Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 23


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Siang ini kak Rey baru sempat berkunjung ke toko karena beberapa hari ini katanya dia sangat sibuk. Jadi dia tidak sempat datang menemuiku.


"Sayang." Kak Rey langsung memelukku dengan erat begitu kami bertemu.


Aku bisa merasakan betapa sayang dan tulusnya kak Rey padaku. Kalau begini aku jadi tidak tega mengakhiri hubungan kami. Tapi kalau hubungan kami terus dibiarkan berlarut-larut, aku takut kak Rey menjadi semakin sakit hati nanti saat aku sudah memiliki keberanian untuk mengakhiri hubungan kami. Aku juga tidak mau kak Rey semakin menaruh harapan yang besar untuk menjalin hubungan yang lebih serius denganku.


Bagaimana dengan mas Darren? Jika ada yang penasaran mengenai hubunganku dengan mas Darren setelah kesepakatan kami pagi itu, jawabannya adalah, selama beberapa hari ini dia juga tidak pernah muncul karena aku yang melarangnya.


Meski pun mas Darren tidak pernah muncul, akan tetapi kami tidak pernah putus komunikasi setiap harinya. Dan mas Darren juga selalu mengirimkan menu sarapan, makan siang, dan makan malam untukku yang dia kirim dari restorannya.


Kembali kepada kak Rey yang baru muncul setelah sibuk beberapa hari belakangan ini.


"Sayang, kamu sudah tidak sibuk lagi 'kan sekarang?" Kak Rey bertanya setelah melepas pelukannya padaku.


Aku hanya tersenyum dan menggeleng seraya mendongak menatap wajah teduh milik kak Rey. Saat ini kak Rey terlihat sangat bahagia dan bersemangat. Mungkin karena baru bertemu denganku setelah beberapa hari.


Sementara aku, yang ada di dalam pikiranku saat ini hanya satu, yaitu bagaimana caranya agar nanti aku bisa mengakhiri hubunganku dengan kak Rey tanpa perlu menyakitinya terlalu dalam. Ditambah lagi raut kebahagiaan yang ditampakkan oleh kak Rey saat bertemu denganku membuat aku semakin tidak tega untuk merusak kebahagiaannya itu.


"Sayang, kamu sakit? Kenapa kamu terlihat sangat tidak bersemangat siang ini?" tanya kak Rey sambil memegangi kedua pundakku dan menatapku dengan lekat.


Aku kembali menggeleng sambil tersenyum tipis. "Nggak, aku baik-baik aja. Mungkin aku cuma kecapekan."


"Sayang ... aku 'kan sudah bilang, kepala kamu isinya jangan kerja terus dong. Kamu harus banyak istirahat, kalau kamu sakit bagaimana? Hm." Kak Rey berkata sambil mengelus lembut pipiku lalu kembali memelukku dengan erat.


Tidak biasanya kak Rey bersikap seperti ini padaku. Memelukku sebanyak 2 kali saat kami baru saja bertemu. Apa mungkin karena dia sangat merindukanku atau mungkin karena sekarang dia sudah mendapat firasat bahwa cepat atau lambat hubungan kami akan segera berakhir. Aku jadi kasian. Biar bagaimana pun, aku pernah merasakan bagaimana rasanya sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Sayang, aku ingin mengajak kamu untuk pergi ke suatu tempat. Kamu tidak keberatan, 'kan?" tanya kak Rey. Kali ini kami berdua berdiri saling berhadapan sambil kak Rey menggengam kedua tanganku.


"Ke mana?" tanyaku penasaran.


"Rahasia. Nanti kamu akan tahu sendiri." Kak Rey menjawab sambil tersenyum, lalu menarik tanganku untuk keluar menuju mobilnya.


.


.


Kurang lebih setengah jam kemudian.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh kak Rey, aku terus memikirkan bagaimana cara agar aku bisa mengakhiri hubungan kami sesegera mungkin. Hingga setelah merasa cukup berpikir, akhirnya sekarang aku memiliki keberanian untuk itu.


Aku tidak ingin, hanya karena rasa kasihan dan rasa bersalah membuat aku semakin terjebak dan terperangkap di dalam hubungan ini. Dan pada akhirnya aku semakin salah karena membuat kak Rey semakin berharap banyak padaku, sedangkan aku sendiri tidak bahagia. Ditambah lagi ujung-ujungnya rasa sakit yang kak Rey rasakan kemungkinan akan menjadi jauh lebih besar lagi jika aku terus menunda untuk mengakhiri hubungan kami.


