Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 16


__ADS_3

Mendengar pertanyaan mas Darren, aku jadi terkejut. Kenapa mas Darren malah bertanya seperti itu padaku. Tentu saja aku memilih gaun itu karena aku ingin terlihat cantik dan berbeda saat kencan pertamaku dengan kak Rey. Tidak ada maksud lain sama sekali. Meski pun aku belum mencintai kak Rey, tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa karena kedepannya aku ingin belajar mencintainya.


"Kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak menjawab pertanyaan, Mas? Dek, asal kamu tahu, ya. Mas sengaja memilihkan baju yang lebih tertutup dan longgar seperti itu karena Mas ingin melindungi kamu. Kalau misalkan pacar kamu tiba-tiba ingin berbuat kurang sopan, menyentuh kamu di bagian tertentu dan segala macam, itu salah kamu, karena penampilan kamu sendiri yang mengundang laki-laki untuk berpikiran mes*m. Kamu pamer, maaf, Mas mohon kamu jangan tersinggung dengan ucapan Mas nantinya. Mas hanya ingin mengatakan yang sejujur-jujurnya. Kamu pamer paha mulus beserta belahan tubuh bagian atas kamu, laki-laki mana yang tidak tergoda? Apalagi laki-laki yang akan pergi bersama kamu nanti adalah pacar kamu sendiri. Bisa saja dia langsung menyentuh kamu tanpa meminta persetujuan kamu terlebih dahulu."


Mendengar penjelasan mas Darren yang super panjang kali lebar itu, aku langsung terdiam. Aku tidak berani lagi melakukan aksi protes. Aku akhirnya tersadar, bahwa maksud mas Darren menyuruhku untuk berganti pakaian itu ternyata baik. Dia hanya ingin melindungi adik kesayangannya ini dari mata jahat lawan jenis.


"Kei minta maaf, Mas," ucapku seraya menunduk.


Sekarang aku baru merasa bersalah karena sedari tadi aku terus-terusan menentang keinginan mas Darren dan tidak mau menuruti ucapannya.


Mas Darren tersenyum sembari berjalan menghampiriku. "Tidak usah minta maaf. Memang sudah seharusnya Mas menjaga dan melindungi kamu dengan baik. Dan sebaiknya sekarang kamu berangkat, pacar kamu pasti sudah gelisah menunggu kamu."


.


Setelah berpamitan pada mas Darren, aku pun langsung turun menghampiri kak Rey yang sudah menungguku sedari tadi.


"Sayang, aku minta maaf karena udah buat kamu nunggu lama," ucapku yang merasa sedikit tidak enak pada kak Rey.


"Tidak apa-apa, Sayang," ucap kak Rey sambil tersenyum manis padaku.


"Dan maaf, karena penampilan aku kayak gini di kencan pertama kita," ucapku lagi.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu mau pakai baju apa pun, sudah pasti kelihatan cantik. Karena pada dasarnya kamu memang sudah cantik." Kak Rey mencubit hidungku dengan gemas sambil  tertawa.


Aku tersenyum lega mendengar ucapan kak Rey. Syukurlah. Untungnya kak Rey ini tipe orang yang sangat baik dan pengertian.


"Ayo Sayang, kita berangkat sekarang," ajak Kak Rey sambil membukakan pintu mobilnya untukku.

__ADS_1


.


.


Tidak terasa sudah setengah hari aku menghabiskan waktuku untuk berkencan dengan kak Rey. Kami mekakukan banyak hal. Menonton film romantis, makan siang berdua, makan es krim, shoping, dan lain sebagainya. Hingga tidak terasa sekarang jam sudah menunjuk waktu pukul setengah 4 sore.


"Sayang, kita mampir ke apartemenku dulu, ya. Kebetulan sangat dekat dari sini," ucap Kak Rey dan aku langsung mengangguki ucapannya.


Sekitar 5 menit kak Rey melajukan mobilnya, kami akhirnya sampai di sebuah apartemen elit yang terletak di pusat kota.


