
"Tentu saja aku nggak bohong. Lagian, untuk apa juga aku bohong sama kamu. Nggak ada untungnya, 'kan?" jawabku. Aku harus terlihat meyakinkan di mata kak Rey agar dia tidak curiga kalau aku sedang membohonginya.
Aku lebih memilih membohonginya ketimbang mengatakan yang sejujurnya. Aku takut, kak Rey kembali mengingat kejadian yang sangat melukainya waktu itu.
Pada kesempatan kedua ini, aku ingin menebus semua kesalahan dan dosa-dosaku pada kak Rey. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama dan tidak akan pernah lagi menyakitinya.
Sementara itu, kak Rey hanya terdiam mendengarkan jawabanku.
"Ayo, cepat habiskan buburnya. Aa ...." Aku mengarahkan sesendok bubur ke arah mulut kak Rey. Tapi bukannya membuka mulut, kak Rey malah melingkarkan kedua tangannya pada pergelangan tanganku.
"Ada apa?" tanyaku padanya, sembari meletakkan kembali sendok berisi bubur tadi ke dalam mangkuk.
"Tapi kenapa kamu tidak memakai cincin? Bukankah seharusnya ada cincin yang melingkar di jarimu?" tanyanya lagi.
Jleb. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jika tadi aku bisa membohongi kak Rey, lain halnya dengan yang satu ini. Tapi apa iya, kebohongaanku harus terbongkar secepat ini. Aku harus mencari alasan. Perkara cincin, aku bisa membelinya sendiri nanti.
"Ah ... oh ... itu ... cincinnya ... cincinnya aku simpan di rumah, aku lupa memakainya."
"Kenapa kamu lepas? Harusnya cincinnya kamu pakai terus, tidak boleh dilepas."
"Ah iya, maaf. Aku akan memakainya setelah kembali ke rumah. Tenang saja," jawabku, kembali berbohong untuk yang kesekian kalinya.
Aduh ... dari mana aku mendapatkan cincin berlian seperti yang diberikan kak Rey waktu itu. Beginilah susahnya berbohong. Sekali berbohong, maka akan tercipta kebohongan-kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan yang pertama.
Aku kembali mengarahkan sendok bubur ke arah mulut kak Rey, tapi untuk yang kedua kalinya, dia kembali menangkap pergelangan tanganku sembari bertanya, "Apa kamu mencintaiku?"
Aku terdiam saat kak Rey menatapku dengan lekat. Untuk sementara lidahku terasa kaku, namun tidak lama kemudian aku pun menjawab, "Tentu saja. Kamu ini bicara apa sih? Aku ini 'kan calon istri kamu."
"Benarkah? Tapi entah mengapa ... aku tidak melihat ada cinta di matamu saat menatapku?"
__ADS_1
Deg. Hatiku terasa nyeri mendengarnya. Entah mengapa ucapan kak Rey selalu terdengar menohok. Semenjak dia siuman, dia selalu bertanya ini dan itu mengenai hubungan kami.
"Ck, kamu ini bicara apa sih? Tentu saja aku sayang sama kamu, kamu itu calon suamiku. Bukannya kamu sudah liat sendiri buktinya. Seharian ini aku terus berada di samping kamu, aku nggak pernah kemana-mana, dan aku juga selalu menyuapi kamu makan. Bahkan selama kamu belum sadarkan diri, aku terus berada di sini," jelasku.
"Aku tidak bertanya kamu menyayangi aku atau tidak. Yang aku tanyakan, apakah kamu mencintaiku? Karena sejatinya, cinta dan sayang itu adalah dua hal yang berbeda. Sayang bisa kepada siapa saja, sedangkan cinta, cinta hanya bisa dirasakan kepada pasangan. Kamu mengerti, 'kan? Jadi sekali lagi aku bertanya, kamu mencintaiku atau tidak?" tanyanya lagi, sambil menatapku dengan lekat.
"Tentu, tentu saja. Tentu saja aku ... mencintaimu," jawabku sedikit gelagapan. "Sudah, diam. Kata dokter kamu masih belum boleh banyak bicara. Kamu harus banyak-banyak istirahat biar kamu cepat pulih," kataku seraya menyodorkan sendok bubur ke arah mulut kak Rey agar dia segera berhenti berbicara.
