
Air mataku mulai menetes. Semakin lama dadaku terasa semakin sesak. Rasanya aku ingin segera menangis sejadi-jadinya. Aku membungkam mulutku sendiri seraya berlari masuk ke dalam kamar. Aku tidak ingin suamiku tahu jika aku sebenarnya tidak sengaja menguping perdebatannya dengan mas Darren.
Aku menyalakan air shower, lalu duduk bersandar di sudut kamar mandi. Seluruh tubuhku perlahan-lahan mulai dibasahi oleh guyuran air shower. Bersamaan dengan itu, tangisanku juga sudah mulai pecah. Aku menangis sekeras mungkin menyesali kesalahan terbesar yang pernah aku perbuat.
Meski pun sebenarnya aku sudah menyesalinya jauh-jauh hari dan sempat sudah melupakannya begitu aku mulai menebus kesalahanku dengan selalu setia menemani dan selalu berada di sisi kak Rey setiap harinya, serta menjalani rumah tangga kami dengan bahagia. Namun, begitu mengetahui bahwa ternyata selama ini kak Rey menyembunyikan dan menyimpan rasa sakitnya dengan caranya sendiri tanpa diketahui oleh orang lain, aku jadi semakin merasa bersalah dan menyesal, membuat dadaku terasa semakin sesak saja.
Rasanya aku ingin bersujud di kakinya memohon dan meminta pengumpunan. Tapi jika aku melakukan hal itu, apa mungkin hubungan kami masih bisa sebahagia hari ini dan hari-hari kemarin?
Aku takut, setelah kami saling mengetahui bahwa kami sebenarnya sama-sama saling mengetahui rahasia masing-masing, aku mengetahui bahwa ternyata selama ini suamiku hanya berpura-pura amnesia untuk menyembunyikan rasa sakit di hatinya, dan dia juga tahu kalau sebenarnya selama ini aku pernah berselingkuh dengan mas Darren, hubungan kami jadi tidak seharmonis kemarin-kemarin.
Mungkin lebih baik jika aku berpura-pura tidak tahu dan tetap menjalani hari-hari kami seperti biasanya. Aku melakukan semua ini agar rumah tangga yang baru saja kami bina ini bisa berjalan dengan lancar dan bahagia selalu.
Sepertinya suatu saat nanti aku juga harus mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara dengan mas Darren. Aku ingin dia tahu bahwa sekarang di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Dan sebaiknya dia juga melupakan aku dan tidak mengganggu rumah tanggaku lagi dengan kak Rey.
.
Sekitar 15 menit kemudian. Samar-samar aku mendengar pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
Tok tok tok.
Kak Rey sudah kembali ke kamar. Itu artinya, dia sudah berhasil mengusir mas Darren pergi. Syukurlah. Sepertinya aku juga harus segera keluar dari sini.
Menangis dengan keras selama beberapa saat sepertinya cukup ampuh untuk meringankan segala beban yang ada di dalam hatiku saat ini.
Begitu selesai mengeringkan tubuhku dan berganti pakaian, aku pun segera keluar dari kamar mandi.
Ku lihat suamiku sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Begitu menyadari keberadaanku, dia langsung tersenyum dan meletakkan ponselnya di atas meja nakas.
Bibirku ikut mengembang membalas senyumannya, akan tetapi hatiku terasa sangat perih. Rupanya kak Rey sangat pandai menyembunyikan rasa sakit, sedih, marah, dan kecewa yang selama ini dia rasakan.
Buktinya, dia baru saja adu mulut dengan mas Darren, dan sekarang dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sepertinya aku harus belajar banyak darinya. Aku juga harus berpura-pura tidak tahu mengenai apa yang aku dengar tadi.
__ADS_1
"Sayang, sini." Kak Rey memanggilku seraya mengulurkan tangannya ke arahku..
Dengan bibir yang masih tersenyum, aku berjalan mendekatinya dan menyambut uluran tangannya.
"Duduk di sini," ucapnya seraya menepuk kedua pah*nya pertanda bahwa dia memintaku untuk duduk di atas sana.
Aku menurut. Lalu meling*rkan kedua tanganku di lehernya saat aku mulai duduk di p*ngku*nnya.
Kak Rey tersenyum sambil terus menatap lekat wajahku yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya, lalu dia mengecup bibirku secara sekilas.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya.
"Terima kasih? Terima kasih untuk apa?" tanyaku heran.
"Terima kasih karena kamu sudah menjaga yang satu itu dengan baik, hanya untuk kamu persembahkan untuk aku seorang," jawabnya sembari menatapku dengan penuh cinta.
"Yang satu itu? Yang satu itu yang mana? Aku nggak ngerti maksud kamu," tanyaku lagi. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapan kak Rey.
"Itu." Kak Rey berkata seraya menunjuk ke arah bawah menggunakan matanya. Rupanya, yang dia maksud saat ini adalah aset bawahku. Dan seketika, dia berhasil membuat wajahku merona menahan malu.
Kak Rey tertawa. "Kenapa? Memangnya tidak boleh genit sama istri sendiri? Hm?"
"Ya nggak apa-apa sih," jawabku seraya ikut tertawa kecil.
"Sayang, mata kamu kenapa bengkak? Kamu habis menangis ya?" tanya kak Rey. Dia akhirnya menyadari hal tersebut.
Aku langsung menggeleng, mencoba untuk membohongi suamiku. "Nggak. Perasaan tadi aku nangis pas ... itu."
"Ngomong-ngomong tentang itu, bagaimana kalau ... kita ula-" Ucapan kak Rey langsung terpotong begitu jari telunjukku aku tempelkan di bibirnya.
"Nanti dulu ... aku lapar," ucapku.
__ADS_1
Kak Rey terkekeh. "Aku sebenarnya juga lapar. Tapi melihat kamu yang semakin lama semakin cantik begini membuat aku jadi lapar yang lain."
"Ck, nanti dulu .... Kalau aku nggak makan, aku bisa pingsan ngeladeni kamu."
Kak Rey kembali tertawa. "Kalau begitu, kita makan dulu. Setelah itu, kita lanjut ronde kedua. Siapa tahu kalau melakukannya sering-sering, kita bisa cepat dapat jackpot di perut kamu."
"Aku jadi tidak sabar, wajah anak kita nanti seperti apa, ya?" ucapnya lagi.
Jika mengandung anakmu bisa membuat kamu bahagia, maka akan aku lakukan untuk membahagiakan kamu, suamiku. Maafkan aku atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan terima kasih, karena kamu masih tetap mau menerimaku meski pun aku pernah melakukan kesalahan.
...E N D....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
PRAAAAAAAANK!!!🤣🤣🤣
Tenang, Author cuma bercanda. Ceritanya masih bersambung kok🤭 See you next chapter😉