
Deg.
Mendengar pernyataan mas Darren, seketika jantungku berdetak sangat kencang. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain saling bersitatap dengannya.
Apa tadi aku tidak salah dengar? Mas Darren bilang apa barusan? Dia marah karena cemburu melihatku berciuman dengan kak Rey?
Aku tidak percaya ini. Saat ini aku pasti hanya sedang bermimpi. Mas Darren tidak mungkin membalas cintaku. Selama ini dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Tidak lebih.
Trak tririring.
Tiba-tiba sendok yang ada di dalam genggaman tanganku terjatuh ke lantai. Dan seketika itu juga, aku dan mas Darren sama-sama sadar dan berhenti saling menatap. Saat ini pandangan kami berdua sama-sama tertuju pada sendok yang kini tergeletak di lantai. Tepatnya di antara kaki kami berdua.
Tuk.
"Auwh ...." Aku dan mas Darren sama-sama meringis kesakitan. Rupanya jidat kami secara tidak sengaja saling berbenturan saat kami berdua sama-sama ingin mengambil sendok yang terjatuh itu.
Kami berdua kembali saling menatap sambil sama-sama mengelus jidat kami masing-masing yang terasa sedikit sakit. Berselang beberapa detik kemudian, kami berdua pun sama-sama tertawa. Entah mengapa kejadian ini terasa lucu menurut kami.
"Biar Mas yang ambil sendoknya. Kamu ganti dengan sendok yang lain saja," ucap mas Darren seraya mengambil sendok yang tidak sengaja aku jatuhkan tadi. Sementara itu, aku kembali memperbaiki posisi dudukku setelah mengambil sendok yang baru.
Tidak ada lagi obrolan setelah kejadian itu. Aku kembali melanjutkan makanku yang sempat tertunda, sedangkan mas Darren, dia baru saja memulai makan malamnya.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Saat aku sudah kenyang duluan dan hendak beranjak dari meja makan, tiba-tiba mas Darren menahanku dengan cara melingkarkan jemarinya pada pergelangan tanganku.
"Mau ke mana? Temani Mas makan dulu," ucap mas Darren seraya mendongak menatapku. Mau tidak mau aku pun kembali duduk di kursiku.
Entah mengapa setelah mendengar pernyataan mas Darren tadi, aku malah merasa canggung padanya. Aku bingung, bagaimana hubungan kami nanti ke depannya. Ditambah lagi dengan status kami berdua yang masih sama-sama memiliki pasangan.
__ADS_1
Sekarang ini, aku masih kekasihnya kak Rey, sedangkan mas Darren, dia masih berstatus sebagai suami orang karena mereka berdua belum resmi bercerai.
.
.
Setelah mas Darren kenyang, kami berdua sama-sama duduk di atas sofa panjang yang ada di depan kamarku. Tidak ada obrolan diantara kami berdua. Kami berdua hanya sama-sama terdiam. Mungkin mas Darren juga merasa canggung, sama sepertiku. Tapi anehnya, sedari tadi mas Darren tidak pernah melepaskan tanganku. Dia terus menggenggamnya tanpa pernah mau melepaskannya.
Aku juga tidak tahu sebenarnya apa mau mas Darren. Kenapa dia juga ikut terdiam sama sepertiku. Harusnya dia yang mulai membuka topik pembicaraan, karena suasana hening dan canggung ini tercipta karena ulahhya. Tidak mungkin 'kan aku yang memulainya duluan, apalagi menanyakan kejelasan perasaannya padaku.
Suasana canggung ini berakhir saat ponselku berdering di dalam kamar. Aku juga tidak tahu siapa yang menelpon karena aku juga belum mengeceknya.
"Mas, bisa minta tolong lepaskan tangan Kei. Kei ingin menjawab telepon," ucapku.
Bukannya langsung melepaskan genggamannya, mas Darren malah berdiri dan mengajakku masuk ke dalam kamar. "Ayo. Mas juga ingin melihat, siapa yang sedang menelpon kamu."
