri."
Deg.
Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa tidak menyalahkan diriku sendiri. Kejadian yang menimpa kak Rey, itu semua pasti ada kaitannya denganku. Ini semua pasti salahku. Aku yang terlalu egois sehingga membuat laki-laki yang sangat mencintaiku itu terpuruk dan menderita.
.
.
Setengah jam kemudian. Aku dan Laras sudah sampai di rumah sakit diantar oleh mas Darren. Tadinya kakaknya Laras sudah menunggui kami untuk mengantar kami ke rumah sakit, tapi mas Darren menolak. Dia tidak akan mengijinkan aku pergi menjenguk kak Rey kalau bukan dia sendiri yang mengantar kami.
Tadi di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, mas Darren tidak pernah bersuara biar sekali pun. Dia hanya terus terdiam. Juga nampak jelas di wajah mas Darren bahwa dia tidak suka kalau aku pergi menjenguk kak Rey di rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Di saat seperti ini, mas Darren juga tidak boleh egois, karena ini menyangkut masalah nilai kemanusiaan. Ditambah lagi karena aku juga memiliki keyakinan bahwa kak Rey bisa sampai kecelakaan sangat parah seperti sekarang ini gara-gara aku. Aku lebih memilih mas Darren marah ketimbang aku harus tinggal berdiam diri di rumah dan tidak pergi menjenguk kak Rey.
"Kei, ayo. Kak Rey masih ada di ruang ICU," ajak Laras, seraya menggandeng tanganku. Sementara mas Darren, dia berjalan mengikuti kami dari belakang.
__ADS_1
Aku berbalik dan melihat ke arah mas Darren. Wajahnya nampak dingin. Dia pasti benar-benar kesal karena aku pergi menjenguk mantan kekasih yang pernah melamarku itu. Meski pun mas Darren tidak pernah melarangku secara langsung, akan tetapi dari ekspresinya bisa terlihat dengan jelas kalau dia tidak suka.
.
Begitu kami tiba di depan ruang ICU, ku lihat pria dan wanita paruh baya sedang duduk di sana. Yang wanita terlihat sedang menangis tersedu-sedu, sedangkan yang pria terlihat menenangkan istrinya.
Melihat wajah pria paruh baya tersebut, tanpa diberi tahu pun aku bisa langsung tahu kalau beliau pasti adalah papanya kak Rey. Wajah mereka berdua terlihat sangat mirip, hanya beda versi. Versi tua dan versi muda. Dan wanita paruh baya yang sedang menangis itu, dia pasti mamanya kak Rey.
"Kei, itu Om Reza dan Tante Rena. Mereka adalah kedua orang tua kak Rey," jelas Laras.
"Oh," ucapku seraya mengangguk mengerti.
Begitu kami berdiri tepat di hadapan kedua orang tua kak Rey, Laras pun langsung menyapa keduanya.
"Om, Tante."
Om Reza dan tante Rena langsung mendongak menatap kami.
"Ras, apa yang datang bersama kamu ini adalah ... Keisha?" tanya tante Rena sambil menatapku dan Laras secara bergantian.
Laras mengangguk sambil berkata, "Iya, Tante."
Baru saja aku hendak mengulurkan tangan untuk menyapa dan mengajak kedua orang tua kak Rey untuk bersalaman, tapi sontak mamanya kak Rey langsung berdiri memelukku sambil menangis dengan keras.
"Nak Kei-sha ... terima ka-sih banyak karena ka-mu sudah bersedia da-tang untuk men-jenguk putra ka-mi. A-sal kamu ta-hu Nak Keisha, sebe-lum Rey ti-dak sadarkan di-ri, dia terus memang-gil-manggil na-ma kamu," jelas tante Rena terputus-putus di sela isak tangisnya.
Mendengar mamanya kak Rey berkata seperti itu, aku jadi ikutan sedih. Selain karena aku juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tante Rena, juga karena rasa bersalahku atas kejadian buruk yang menimpa kak Rey juga terasa semakin besar. Aku jadi semakin yakin, bahwa kecelakaan yang menimpa kak Rey tempo hari pasti memang ada kaitannya denganku. Pasti kak Rey sangat terpuruk saat aku memutuskan dirinya secara sepihak beberapa hari yang lalu.
__ADS_1