Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 38


__ADS_3

Keputusanku sudah bulat. Pagi-pagi sekali aku mengajak mas Darren untuk bertemu di parkiran rumah sakit.


"Sayang, Mas sangat merindukan kamu. Akhirnya kamu punya waktu juga buat bertemu dengan Mas." Mas Darren langsung memelukku sesaat setelah aku masuk ke dalam mobilnya. Mas Darren terlihat sangat senang sekali karena akhirnya aku punya waktu untuk bertemu dengannya.


Pasti dia sangat merindukanku karena selama seminggu lebih ini kami tidak pernah bertemu. Tante Rena dan om Reza harus dirawat secara bergantian di rumah sakit karena kondisi kesehatan mereka yang tiba-tiba drop. Jadi tidak ada yang menggantikan aku untuk menunggui kak Rey.


Laras juga sudah mulai bekerja di perusahaan om Reza, jadi dia tidak bisa sering-sering datang ke rumah sakit saat siang hari. Laras hanya datang saat malam hari, itu pun kalau dia tidak lembur.


"Tadi kamu bilang ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kamu bicarakan dengan Mas. Apa itu Sayang?" Mas Darren bertanya setelah melepaskan pelukannya.


Aku tidak langsung menjawab. Sejujurnya aku bingung dan tidak tahu harus mulai dari mana aku mengatakan pada mas Darren bahwa aku ingin mengakhiri hubungan kami.


"Kok diam?" tanya mas Darren. Sementara aku hanya terus menunduk sambil memainkan kuku-kuku jariku.


"Sayang, kamu kok aneh? Apa terjadi sesuatu?" tanya mas Darren lagi.


Untuk beberapa saat aku masih terdiam meski pun mas Darren terus saja mengajakku berbicara. Namun sejurus kemudian, aku berkata dengan cepat, "Mas, kita putus."


Suasana langsung hening seketika. Aku tidak tahu seperti apa reaksi mas Darren saat ini karena aku tidak berani menatap wajahnya, apalagi menatap matanya. Sementara mas Darren, dia hanya terdiam dan belum mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Sa-Sayang. Kamu ... kamu bilang apa barusan? Apa Mas tidak salah dengar?" tanya mas Darren. Persis seperti dugaanku, mas Darren sepertinya memang tidak percaya aku ingin mengakhiri hubungan kami.


Dan lagi-lagi, aku tidak menjawab pertanyaannya. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain hanya menunduk karena tidak berani menatapnya.

__ADS_1


"Sayang, jawab Mas. Apa kamu benar-benar ingin kita berdua putus? Kamu ingin mengakhiri hubungan kita? Hm," tanya mas Darren, dan aku menjawabnya dengan sekali anggukan pelan.


Melihatku mengiyakan pertanyaannya, mas Darren terdengar mendesah. Mungkin dia tidak habis pikir dengan keputusanku. Tidak ada angin tidak ada hujan, aku tiba-tiba saja ingin putus dengannya.


"Kei, jawab Mas. Apa kamu benar-benar ingin  putus dari Mas?! Jawab!" Kali ini nada bicara mas Darren sudah meninggi alias setengah membentak. Sampai-sampai aku dibuat terkejut. Ini yang kedua kalinya aku melihat sisi lain mas Darren yang seperti itu. Ini bahkan lebih parah dibandingkan saat dia cemburu pada kak Rey waktu itu.


"Kenapa diam saja?! Jawab Mas, Kei, jawab!!!"


Mendengar mas Darren sangat marah, aku pun memberanikan diri untuk mengangguk pelan seraya berkata, "Iya."


Seketika napas mas Darren terdengar memburu, sepertinya dia sangat marah. Sesekali dia memukul-mukul setir kemudi yang ada di hadapannya. Bahkan kotak tissu yang ada di dash board mobilnya pun ikut jadi sasaran.


"Apa karena laki-laki koma itu kamu tiba-tiba mengambil keputusan untuk putus dari Mas?! Hah?!"


