Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 32


__ADS_3

"Kei, Keisha. Bangun Sayang."


Aku mulai mengerjap-ngerjapkan kedua mataku untuk mengurai rasa kantuk yang saat ini aku rasakan. Suara tante Rena yang memanggil namaku berhasil membuatku terjaga dari tidurku.


Ku lihat sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik meski pun kini usianya tidak muda lagi itu. Ya, tante Rena sudah kembali dari pesta. Dan sekarang, dia datang untuk menemani aku dan Laras untuk menjaga putra semata wayangnya.


"Kamu ketiduran, ya?" Ku lihat senyuman mengembang di wajah teduh tante Rena.


"Eh, Tante sudah pulang," ucapku seraya mencoba mengumpulkan kesadaranku agar kembali penuh.


"Iya. Ayo pindah ke kasur, badan kamu bisa sakit kalau kamu tidur seperti ini sampai pagi," ucapnya lagi.


Aku pun menuruti apa kata tante Rena, lalu turun berbaring di kasur lantai tempat Laras saat ini sedang tertidur dengan lelapnya. Sementara tante Rena, dia lalu menggantikan aku untuk duduk di samping putranya. Membelai rambut putranya yang saat ini sudah tidak lagi ditutupi oleh perban, kemudian mengecup kening putranya dengan sayang. Ah, aku jadi terharu.


Tante Rena itu tipe ibu yang sangat lembut dan penyayang, bukan hanya pada putranya, bahkan aku yang bukan siapa-siapanya pun dia perlakuan dengan sangat baik. Tidak heran jika selama ini sikap kak Rey sangat baik dan lembut padaku. Ternyata dia dibesarkan oleh sosok ibu yang hebat seperti tante Rena.


Entah mengapa setelah tante Rena membangunkan aku, aku merasa rasa kantukku menghilang begitu saja dan pergi entah ke mana. Ditambah lagi aku menyaksikan sebuah pemandangan yang hampir setiap malam aku saksikan. Pemandangan yang membuat hatiku terenyuh. Pemandangan yang membuat rasa bersalahku kian membengkak.


Kedua orang tua kak Rey, yaitu tante Rena dan om Reza, mereka berdua memperlakukan putra semata wayang mereka dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Tapi aku, yang bukan siapa-siapa malah tega menyakitinya karena keegoisanku yang lebih mementingkan kebahagiaan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Seperti malam-malam sebelumnya, hampir setiap malam aku melihat tante Rena diam-diam menangisi kondisi putranya begitu mengira kami semua sudah tertidur.

__ADS_1


Meski pun aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, akan tetapi aku bisa ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tante Rena. Melihat buah hatinya terbaring lemah tidak berdaya seperti itu tentu saja membuat hati beliau teriris-iris.


Jangankan buah hati yang memang dikeluarkan dari dalam diri, kucing yang aku pelihara selama 2 tahun saja, mati, aku sampai menangis kejer dan sedih selama berhari-hari. Apalagi ini, anak yang dikandung, dilahirkan, dirawat dan dibesarkan dengan sepenuh hati selama lebih dari seperempat abad, terbaring tidak berdaya seperti ini, hati ibu mana yang tidak luka? Hati orang tua mana yang tidak sakit.


Tanpa aku sadari, air mataku sudah mengalir membasahi pipi dan bantal yang aku gunakan hanya dengan membayangkan hal tersebut.


...****************...


Beberapa minggu kemudian.


Hari ini hasil sidang memutuskan bahwa mas Darren dan Felicya sudah resmi bercerai. Mas Darren sekarang sudah resmi menduda. Dia sudah tidak terikat hubungan apa-apa lagi dengan wanita mana pun selain aku.


Bukannya senang mendapatkan kabar seperti itu, aku malah merasa biasa saja. Bukan apanya, aku hanya merasa diriku tidak pantas untuk bahagia sementara kak Rey hingga detik ini belum juga siuman. Padahal sudah 1 bulan lebih. Sudah 1 bulan lebih kak Rey mendalami perannya sebagai pangeran tidur.


"Kami turut sedih dan prihatin melihat kondisi Rey saat ini. Semoga dia bisa segera siuman dan kembali sehat seperti sedia kala," ucap ibu.


Saat ini beliau sedang duduk di sofa bersama tante Rena, om Reza, ayah Gilang, juga mas Darren.


"Terima kasih karena Ibu dan Bapak mau menyempatkan diri untuk datang menjenguk putra kami," kata tante Rena. "Oh iya, kami sangat meminta maaf karena sudah merepotkan Keisha. Atas permintaan kami, dia sudah satu bulan lebih tinggal di sini menemani putra kami," tambah tante Rena lagi.


"Tidak apa-apa Bu Rena. Memang sudah seharusnya Kei tinggal menjaga Rey di sini. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa putra Ibu dan Bapak," ucap ibu.

__ADS_1


Mendengar ucapan ibu, aku lumayan terkejut. Atas kejadian yang menimpa kak Rey, ternyata bukan hanya aku yang menyalahkan diriku sendiri, juga bukan hanya Laras yang menyalahkanku. Ternyata ibuku sendiri bahkan ikut menyalahkan aku.


"Jangan bicara seperti itu, Bu Lani. Kecelakaan yang menimpa putra kami murni kecelakaan, tidak ada sangkut pautnya dengan Keisha sama sekali," bela Tante Rena.


Selama ini tante Rena dan om Reza sedikit pun tidak pernah menyalahkan aku atas apa yang menimpa putra mereka. Bahkan saat mereka tidak sengaja memergoki aku menangis sambil meminta maaf pada kak Rey, mereka berdua malah melarang aku untuk terus-terusan menyalahkan diriku sendiri. Katanya, ini semua adalah takdir yang harus dilalui oleh kak Rey.


"Tapi tetap saja, Bu Rena, kecelakaan yang menimpa Rey terjadi hanya berselang 2 hari setelah Kei menolak lamaran Rey, ditambah lagi kata Laras, Kei juga memutuskan hubungan mereka berdua. Mungkin Rey sangat terpukul sehingga dia tidak fokus saat menyetir dan mengakibatkan terjadinya kecelakaan," ucap ibu lagi.


Rupanya, Laras yang sudah memberitahukan semuanya pada ibu. Huh, dasar Laras. Tapi ... yang ibu katakan semua ada benarnya juga sih.


"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas sikap keterlaluan putri saya, Bu, Pak."


Ku lihat tante Rena menggenggam tangan ibuku seraya berkata, "Bu Lani, berhenti menyalahkan Keisha atas semua kejadian yang menimpa Rey. Karena semua yang menimpa putra kami itu adalah takdir."


Aku hanya bisa duduk diam di samping kak Rey menyimak semua pembicaraan mereka. Yang satu selalu menyalahkan aku dan yang satunya lagi selalu membelaku.


"Dari awal saya mengenal putra Ibu dan Bapak, saya sudah bisa melihat dengan jelas kalau dia sangat mencintai putri saya dengan tulus," ucap ibu lagi.


Tante Rena tertawa mendengar ucapan ibu. "Ibu Lani ini bisa saja."


"Saya serius Bu Rena, Rey bahkan tahu bagaimana cara mengambil hati calon mertua. Padahal, waktu itu kami baru pertama kali bertemu."

__ADS_1


Mendengar ibu terus-terusan memuji kak Rey, aku segera berbalik dan menoleh melihat ke arah mereka berlima. Eh, bukan. Sekarang mereka hanya tinggal berempat. Kemana perginya mas Darren. Aku bahkan tidak menyadari kalau dia sudah keluar dari ruangan ini.


Bersambung ...


__ADS_2