Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 27


__ADS_3

Aku masuk ke dalam ruang ICU ditemani oleh tante Rena. Begitu aku melihat kak Rey di sana, aku langsung menutup mulutku dengan tangan. Dan seketika itu juga, mataku langsung berkaca-kaca.


Kak Rey terbaring lemas tidak berdaya di atas ranjang pasien. Berbagai jenis alat medis menempel di di beberapa bagian tubuhnya. Tanpa alat-alat bantu itu, mungkin mustahil untuk dia bisa tetap bertahan hidup. Apalagi melihat kondisinya yang sangat parah dan sudah tiga hari koma tidak sadarkan diri. Kondisi kak Rey benar-benar sangat memprihatinkan. Beberapa bagian tubuhnya juga dibungkus oleh perban, seperti kepala, lengan, dan kakinya. Beruntung, karena dia tidak mengalami patah tulang, hanya saja bagian kepalanya yang cukup parah karena mengalami benturan keras.


Aku tidak bisa tidak menangis melihat kondisi kak Rey yang seperti ini. Aku pun segera berjalan menghampirinya, duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya seraya berkata, "Maaf. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini."


Cukup lama aku menangisi kondisi kak Rey, hingga pada akhirnya tante Rena menepuk pelan punggungku dari samping seraya berkata, "Sudah. Tidak baik menangis terlalu lama. Kita do'akan saja kesembuhan untuk Rey."


Aku mengangguki ucapan tante Rena seraya menghapus air mataku menggunakan tissu.


"Nak Keisha, apa Tante boleh memiliki permintaan sama kamu?" tanya tante Rena. Matanya menatapku dengan penuh harap.


"Memangnya apa Tante?" tanyaku sambil mendongak menatap beliau. Saat ini tante Rena tengah berdiri di sampingku.


Sebelum menjawab, tante Rena ikut menggenggam tanganku yang hingga detik ini masih setia menggenggam tangan putranya.


"Tante mohon sama kamu, tolong bantu om dan Tante untuk menemani Rey, setidaknya sampai putra kami siuman."


Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyakan permintaan beliau. Ini juga aku lakukan untuk menebus dosa-dosa dan rasa bersalahku pada kak Rey.


.

__ADS_1


.


Tidak terasa sudah hampir dua jam aku duduk di sini menemani kak Rey seorang diri. Tante Rena aku suruh keluar untuk beristirahat karena semenjak kak Rey masuk ke rumah sakit, dia dan om Reza kurang tidur dan kurang istirahat. Aku khawatir, mereka berdua juga ikut jatuh sakit karena kurang istirahat.


"Dek."


Aku langsung menoleh begitu mendengar suara mas Darren memanggilku. Aku merasa lega karena akhirnya dia mau masuk ke ruangan ini juga. Tadinya aku pikir mas Darren tidak mau masuk menjenguk kak Rey meski pun dia yang mengantar aku ke rumah sakit. Semoga saja setelah melihat kondisi kak Rey seperti apa, mas Darren bisa sedikit menurunkan egonya.


"Mas sudah membeli makanan. Kamu keluar makan dulu, biar Mas yang menggantikan kamu menjaganya," ucap mas Darren saat dia sudah berdiri tepat di sampingku.


Aku menggeleng. "Kei nggak lapar Mas."


"Ck, kamu ini. Jangan membantah ucapan Mas, karena Mas tidak akan mengijinkan kamu untuk menemani dia lagi kalau kamu tidak mau makan. Mas hanya tidak ingin kamu sakit gara-gara telat makan." Ancaman mas Darren membuatku tidak bisa berkutik. Mau tidak mau terpaksa aku harus menuruti keinginannya, yang sebenarnya dia lakukan demi kebaikanku sendiri.


"Tapi kalau Kei keluar, Mas harus janji, selang yang ada di hidung dan di mulut kak Rey jangan dilepas ya?" ucapku pada mas Darren.


Mendengarku berkata seperti itu, cubitan mas Darren langsung mendarat di pipiku.


"Kamu pikir Mas tidak punya hati nurani? Meski pun dia adalah rivalnya Mas, tapi Mas tidak mungkin tega menghilangkan nyawa orang."


Setelah bersedih selama beberapa jam, aku akhirnya bisa terkekeh. Dan itu semua, berkat mas Darren.

__ADS_1


"Jangan lupa, makanannya kamu habiskan ya. Karena kalau tidak, kamu tidak boleh lagi menjaga ...." Mas Darren menunjuk kak Rey menggunakan ekor matanya.


"Iya ... iya. Cerewet banget sih," ucapku sambil berjalan meninggalkan mas Darren dan kak Rey. Sementara itu mas Dareen terus menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Apa mungkin dia tidak suka aku mengatainya cerewet? Ah, masa bodoh. Mas Darren mau marah atau tidak karena aku mengatainya, aku tidak peduli.


.


.


Keesokan paginya.


Selama semalaman aku dan mas Darren menjaga kak Rey di rumah sakit. Sementara itu kedua orang tua kak Rey beserta Laras dan kakaknya kembali ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat.


Tidak lama setelah kedatangan tante Rena dan om Reza kembali pagi ini, aku dan mas Darren pamit untuk pulang berganti pakaian sekaligus pulang untuk mengambil barang-barang yang aku butuhkan selama aku nanti tinggal untuk menemani dan menjaga kak Rey di rumah sakit.


Saat dalam perjalanan menuju toko sekaligus rumahku, mas Darren tiba-tiba berkata, "Sayang, kemarin Mas tidak sengaja mendengar kalau si Rey itu mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepala saat kecelakaan. Dan kemungkinan besar, dia akan mengalami amnesia begitu dia sadar."


"Masa sih, Mas? Mas Darren tahu dari mana?" tanyaku penasaran, karena om Reza, tante Rena, dan Laras tidak menceritakan apa-apa padaku. Jika benar seperti itu, kasihan sekali nasib kak Rey. Dia akan lupa segalanya begitu dia sadar nanti.


"Mas kemarin malam tidak sengaja mendengar pembicaraan dokter dengan kedua orang tuanya si Rey. Mas harap, semoga saja dia lupa sama kamu. Biar Mas tidak punya saingan lagi."


"Mas Darren ih, gitu amat sama kak Rey. Kalau mendo'akan seseorang itu yang baik-baik, jangan yang buruk-buruk. Kita do'akan saja, semoga kak Rey bisa segera sembuh, dan diagnosa dokter nggak benar 100 persen. Kan kasihan kalau kak Rey amnesia dan lupa segalanya," protesku akan ucapan mas Darren.

__ADS_1


__ADS_2