Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 08


__ADS_3

Mas Darren terdiam setelah mendengar pertanyaanku. Dia tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong dan lurus ke depan selama beberapa saat.


"Dek, menurut kamu, Mas kurang dimananya sebagai laki-laki?" tanyanya kemudian.


Aku bingung sekaligus terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh mas Darren barusan. Maksudnya apa bertanya seperti itu padaku?


Yang pastinya, jawaban dari setiap orang itu berbeda-beda. Tergantung siapa orang yang ditanya. Kalau menurut versiku, mas Darren tidak kurang apa-apa biar secuil pun. Alasannya adalah karena aku mencintainya. Bagiku, dia adalah sosok laki-laki paling sempurna untuk dijadikan sebagai suami di muka bumi ini.


Tapi aku tidak tahu bagaimana pandangan wanita lain mengenai mas Darren. Terutamanya Felicya, aku tidak tahu bagaimana wanita itu memandang mas Darren. Kenapa dia tega membuatnya kecewa hingga sampai terlihat seterpuruk sekarang ini.


"Maksud Mas Darren? Kenapa Mas Darren bertanya seperti itu sama Kei?" tanyaku.


Mas Darren tersenyum kecut. "Dek, apa kakakmu ini terlihat seperti laki-laki bodoh yang memang pantas untuk dimanfaatkan dan dipermainkan?" tanyanya lagi.


Apa? Dimanfaatkan? Dipermainkan? Aku cukup terkejut sekaligus tidak percaya mendengar dua kata itu. Apa selama ini Felicya hanya memanfaatkan dan mempermainkan cinta Mas Darren saja? Sebenarnya mas Darren dimanfaatkan dan dipermainkan bagaimana sih? Aku benar-benar belum mengerti maksudnya.


Tapi jika memang mas Darren hanya dimanfaatkan dan dipermainkan oleh Felicya, lalu kenapa mereka berdua bisa sampai menikah? Kenapa Felicya mau menikah dengan mas Darren jika dia hanya ingin memanfaatkan dan mempermainkan cinta mas Darren saja?


Ah, aku benar-benar tidak habis pikir. Sepertinya masalah mereka jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan.

__ADS_1


"Selama 3 tahun Mas menjalin hubungan dengan dia, Mas benar-benar sangat mencintai dia dengan tulus. Sampai-sampai Mas rela berkorban dan memberikan apa pun yang dia minta, membiayai semua kebutuhannya selama dia tinggal di Australia, dan lain sebagainya. Tapi nyatanya, usaha Mas yang tujuannya untuk menyenangkan, memanjakan, dan membahagiakan dia tidak dia hargai sama sekali. Ternyata selama ini dia hanya menganggap Mas sebagai ladang uangnya saja. Dan sekarang ... sekarang dia berstatus sebagai istri sah Mas, tapi di dalam hatinya, dia tidak mencintai Mas sama sekali. Dan yang membuat Mas semakin sakit hati dan kecewa, ternyata selama ini dia menjalin hubungan dengan pria lain di belakang Mas. Mas benar-benar sangat sakit hati, Dek. Mas sangat kecewa. Kenapa dia tega sekali melakukan semua itu sama Mas?"


Mas Darren berbicara panjang lebar sekali. Mungkin begitulah cara dia mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya saat ini.


Sekarang ini Mas Darren benar-benar berubah menjadi sosok yang sangat menyedihkan di mataku. Aku merasa sangat kasihan padanya.


"Dari mana Mas Darren tahu mengenai semua hal itu?" tanyaku penasaran.


"Mas tahu di malam pertama pernikahan kami. Waktu itu saat tengah malam, Mas tidak sengaja menguping pembicaraan Feli dengan seorang pria di telepon. Saat itu Feli sengaja bersembunyi di dalam toilet untuk menjawab panggilan dari pria itu. Dia berpikir kalau Mas sedang tidur karena kecapekan, makanya dia berani menjawab panggilan dari laki-laki itu. Berulang-ulang Mas mendengar Feli memanggil pria itu dengan panggilan sayang dalam bahasa inggris. Dan yang lebih parahnya lagi, Feli bahkan melakukan Phone S** bersama pria itu di dalam kamar mandi hotel tempat kami berbulan madu. Itu artinya, selama dia berada di Australia, dia menjalin hubungan dengan pria lain dan Mas tidak tahu mengenai hal itu."


