Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 53


__ADS_3

2 Jam kemudian setelah makan malam selesai, kak Rey pun mengajakku untuk naik ke kamar yang ada di lantai dua. Awalnya aku sedikit ragu, apa dia mampu untuk naik ke atas sana menyusuri anak tangga yang jumlahnya ada puluhan menggunakan kedua kakinya yang masih tergolong cukup lemah.


"Kita bisa minta tolong Kak Andra untuk memapahku naik ke atas," ujar kak Rey.


Sepertinya dia sendiri yang sangat ingin naik ke atas sana. Padahal, aku pikir kami akan tinggal untuk sementara di kamar tamu lantai bawah. Sampai kak Rey benar-benar sudah sembuh dan bisa naik turun tangga sendiri tanpa perlu dibantu oleh orang lain.


"Adik ipar, ingatkan suamimu nanti. Kalau dia masih belum sanggup, jangan terlalu dipaksakan. Bisa bahaya. Kondisinya masih belum fit. Naik tangga saja dia sudah ngos-ngosan, apalagi kalau mau minta jatah malam pertama." Kak Andra terkekeh setelah mengucapkannya.


Mendengar kata 'malam pertama' yang baru saja keluar dari mulut kak Andra, seketika aku mendongak menatap kak Rey, dan disaat yang sama, kak Rey ternyata juga tengah menunduk menatapku. Dengan cepat aku langsung mengalihkan pandanganku melihat ke arah depan. Sebenarnya aku sangat malu padanya. Entah kenapa aku juga kurang mengerti. Padahal biasanya juga biasa-biasa saja.


Saat ini kami bertiga sudah melewati tangga menuju lantai atas. Dan sekarang, kak Andra sedang memapah kak Rey menuju kamar kami. Sedangkan aku membantu memegang sebelah tangan suamiku. Eh, suamiku. Rasanya aneh saja menyebut kak Rey seperti itu. Mungkin karena aku belum terbiasa.


"Makasih, Kak," ucapku pada kak Andra begitu kami sampai tepat di depan pintu kamar kami.


Begitu kak Andra kembali ke lantai bawah, aku pun memapah kak Rey masuk ke dalam kamar kami. Dan begitu aku menyalakan lampu, aku terpana melihat pemandangan yang ada di dalam kamar pengantin kami.


Sejak kapan, dan siapa orang yang sudah menyiapkan semua ini? Itulah pertanyaan yang muncul di dalam benakku begitu melihat seisi kamar sudah disulap menjadi kamar pengantin yang sangat romantis. Banyak lilin kecil dimana-mana, serta kelopak bunga mawar yang bertebaran di lantai. Begitu juga di atas tempat tidur, di sana sudah ada beberapa tangkai mawar merah beserta kelopak mawar yang sudah dibentuk menyerupai bentuk hati. Perasaan, sebelum aku meninggalkan kamar ini tadi pagi, kamarnya belum seperti ini.


"Kenapa bengong? Ayo masuk," ajak kak Rey. Kali ini dia memilih untuk jalan sendiri tanpa perlu dibantu olehku.

__ADS_1


Siapa yang sudah menyulap kamar ini menjadi seperti ini ya? Pikirku. Aku masih saja berdiri mematung di dekat pintu menyampukan pandanganku menyisir seisi ruangan, sedangkan kak Rey sudah duduk di pinggir tempat tidur.


"Kenapa masih berdiri di sana? Cepat tutup pintunya, aku sudah mengantuk, mau tidur. Oh iya, jangan lupa matikan lampunya," ucap Kak Rey. Aku melihat dia sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mungkin dia sudah sangat lelah seharian ini.


Sementara itu, kelopak mawar yang bertebaran di atas seprai kak Rey biarkan begitu saja.


