Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 49


__ADS_3

Aku terdiam mendengar permintaan ibu. Mau menolak tapi tidak enak pada ayah Gilang. Mau menerima tapi saat ini aku sedang berusaha untuk tidak bertemu dengan mas Darren. Takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Setidaknya sampai mas Darren sudah merelakan aku bersama dengan kak Rey.


Saat ini aku hanya ingin menetapkan hatiku pada kak Rey seorang. Aku tidak ingin bertemu dengan mas Darren karena takut kejadian yang sama terulang untuk yang kedua kalinya. Rasanya juga memang sangat melelahkan menarik ulur perasaan kedua laki-laki itu.


"Kei ... kamu masih di sana, Nak?" tanya ibu setelah hening beberapa saat.


"I-iya, Bu. Kei masih di sini kok," jawabku.


"Kamu tadi dengar 'kan Ibu bilang apa?" tanya ibu.


"Maaf, Bu. Suara Ibu sedikit nggak jelas," jawabku berbohong. Takut ibu curiga kalau aku dan mas Darren sedang ada masalah.


"Ibu bilang, kalau ada yang bisa menggantikan kamu untuk merawat nak Rey barang beberapa hari, pergilah tunggui masmu di rumah sakit. Tidak ada yang menunggui dia di sana. Ibu bersama ayah kalian juga tidak bisa langsung terbang hari ini, karena ayah ada meeting penting besok dan lusa bersama denagn klien penting. Tapi lusa kami usahakan untuk bisa segera pulang ke sana," jelas ibu.


"Mm ... baik, Bu. Nanti Kei akan bicarakan dulu dengan kak Rey. Kalau kak Rey nggak keberatan Kei tinggal, Kei akan ke rumah sakit untuk menjaga mas Darren," ucapku.


Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk pergi ke rumah sakit. Aku berkata seperti itu hanya agar ibu dan ayah Gilang bisa lebih tenang dan tidak terlalu khawatir karena memikirkan keadaan mas Darren. Urusan mas Darren tidak ada yang menjaga, itu bisa di atur belakangan. Yang jelas, aku benar-benar tidak ada niatan untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat, apalagi sampai menungguinya di rumah sakit hingga sembuh.


Kalau ada yang bertanya apa aku khawatir dengan kondisi mas Darren, tentu saja aku khawatir. Di luar dari hubungan kami yang sudah aku akhiri, mas Darren tetaplah sosok seorang kakak laki-laki bagiku. Dari aku kecil, hingga detik ini.


Beberapa saat kemudian. Aku akhirnya bisa  mendengus kasar setelah ibu mengakhiri sambungan telepon kami.


"Mas Darren sakit apa sih memangnya?" Laras bertanya padaku.


Aku hanya mencebikkan bahuku menanggapi pertanyaan Laras, pertanda aku juga tidak tahu. Saat ini rasanya kepalaku sangat pusing.

__ADS_1


"Kamu ini gimana sih, Kei? Kakak kamu sendiri sakit masa kamu nggak tau," ucap Laras.


"Siapa yang sakit?" Kak Rey tiba-tiba menyela ucapan Laras. Rupanya, dia sudah keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap dengan setelan baju tidur lengkap berwarna biru muda.


"Mas Darren yang sakit." Kali ini Laras yang menjawab karena aku lebih memilih diam.


Sejujurnya aku juga sangat khawatir dan kasihan jika sampai tidak ada yang menunggui mas Darren di rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, pokoknya sebisa mungkin aku tidak boleh ke sana.


"Kamu mau ke rumah sakit menjaga kakak kamu?" Kak Rey bertanya seraya melihatku. Tentu saja itu artinya dia sedang bertanya padaku.


Aku terdiam sejenak, lalu menjawab, "Kalau kamu mengijinkan ... aku mungkin akan pergi."


Aku menambahkan kata 'mungkin', yang itu berarti belum pasti aku akan ke sana meski pun sudah mendapat ijin dari kak Rey sekali pun.


"Tidak boleh," jawabnya cepat.


"Ck, ck, ck. Sudah amnesia masih aja posesif. Gimana kalo nggak," celetuk Laras. Mungkin dia tidak habis pikir melihat kelakuan kakak sepupunya.


"Kakak kamu sakit apa, Kei?" Kak Andra bertanya padaku seraya mendorong kursi roda kak Rey berjalan menghampiri kami.


"Aku juga nggak tahu, Kak. Aku lupa tanya sama ibu tadi," jawabku. Sebenarnya aku malu pada kak Andra. Dia satu-satunya orang yang mengetahui kalau hubungan aku dengan mas Darren sedang tidak baik-baik saja.


"Lalu siapa yang menungguinya di rumah sakit sekarang?" Kak Andra kembali bertanya.


"Nggak ada. Dia sendirian di sana. Ibu dan ayah baru akan terbang ke kota ini besok lusa," jawabku.

__ADS_1


Untuk sesaat suasana menjadi hening. Lalu kemudian kak Andra kembali membuka suara. "Dek, kamu saja yang menggantikan Keisha untuk menjaga kakaknya di rumah sakit. Karena Rey, tidak mau ditinggal sama Kei."


"Kak Andra serius nyuruh aku ke sana?" Laras bertanya seraya menunjuk dirinya sendiri. Mungkin dia tidak percaya kak Andra bisa memberinya titah seperti itu. Apalagi mas Darren bukan siapa-siapa mereka.


"Iya, Kakak serius. Apa kamu keberatan?" tanya kak Andra lagi.


"Nggak, aku sama sekali nggak keberatan," jawab Laras. "Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekarang, ya?"


Laras bangkit dari duduknya lalu meraih tas slempang miliknya yang tadi tergeletak sembarangan di atas sofa tempat kami sedang duduk saat ini.


"Aku titip mas Darren ya, Ras. Tolong jaga dia baik-baik kakakku," pesanku pada Laras.


"Pasti. Jangan khawatir. Kamu nggak usah mikirin keadaan dia. Kamu fokus aja ngerawat Kak Rey sampai benar-benar sembuh, mas Darren serahkan sama aku," jawabnya sambil tersenyum dan menepuk bahuku dengan lembut.


Entah mengapa Laras terlihat sangat bersemangat sekali. Padahal, dia hanya di suruh untuk menunggui mas Darren, yang jelas-jelas bukan siapa-siapa mereka. Atau mungkin karena Laras juga sudah lama mengenal mas Darren, maka dari itu, dia juga sudah menganggap Mas Darren sebagai temannya. Ya, mungkin saja seperti itu.


"Kak Andra, Kak Rey, aku pamit, ya? OTW jagain Duren, Duda keren." Laras terkekeh setelah mengucapkannya.


"Jangan kecentilan kamu." Kak Andra berkata seraya menyentil kening Laras.


"Auwh. Kak Andra ih. Aku 'kan cuma bercanda." Laras mengusap-usap keningnya yang baru saja kena sentilan kakaknya, kak Andra.


"Ingat, jadi perempuan itu harus jaga sikap. Kakak tidak suka kamu genit sama laki-laki." Kak Andra berpesan pada Laras, adik satu-satunya.


"Iya ... iya," jawab Laras. Dia pun segera berlalu keluar dari kamar untuk menjalankan titah sang kakak.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2