
Keesokan paginya, aku terbangun saat mendengar ponselku berdering. Dalam keadaan setengah sadar aku berusaha meraih ponselku untuk melihat siapa yang menelpon pagi-pagi begini. Tapi entah mengapa aku merasa sangat sulit untuk menjangkau ponselku yang biasanya selalu aku letakkan di atas meja nakas sebelum tidur.
Eh, ini kenapa sih susah banget ngambilnya? Gumamku dalam hati.
Setelah aku membuka mataku baik-baik dan mencoba mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, aku melihat sebuah tangan kekar melingkar di atas perutku.
Apa? Tangan kekar? Astaga! Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tidur bersama seorang pria?
Aku melirik ke arah samping. Ku lihat wajah tampan milik pujaan hatiku yang sedang asyik terlelap. Siapa lagi kalau bukan mas Darren.
Astaga. Aku baru ingat, bahwa semalam kami ... aduh, aku malu mengatakannya. Tapi kalau aku tidak mengatakannya, pembaca sekalian pasti penasaran, bukan? Apa sebenarnya yang sudah aku dan mas Darren lakukan sehingga kami bisa berakhir tidur bersama.
Eit, jangan salah paham dulu. Kami hanya tidur bersama saja. Tidak lebih dari itu. Semalam setelah ... ekhem, ciuman panas kami, mas Darren menolak untuk pulang. Meski pun aku sudah berkali-kali menyuruhnya pulang, akan tetapi dia tetap tidak mau. Katanya dia tidak mau pisah denganku dan tidak mau jauh-jauh dariku. Aku juga tidak habis pikir kenapa mas Darren bisa sebucin itu padaku.
Sejujurnya aku merasa sangat senang dan bahagia mengetahui bahwa ternyata sekarang mas Darren juga sudah mencintaiku. Tapi sayangnya, cinta kami bersemi di waktu yang salah.
Dengan sangat pelan aku menurunkan tangan mas Darren dari atas perutku, takut dia terbangun dan tidurnya menjadi terganggu.
Aku kemudian meraih ponselku yang ada di atas meja nakas. Saat melihat siapa yang menelpon, aku langsung bangun dan duduk saking terkejutnya. Astaga. Rupanya kak Rey yang menelpon pagi-pagi begini.
Aku segera berjalan keluar dari kamarku. Aku ingin menjawab panggilan video dari kak Rey di luar kamar. Jika aku menjawab panggilan kak Rey di dalam kamar, bisa-bisa mas Darren terbangun dan kak Rey mendengar suara mas Darren. Jika sampai ketahuan, aku tidak tahu bagaimana caranya aku menjelaskannya pada kak Rey.
__ADS_1
Huft ... sepertinya sekarang aku berada dalam situasi dan hubungan yang sangat rumit. Aku dan mas Darren sama-sama saling mencintai, tapi kami berdua sama-sama masih memiliki pasangan kami masing-masing. Aku ingin memutuskan kak Rey demi mas Darren, tapi aku tidak tahu bagaimana cara aku melakukannya.
Aku juga merasa tidak tega menyakiti laki-laki sebaik kak Rey. Dia adalah sosok laki-laki yang nyaris sempurna untuk dijadikan sebagai suami, namun sayangnya, aku belum mencintainya.
Ternyata seperti ini rasanya berselingkuh, ditambah lagi dengan kakak tiri sendiri. Rasanya mungkin lebih mirip seperti maling yang takut kepergok.
Meski pun aku belum mencintai kak Rey, tapi tetap saja aku merasa bersalah padanya. Orang sebaik kak Rey, apa pantas dia mendapatkan pengkhianatan seperti ini? Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku untuk menjalin hubungan yang sangat rumit seperti yang baru saja aku jalani saat ini.
.
.
Setelah panggilan video kak Rey berakhir, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Aku ingin segera mandi dan bersiap-siap kemudian turun mengerjakan cake pesananan pelanggan.
Aku kemudian berdiri di depan meja riasku, lalu menatap pantulan wajahku di cermin.
"Keisha Maharani, berani-beraninya kamu menjalin hubungan dengan dua laki-laki sekaligus. Apa kamu sudah gila? Gimana caranya nanti kamu menghadapi dua laki-laki itu ke depannya? Kalau kalian bertiga bertemu di waktu yang bersamaan, apa yang harus kamu lakukan? Sepertinya kamu harus mengakhiri salah satunya sebelum keadaan makin rumit." Aku berbicara pada bayanganku di cermin.