Aku dengan langkah canggung berjalan menghampiri. Namun dalam sekejap, langkahku jadi terhenti karena mengingat kejadian beberapa waktu lalu di malam pertama kak Rey pulang dari rumah sakit. Waktu itu adalah kali pertama kami tidur di atas kasur yang sama dan saat itu aku membuat ulah.


Tiba-tiba aku menjadi ragu untuk tidur di kasur yang sama dengannya. Aku takut kejadian yang sama seperti waktu itu kembali terulang. Meski pun sekarang kondisi kak Rey sudah jauh lebih baik dibandingkan waktu itu, tapi tetap saja kondisinya belum sehat sepenuhnya.


Setelah berdiri diam selama beberapa detik, aku pun memutuskan untuk mengambil selimut dan bantal di dalam lemari. Malam ini aku akan tetap tidur di sofa, seperti saat kami masih tinggal di kamar tamu lantai bawah.


"Aku ... aku mau tidur di sofa. Kan biasanya juga seperti itu," jawabku.


"Untuk apa lagi kamu tidur di sofa? Sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah, untuk apa lagi kita tidur terpisah?" ucapnya. Sepertinya dia sedikit marah, terdengar jelas dari nada bicaranya yang sedikit meninggi.


Apa jangan-jangan, aku membuat kak Rey tersinggung karena dia mengira kalau aku tidak mau tidur bersamanya, makanya dia terlihat sedikit kesal.


"Nggak, eh bukan. Maksudku, aku hanya takut menendang atau pun menamparmu seperti waktu itu jika kita berdua tidur bersama," jelasku. Aku tidak mau kak Rey salah paham padaku.

__ADS_1


"Simpan bantal dan selimut itu di sana. Tidurlah di sini, di dekatku," ucapnya seraya menepuk kasur di sampingnya.


"Kamu serius? Memangnya kamu nggak takut aku tendang turun dari tempat tidur atau aku mungkin akan menamparmu lagi seperti waktu itu?" tanyaku.


"Itu tidak jadi masalah. Karena sekarang aku sudah lebih kuat untuk melawanmu, berbeda dengan waktu itu, waktu itu aku masih belum kuat berbuat apa-apa, bahkan bangun saja mesti dibantu. Jadi sekarang kemarilah, tidak usah banyak bicara atau pun banyak protes. Tidur saja di sini bersamaku, karena sekarang aku suamimu."


Aku menurut, lalu naik berbaring di samping kak Rey. Cukup lama aku membeku menatap langit-langit kamar. Malam ini entah kenapa rasanya aku sangat sulit sekali tertidur. Pikiranku melayang-layang begitu saja. Tidak tahu dengan kak Rey. Dia sudah tidur atau belum. Aku sama sekali tidak berani menoleh ke arahnya.


Aku lalu merubah posisi berbaringku dari telentang menjadi miring ke samping. Siapa tahu dengan berbaring dengan posisi memunggunginya, aku bisa segera tertidur.


"Tidak boleh tidur sambil memunggungi suami. Cepat menghadap ke sini." Suara kak Rey tiba-tiba terdengar. Rupanya dia juga belum tidur. Tadinya aku pikir dia sudah terlelap. Dengan cepat, aku segera memutar badan menghadapnya.


"Ayo sini, lebih dekat. Jangan terlalu di ujung, nanti kamu bisa terjatuh." Kak Rey berkata seraya menarik sebelah tanganku agar mendekat padanya, dan aku pun hanya menurut.


"Tidurlah. Jangan begadang. Tidak baik untuk kesehatan," ucapnya lagi seraya memelukku dengan erat. "Dengan begini, kamu tidak akan banyak bergerak saat tertidur. Jadi aku tidak perlu lagi khawatir kamu akan menamparku atau pun menendangku seperti waktu itu," ucapnya lagi.


Dag dig dug, dag dig dug.


Ternyata seperti ini rasanya menjadi pengantin baru. Ada rasa malu-malu, canggung, berdebar, kikuk, bahagia, semuanya lengkap dalam satu paket komplit.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2