Aku menoleh menatap wajah kak Rey yang sedari tadi fokus menyetir karena menyuruhku untuk tidur dan beristirahat. Tapi nyatanya selama hampir setengah jam aku memejamkan mata, aku sama sekali tidak bisa tertidur. Pikiranku hanya terfokus pada masalah yang membebani pikiranku beberapa hari ini.


"Sayang, kamu sudah bangun." Kak Rey langsung menggengam sebelah tanganku lalu menciuminya begitu melihat aku membuka mata. Mungkin kak Rey berpikir kalau tadi aku benar-benar tertidur, makanya dia membiarkan aku dan tidak menggangguku.


Melihat kak Rey yang begitu sangat menyayangiku, apa aku tega menyakitinya? Jawabannya, tentu saja harus. Aku harus tega, aku harus tega menyakiti hati kak Rey. Karena jika aku terus menundanya hingga nanti, rasa sakit yang dia rasakan pasti akan semakin dalam. Jadi lebih baik aku mengakhiri saja hubungan kami sekarang juga selagi aku sudah punya keberanian untuk mengatakannya.


"Mm ... aku ... aku ingin bicara sesuatu sama kamu. Tapi kamu harus menepikan mobil dulu, takut kamu nabrak," ucapku yang kemudian ditanggapi dengan tawa renyah oleh kak Rey. Mungkin dia berpikir kalau aku sedang bercanda, padahal aku benar-benar serius.


"Memangnya kamu mau bicara apa Sayang? Apa seserius itu sampai-sampai kamu menyuruhku untuk menepikan mobil?" tanya kak Rey sambil masih tertawa.


"Iya, sangat serius," jawabku.

__ADS_1


"Tahan dulu Sayang, karena sebentar lagi kita akan samp0ai di tempat tujuan. Nanti saja kamu katakan setelah aku menunjukkan sesuatu padamu." Kak Rey berkata sambil tersenyum. Tidak lama kemudian dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran mewah.


"Tapi yang mau aku katakan ini sangat penting, ini menyangkut hub-" Seketika ucapanku terhenti saat kak Rey menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Itu artinya dia menyuruhku untuk diam.


"Sst ... nanti saja kamu katakan Sayang. Yang mau aku tunjukkan itu jauh lebih penting. Saking pentingnya, kamu harus tutup mata dulu sebelum keluar dari mobil," kata kak Rey sambil tersenyum.


"Tapi-" Baru saja aku ingin protes, tapi kak Rey langsung menempelkan kembali jari telunjuknya di bibirku.


"Sst. Dilarang protes," ucap kak Rey lagi. Dia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara.


Kak Rey mengeluarkan sebuah kain hitam kecil memanjang dari dalam dash board mobilnya, kemudian mulai mengikat kain itu untuk menutupi kedua mataku. Sepertinya kak Rey ingin memberikan kejutan pada makan siang kami kali ini. Entah kejutan apa itu.


Setelah memastikan aku benar-benar tidak bisa melihat apa pun, kak Rey pun mulai menuntunku untuk keluar dari mobil. Setelah itu dia membawaku untuk masuk ke dalam restoran.


"Kenapa harus tutup mata segala sih?" tanyaku di tengah-tengah kak Rey menuntun langkahku.


"Rahasia Sayang. Kalau aku bilang sama kamu, surprise aku gagal dong," jawab kak Rey.


Setelah menuntunku beberapa saat, kak Rey pun akhirnya menghentikan langkahnya. Setelah itu, dia mulai membuka kain yang menutupi mataku.


Begitu aku membuka mata, yang aku lihat pertama kali adalah sebuah tulisan yang bertuliskan 'I Love You Keisha' yang bertengger indah di sebuah dinding, dihiasi dengan rangkaian bunga mawar pink dan putih yang di dekor sedemikian rupa, serta balon-balon berwarna senada.


Begitu aku menyapukan pandanganku ke sekeliling ruangan, yang aku lihat, pemandangan di sekelilingku tidak kalah indahnya. Dan ternyata, di dalam ruangan ini, hanya ada aku dan kak Rey saja. Tidak ada yang lain.


"Keisha Maharani." Tiba-tiba suara kak Rey yang memanggil nama lengkapku membuat aku spontan menatap ke arahnnya. Dan ternyata saat ini kak Rey sudah berjongkok di hadapanku sambil memegang sebuah cincin di tangannya.


"Will you marry me?"

__ADS_1


__ADS_2