Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 37


__ADS_3

Aku tidak tahu dokter Rizal serius dengan ucapannya ataukah beliau hanya ingin menggodaku saja. Yang jelas, dia berhasil membuat wajahku jadi memerah menahan malu.


Tapi kalau aku pikir-pikir ... apa benar iya seperti itu? Bukankah cerita seperti itu hanya ada di negeri dongeng saja, tidak berlaku di dunia nyata. Tapi kalau aku mencobanya, apa kak Rey akan benar-benar bangun?


Karena sekarang aku dan kak Rey hanya tinggal berdua saja, jadi aku bebas mengajaknya mengobrol. Ibu dan tante Rena sedang keluar membeli makanan. Oh iya, kamar perawatan kak Rey di sini sangat lengkap, dilengkapi dengan dapur. Jadi kami biasa memasak atau pun menghangatkan makanan. Asalkan bukan masakan yang berbau menyengat tidak masalah jika kami memasaknya di sini.


"Mm ... kalau kamu adalah pangeran tidur dan aku adalah tuan putrinya, kamu bakalan bangun apa nggak kalau aku cium?" tanyaku pada kak Rey, dan tentu saja pertanyaanku itu tidak akan mendapatkan jawaban apa pun.


Aku menoleh melihat ke arah pintu. Tidak ada siapa-siapa di sana.


"Kalau aku cium kamu sekarang, kamu bakalan bangun apa nggak? Awas ya kalau kamu nggak bangun, karena aku akan ... aku akan ...." Aku terkekeh karena tidak tahu harus berkata apa.


Aku kembali menoleh melihat ke arah pintu, semoga saja tidak ada orang yang mengintip. Rasanya aku seperti seseorang yang sedang ingin melakukan aksi kejahatan dan tinggal mencari kesempatan yang tepat untuk melancarkan aksiku.


"Jangan ngintip ya, aku malu soalnya kalau kamu ngintip," ucapku lalu kembali terkekeh.


Entah mengapa aku menjadi salah tingkah sendiri. Padahal, orang yang ingin aku cium saat ini tengah terbaring lemah tidak sadarkan diri.


Karena menurutku keadaan sudah aman, jadi aku pun memberanikan diri untuk menjalankan misiku, yaitu membangunkan sang pangeran dari tidur panjangnya.


Perlahan-lahan aku mulai memejamkan mataku begitu wajahku semakin mendekati wajah kak Rey.


Cup.

__ADS_1


Antara percaya dan tidak percaya, aku benar-benar mencuri ciuman dari seorang pria yang tengah terbaring lemah dan tidak sadarkan diri ini. Sekitar 5 detik lamanya bibir kami saling menempel satu sama lain.


Entah mengapa ciuman ini malah mengingatkan aku pada ciuman pertamaku dengan kak Rey di dalam mobil waktu itu. Rasanya sama. Mungkin karena melakukan dengan orang yang sama. Bedanya kali ini, aku yang memulainya duluan. Kalau di dalam mobil waktu itu, kak Rey yang menciumku secara tiba-tiba.


Setelah kembali ke posisi dudukku, aku kembali memperhatikan keadaan kak Rey. Sama sekali tidak ada tanda-tanda dia akan terbangun.


"Kamu curang ih. Kamu kok nggak gerak sih? Kan udah aku cium tadi." Aku kembali bertanya pada kak Rey.


"Atau kamu mau aku coba sekali lagi? Iya?" Tanpa ba bi bu, aku kembali mengulang hal yang sama seperti tadi.


Cup.


Setelah melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya, aku kembali duduk dan memperhatikan kak Rey baik-baik. Setelah aku tunggu selama 2 menit, tidak ada tanda-tanda dia akan bangun. Sama sekali tidak ada reaksi.


...****************...


2 Minggu kemudian.


"Aku baru akan bangun kalau kamu berjanji dengan sepenuh hati padaku bahwa kamu mau menikah denganku, menjalani hari-harimu bersamaku, dan menua bersamaku," jelas kak Rey.


Seketika mataku langsung terbuka. Aku menarik napasku dalam-dalam, lalu membuangnya pelan.


Huft. Mimpi itu lagi. Mimpi yang sama sudah 3 kali aku mimpikan selama dua minggu ini. Dimulai sejak aku mencium kak Rey waktu itu. Kak Rey datang memberiku petunjuk dalam mimpi, tapi aku lebih memilih mengabaikannya. Kenapa? Selain karena kebenarannya masih belum pasti, juga karena aku memikirkan perasaan mas Darren.

