Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 29


__ADS_3

Note : Yang merasa kebingungan begitu membaca paragraf awal bab ini, bisa membaca ulang bab sebelumnya (Chapter 28) karena yang muncul dari pergantian tanggal kemarin sampai kemarin siang itu adalah bab yang belum direvisi. Bab yang sudah revisi mengalami kendala review gara-gara ada satu kata yang vulgar menurut sistem (kata r*nj4ng) padahal tidak ada adegan dewasa sama sekali.


...****************...


Aku merasakan tangan kak Rey mulai bergerak di dalam genggamanku. Jangan-jangan, sebentar lagi kak Rey akan siuman. Begitu pikirku.


Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari keluar untuk memanggil perawat yang sedang berjaga. Setelah diperiksa, kak Rey tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar sama sekali.


"Tapi tadi tangannya memang bergerak, Sus," ucapku penuh keyakinan pada perawat yang baru saja selesai memeriksa kondisi kak Rey.


Perawat itu tersenyum kemudian menjelaskan padaku bahwa hal seperti itu memang wajar terjadi. Itu merupakan salah satu respon dari pasien ketika diajak berbicara.


"Kalau boleh tahu, Mbak ini punya hubungan apa dengan pasien?" tanya perawat tersebut.


Mendengar pertanyaan perawat tersebut, suasana langsung hening seketika. Aku bingung harus menjawab apa. Aku juga tidak tahu, sebenarnya aku ini punya hubungan apa dengan kak Rey? Saudara bukan, pacar bukan. Istri apalagi. Mau jawab mantan tapi aku malu sama susternya.


"Em ... saya ... saya temannya, Sus," jawabku kemudian.


"Serius cuma temanan?" Perawat itu kembali bertanya sambil tersenyum, lalu menatapku dengan tatapan yang entah apa artinya. Mungkin saja perawat itu tidak percaya kalau aku dan kak Rey hanya berteman.


"I-ya, Sus. Saya serius. Kami memang hanya berteman," jawabku lagi mencoba meyakinkan kalau aku tidak berbohong.


Lagi-lagi perawat itu kembali tersenyum mendengar jawabanku. Sepertinya dia benar-benar tidak percaya kalau hubunganku dengan kak Rey hanya sebatas teman.


Tidak lama kemudian perawat itu pun pamit setelah berpesan padaku untuk sering-sering mengajak kak Rey mengobrol meski pun kak Rey masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Aku kembali duduk di samping kak Rey, kemudian kembali mengajak dia mengobrol.


"Aku pikir tadi kamu sudah mau siuman, ternyata belum. Mau sampai kapan sih kamu mau tidur seperti sekarang ini? Hm," tanyaku sambil menatap wajah kak Rey lekat-lekat.


...****************...


Tidak terasa sudah 1 minggu lebih aku menjaga kak Rey di rumah sakit, tapi hingga detik ini dia masih belum sadarkan diri juga.


Disaat tengah malam saat orang yang menemaniku untuk berjaga sudah tertidur, rasa takut dan khawatir selalu  menggerogoti hati dan pikiranku. Ditambah lagi saat aku sering mendapati tante Rena diam-diam menangisi kondisi putranya. Rasa bersalahku kepada kak Rey beserta keluarganya pun kian membuncah.


Andai saja aku bisa melakukan sesuatu untuk mengembalikan kak Rey seperti semula, aku rela melakukan apa pun. Apa pun itu, yang penting aku bisa menebus dosa dan kesalahanku pada keluarga Bagaskara.


"Keisha, sebaiknya kamu keluar untuk refreshing dulu Sayang. Kamu bisa pergi ke salon untuk perawatan, spa, atau kalau kamu mau, kamu juga bisa pergi berbelanja ke mall. Rey biar Tante sama Om yang jaga. Kamu sudah 1 minggu lebih loh berada di sini menjaga Rey. Tante sama Om jadi tidak enak sama kamu." Tante Rena berkata seraya duduk di sampingku.


Selama aku di sini, aku masih tetap bisa beristirahat dengan nyaman. Mungkin karena pasien yang dijaga tidak rewel sama sekali, malah terlihat seperti sedang asyik tertidur. Entah apa yang membuat kak Rey masih enggan untuk bangun sampai sekarang.


"Nggak usah Tante. Nggak apa-apa. Kei di sini aja menemani Kak Rey," jawabku.


Entah mengapa aku merasa enggan untuk meninggalkan kak Rey, sama seperti dia yang masih enggan untuk bangun. Mungkin aku seperti ini karena rasa bersalahku yang teramat besar padanya dan keluarganya. Jadi aku merasa harus bertanggung jawab hingga kak Rey benar-benar sembuh.


"Loh, kenapa? Memang kamu tidak bosan tinggal di sini terus selama berhari-hari?" Tante Rena kembali bertanya padaku.


Aku tersenyum. "Nggak kok Tante. Kei 'kan di sini punya banyak hiburan, jadi nggak akan bosan."


Tante Rena mengerutkan dahi mendengar ucapanku. "Hiburan apa?"

__ADS_1


Mungkin beliau penasaran, kira-kira hiburan apa yang aku maksud. Dan kenapa aku berkata aku memiliki banyak hiburan, padahal kami sudah berada di rumah sakit selama lebih dari 1 minggu. Biasanya kan orang-orang tidak betah dan menganggap kalau tinggal di rumah sakit itu rasanya sangat membosankan.


Aku kemudian menjelaskan pada tante Rena bahwa selama aku ada di sini, aku menghabiskan waktuku dengan mengajak kak Rey mengobrol, kemudian aku juga bisa menonton film, membaca dan menulis novel, melakukan senam dalam ruangan, dan lain sebagainya. Juga ada mas Darren, Laras, kak Bagas, dan Mawar yang selalu datang ke sini menemaniku disaat mereka sedang tidak sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Ya sudah, terserah kamu. Tapi kalau kamu mau keluar, bilang sama Tante, ya?" kata Tante Rena, dan aku hanya mengangguki perkataan beliau.


.


.


Sore ini mas Darren datang ke rumah sakit membawa makanan untukku. Tadi saat mas Darren baru saja datang, tante Rena dan juga om Reza berpamitan untuk pulang. Malam ini mereka berdua ingin menghadiri acara ulang tahun perusahaan salah satu klien penting mereka.


"Sayang, Mas sangat merindukan kamu. Sangat jarang kita memiliki kesempatan untuk berduaan seperti ini, jadi tidak boleh dilewatkan." Mas Darren berkata seraya memelukku dengan erat dari belakang. Sementara aku memindahkan makanan yang mas Darren bawa ke piring.


"Mas Darren salah. Siapa bilang kita cuma berdua di sini? Terus Kak Rey, Mas anggap apa?" tanyaku.


"Iya, Mas tahu. Tapi dia 'kan tidak bisa mengganggu kita bermesraan," ucap mas Darren lagi, lalu memutar badanku agar berbalik menghadap ke arahnya. Setelah saling berhadapan, kami berdua pun saling menatap satu sama lain.


Mas Darren tersenyum sambil terus menatapku lalu menyelipkan anakan rambutku di telinga. "Cantik, Mas boleh minta imun?"


"Imun? Maksud, Mas Darren apa? Kei nggak ngerti," tanyaku kebingungan.


"Ini." Mas Darren mengusap bibirku menggunakan ibu jari kanannya, dan itu sukses membuat pipiku merah merona begitu tahu maksud mas Darren dengan kata 'imun' itu apa sebenarnya.


"Boleh 'kan Sayang? Hm."

__ADS_1


__ADS_2