
...WARNING!!!...
...Area 21+...
...Yang masih belum cukup umur dan yang belum menikah, silahkan di skip. Adegan tidak untuk ditiru....
...Author sudah peringatkan ya. Kalau masih berani baca, dosa dan akibat ditanggung sendiri-sendiri🤧...
...______________________________...
Gerak-gerik kak Rey benar-benar sangat mencurigakan. Sepanjang perjalanan dia terus-terusan tersenyum sambil sesekali menatapku dengan lekat. Entah mungkin ada yang lucu atau mungkin ada yang membuat dia menjadi sangat bahagia dan bersemangat sekali pagi ini. Bahkan saat kami berada di dalam lift, dia terus-terusan saja memeluk dan menciumku. Sampai-sampai aku harus menegurnya karena malu perbuatan kami terekam oleh CCTV.
Sesampainya di dalam unit. Aku yang kehausan usai berolahraga segera berjalan menuju ruang dapur untuk menuang air minum.
Baru saja aku selesai meletakkan gelas kotorku di wastafel, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kelakuan suamiku. Dia tiba-tiba saja menggendongku lalu mendudukkan aku di atas meja makan. Aku yang diperlakukan seperti itu secara tiba-tiba tentu saja langsung memekik karena kaget.
"Ah! Kamu mau ngapain?!" teriakku.
Saat ini aku melihat wajah tersenyum suamiku sudah berada tepat di depan wajahku. Hanya terhalang jarak sekitar beberapa senti saja.
"Kenapa kamu berteriak? Hm," tanyanya sembari tertawa kecil.
"Tentu saja aku berteriak, kamu yang membuat aku kaget," jawbaku. "Sebenarnya kamu mau apa sih? Kenapa menggendongku naik ke sini?"
"Hm ... aku mau ini. Cup," jawabnya sembari mengecup bi**rku secara sekilas. Setelah itu kak Rey memundurkan sedikit kepalanya dan kembali menatapku dengan lekat sambil masih tersenyum.
Aku yang mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba tentu saja mulai merasakan jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Jangan-jangan, kak Rey mau ... mau melakukan 'itu' padaku. Ditambah lagi gerak-geriknya tadi memang sangat mencurigakan. Sepertinya memang iya, dia ingin meminta haknya dariku.
"Sayang," panggilnya seraya menyelipkan anakan rambutku di telinga.
__ADS_1
"Hem. I-iya," jawabku mulai gugup.
"Sekarang ... aku merasa tubuhku sudah kembali sehat dan bugar, juga sudah tidak mudah capek lagi. Sama seperti sebelum aku mengalami kecelakaan," jelasnya.
"La-lalu?"
"Sepertinya ... kita sudah bisa melakukannya sekarang. Aku berjanji tidak akan membuat kamu kecewa." Kak Rey berbisik di dekat telingaku, membuat bulu kudukku merinding saja.
"Me-melakukan ap-apa?" tanyaku dengan gugup. Mungkin sekarang wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.
Bukannya berpura-pura tidak tahu, atau pun sedang berlagak sok polos. Hanya saja, kedua kata itu lolos begitu saja keluar dari mulutku. Mungkin itu adalah cara aku menutupi rasa malu dan gugup yang tengah aku rasakan saat ini.
"Mm ... melakukan produksi Rey dan Kei junior," jawabnya sembari tersenyum. Dan mendengar jawabannya itu, sontak saja membuat aku menunduk malu.
"Boleh 'kan Sayang? Hm," tanyanya lagi sambil menyentuh pipiku dengan lembut.
Aku mengangguk dengan pelan, lalu menjawab dengan malu-malu, "Ta-tapi ... ak-aku mau mandi dulu."
"Kalau begitu, kita mandi bersama, Sayang." Kak Rey langsung menggendongku masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar mandi, kak Rey terus ***** dan ******** b**irku. Tangannya juga sudah ke sana ke mari menyusup di ba*ik jaket yang aku kenakan.
Pang***** pertama berhasil terlepas. Tentunya karena aku sudah kehabisan napas dan sudah terengah-engah.
