Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 06


__ADS_3

Setelah aku ke kamar sebelah mengambil ponselku dan mengeceknya, ternyata dayanya hampir habis. Aku juga melihat ada 5 panggilan tidak terjawab dari ibu, 3 dari Laras, dan ... dan ... ehem, 12 panggilan tidak terjawab dari kakak tiriku.


Ada juga pesan dari ketiga orang itu. Ibu memberitahuku kalau dirinya dan ayah Gilang sudah sampai di Kota AB dengan selamat. Sedangkan Laras mengajakku untuk keluar jalan-jalan, sama seperti niatku tadi ingin menghubunginya. Sedangkan ... sedangakan mas Darren, dia menanyakan di mana posisiku sekarang.


Aku bertanya-tanya dalam hati, untuk apa dia menghubungiku sebanyak itu dan kenapa dia menanyakan di mana posisiku semalam? Ya tentu saja jawabannya adalah, aku ada di rumahku sekarang. Bukankah sebelumnya kami berdua memang sudah membicarakan mengenai hal itu. Kenapa dia mesti menanyakannya kembali.


Aku sempat membalas pesan dari ibu dan Laras. Sementara pesan dari kakak tiriku itu sengaja aku abaikan. Malahan nomornya sengaja aku blokir kembali. Iya, aku benar-benar kembali memblokir nomornya. Aku tidak ingin lagi dia menghubungiku, menanyakan mengenai sesuatu yang tidak penting untuk dia ketahui.


Aku berjalan kembali ke kamarku ingin mengisi daya ponselku sebelum berangkat pukul 10 nanti bersama Laras. Tapi ... di mana charger ponselku? Di mana powerbank milikku? Aku mencari kedua benda itu di dalam tasku, tapi tidak ada. Di mana aku menyimpannya kemarin sebelum kembali ke sini?


Aku mencari charger ponselku di dalam tas kemudian di dalam kedua koperku, tapi tidak ada. Aku tidak menemukannya di mana-mana. Apa jangan-jangan, charger dan powerbank nya ketinggalan di rumahnya mas Darren?


Astaga, aku ini ceroboh sekali.


Aku menepuk jidatku berkali-kali karena menyesali kecerobohanku. Mau tidak mau terpaksa aku harus kembali lagi ke sana. Untung saja daya ponselku masih cukup untuk dipakai memesan taksi. Dan yang terpenting, mas Darren dan istrinya belum ada di rumah mereka.


...****************...


45 Menit kemudian, aku akhirnya sampai di rumah itu.


"Barangnya ada yang kelupaan ya, Non?" tanya bi Anik, asisten rumah tangga di rumah mas Darren.

__ADS_1


"Iya, Bi. Charger ponsel saya kelupaan," jawabku seraya berjalan menuju kamar tamu yang biasanya aku tempati saat tinggal di sana.


Aku berjalan menuju kamarku dengan sangat santai sambil bersenandung karena si pemilik rumah tidak ada di kediamannya. Jika saja mas Darren dan istrinya sudah kembali, tentu saja aku akan berjalan mengendap-ngendap seperti seorang pencuri. Untung saja orangnya baru akan kembali besok, jadi aku merasa sangat tenang saat kembali ke rumah ini.


Ceklek. Aku membuka pintu kamar yang biasa aku tempati lalu masuk ke dalamnya. Memang benar, charger ponselku masih ada di atas meja, tertinggal bersama powerbank yang aku isi dayanya kemarin beberapa jam sebelum aku pulang.


Aku tidak akan berlama-lama di rumah ini karena aku memiliki powerbank yang bisa aku pakai mengisi daya saat di dalam taksi nanti.


"Dek."


Dug. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Apa aku sedang berhalusinasi? Kenapa aku seperti mendengar suara mas Darren memanggilku?


Ah, tidak mungkin. Dia baru akan kembali besok bersama istrinya. Aku pasti hanya berhalusinasi karena kembali lagi ke rumah ini.


