
Setelah sekitar 2 menit memelukku, mas Darren akhirnya melepaskan pelukannya. Dengan mata yang masih basah, bengkak, dan memerah, mas Darren menatapku.
"Dek, boleh Mas curhat? Sekarang Mas sedang ada masalah. Mas tidak tahu harus mencurahkan isi hati Mas pada siapa. Kecuali sama kamu, adik Mas sendiri," ucapnya dengan suara lirih.
Bak terhipnotis melihat wajahnya yang sangat menyedihkan itu, tanpa ba bi bu, aku langsung mengangguki permintaannya.
Begitu mendapatkan persetujuan dariku, mas Darren langsung mengajakku naik ke lantai atas. Katanya, jika kami bercerita di lantai bawah, bisa-bisa bi Anik menguping pembicaraan kami. Bisa gawat jika bi Anik menceritakan apa yang dia dengar pada ayah Gilang nantinya. Mas Darren tidak mau dulu masalahnya sampai diketahui oleh ayah Gilang dan ibu. Dia tidak ingin membuat orang tua kami khawatir.
"Tapi Mas, Kei mau ke depan dulu sebentar," ucapku.
Di luar sana masih ada sopir taksi yang menungguku keluar. Tadi sebelum aku turun dari taksi, aku bilang sama bapak-bapak sopir taksinya kalau aku hanya sebentar, tapi sekarang sudah berlalu sekitar lebih dari 5 menit dan aku belum juga kembali. Mungkin saja bapak-bapak sopir taksi itu sudah gelisah menungguku.
"Buat apa, Dek? Apa kamu mau pergi karena malas mendengar keluh kesah Mas, hm?" tanya mas Darren dengan suara sengau. Wajar saja jika suaranya sengau karena tadi dia habis menangis.
Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. Mana mungkin aku tega pergi meninggalkan mas Darren disaat dia sangat terpuruk seperti sekarang ini.
Meski pun aku belum tahu jelas dia terpuruk karena apa, tapi instingku mengatakan kalau ini pasti ada kaitannya dengan rumah tangganya yang baru saja dia mulai dengan Felicya.
"Kei mau bayar ongkos taksi dulu, Mas. Di luar ada taksi yang menunggu untuk mengantar Kei kembali ke rumah," jawabku.
__ADS_1
"Oh." Mas Darren mengangguk mengerti. "Kalau begitu, Mas tunggu kamu di teras atas ya, Dek," ucapnya lagi.
Aku kembali mengangguki ucapannya. Setelah itu aku keluar menuju pintu gerbang dimana taksi yang aku tumpangi tadi menungguku.
Saat berjalan keluar, pikiranku mulai menerka-nerka banyak hal. Apa mungkin istri mas Darren selingkuh? Kenapa mas Darren terlihat sangat sedih sampai segitunya?
Ah, masa iya selingkuh. Mereka 'kan baru menikah minggu lalu, masa iya sih istrinya mas Darren sudah selingkuh. Aku yakin, pasti hanya ada masalah lain yang terjadi di antara mereka berdua, bukan gara-gara itu. Karena rasanya sangat tidak masuk akal jika istrinya Mas Darren berkhianat, karena mereka berdua menikah atas dasar cinta, bukan karena terpaksa. Apalagi karena dijodohkan.
Tidak mungkin juga 'kan masalahnya ada pada mas Darren. Tidak mungkin kakak tiriku itu yang berkhianat. Buktinya, dia terlihat sangat sedih. Aku juga tahu betul kalau mas Darren sangat mencintai Felicya, sangat-sangat mencintai istrinya itu.
Aku bisa tahu hal tersebut saat aku mengungkapkan perasaanku yang terakhir kalinya pada mas Darren. Dia bilang, dia menolakku karena dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja, tidak lebih dari itu. Dan satu lagi, dia juga memiliki kekasih yang sangat dia cintai dan sebentar lagi akan segera dia nikahi setelah kekasihnya itu pulang dari luar negeri.
Katanya lagi, dia tidak akan mungkin mengkhianati Felicya. Mas Darren sangat mencintai wanita itu.
Ah, sudahlah. Lupakan cerita memalukan itu. Di saat seperti ini, aku harus mengesampingkan perasaanku. Dan disaat seperti ini pula, aku harus berperan sebagai teman dan adik yang baik untuk kakak tiriku tersebut.
.
.
__ADS_1
Usai meminta maaf dan membayar tagihan taksi, aku segera masuk ke dalam rumah kemudian menuju ke lantai atas.
Aku memelankan langkahku saat melihat penampakan punggung lebar mas Darren di balkon. Sekarang ini dia sedang berdiri sambil membelakangiku.
Mendengar suara sendal yang aku kenakan beradu dengan lantai marmer membuat mas Darren memutar badan dan menatap ke arahku. Sementara itu, aku sendiri berjalan menghampiri dan berdiri tepat di sampingnya.
Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Kalau dia tidak memulainya, maka aku pun akan memilih untuk diam dan berdiri saja di sampingnya.
Aku dan mas Darren sama-sama terdiam selama beberapa saat. Setelah itu, dia akhirnya angkat bicara. Dia mulai bercerita kalau hidupnya sangat tidak beruntung. Dia menikahi wanita yang salah.
What? Apa aku tidak salah dengar barusan?
"Kenapa Mas Darren bicara seperti itu?" tanyaku penasaran. Sedari tadi dia berbicara setengah-setengah, membuatku semakin penasaran saja.
"Iya, Dek, Mas salah memilih perempuan sebagai pendamping. Feli itu tidak sebaik yang Mas pikirkan selama ini," jawabnya, yang menurutku masih menggantung.
Jika jawaban mas Darren selalu setengah-setengah seperti itu, dia bisa saja membuatku mati penasaran. Sebenarnya istrinya itu tidak baik kenapa sih? Cepat dijelaskan dong mas Darren. Istrinya mas Darren itu tidak baik kenapa? Dari tadi dia cuma bilang kalau istrinya bukan perempuan baik-baik lah, Feli itu tidak baik lah, dia salah memilih pasangan lah, bla bla bla. Tapi dia tidak menjelaskan kenapa dia mengatakan mengenai hal itu tentang istrinya.
Huft ... dasar mas Darren. Dia benar-benar menyiksa jiwa keepoku yang sekarang ini sedang menronta-ronta. Siapa tahu setelah mendengar ceritanya, aku bisa menari di atas penderitaannya.
__ADS_1
Ih, dasar aku. Mau jadi adik durhaka? Tentu saja tidak. Begini, untuk saat ini, kita kesampingkan dulu mengenai status persaudaraan di antara kami berdua. Aku di sini sebagai seorang wanita yang mencintai mas Darren. Jujur saja, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku justru merasa sangat senang jika rumah tangga mas Darren dengan Felicya nantinya harus kandas. Meski pun aku terdengar jahat, tapi aku hanya mengungkapkan perasaanku yang sejujur-jujurnya. Aku ini tidak mau munafik jadi orang.
"Mas, sebelumnya Kei minta maaf. Sedari tadi Mas cuma bilang sama Kei kalau istrinya Mas nggak baik. Mbak Feli nggak sebaik yang Mas pikir, dan Mas salah memilih wanita untuk dijadikan sebagai pendamping hidup. Tapi Mas nggak cerita apa sebabnya Mas Darren bicara seperti itu mengenai istri Mas sendiri." Aku akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan pertanyaan yang tadinya mengganjal di dalam hati dan pikiranku.