Aku melihat dengan jelas bahwa mas Darren berusaha untuk kuat saat menceritakan semuanya padaku. Dan juga terlihat jelas bahwa dia sangat emosi saat mengingat pengkhianatan Felicya, wanita yang sangat dia cintai selama ini.


Seandainya waktu bisa diulang dan aku bisa menggantikan posisi Felicya di hati mas Darren, aku pasti akan berusaha untuk menjadi istri yang baik, yang setia, yang penurut dan patuh pada suami.


Haish, apa sih yang aku pikirkan? Kenapa aku malah membayangkan hal yang bukan bukan? Sadar Keisha, sadar. Sekarang ini laki-laki yang kamu cintai itu sudah menjadi saudaramu. Dia sudah menjadi kakakmu. Kalian tidak akan mungkin bisa bersama. Sebaiknya kamu menghapus dia dari dalam hati dan pikiranmu. Dia hanya menganggap kamu sebagai adik, tidak lebih.


Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri dari pikiran gilaku. Karena jika tidak, akibatnya nanti aku sendiri yang akan semakin sakit hati.


"Yang sabar ya, Mas. Seharusnya Mas Darren bersyukur, karena belangnya mbak Feli bisa cepat ketahuan oleh Mas. Kei yakin, Mas Darren pasti bisa bangkit dan ceria lagi seperti dulu. Dan asal Mas tahu, ada Kei yang selalu siap menghibur agar Mas Darren bisa kembali tersenyum." Aku berkata sambil tersenyum padanya, berharap senyumanku ini bisa aku tularkan padanya. Dan benar saja, mas Darren benar-benar membalas senyumanku. Aku sangat senang bisa melihatnya kembali tersenyum. Meski pun mungkin hanya dia paksakan.

__ADS_1


"Terima kasih, Dek. Mas sangat bersyukur karena ada kamu di samping Mas saat Mas terpuruk seperti sekarang ini," ucapnya.


Namun tiba-tiba saja tanpa permisi, mas Darren langsung membawaku ke dalam pelukannya. Dia kemudian berkata, "Dek, Mas harap, hubungan kita bisa kembali baik seperti dulu. Kamu jangan marah lagi ya sama Mas."


Awalnya aku bingung harus menjawab apa. Karena sebelumnya aku tidak pernah berniat untuk memperbaiki hubungan lagi dengannya. Aku bahkan pernah berpikir untuk tidak lagi memperbaiki hubungan kami sampai kapan pun. Namun nyatanya, saat ini aku dengan mudahnya menuruti permintaannya begitu saja.


Lagi pula, melihatnya sedih seperti sekarang ini sudah cukup membuatku ikut sedih. Yang ada di dalam pikiranku saat ini, aku hanya berharap mas Darren bisa kembali lagi tersenyum dan ceria seperti dulu.


Bahkan aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan berusaha membahagiakan mas Darren bagaimana pun caranya. Mulai detik ini, aku akan selalu ada untuknya.


.


.


Tidak terasa hari sudah menjelang sore. Tadi pagi aku membatalkan rencanaku untuk jalan-jalan bersama Laras ke mall karena aku lebih memilih untuk menemani dan menghibur mas Darren.


Tadi siang aku juga sempat membuat cake pisang cokelat untuknya. Pisang dan cokelat dipercaya dapat memperbaiki mood seseorang. Jadi aku berpikir, bagaimana kalau aku menggabungkan kedua bahan itu untuk dijadikan kue.


Sebenarnya ini juga bukan yang pertama kalinya sih, aku memang sudah sering membuat cake seperti itu sebelumnya. Dan ternyata, usahaku benar-benar berhasil, mas Darren sangat menyukai cake-nya. Ah, aku merasa sangat senang sekali.

__ADS_1


Loh, kok? Kenapa malah jadi aku yang happy? Bukankah kuenya dibuat dengan tujuan agar mas Darren bisa kembali happy. Tapi ini kok malah ...? Ah sudahlah. Intinya tadi siang, aku berhasil membuat senyumnya kembali mengembang. Meski pun mungkin masih dia paksakan.


__ADS_2