Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 09


__ADS_3

Hari sudah hampir petang, aku pun berpamitan pada mas Darren untuk kembali ke rumah.


"Mas, Kei balik dulu, ya? Sudah mau malam," pamitku padanya.


Aku segera bangkit untuk mengambil barang-barangku yang tadinya aku simpan di dalam kamar tamu lantai bawah.


Namun, mas Darren tiba-tiba saja menarik pergelangan tanganku dari belakang seraya berkata, "Dek, tidak bisakah kamu tinggal di sini saja menemani Mas? Mas pasti akan kembali teringat pada masalah Mas jika kamu tidak ada di sini menemani Mas."


Aduh, bagaimana ini? Melihat wajah memelasnya menahan kepergianku saja membuatku sangat tidak tega. Kalau begini mau tidak mau terpaksa aku harus kembali menuruti kemauannya. Malam ini aku terpaksa bermalam di rumah ini lagi agar mas Darren tidak kesepian.


Lagi pula, aku juga takut dia nekat berbuat macam-macam jika aku tidak ada di rumah ini. Bagaimana kalau mas Darren bunuh diri karena frustasi mengingat pengkhianatan Felicya padanya.


Astaga. Sepertinya pikiranku lama kelamaan semakin kacau. Kenapa aku sampai berpikiran seperti itu tentang mas Darren. Amit-amit deh.


.


.


Waktu makan malam sudah tiba, aku pun mengajak mas Darren turun ke lantai bawah untuk makan malam.


"Mas, turun yuk. Kata bi Anik, makan malamnya sudah siap," ajakku.


Mas Darren menggeleng. Katanya dia belum lapar, jadi tidak mau makan.


"Ck, Mas ini. Kalau Mas nggak mau makan, Kei pulang nih," ancamku padanya.


Aku tahu, mas Darren bukannya tidak lapar, tapi karena sekarang dia sedang ditimpa masalah, selera makannya pun jadi hilang.


Terakhir kali makanan yang masuk ke dalam perutnya adalah cake buatanku tadi siang. Itu tadi siang loh. Masa iya sekarang ini dia belum lapar. Sekarang ini sudah masuk waktu jam makan malam.


"Jangan dong, Dek. Kamu tidak kasian apa sama Masmu ini, hm?" Mas Darren kembali melingkarkan jemarinya pada pergelangan tanganku. Itu artinya, dia benar-benar tidak rela aku pergi meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


"Kalau Mas Darren nggak mau makan, Kei beneran akan pergi." Aku menegaskan bahwa aku tidak main-main dengan ancamanku.


Aku tidak mau mas Darren sakit gara-gara telat makan. Apalagi hanya gara-gara wanita pengkhianat itu.


Mas Darren menatapku dengan lekat. Entah mengapa dia menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku.


"Kenapa Mas Darren menatap Kei seperti itu?" tanyaku seraya menyentuh kedua belah pipiku untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang menempel di sana.


Mas Darren menggeleng sembari tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Mas baru mau makan kalau kamu yang masak."


Hah? Yang benar saja. Di meja makan sudah tersedia beberapa menu makan malam yang sudah dimasak oleh bi Anik. Masa mas Darren masih mau aku memasak untuknya. Huft ... tapi tidak apa-apa lah. Asalkan mas Darren mau makan, aku akan dengan senang hati memasak untuknya.


.


.


Sekitar 15 menit kemudian.


Setelah selesai menata nasi gorengnya di piring bersama beberapa bahan pelengkap, aku pun segera membawanya naik ke kamar mas Darren. Untuk saat ini mas Darren tidak mau ke mana-mana dulu. Dia maunya tetap berada di kamar.


"Mas, ayo makan." Aku meletakkan piring nasi gorengnya di atas meja nakas tepat di samping mas Darren duduk dan bersandar saat ini. Lalu aku mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur tepat di dekat kakinya.


