
Aku melirik ke arah mas Darren setelah mendapat kode dari kak Andra agar segera keluar dari mobil. Mas Darren terlihat gelisah menatap detik-detik waktu yang menghitung mundur pada lampu merah bergantian dengan arlojinya.
Sepertinya mas Darren sangat terburu-buru. Mungkin karena jadwal penerbangan sudah sangat mepet. Pikirku.
Perlahan-lahan, tangan kiriku mulai bergerak mencoba untuk membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati, takut ketahuan mas Darren. Karena memang, aku sudah memiliki niat untuk kabur bersama kak Andra. Namun sayangnya, setelah aku coba, ternyata pintunya sudah dikunci oleh mas Darren.
Aku sangat ingin membuka kuncinya, namun sayangnya tombol central lock door yang bisa ditekan untuk membuka kunci semua pintu mobil ada di samping kanan mas Darren, tepatnya di sisi pintu. Kalau sudah seperti ini aku tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja. Kali ini rencanaku untuk kabur boleh gagal, tapi nanti aku akan mencobanya lagi dengan cara yang lain. Entah cara apa itu, aku juga baru memikirkannya. Demi kak Rey, aku harus secepatnya kembali ke rumah sakit, bagaimana pun caranya.
Aku menggelengkan kepalaku dua kali saat kak Andra kembali memberiku kode untuk segera keluar dari mobil mas Darren, pertanda bahwa untuk saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu kenapa geleng-geleng?" Suara pertanyaan mas Darren membuatku tersentak kaget. Rupanya dia memperhatikan gerak gerikku.
"Ng-gak, nggak apa-apa. Aku cuma geleng-geleng kepala menunggu lampu hijaunya menyala," jawabku asal, tapi mungkin masuk akal bagi mas Darren.
Aku menyondongkan sedikit tubuhku ke depan, untuk menutupi kaca jendela mobil yang ada di sampingku. Aku tidak ingin mas Darren melihat keberadaan kak Andra di luar sana.
Setelah mas Darren kembali fokus ke depan, aku kembali melirik ke arah mobil kak Andra. Rupanya kak Andra sudah menutup kembali kaca mobilnya. Syukurlah. Semoga saja mas Darren tidak sampai menyadari keberadaannya.
Beberapa puluh detik kemudian. Lampu merah sudah berganti menjadi hijau. Mas Darren pun kembali melajukan mobilnya, begitu juga dengan kak Andra. Setelah beberapa saat mobil melaju kembali, aku melihat mobil kak Andra sekarang sudah berada tepat di belakang mobil mas Darren. Dia mengikuti mobil mas Darren dari belakang, aku bisa melihatnya lewat spion.
Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Ternyata sekarang sudah pukul 7 pagi, berarti sudah 1 jam lebih lamanya aku meninggalkan kak Rey. Semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya sampai aku kembali bersama dengan kak Andra ke rumah sakit.
__ADS_1
Rasanya aku ingin sekali mengirim pesan pada kak Andra bahwa kami bertemu di bandara saja. Karena rasanya mustahil aku bisa keluar dari mobil mas Darren kalau kami belum sampai di sana.
Tapi sepertinya itu akan memakan waktu yang cukup lama. Jarak perjalanan menuju bandara kira-kira setengah jam lagi, sedangkan jarak dari bandara ke rumah sakit kira-kira dua puluh (20) menit perjalanan. Berarti total keseluruhan waktu yang dibutuhkan sekitar lima puluh (50) menit. Itu pun kalau semuanya berjalan lancar. Kalau tidak? Ya ... aku tidak tahu akan seperti apa jadinya nanti.
Tidak. Tidak bisa. Aku tidak bisa menunggu sampai selama itu baru bisa kembali lagi ke rumah sakit. Aku harus memikirkan kondisi kak Rey, dan aku tidak boleh terlambat kembali ke sana. Seandainya bisa, lebih cepat lebih baik. Aku harus terus memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa segera terbebas dari mas Darren secepat mungkin. Aku tidak boleh mengulur-ulur waktu. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada kak Rey sebelum aku kembali.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah berdo'a dalam hati. Semoga saja kak Andra bisa segera menyelamatkan aku secepatnya dan semoga saja kondisi kak Rey baik-baik saja sampai aku kembali lagi ke rumah sakit.
Sekitar 15 menit kemudian.