__ADS_1


Mimpi itu hanya bunga tidur. Mungkin aku bermimpi seperti itu karena aku terlalu memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa membuat kak Rey bangun dari tidur panjangnya.


Aku lalu bangun dan duduk dari tempatku berbaring, kemudian melihat ke sekeliling. Semua orang sudah tertidur lelap, kecuali aku yang kembali terbangun saat tengah malam.


Aku memeriksa jam di ponselku, waktu baru menunjuk pukul 01.10 dinihari. Jika sudah bermimpi seperti itu, aku tidak bisa lagi tertidur. Pikiranku pasti beterbangan ke mana-mana.


Aku memikirkan banyak hal, mulai dari kondisi kak Rey yang tidak kunjung siuman setelah 2 bulan lebih tidak sadarkan diri. Sikap mas Darren yang sepertinya semakin lama semakin berubah karena merasa sering aku abaikan dan mengira kalau aku lebih memperhatikan kak Rey ketimbang dirinya. Juga perasaan tante Rena dan om Reza yang teramat sering bersedih melihat kondisi putra semata wayang mereka. Sampai-sampai kondisi mereka berdua sempat drop secara bergantian.


Melihat hal itu aku semakin menyalahkan diriku sendiri. Seolah-olah perasaan berdosaku pada ke empat orang tadi semakin hari semakin menumpuk.


Aku melirik ke kiri dan ke kanan, ada ibu dan tante Rena yang tengah terlelap dan mengapit posisi berbaringku tadi. Ya, kami bertiga tidur di atas kasur lantai yang sama. Sedangkan om Reza ada di rumahnya. Beliau dijaga oleh Laras dan kak Andra karena baru keluar dari rumah sakit 2 hari yang lalu.


Aku menatap wajah tante Rena yang saat ini tengah terlelap. Matanya terlihat sangat sembab. Aku yakin, sebelum beliau tertidur, dia pasti menyempatkan diri untuk menangisi kondisi putranya. Menangis diam-diam saat tengah malam saat semua orang sudah tertidur lelap sepertinya sudah menjadi rutinitasnya selama 2 bulan terakhir.


Aku bangkit dan berjalan mengendap-ngendap mendekati kak Rey, takut ibu dan tante Rena terbangun. Aku lalu duduk di samping kak Rey. Menatap wajah tampannya yang terlihat semakin kurus membuat hatiku semakin teriris-iris.


Andai pesan kak Rey dalam mimpi itu benar adanya, sepertinya aku harus rela mengorbankan kebahagiaanku bersama mas Darren. Dan itu artinya, aku kembali melukai hati pria yang aku cintai dan mencintaiku. Sama seperti yang aku lakukan pada kak Rey 2 bulan yang lalu sebelum dia kecelakaan.


Rasanya aku ingin menjambak rambutku sendiri, menampar diriku sendiri, dan memaki diriku sendiri. Aku merasa, akulah orang paling berdosa dan menjijikkan di muka bumi ini. Hanya karena keegoisan dan na***ku semata, aku membuat banyak orang bersedih dan tersakiti.


Andai saja dari awal aku memiliki pendirian yang tetap dan setia terhadap pasanganku, yaitu kak Rey. Pasti tidak akan timbul masalah yang rumit seperti sekarang ini.


Aku menggenggam tangan kak Rey sembari melamun dan menimang-nimang banyak hal. Jika nantinya aku memilih kak Rey, maka mas Darren pasti akan tersakiti. Tapi jika aku memilih mas Darren, bukan hanya kak Rey yang menjadi korban. Bukan hanya kak Rey yang aku sakiti, tapi juga kedua orang tuanya, serta orang-orang terdekatnya seperti Laras, kak Andra, dan masih banyak lagi yang lainnya.

__ADS_1


Aku tidak ingin lagi mengambil keputusan yang salah. Jika coba aku pikir kembali, orang-orang di sekitarku sudah terlalu lama menderita dan tersakiti karena ulahku. Aku harus mengakhiri semua ini secepat mungkin. Jadi sebaiknya sekarang aku cepat-cepat mengambil keputusan, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan membuat aku semakin menyesal.


__ADS_2