Bukannya segera menyantap nasi gorengnya, mas Darren malah menatapku bergantian dengan makanan yang aku buat untuknya.


"Kenapa?" tanyaku Heran. Apakah makanannya kelihatan tidak enak? Pikirku.


"Mas baru mau makan kalau kamu yang suapi, Dek," jawabnya.


Hah? Aduh, mas Darren ini ada-ada saja. Kenapa sekarang dia berubah jadi manja begini. Seperti anak balita saja, makan saja minta disuapi.


Tadi katanya baru mau makan kalau aku yang memasak, tapi kok sekarang berubah lagi. Haduh, mas Darren ... mas Darren. Kamu ini ternyata manja sekali ya. Aku baru tahu.

__ADS_1


"Kei baru mau menyuapi Mas Darren kalau Mas Darren berjanji untuk makan yang banyak." Mas Darren tersenyum seraya menyanggupi permintaanku.


Setelah dia setuju, barulah aku meraih piring nasi gorengnya. Kemudian mengarahkan makanan suapan pertama ke mulutnya.


Begitu makanan di piringnya sisa setengah, mas Darren kemudian mengambil alih sendok yang ada di tanganku.


"Kamu juga makan, Dek. Mas dengar, perut kamu sudah berbunyi dari tadi." Mas Darren tersenyum tipis, lalu mengarahkan sesendok makanan ke arah mulutku.


Hei tunggu dulu. Sendok ini ... sendok ini 'kan bekasnya mas Darren. Dia ingin aku makan menggunakan sendok yang sama yang dia pakai sekarang? Bukankah itu berarti kami berdua sama saja dengan ... uhuk uhuk. Aku sampai tersedak air liurku sendiri.


Hais, pikiran macam apa sih ini? Kenapa aku bisa memiliki pikiran yang tidak pantas seperti ini? Sekarang ini mas Darren adalah kakakku, jadi aku tidak boleh berpikiran yang macam-macam.


Setelah berpikir panjang, aku akhirnya memakan makanan yang mas Darren suapkan padaku.


Aku mengunyah makananku dengan pelan sambil menahan agar tidak tersenyum. Rupanya seperti ini rasanya disuapi oleh mas Darren dan makan menggunakan satu sendok berdua.


Tidak bisa aku pungkiri bahwa aku merasa sangat bahagia disuapi olehnya. Aku merasa, saat ini kami seperti sedang makan romantis berdua.


Tidak, tidak. Sadar Keisha, sadar. Kamu tidak boleh berharap banyak. Dia hanya menganggap kamu sebagai adiknya. Jadi kamu juga harus belajar untuk menganggapnya sebagai kakak, bukan sebagai laki-laki yang kamu cintai selama ini.


Untuk yang kesekian kalinya aku berusaha untuk menyadarkan diriku agar aku bisa mengendalikan hatiku yang sudah terlanjur terpaut padanya.


"Mm ... Mas, sebaiknya Mas Darren makan sendiri. Tuh, Mas Darren sudah bisa pegang sendok, 'kan? Kei mau ke toilet sebentar, Mas.  Tiba-tiba perut Kei mules banget," ucapku berbohong.


Aku tidak ingin semakin baper jika kami berdua terus makan sambil saling suap-suapan.


Pikiranku memang berkata untuk belajar melupakannya tapi hatiku berkehendak lain. Pikiranku ternyata tidak mampu untuk mengendalikan hatiku. Hatiku masih tetap saja berharap agar suatu saat nanti kami berdua bisa saling memiliki.


"Tapi, Dek-" Belum selesai mas Darren berbicara aku sudah berlari keluar dari kamarnya.


Tidak ada lagi aksi protes protes. Kalau aku selalu menurut apa katanya, aku sendiri nanti yang akan baper. Dan imbasnya, aku pasti akan semakin sulit untuk menghilangkan perasaanku terhadap mas Darren.

__ADS_1


__ADS_2