Hah? Mas Darren sebenarnya kenapa sih? Seharian ini sikapnya sangat aneh. Entah dia berubah jadi posesif atau apa? Sikap anehnya itu dimulai sejak tadi pagi saat dia memaksaku untuk berganti pakaian, kemudian saat aku kembali tadi sore usai berkencan dengan kak Rey. Dia marah-marah tidak jelas yang ternyata alasannya karena cemburu. Dan malam ini, setelah dia mengungkapkan perasaannya, dia mendadak jadi semakin aneh. Dia tidak mau berbicara tapi tanganku tidak mau dia lepas. Entah mau sampai kapan dia akan terus diam dan terus menggenggam tanganku seperti ini.
Mas Darren mulai melangkah masuk ke dalam kamar sambil menarik pergelangan tanganku. Sedangkan aku, aku hanya mengikutinya dari belakang.
"Ibu, Mas. Ibu video call," jawabku seraya menunjukkan layar ponselku padanya. "Bisa minta tolong lepaskan tangan Kei, Mas? Kei takut ibu salah paham kalau tahu Mas Darren juga ada di dalam kamar Kei."
Bukannya melepaskan genggamannya, mas Darren malah semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Mas tidak mau. Lebih baik sekarang kita ke meja makan. Bilang saja sama ibu, kalau kita baru saja selesai makan malam bersama," ucap mas Darren.
Hah? Aku tidak percaya mas Darren bisa berkata seperti itu. Kalau mas Darren tidak mau melepaskam tanganku, lalu bagaimana nanti caranya aku tidur. Tidak mungkin 'kan kami tidur bersama?
Ah, pikiran macam apa ini? Mas Darren tidak mungkin mau tidur denganku. Dia masih memiliki akal sehat dan tidak mungkin melakukan hal yang tidak semestinya kami lakukan.
Aku mengikuti ke mana pun mas Darren menarik tanganku, dan akhirnya, kami benar-benar berakhir duduk di kursi meja makan.
"Ibu ...." Aku tersenyum saat menjawab panggilan video dari ibuku.
__ADS_1
Ku lihat ibu juga tersenyum sama sepertiku. "Iya Sayang. Kamu sedang apa, Nak?"
"Kei abis makan malam sama Mas Darren, Bu," jawabku.
"Oh. Masmu masih ada di situ tidak, Kei?" tanya ibu.
"Iya, Bu. Ini Mas Darren nya." Aku mengarahkan layar ponselku pada mas Darren yang saat ini sedang duduk di samping kananku sambil terus menggenggam tanganku tanpa pernah mau melepaskannya.
"Halo, Bu ... apa kabar? Ibu dan ayah sehat?" tanya mas Darren. Dia menyapa ibu dengan senyuman ramah, sama seperti biasa.
"Iya, Nak. Kami berdua sehat." Ibu menjawab sambil tersenyum.
Setelah berbicara basa-basi selama beberapa menit, ibu pun kemudian mulai membahas sesuatu hal yang sepertinya serius.
"Kei, Darren, mumpung kalian berdua ada di situ, Ibu ingin membicarakan sesuatu dengan kalian berdua," kata ibu.
Aku dan mas Darren yang mendengar ibu berkata seperti itu sejenak saling tatap. Kepalaku seketika dipenuhi rasa penasaran, dan aku pikir mas Darren pun juga sama sepertiku.
"Masalah apa, Bu? Kei jadi penasaran," tanyaku.
"Mengenai masa depan kamu, Nak," jawab ibu yang membuatku semakin penasaran saja.
"Masa depan? Masa depan apa sih maksud Ibu? Maksud Ibu toko?" tanyaku lagi.
Anehnya, saat ibu mulai membahas mengenai masa depan, aku merasa tangan mas Darren terasa semakin erat menggenggam tanganku. Entah ada apa dengannya? Aku juga tidak mengerti.
"Bukan toko, tapi masa depan yang jauh lebih penting lagi," jawab ibu.
"Maksud ibu apaan sih? Bicaranya jangan bertele-tele dong, Bu. Kei 'kan jadi penasaran," ucapku.
"Sebenarnya ada apa, Bu? Tolong jangan membuat kami penasaran. Masa depan Kei yang bagaimana yang Ibu maksud?" Kali ini mas Darren yang angkat bicara. Sepertinya dia juga sama penasarannya denganku.
Sebelum menjawab pertanyaan kami, ibu terlihat tersenyum lebar. Sepertinya ibu terlihat sangat senang.
__ADS_1
"Masa depan yang Ibu maksud itu adalah ... masa depan Kei, bersama Rey."
Bersambung ...