
Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan mas Darren. Tentu saja karena aku malu menjawab iya, dan aku juga tidak mau berkata tidak. Biar Mas Darren sendiri nanti yang menyimpulkan jawaban atas diamku.
"Diam berarti iya dan tidak menolak. Iya, 'kan?" ucap mas Darren sambil tersenyum. Dia mengambil kesimpulan yang benar.
Semakin lama mas Darren semakin menunduk mendekatkan wajahnya pada wajahku. Hingga mata kami sama-sama terpejam begitu jarak antar bibir kami hanya tersisa beberapa senti saja sebelum akhirnya saling bertemu kembali setelah sekian lama.
Ceklek. Terdengar suara pintu ruang rawat kak Rey dibuka. Aku dan mas Darren buru-buru memperbaiki posisi kami. Aku kembali memutar badan menata makanan di atas piring, sedangkan mas Darren pura-pura mencari sesuatu di kolom meja.
"Kei, kamu sendirian?" Terdengar suara Laras bertanya padaku. Rupanya Laras tidak melihat keberadaan mas Darren karena saat ini Mas Darren tengah berjongkok di samping meja makan.
Aku menoleh melihat ke arah Laras. Seperti biasa, Laras datang bersama dengan kak Andra.
"Nggak kok. Ini ada mas Darren," jawabku sambil tersenyum. Dan disaat yang bersamaan, mas Darren kembali berdiri dari posisi berjongkoknya sambil menyapa Laras dan kakaknya.
Syukurlah. Aku merasa sangat lega karena kami tidak sampai ketahuan. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Laras dan kak Andra jika seandainya mereka sampai memergoki aku dan mas Darren berciuman. Bisa-bisa Laras murka ketika tahu aku mengkhianati kakak sepupunya dengan berselingkuh dengan kakak tiriku sendiri, mas Darren.
"Kamu lagi nyiapin apa sih Kei?" Laras bertanya seraya menghampiriku. Sementara mas Darren memilih untuk menjauh dan duduk di sofa bersama dengan kak Andra.
"Ini, Mas Darren tadi bawa makanan banyak dari resto buat menu makan malam kita di sini," jawabku.
__ADS_1
"Oh. Sini biar aku bantu."
.
.
Tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul setengah sembilan malam, mas Darren dan kak Andra pun pamit untuk pulang. Sementara Laras, dia tinggal untuk menemaniku dan bermalam di sini seperti biasa.
"Kei, akhirnya kita punya waktu berdua saja. Aku pengen cerita sesuatu sama kamu," ucap Laras seraya melihat ke arahku.
Saat ini aku dan Laras tengah berbaring di atas sebuah kasur lantai empuk dengan ukuran 2 × 1,5 m tidak jauh dari tempat tidur pasien.
"Siapa bilang kita cuma berdua? Kamu pikir Kak Rey bukan orang?" protesku akan ucapan Laras.
Laras terkekeh. "Sorry, sorry. Maksudku, akhirnya kita hanya ditinggal bertiga di sini bersama kak Rey. Karena biasanya 'kan ada tante Rena sama om Eja, jadi aku nggak bisa leluasa bicara sama kamu."
"Memangnya kamu mau ngomong apa sih, Ras? Buruan cerita, aku udah mulai ngantuk nih." Aku berkata seraya menarik selimut hingga ke batas leher. Meski pun waktu baru menunjuk pukul 9 malam, akan tetapi aku sudah merasa mengantuk dan ingin segera tertidur.
Sebelum mulai bercerita, Laras terlebih dahulu bangun dan duduk, kemudian meletakkan bantal di pangkuannya. Hal itu menandakan bahwa yang mau Laras bicarakan denganku masalahnya cukup serius, dan sepertinya dia ingin mengajakku mengobrol cukup lama.
__ADS_1
"Tapi kamu janji ya Kei bakalan jawab jujur apa pun pertanyaan aku," ucap Laras dengan penuh penekanan.
"Emang pertanyaan apa dulu?" tanyaku tidak sabar. Disaat mengantuk seperti ini kenapa Laras malah ingin mengajakku mengobrol. Ah, dasar sahabat resek, menyebalkan.
"Aku ingin menanyakan mengenai hubungan kamu dengan Kak Rey sebelum Kak Rey mengalami kecelakaan?" ungkap Laras.
Mendengar pertanyaan Laras, seketika kadar rasa kantukku perlahan-lahan mulai berkurang sedikit demi sedikit. Aku yakin, setelah aku memutuskan kak Rey secara sepihak beberapa hari sebelum dia mengalami kecelakaan, dia pasti sempat curhat pada adik sepupunya, yaitu Laras, karena mereka berdua memang sudah akrab sejak kecil.
"Kamu kenapa sih Kei mutusin Kak Rey gitu aja disaat dia serius ngelamar kamu? Hm," tanya Laras. Seketika sorot matanya berubah menatapku dengan penuh kekesalan. Aku yakin, dia pasti marah gara-gara hal itu. Hanya saja baru sempat dia ungkapkan karena kami baru memiliki kesempatan untuk membahas mengenai hal tersebut.
"Emang Kak Rey pernah cerita ke kamu mengenai hal itu?" tanyaku, yang aku yakin jawabannya adalah iya, karena mereka memang sebegitu dekatnya sebagai saudara sepupu.
"Bukan cuma cerita lagi, aku malah menyaksikan sendiri secara langsung," jawab Laras yang sontak membuat aku ikut bangun dan duduk sama sepertinya.
"Menyaksikan secara langsung? Maksudnya?" tanyaku penasaran sekaligus kebingungan. Perasaan, setelah kak Rey melepas kain penutup mataku waktu itu, aku tidak melihat siapa pun selain hanya kami berdua saja di sana. Jadi bagaimana mungkin Laras bisa menyaksikan kami secara langsung waktu itu.
"Iya. Kamu pasti nggak percaya 'kan?" Ucapan Laras mendapat anggukan pelan nan ragu-ragu dariku. Bagaimana itu bisa terjadi? Pikirku.
"Demi mengabadikan momen paling bersejarah di dalam kehidupan kalian, Kak Rey sampai-sampai mendokumentasikan semuanya. Dimulai saat dia turun tangan sendiri selama berhari-hari menyulap restoran milik keluarga kami menjadi tempat yang sangat cantik dan romantis untuk dia pakai melamar gadis pujaannya, sampai saat dia pergi menjemput kamu di toko, saat dalam perjalanan menuju restoran waktu itu dan disepanjang perjalanan kamu cuma ketiduran, saat kalian keluar dari mobil dan kak Rey menuntun kamu memasuki tempat yang menurut aku paling romantis sedunia, hingga saat kamu mempermalukan kakak sepupu aku disaksikan oleh sebagian keluarga besar kami-" cerocosan Laras belum selesai tapi aku sudah memotong ucapannya. Aku sangat penasaran, kenapa Laras bisa tahu semuanya hingga sedetail itu?
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, gimana caranya kamu bisa tahu semuanya hingga benar-benar detail? Dan apa maksud kamu dengan Kak Rey mendokumentasikan semuanya?"