"Kamu tinggal di sini?" tanyaku ingin memastikan, sambil


.


Lantai 10, MAR Resindence.


Tet tot tit. Ceklek. Pintu unit apartemen milik kak Rey terbuka.


"Wah." Satu kata yang keluar dari mulutku ketika memasuki unit kak Rey.


Unit apartemen milik kak Rey tersebut terlihat sangat rapi dan bersih. Dekorasi di dalamnya juga terlihat sangat estetik. Meski pun tidak begitu luas, tapi sepertinya sangat nyaman untuk dihuni dan pastinya membuat betah penghuninya. Ditambah lagi lokasinya yang sangat strategis, berada di pusat kota dan dekat dengan area perkantoran. Aku yakin, harganya pasti mahal.


"Sayang, kamu duduk dulu. Aku ambilkan minum sebentar," ucap kak Rey seraya berjalan menuju dapur. Sementara itu aku mengambil tempat duduk di salah satu sofa.


Setelah kak Rey mengambil dua botol minuman, dia lalu duduk tepat di sampingku, sangat dekat, dan rapat. Dia juga merangkul bahuku sehingga posisi kami berdua terlihat sangat int*m.


Sejujurnya, aku merasa sedikit canggung. Apalagi sekarang kami berada di dalam ruangan tertutup dan hanya berdua saja. Aku jadi teringat akan ucapan mas Darren tadi pagi. Dan hal itu membuat aku takut, takut kak Rey tiba-tiba ingin berbuat macam-macam padaku.

__ADS_1


Tapi semoga saja tidak, karena aku melihat kak Rey selama ini adalah cowok baik-baik. Dia tidak mungkin berbuat kurang ajar padaku.


"Sayang, kamu tinggal di sini sama siapa?" Aku bertanya untuk mengurai segala pikiran-pikiran negatif yang tengah bermunculan di otakku.


"Berdua," jawab kak Rey.


"Berdua? Sama siapa?" tanyaku yang tidak menaruh curiga sedikit pun.


"Sama istriku," jawabnya. Sontak saja aku langsung menjauhkan diri darinya.


"Ternyata kamu sudah punya istri?!" Aku benar-benar sangat terkejut. Ternyata selama ini aku sudah menjadi pelakor. Oh my God, aku benar-benar tidak percaya ini.


Ini semua gara-gara Laras. Kenapa kamu jahat sekali sama aku, Ras? Kenapa kamu mendukungku untuk dekat dengan pria beristri. Pikirku dalam hati.


Aku langsung menyalahkan sahabat terbaikku itu karena dia yang mendorongku untuk dekat dengan kakak sepupunya.


Kak Rey tiba-tiba saja terbahak. Aku jadi heran melihatnya. Kira-kira ada apa? Kenapa kak Rey tertawa? Apa jangan-jangan dia sedang mengerjaiku?


"Kenapa kamu tertawa?" tanyaku pada kak Rey.


"Kamu ini lucu sekali Sayang. Aku hanya bercanda. Sini duduk." Kak Rey menarik pergelangan tanganku untuk duduk kembali di sampingnya.


"Tapi kamu serius 'kan belum punya istri? Aku nggak mau ya jadi perusak rumah tangga orang," tanyaku ingin memastikan.


"Tentu saja tidak. Karena yang akan menjadi istriku nanti adalah ... kamu, Keisha Maharani," ungkap kak Rey sambil menatapku dengan lekat.


Aku cukup terkejut mendengar pernyataan kak Rey. Selama ini aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk melanjutkan hubungan kami sampai ke jenjang yang lebih serius. Aku menerima cinta kak Rey semata-mata karena aku hanya ingin melupakan perasaan cintaku terhadap mas Darren dan belajar untuk membuka hatiku untuk pria lain.

__ADS_1


Jangankan berpikir sampai ke sana, bahkan hingga detik ini aku belum mencintai kak Rey. Ditambah lagi usiaku masih sangat muda. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah muda. Kecuali mempelai prianya itu adalah ....


Ah sudahlah, lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya.


__ADS_2