"Maaf Sayang, b**irmu sangat manis dan lembut, aku jadi tidak rela melepasnya," ucapnya, lalu menurunkan ritsleting jak*tku hingga tuntas ke bawah.
Perlahan tapi pasti, suamiku mulai mel**as semua kain yang menempel di tub**ku, hingga tidak tersisa seh*lai ben*ng pun.
Aku yang merasa malu mencoba menutupi segala aset-aset berharga yang aku punya menggunakan kedua tanganku. Aku benar-benar sangat malu karena ini pertama kalinya aku bertel****** bulat di hadapan seorang laki-laki, meski pun yang ada di hadapanku saat ini adalah suamiku sendiri, akan tetapi tetap saja aku merasa sangat malu.
__ADS_1
"Jangan ditutup Sayang. Aku ingin melihatnya," ucapnya seraya menarik kedua tanganku yang saat ini tengah menutupi aset at*s dan baw*hku.
"Aku malu ..." jawabku sembari menunduk.
"Kenapa harus malu sama suami sendiri? Hm. Jangan malu Sayang ..." ucapnya. "Kalau begitu biar adil, aku juga akan memb*ka semuanya di hadapanmu."
Saat aku melihat kak Rey mulai melep*skan semua kain yang menut*pi seluruh tub*hnya, ternyata bukan lagi aset-asetku yang ingin aku tutupi sekarang, akan tetapi kedua mataku. Aku sangat malu melihat sebuah benda yang sedang menunjuk lurus ke arahku. Ini pertama kalinya aku melihat benda seperti itu secara langsung. Sepertinya, ukurannya lumayan ... besar. Aduh, tuh 'kan, aku jadi malu.
"Kenapa sekarang matanya yang ditutup?" tanyanya sembari menertawaiku.
"Aku malu."
"Kenapa harus malu, kita berdua sudah menikah Sayang. Saling melihat ******** masing-masing itu hal yang wajar dan wajib, berdosa kalau tidak," ucapnya sembari menarik tangan yang aku gunakan untuk menutupi kedua mataku.
"Sayang, ayo kita mandi sebelum kita memulai acara intinya." Kak Rey menarik aku untuk berdiri di bawah guyuran air shower.
Kini kami berdua sudah sama-sama bas*h. Sesekali tangan nak*lnya mulai menyentuh area sen**tifku, membuat tub*hku berd*sir entah kenapa.
"Sayang, kamu terlihat semakin seksye dalam keadaan bas*h seperti ini," ucapnya, lalu kembali ******* bi8irku untuk yang ke sekian kalinya. Tangan kirinya saat ini melingkar dengan erat di pingg*ngku, sementara tangan kanannya sudah mulai aktif memainkan kedua aset bagian atasku. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain ikut membalas segala perlakuannya, dan mengg**tungkan kedua tang*nku di leh*rnya.
Benda yang men*njuk lurus tadi seketika membuat aku bergidik geli ketika terasa tert*kan-t*kan di area per*tku. Sepertinya benda itu cukup ker*s tapi juga sedikit keny*l. Ah entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Cukup membuat aku penasaran, tapi aku juga tidak berani memegangnya. Aku masih malu-malu. Mungkin karena ini yang pertama kalinya.
Setelah kami melakukan pema*asan selama beberapa saat, kak Rey lalu mengg*nd*ngku keluar dari kamar mandi. Saat ini tub*h kami masing-masing hanya ditutupi oleh selembar handuk.
Kak Rey memb*ringkan aku dengan sangat perl*han di atas temp*t tidur. Lalu dia juga ikut naik ke atas tempat tid*r bersamaku. Saat ini dia sudah kembali me******* bi**rku dengan p*sisi dia sekarang sudah ber*da di at*sku.
Bi**rnya si*uk me******* bi**rku dengan bu*snya, sement*ra tang*nnya, sepertinya juga punya mata. Dia bisa melep*s hand*k yang melil*t di tubuhku tanpa melihatnya sama sekali.
"Are you ready, Honey? Kita akan memulai acara intinya sekarang," ucap kak Rey, sambil melemp*r h*nduk yang tadinya melil*t di pingg*ngnya ke sembarang arah.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...