Entah mengapa sedari tadi aku tidak bisa berpikir. Semakin aku berpikir rasanya kepalaku malah terasa pusing, dan .... dan perutku juga terasa mual. Sepertinya aku akan muntah.
"Uwek." Aku segera menutupi mulutku dengan kedua tanganku. Ini bukan akting, aku memang benar-benar ingin muntah. Mungkin karena beberapa hari ini aku kurang istirahat, ditambah lagi karena aku belum makan apa-apa sejak bangun tidur, lalu dibawa naik mobil ke sana ke mari oleh mas Darren.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya mas Darren. Seketika nampak gurat kekhawatiran di wajahnya, menggantikan ekspresi dingin dan marah yang sedari tadi dia pamerkan. Melihat hal itu, seketika muncul ide cemerlang untuk mengelabui mas Darren.
"Apa?! Kamu belum pernah makan apa-apa sejak kemarin sore?" Dan aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan lemah.
Mas Darren berdecak kesal. "Ck, kamu ini benar-benar. Mas 'kan sudah sering bilang, kamu jangan sampai telat makan. Kalau kamu sakit bagaimana?"
Selama ini mas Darren memang selalu memperhatikan pola makanku. Dia memang marah kalau aku terus menunda-nunda waktu makan hanya karena aku ingin menyelesaikan cake pesanan pelanggan secepat mungkin.
Melihatku yang lemas seperti tidak bertenaga seperti sekarang ini, aku yakin, mas Darren pasti merasa sangat kasihan dan tidak tega melihatku.
__ADS_1
Aku menyandarkan bahuku di sandaran kursi sambil memijit-mijit kedua pelipisku menggunakan satu tangan. "Aduh ... kenapa kepalaku pusing sekali? Mas, tolong hentikan mobilnya Mas. Rasanya aku ingin muntah. Uwek ...."
"Tahan Sayang, sabar. Kita berhenti di depan, ya?" ucap mas Darren. Sepertinya dia sedikit panik melihat aku akan muntah di dalam mobil mewahnya.
Tidak lama kemudian, mas Darren memarkirkan mobilnya tepat di depan salah satu mini market terdekat. Dia pasti memilih untuk singgah di tempat ini karena ingin membeli sesuatu yang bisa aku makan, mengingat tadi aku berkata kalau aku tidak pernah makan apa-apa semenjak kemarin sore. Tapi bohong, dan bodohnya, mas Darren malah percaya begitu saja.
"Kamu masih mau muntah?" tanya mas Darren.
"Nggak lagi, Mas. Kalau tadi memang iya." Aku menjawab sambil memejamkan mataku dan terus memijit-mijit pelipisku. Ini agar mas Darren percaya bahwa saat ini aku benar-benar sedang tidak enak badan. Padahal sebenarnya aku masih cukup kuat.
Mas Darren tidak sadar kalau sebenarnya aku hanya mencari celah untuk kabur disaat dia lengah.
"Kalai begitu, kamu istirahatlah. Mas akan turun sebentar untuk membelikan kamu makanan dan minyak angin," ucap mas Darren sebelum turun dari mobilnya, dan aku hanya menanggapi ucapannya dengan anggukan lemah.
Tak! Suara pintu mobil ditutup dari luar.
Begitu mas Darren turun, aku akhirnya membuka mataku lebar-lebar, lalu memperbaiki posisi dudukku. Aku menyapukan pandanganku ke arah luar untuk mencari keberadaan mobil kak Andra. Ku lihat mobil putih itu berhenti dan menepi tidak jauh dari mobil mas Darren terparkir saat ini. Kira-kira hanya berjarak kurang dari 10 meter saja.
"Akhirnya ...."
Aku merasa sangat lega karena akhirnya aku punya kesempatan untuk kabur. Ternyata gampang sekali mengelabui mas Darren. Hanya dengan berpura-pura lemah, ekspresi dingin dan marahnya langsung berubah menjadi ekspresi khawatir.
Sebelum keluar dari mobil, aku harus memastikan bahwa mas Darren sudah masuk ke dalam mini market terlebih dahulu. Setelah merasa waktunya sudah tepat, aku pun segera keluar dari dalam mobil mas Darren dan dengan langkah cepat, aku berlari masuk ke dalam mobil kak Andra.
__ADS_1
"Buruan Kak, sebelum kita ketahuan mas Darren."
B e r s a m b u n g ...