
Namun setelah aku selesai menyusun belanjaanku di dalam kulkas, aku dikejutkan dengan keberadaan kak Rey yang ternyata sudah berdiri di belakangku.
Selama beberapa detik kami saling menatap satu sama lain, namun kemudian aku memutuskan untuk memutus kontak mata kami dengan memilih untuk beranjak menuju kamar. Aku ingin mandi dan berganti baju di dalam sana.
"Sayang, apa kamu sedang marah?" Kak Rey bertanya padaku. Akan tetapi aku tidak menggubris pertanyaannya dan lebih memilih untuk diam dan berjalan cepat menuju kamar.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat dan pikirkan. Kamu hanya salah paham. Aku bisa jelaskan," katanya lagi.
Aku yang mendengar langkah kaki kak Rey mengikutiku dari arah belakang segera mengunci pintu kamar dengan cepat begitu aku masuk. Untuk sementara, aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun darinya. Karena mungkin itu hanya akan membuat aku menangis.
Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa secemburu ini saat melihat suamiku didekati oleh wanita lain. Ternyata selama ini tanpa aku sadari, aku ternyata sudah sangat mencintainya.
Tok tok tok!
"Sayang, buka pintunya!" teriak kak Rey dari luar pintu.
Namun sekuat apa pun dia berteriak, sekuat apa pun dia menggedor pintu, aku tetap tidak akan peduli. Apalagi sampai membukakan pintu untuknya.
"Sayang, dengarkan penjelasan aku dulu! Jangan marah! Aku bisa menjelaskan semuanya! Ayo kita bicara baik-baik," teriaknya lagi.
Tok tok tok!
"Sayang! Sayang! Buka pintunya!" teriak kak Rey untuk yang kesekian kalinya.
Fiuh. Daripada mendengar suara teriakan dan suara gedoran pintu kak Rey yang berisik, lebih baik aku masuk ke dalam kamar mandi. Aku ingin segera mendinginkan hatiku yang saat ini tengah terbakar api cemburu.
.
__ADS_1
Tidak terasa aku menghabiskan waktuku selama hampir setengah jam di dalam kamar mandi. Selain mandi, aku juga memuas-muaskan diri untuk menatap pantulan wajahku di cermin. Aku mengingat bagaimana cantiknya wanita itu dibandingkan aku. Kulitnya, wajahnya, rambutnya, body-nya, semuanya, sangat sempurna. Apa aku juga bisa secantik dia kalau aku sering merawat diri di salon atau pun melakukan perawatan di klinik kecantikan. Apa aku bisa secantik dia kalau aku mengganti warna rambutku?
Aku baru sadar, bahwa selama ini aku banyak menghabiskan waktuku selama berbulan-bulan di rumah sakit dan juga hanya di dalam mansion menemani dan merawat kak Rey. Kulitku baru tersentuh perawatan salon sehari sebelum kami menikah, yaitu sekitar 1 minggu lebih yang lalu.
Dulunya aku juga sering melakukan perawatan di salon, tapi setelah kak Rey masuk ke dalam rumah sakit, aku jadi tidak punya waktu lagi untuk memanjakan diriku sendiri. Aku hanya terlalu fokus pada kak Rey seorang.
Ah, apa sih yang aku pikirkan? Kecantikan seorang wanita tidak melulu dilihat dari segi penampilan fisik semata, tapi kecantikan juga bisa terpancar dari dalam hati. Aku mengingat, wanita tadi itu memang sangat cantik, tapi sayangnya dia sangat galak dan ketus. Sepertinya dia juga terlihat sangat angkuh dan sombong. Maka dari itu, sifatnya itulah yang membuat dirinya memiliki nilai minus.
Setelah puas berpikir dan membanding-bandingkan diriku dengan wanita lain, aku akhirnya keluar dari walk in closet setelah lengkap dengan pakaian gantiku. Aku ingin keluar memasak di dapur karena sepertinya aku sudah mulai lapar.
Setelah aku membuka pintu kamar, aku tidak mendapati suamiku di depan sana. Ternyata setelah aku berjalan menuju dapur, aku melihatnya sedang duduk menungguku di salah satu kursi meja makan. Dia bahkan langsung berdiri begitu melihat aku datang.
"Sayang."
Entah mengapa setelah aku memergokinya berduaan dengan wanita lain, dia malah terus-terusan memanggil aku dengan kata 'Sayang'. Jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, menyebut namaku saja sepertinya dia enggan setelah dia amnesia. Apa mungkin sekarang dia sedang mencoba membujukku dengan kata sayang-sayangnya itu.