"Dek, boleh Mas masuk?" Suara itu kembali terdengar dari balik pintu.


Dag dig dug, dag dig dug. Seketika jantungku berdetak semakin tidak karuan. Suara itu terdengar sangat nyata. Apa jangan-jangan, sekarang aku memang sedang tidak berhalusinasi? Apa jangan-jangan mas Darren benar-benar ada di balik pintu? Aku mulai menerka-nerka banyak hal.


Tapi kapan, dan bagaimana dia bisa ada disana? Bukankah dia baru akan kembali besok usai berbulan madu? Ah, tidak mungkin mas Darren sudah kembali sekarang. Seharusnya 'kan dia masih menikmati waktunya bersama istri tercintanya. Waktu sehari itu untuk bermesraan bagi sepasang pengantin baru sangat berharga loh. Tidak mungkin 'kan mereka akan melewatkannya begitu saja.


Aku berjalan menuju ke arah pintu, lalu

__ADS_1


memutar kenop pintu tersebut dengan sangat perlahan sambil memejamkan mata. Berharap saat aku membuka mata nanti, di luar sana tidak ada siapa-siapa selain bi Anik.


Namun saat aku membuka mataku. Dug. Rasanya jantungku seperti ingin melompat dari tempat persembunyiannya.


Aku terkejut bukan main. Tapi bukan  sepenuhnya karena aku benar-benar mendapati sosok mas Darren berdiri di balik pintu. Bukan hanya karena itu. Tapi karena ... aku melihat ada yang aneh dengan penampilannya pagi ini. Rambutnya acak-acakan, matanya sembab dan bengkak. Seperti habis menangis berjam-jam. Serta bulu-bulu kumis dan jenggotnya sudah mulai tumbuh menghiasi wajahnya. Seperti tidak pernah dicukur selama beberapa hari ini. Penampilannya benar-benar sangat berantakan. Seperti bukan mas Darren yang aku kenal selama ini.


Apa sebenarnya yang terjadi? Aku sebelumnya tidak pernah melihat mas Darren seberantakan ini? Apa terjadi sesuatu padanya dan istrinya? Kepalaku sudah dipenuhi dengan beberapa banyak pertanyaan ditambah rasa penasaran.


"Ma-Ma-Mas Darren. Ap-apa yang terjadi?


ucapku memberanikan diri untuk bertanya, namun sedikit terbata.


Tapi tanpa menjawab pertanyaanku, mas Darren langsung memelukku dengan erat, membuatku jadi semakin terkejut. Dan secara reflek aku mendorong tubuhnya, tapi sepertinya dia enggan melepas pelukannya padaku.


"Mas, ada apa?" tanyaku penasaran. Aku yakin, pasti ada yang tidak beres.


Bukannya menjawab, mas Darren malah semakin mengeratkan pelukannya padaku. Dan tiba-tiba ... aku mendengarnya terisak. Mas Darren menangis. Ya, pria dewasa yang sedang memelukku saat ini benar-benar menangis. Aku merasakan bahuku semakin lama semakin  basah karena air matanya.


Aku semakin yakin, pasti ada yang tidak beres dengan mas Darren. Aku sangat sangat sangat yakin akan hal itu. Tapi aku juga dibuat semakin penasaran karena dia tidak kunjung bercerita. Entah apa sebenarnya yang terjadi dan entah sampai kapan dia akan terus menangis sambil memelukku.


Disaat seperti ini, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan. Berharap dengan begitu, dia bisa merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

__ADS_1


Jika ditanya apakah aku merasa bahagia dipeluk oleh pria ini? Jawabannya adalah ... TIDAK. Kenapa aku merasa tidak bahagia? Karena, sekarang mas Darren adalah suami sah wanita lain. Seandainya saja saat ini dia masih lajang, tentu saja aku akan merasa sangat senang dan bahagia. Perempuan mana sih yang tidak senang dipeluk oleh laki-laki yang sangat dicintainya. Begitu bukan?


__ADS_2