
Malam ini mas Darren tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Dia mengenakan celemek berwarna pink muda dengan motif hati berwarna merah. Entah mengapa aku merasa penampilan mas Darren malam ini benar-benar sangat lucu, membuatku gemas saja.
Seandainya sekarang aku tidak sedang berakting marah, sudah pasti aku mencubit pipi mas Darren saking gemasku melihatnya.
"Dek, kamu sudah lapar, ya? Mas sudah memasak menu makan malam untuk kita berdua. Ayo, kita ke meja makan untuk makan malam bersama," ajak mas Darren seraya ingin menarik pergelangan tanganku, tapi aku justru malah mundur dan menghindar sambil berpura-pura ingin menutup kembali pintu kamarku.
Melihatku ingin menutup pintu kamarku, tentu saja dengan gerakan cepat mas Darren langsung mencegahnya. Dalam sekejap, dia sudah berdiri menahan pintu agar tidak kembali tertutup rapat.
"Eh, Dek Dek Dek. Pintunya jangan ditutup lagi dong ..." ucapnya lagi.
Mendengarnya melarangku untuk menutup pintu, aku yang sedang berakting marah malah berpura-pura ingin menutup kembali pintu kamarku dengan sekuat tenaga. Melihatku seperti itu, tentu saja mas Darren tidak tinggal diam saja. Dia juga ikut mendorong pintu dengan sekuat tenaga dari luar hingga akhirnya pintu kamarku terbuka lebar.
Aku yang jelas kalah kuat dan tidak mampu menahan tenaga mas Darren sekarang lebih memilih untuk mundur dan duduk di tempat tidur dengan wajah cemberut dan tangan yang sudah terlipat di depan dada.
"Dek, kamu masih marah, ya? Mas benar-benar minta maaf. Mas tahu, Mas yang salah karena sudah ketus sama kamu. Tolong maafin Mas ya," ucap mas Darren seraya berjalan menghampiriku. Dia lalu berjongkok di hadapanku sambil menggenggam kedua tanganku.
"Mas tahu Mas yang salah. Mas benar-benar tidak sengaja bersikap kasar sama kamu tadi. Tolong maafin Mas ya, Dek. Sebagai ungkapan permintaan maaf Mas, Mas sudah memasak makanan-makanan kesukaan kamu," ucap mas Darren lagi.
Duh, gara-gara lapar dan mencium aroma masakan mas Darren yang sepertinya sangat lezat, aku jadi tidak kuat lama-lama berakting.
Tiba-tiba, kruyuyuk kruyuyuk. Sial. Perutku tiba-tiba saja berbunyi. Dasar perut, tidak bisa diajak bekerjasama. Memalukan sekali. Kenapa malah berbunyi sekarang, saat mas Darren berjongkok di hadapanku. Jadi ketahuan 'kan kalau sekarang aku sedang lapar.
__ADS_1
Maksud hati masih ingin berpura-pura marah untuk memberikan mas Darren pelajaran, tapi kalau sudah seperti ini, apa aku masih tahan untuk berakting lebih lama lagi?
Sekilas aku melirik mas Darren. Dia tersenyum. Dia pasti menertawaiku dalam hati karena mendengar cacing-cacing di perutku berdemo.
"Dek, ngambeknya sudahan, ya? Mas takut, asam lambung kamu naik gara-gara telat makan," ucap mas Darren seraya berdiri dari posisi berjongkoknya. Mas Darren kemudian menarik pergelangan tanganku agar aku mau keluar kamar bersamanya.
Yang diucapkan oleh mas Darren benar. Daripada asam lambungku benar-benar naik, lebih baik aku ikut saja ke meja makan bersamanya.
Setelah mas Darren membawaku duduk di salah satu kursi meja makan, dia kemudian bersiap ingin meladeniku bak seorang pelayan yang meladeni seorang tuan putri.
"Dek, ini makanan kesukaan kamu semua, 'kan? Kamu mau yang mana? Biar Mas yang ambilkan buat kamu," ucap mas Darren seraya bersiap mengambilkan makanan untukku.
"Nggak usah. Kei bisa sendiri." Aku menolak seraya berdiri mengambil piring, sendok beserta garpu untuk diriku sendiri.
Um ... masakan mas Darren enak sekali. Tapi sangat jarang dia mau memasak seperti ini. Jadi aku tidak bisa menikmati masakannya sering-sering. Mumpung sekarang dia sengaja memasak untukku, lebih baik aku sikat saja. Jarang-jarang loh bisa menikmati masakan chef Darren. Hehe.
Mungkin ini yang dimaksud oleh orang-orang, menaklukkan hati seseorang dengan cara menyenangkan lidah dan perutnya.
Tidak heran jika mas Darren sangat jago memasak. Dulu, saat dia kuliah, dia mengambil jurusan tata boga. Dan sekarang dia sudah sukses berkat cafe dan restoran mewah yang dia dirikan semenjak beberapa tahun yang lalu.
"Bagaimana, apa makanannya enak?" Mas Darren bertanya padaku, tapi aku malah menjawab dengan berkata 'hem' sambil terus menikmati makanan yang ada di dalam piringku.
__ADS_1
"Dek, Mas minta maaf ya. Mas benar-benar tidak sengaja kasar sama kamu tadi sore."
"Hem." Untuk yang kedua kalinya aku kembali merespon ucapan mas Darren dengan kata 'hem' saja.
"Kamu mau 'kan Dek maafin, Mas?" tanya mas Darren, tapi kali ini aku tidak merespon ucapannya. Aku lebih memilih makan ketimbang menjawab pertanyaan mas Darren yang satu itu. Kenapa? Karena aku masih ingin memberinya pelajaran.
"Dek." Melihatku terdiam, mas Darren lalu pindah untuk duduk di sampingku. Dia menangkap pergelangan tanganku dan mencegahku untuk melanjutkan makan.
Gara-gara hal itu, aku dan mas Darren sejenak saling bersitatap. "Dek, tolong maafin Mas. Mas benar-benar tidak sengaja kasar sama kamu. Tolong maafin Mas, ya? Ya, ya," bujuk mas Darren.
Karena merasa makan malamku terganggu akibat ulah mas Darren, aku pun menghempaskan tanganku hingga terlepas dari cengkeramannya, lalu aku kembali melanjutkan makanku.
Melihatku terus mengacuhkan dan belum mau memaafkannya, mas Darren kemudian terdiam sambil terus menatapku. Tidak lama kemudian dia kembali angkat bicara.
"Dek, apa kamu mau tahu kenapa Mas bisa sampai kasar seperti tadi sama kamu?" tanya mas Darren.
Aku menjawab dalam hati, tentu saja aku ingin tahu. Memangnya urusan apa sih yang membuat Mas Darren sangat terburu-buru sehingga dia sampai berbicara ketus dan membentakku seperti tadi saat aku masuk ke dalam mobilnya.
Tiba-tiba saja mas Darren mengejutkanku, dia menangkup sebelah pipiku seraya berkata, "Dek, tolong lihat Mas sebentar. Tatap mata Mas sebentar saja."
Kami berdua lalu saling menatap satu sama lain dan dari jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Dek, asal kamu tahu, Mas ini sayang sama kamu. Dan Mas sebenarnya marah karena cemburu melihat kamu bersama pacar kamu berciuman di dalam mobil," ungkap mas Darren.
Bersambung ...