
Beberapa hari kemudian.
Semenjak kejadian di restoran beberapa hari yang lalu, aku terus menyendiri di dalam kamar dan menolak untuk bertemu dengan siapa pun. Tidak terkecuali mas Darren. Satu-satunya orang yang bisa menemuiku hanya Mawar seorang, karyawanku di toko. Dia juga lah yang bertugas untuk mengantarkan segala kebutuhanku ke dalam kamar, termasuk makanan.
Aku juga sengaja menon-aktifkan ponselku. Aku benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun karena setelah memutuskan kak Rey secara sepihak beberapa hari yang lalu, aku merasa dikejar rasa bersalah dan rasa berdosa karena sudah menyakiti laki-laki sebaik kak Rey. Aku sadar, ini semua murni kesalahanku. Aku yang terlalu berambisi ingin menghilangkan segala perasaan cintaku terhadap mas Darren, tapi malah justru menjadikan kak Rey sebagai korban.
Sebelumnya aku tidak pernah menyangka bahwa kejadian seperti ini akan terjadi. Tadinya aku berpikir, kalau aku sudah memiliki kekasih, aku bisa melupakan mas Darren dengan mudah. Nyatanya tidak segampang itu aku melupakan kakak tiriku tersebut. Andai saja aku tahu kejadiannya akan seperti ini, aku pasti tidak akan pernah mau melakukannya, menjadikan kak Rey sebagai pelarian.
Tok tok tok!
Terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarku dari luar. Aku yakin, itu pasti Mawar yang datang mengantarkan sarapan untukku. Tapi tumben pagi ini Mawar datang lebih cepat biasanya. Biasanya 'kan selalu datang setiap pukul 7 tepat. Ini bahkan lebih cepat setengah jam dari biasanya.
Aku berjalan ke arah pintu sambil melepas handuk yang sedari tadi membungkus rambutku yang basah sehabis keramas dan belum aku keringkan menggunakan alat pengering rambut. Setelah itu barulah aku membuka pintu kamarku yang selalu aku kunci setiap saat, dan hanya aku buka ketika Mawar datang mengetuknya.
Ceklek. Suara pintu terbuka.
"Rose, kamu kok dat-tang-"
"Pagi Sayang."
Baru saja aku hendak bertanya pada Mawar (biasa aku panggil Rose/ Mawar \= Rose) kenapa dia datang lebih pagi, tapi aku malah dikejutkan dengan sosok mas Darren yang saat ini tengah berdiri di depan pintu kamarku sambil menjinjing dua buah kantongan kresek berukuran sedang pada masing-masing tangannya.
"Mas Darren," ucapku.
Mas Darren tersenyum. "Sayang, kenapa kamu tidak memelukku? Memangnya kamu tidak merindukanku, hm?"
Aku tersenyum dengan sedikit dipaksakan lalu memeluk mas Darren. Entah mengapa saat ini aku merasa ada yang kurang. Padahal, mas Darren adalah sosok yang selama ini sangat aku cintai.
Mungkin memang benar apa kata orang, karma itu memang benar adanya. Setelah menyakiti atau merusak kebahagiaan orang lain, kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan.
__ADS_1
Padahal jika sengaja aku pikir, harusnya sekarang aku sudah bahagia karena aku sudah tidak memiliki penghalang lagi untuk bisa bersatu dengan mas Darren. Kecuali status mas Darren sendiri yang saat ini belum resmi menjadi duda.
Tapi ... entahlah. Atau mungkin aku hanya butuh waktu saja untuk melupakan semua kejadian beberapa hari yang lalu, dan seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan aku bisa melupakan segala rasa bersalah yang tengah menggerogoti hatiku saat ini.
"Mas sangat merindukan kamu Sayang. 1 Minggu lebih tidak bertemu rasanya seperti berabad-abad." Mas Darren berkata seraya balas memelukku dengan erat.
"Mas Darren jangan lebay," ucapku seraya tersenyum tipis.