"Penjelasan apa? Hah? Penjelasan apa?" Kali ini nada bicara mas Darren tidak setinggi tadi, tapi tetap saja dia terdengar sangat marah.


Aku kembali terdiam. Aku benar-benar bingung harus mulai dari mana aku menjelaskan agar mas Darren mau mengerti.


"Kei, kalau kamu memang serius ingin mengakhiri hubungan kita, angkat kepala kamu, lihat Mas dan tatap mata Mas kalau kamu memang berani. Lalu katakan sekali lagi kalau kamu ingin mengakhiri hubungan kita, kalau kamu ingin putus dari Mas." Mas Darren terdengar menantangku. Mungkin dia sangat yakin kalau aku sulit dan memang tidak berani melakukan itu.


Ya, ku akui, memang sangat sulit. Tanpa menatapnya saja rasanya bibirku terasa sangat berat mengucapkan kalimat itu. Apalagi jika harus mengucapkannya sambil menatap manik mata mas Darren. Aku tidak berani jamin bahwa aku bisa melakukannya.


"Ayo lakukan sekarang juga, kenapa diam saja? Mas ingin melihat bagaimana cara kamu melakukannya."

__ADS_1


Aku menarik napasku dalam-dalam, mencoba untuk mengumpulkan kekuatan dan keberanian dari dalam hati. Sangat berat memang, tapi demi kebaikan banyak orang, aku harus berani melakukannya.


Aku mulai mengangkat kepalaku, berusaha dengan sekuat hati untuk melihat wajah dan menatap mata pria yang sangat aku cintai itu.


Belum mengucapkan kalimat putus saja dadaku sudah terasa sangat sesak menatap wajah mas Darren yang saat ini terlihat sangat kacau. Ditambah lagi matanya yang sudah memerah. Entah memerah karena marah ataukah mungkin karena menahan tangis. Atau bisa jadi dua-duanya.


Aku kembali menunduk. Air mataku juga sudah berhasil lolos mengalir turun menyusuri pipiku. Ini bahkan jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan. Rasanya aku tidak sanggup dan ingin menyerah saja. Andai saja aku bisa memilih, aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Aku tidak ingin menyakiti mas Darren, kak Rey, juga keluarganya.


Tapi jika aku menyerah, lalu bagaimana dengan nasib kak Rey, bagaimana perasaan tante Rena, om Reza, Laras, dan yang lainnya. Laras pasti akan kembali menyalahkan aku dan sangat membeciku jika sampai terjadi apa-apa pada kakak sepupunya.


Aku harus kuat, aku harus berani, dan aku tidak boleh egois. Demi kesembuhan kak Rey, demi kebahagiaan banyak orang.


Kalau pun misalnya aku lebih memilih mas Darren ketimbang kak Rey, aku yakin, aku pasti tidak akan pernah bahagia. Kenapa? Karena terlalu banyak orang yang sudah aku buat menderita, dan terlalu banyak orang yang sudah aku rusak kebahagiaannya.


Yang harus aku tanamkan dalam hati saat ini adalah, bahwa aku dan mas Darren memang mungkin tidak diciptakan untuk bersama.


"Kenapa kamu kembali menunduk? Kamu tidak berani 'kan?" kata mas Darren lagi ketika melihat aku kembali menunduk setelah baru menatap wajah dan matanya sebentar.


Memang benar apa yang dikatakan mas Darren, aku memang tidak berani. Tapi demi kesembuhan kak Rey, demi kebahagiaan banyak orang, dan demi untuk menghapus segala dosa dan kesalahanku pada kak Rey dan keluarganya, aku harus berani mengatakannya.


Aku kembali menarik napasku dalam-dalam,  menyeka air mataku, lalu mencoba untuk mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk kembali mengangkat kepalaku dan menatap manik mata mas Darren lekat-lekat.


Sejenak kami saling menatap karena lidahku masih terasa keluh, serta bibirku yang terasa masih berat untuk berucap. Namun entah dorongan dari mana, aku tiba-tiba saja berkata, "Mas, kita putus saja."

__ADS_1


__ADS_2