Baru membayangkan hubungan yang rumit ini saja sudah cukup membuat kepalaku pusing, bagaimana nanti? Pfft ... aku hanya bisa mendengus dengan kasar.
"Pagi Sayang."
__ADS_1
Tiba-tiba saja mas Darren memelukku dari belakang. Membuatku terkejut saja. Tadi saat aku melamun, aku tidak menyadari kalau mas Darren sudah keluar dari kamar mandi.
"Mas, Kei mohon, tolong jangan seperti ini," ucapku seraya mencoba melepas kedua tangan mas Darren yang melingkar di perutku.
"Kenapa?" Mas Darren bertanya seraya memutar badanku agar menghadap ke arahnya. "Ada apa Sayang, hm?"
"Mas, apa sebaiknya ... kita akhiri saja hubungan kita sebelum terlalu jauh," ucapku sambil memberanikan diri menatap wajah mas Darren.
"Kamu ini bicara apa? Mas tidak mau. Mas sayang dan cinta sama kamu. Mas tidak akan melepaskan kamu bagaimana pun caranya. Sebaiknya sekarang, kamu segera memutuskan hubungan kamu dengan si Rey itu karena kamu tidak mencintainya, kamu hanya mencintai Mas. Jadi Mas yang lebih berhak untuk hidup bersama kamu ke depannya."
"Mas tolong, jangan egois. Dengarkan penjelasan Kei dulu. Sekarang ini kita berdua masih sama-sama milik orang lain. Kei masih kekasihnya kak Rey, sedangkan Mas Darren masih suaminya mbak Feli," jelasku yang kemudian disela oleh mas Darren.
"Sayang, jangan bicara seperti itu." Mas Darren menangkup kedua pipiku dengan kedua tangannya. "Sebentar lagi Mas akan bercerai dengan Feli. Tinggal menunggu sidang satu kali lagi sebelum akhirnya kami benar-benar resmi bercerai. Jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah, kamu hanya perlu memutuskan si Rey itu. Kamu mengerti 'kan, Sayang?"
Mendengar perkataan mas Darren, entah mengapa makin ke sini aku merasa mas Darren semakin egois. Sepertinya dia sudah tidak memikirkan perasaan orang lain dan hanya mementingkan perasaan dirinya sendiri. Apa dia sudah lupa bagaimana sakit hati dan terpuruknya dia dulu saat mengetahui bahwa istrinya berkhianat? Apa dia tega melakukan hal yang sama pada orang lain? Sepertinya aku harus mengingatkan mas Darren mengenai hal itu.
"Mas, tolong jangan sela ucapan Kei dulu. Dengerin Kei dulu," ucapku sambil balas menyentuh pipi mas Darren dengan tangan kananku. "Kei pasti akan mengakhiri hubungan Kei dengan kak Rey. Tapi memutuskan hubungan nggak semudah yang Mas bayangkan, nggak semudah membalik telapak tangan. Kei butuh alasan yang masuk akal untuk mengakhiri hubungan Kei dengannya. Kei hanya ingin putus baik-baik tanpa perlu membuat kak Rey terlalu sakit hati dan tanpa menyisakan rasa benci mau pun dendam di antara kami berdua. Jadi sebaiknya hubungan ini kita akhiri dulu untuk sementara, sampai kita berdua sama-sama bukan milik siapa-siapa lagi, Mas."
Aku hanya tidak ingin mas Darren dicap sebagai perusak hubunganku dengan kak Rey, dan aku dicap sebagai penyebab perceraian antara mas Darren dan Felicya.
"Mas, apa Mas tega merebut Kei dari tangan kak Rey? Apa Mas sudah lupa gimana sakit hati dan terpuruknya Mas saat tahu bahwa mbak Feli nggak cinta sama Mas? Ditambah lagi mbak Feli juga berselingkuh dengan laki-laki lain?" tanyaku, yang kemudian tidak dijawab oleh mas Darren. Semoga saja dia masih punya hati nurani untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang lain.
__ADS_1
"Mas nggak lupa semua itu, 'kan? Apa Mas Darren tega melakukan hal yang sama pada orang lain?" tanyaku lagi.
Setelah mendengar semua ucapanku, mas Darren terdiam sejenak, lalu kemudian berkata, "Mas akan setuju dengan permintaan kamu tapi dengan satu syarat. Mas akan terus mengawasi setiap gerak gerik kamu. Jangan sampai kejadian seperti kemarin sore kembali terulang lagi, karena Mas pasti akan sangat marah. Kamu hanya akan jadi milik Mas, jadi tidak boleh disentuh oleh laki-laki lain."