"Mas serius. Ditambah lagi beberapa hari ini Mas tidak bisa menghubungi nomor kamu. Hal itu membuat Mas semakin merindukan kamu. Kamu tidak percaya sama ucapan Mas ya? Hm." Mas Darren bertanya sambil masih memelukku.
"Ya udah deh, Kei percaya." Aku berkata seraya melepaskan pelukan pada mas Darren, mas Darren pun demikian.
"Itu Mas bawa apaan?" tanyaku sambil menunjuk 2 buah kantongan yang saat ini tergeletak di lantai, tepat di samping kiri dan kanan mas Darren.
"Oh, ini bahan makanan. Mas ke sini pagi-pagi karena mau masak buat kamu. Kamu pasti kangen 'kan sama masakannya Mas, " Mas Darren menjawab sambil tersenyum, lalu memungut kembali barang bawaannya.
"Nah, begitu dong, senyum. Kan kelihatan jauh lebih cantik kalau kamu tersenyum seperti itu," ucap Mas Darren saat melihatku tersenyum, dan dia pun juga ikut tersenyum.
"Kalau begitu, Mas ke dapur dulu ya. Kamu mau Mas masak apa buat kamu?" tanya mas Darren.
"Apa aja, yang penting Mas yang masak."
Begitu mas Darren pergi ke dapur, aku kembali masuk ke dalam kamarku untuk mengeringkan rambutku menggunakan hair dryer sebelum keluar menyusul mas Darren di dapur.
.
.
Beberapa jam kemudian.
__ADS_1
Setelah menyantap masakan spesial yang dibuat oleh pujaan hatiku, mas Darren, ternyata perasaanku sekarang sudah jauh lebih baik. Aku baru sadar, bahwa ternyata keputusanku untuk mengurung diri selama beberapa hari ini mungkin adalah keputusan yang salah. Nyatanya saat aku memiliki teman untuk mengobrol, perasaanku jelas berubah drastis, tidak sedih lagi seperti kemarin-kemarin.
"Sayang, terima kasih karena kamu sudah menepati janji." Mas Darren berkata seraya menggenggam kedua tanganku. Saat ini kami berdua sedang duduk berseberangan dan berhadapan di meja makan. Dan yang dia maksud dengan menepati janji adalah, aku mengakhiri hubunganku dengan kak Rey secepat mungkin.
"Mas berjanji, setelah Mas resmi bercerai dengan Feli, Mas akan berbicara pada ayah dan ibu mengenai hubungan kita. Mas ingin segera menikahi kamu Sayang."
Aku tersenyum mendengarkan penuturan mas Darren. Perihal menikah muda, aku tidak keberatan sama sekali jika harus menikah muda dengannya. Apalagi kami sudah saling mengenal dengan baik selama bertahun-tahun.
"Memangnya sidang terakhir Mas kapan?" tanyaku.
"Bulan depan," jawabnya.
.
.
Sepanjang hari mas Darren menemaniku membuat cake di dapur toko. Hari ini dia tidak pergi ke restorannya karena dia ingin menghabiskan waktunya menemaniku di sini.
Bercanda tawa bersama dengan mas Darren ternyata sudah mampu untuk membuatku melupakan segala beban yang memberatkan pikiranku selama beberapa hari ini.
Ditambah lagi karena aku tidak menerima pesanan cake apa pun selama beberapa hari, ternyata sukses membuat aku kewalahan membuat puluhan cake pesananan pelanggan. Untung saja ada mas Darren yang siap siaga membantuku menyelesaikan semuanya. Ternyata menyibukkan diri itu bagus disaat kita memiliki masalah.
"Mas, Kei naik ke kamar dulu ya buat siap-siap," ucapku. Aku dan mas Darren sudah janjian untuk makan malam di luar.
Beberapa saat kemudian.
Begitu aku selesai bersiap-siap dan hendak keluar dari kamarku, aku langsung dikejutkan dengan sosok seseorang yang tengah menekuk wajahnya tepat di depan pintu kamarku.
"Kei ... huhuhu ...." Dia langsung memelukku seraya menangis.
__ADS_1