Aku memilih untuk mengabaikan kak Rey dan lebih memilih untuk memulai memasak. Saat aku hendak mengambil bahan makanan di dalam kulkas, kak Rey tiba-tiba mencekal tanganku.
"Sayang, nanti dulu memasaknya. Ayo kita bicara sebentar. Kita selesaikan dulu kesalahan pahaman ini baik-baik," ucapnya, seraya menarikku untuk duduk di kursi meja makan sambil berhadapan dengannya. Kak Rey menggenggam kedua tanganku dengan erat.
"Sayang, jangan marah, ya? Tadi saat kamu pergi, aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh kok sama Sora," ucapnya mulai menjelaskan. Jika seperti ini, dia persis seperti kak Rey yang dulu.
"Apa? Siapa nama perempuan itu?" tanyaku. Bukan karena tidak mendengar dengan jelas, tapi aku malah ingin menjebak suamiku dengan ucapannya.
"So-Sora, Sayang," jawabnya pelan. Sepertinya kak Rey sudah mulai mendapat sinyal pertengkaran begitu aku mulai angkat bicara.
"Sora? Kamu punya hubungan apa dengan si Sora itu?"
__ADS_1
"Tidak ada hubungan apa-apa, Sayang. Dia hanya teman kuliah aku dulu, juga anak dari teman baiknya mama," jawabnya.
"Heh." Aku tersenyum miring. Sejenak membuang muka lalu kembali menatapnya. "Kamu bahkan ingat siapa nama perempuan itu, tapi kamu lupa siapa aku. Jangankan semua tentang aku, bahkan namaku saja kamu lupa. Benar-benar keterlaluan. Berarti si Sora itu jauh lebih berarti buat kamu ketimbang aku? Buktinya kamu ingat segalanya tentang dia."
Jika sudah emosi seperti ini, apa pun bisa terlontar dari mulut. Bahkan amnesia kak Rey sampai aku bawa-bawa. Padahal, aku tahu betul kenapa dia bisa lupa segalanya tentang aku. Bukan karena si Sora itu lebih spesial, tapi karena aku sudah menyakiti kak Rey terlalu dalam.
"Sayang ... kamu ini bicara apa sih? Jangan bicara sembarangan seperti itu. Meski pun aku amnesia, dan lupa segalanya tentang kamu, tapi perasaan aku ke kamu tetap sama. Aku tetap sangat mencintai kamu. Buktinya aku tidak mau jauh-jauh dari kamu."
"Iya, nggak mau jauh-jauh. Tapi begitu aku jauh dan kamu aku tinggal sebentar, kamu malah membiarkan perempuan lain masuk ke dalam sini. Yang lebih parahnya lagi, kalian terus berduaan di dalam ruangan tertutup ini selama aku pergi."
"Astaga Sayang ... itu tidak seperti yang kam-" Belum selesai kak Rey berbicara, aku langsung menyela ucapannya.
"Dan satu lagi. Aku sempat bertemu perempuan itu tadi di depan lift di ruang basement. Dia marah-marah ke aku gara-gara aku nggak sengaja nabrak dia, dan kue yang dia bawah tadi hampir aja terjatuh ke lantai. Kamu tau kenapa dia marah dan berteriak-teriak sama aku? Karena dia takut kue yang mau dia berikan ke pacarnya hampir aja aku rusak. Dan apa kamu mau tau siapa yang dia maksud dengan pacarnya? Itu kamu."
"Omong kosong macam apa ini? Aku dan Sora tidak punya hubungan apa-apa, Sayang. Jangan percaya, dia hanya mengada-ngada."
"Bagaimana kalau ternyata yang dia katakan memang benar?"
"Tidak Sayang. Dia berbohong. Aku berani sumpah. Aku hanya mencintai kamu dari dulu sampai sekarang."
Ucapan suamiku itu langsung membuat aku mengerutkan kening.
"Apa? Kamu bilang, kamu hanya cinta sama aku dari dulu sampai sekarang?" tanyaku ingin memastikan.
"Iya, Sayang. Hanya kamu satu-satunya."
"Bagaimana bisa kamu tahu? Bukannya kamu lupa segalanya tentang aku? Apa jangan-jangan, kamu sudah mengingat sesuatu?"
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...