Jujur saja, aku sendiri belum yakin jika aku sudah mencintai kak Rey. Tapi perlahan, seiring dengan kebersamaan kami ke depannya nanti, aku akan belajar dan berusaha untuk mencintainya.
Setelah kak Rey menghabiskan buburnya, dia pun kembali beristirahat. Sementara aku, pikiranku masih pusing memikirkan cincin. Sepertinya aku harus keluar mencari cincin yang serupa untuk menutupi kebohonganku.
Tapi memikirkan untuk pergi keluar, entah mengapa aku merasa takut. Aku takut bertemu dengan mas Darren di luar, takut mas Darren kembali berbuat nekat seperti tadi pagi. Aku yakin, mas Darren tidak mungkin menyerah begitu saja membiarkan aku hidup tenang bersama kak Rey. Tidak mungkin juga aku harus terus merepotkan kak Andra untuk menjagaku, dia bukan bodyguard-ku.
.
.
Keadaan kak Rey sudah jauh membaik dan dia akhirnya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Meski pun belum sepenuhnya pulih dan belum bisa berjalan, tapi setidaknya kak Rey sudah bisa duduk.
Sekarang ini kami sudah berada di mansion Keluarga Bagaskara. Aku mendorong kursi roda kak Rey memasuki sebuah kamar. Sebenarnya kamarnya yang asli ada di lantai dua, tapi karena sekarang dia menggunakan kursi roda, agak sulit untuk membawanya naik ke lantai atas. Jadi untuk sementara kak Rey tinggal di kamar tamu di lantai bawah dulu sampai kondisinya pulih seperti sedia kala.
"Apa sebelumnya kamu sudah pernah ke sini?" tanya kak Rey.
Aku menggeleng. "Belum. Ini yang pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini. Kamu dulu hanya pernah membawaku ke apartemenmu."
"Oh, ya?"
"He'em," jawabku sembari mengangguk.
__ADS_1
"Sepertinya aku benar-benar lupa semua yang pernah kita lakukan," ucapnya.
Aku tidak menanggapi ucapannya, malah menawarinya untuk beristirahat.
"Apa kamu sudah mau berbaring?" tanyaku, aku khawatir kak Rey belum mampu untuk duduk lebih lama.
"Belum. Nanti dulu. Aku masih ingin duduk. Apa kamu bisa membawaku ke taman? Aku ingin jalan-jalan dan menghirup udara segar di sana. Tinggal di rumah sakit rasanya sangat membosankan," ujarnya.
"Tentu saja. Tapi kamu harus menunjukkan padaku di mana letak tamannya." Aku pun kemudian mendorong kursi roda kak Rey keluar dari kamar, dan dia bertugas sebagai penunjuk jalannya.
Di dalam rumah yang sangat besar seperti ini, tentu saja aku akan tersesat jika tidak ada yang memberitahuku jalan menuju tempat ini dan itu. Apalagi ini pertama kalinya aku datang kemari.
Sesampainya di taman. Aku memilih duduk di salah satu kursi taman yang ada di sana. Pemandangan di sana sangat indah, sepertinya memang ada tukang kebun yang bertugas untuk merawat semua bunga beserta tanaman hias lainnya.
Kak Rey terlihat tersenyum sambil menghirup napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Sejak kecil, aku selalu suka berada di sini. Bermain sepak bola, dan lain sebagainya."
"Tempat di sini memang sangat indah dan cantik, juga sangat luas. Jadi wajar kalau kamu menyukainya. Aku saja yang baru pertama kali datang ke sini sudah sangat suka dengan tempatnya."
"Oh, ya?" Kak Rey menoleh ke arahku.
"He'em." Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
Untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Saat ini aku sedang berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan cincin. Sedangkan kak Rey, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini, namun tiba-tiba saja dia membuka suara.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu lagi? Mengenai hubungan kita."
Aku mengangguk. "Apa itu?"
__ADS_1
"Mm ... apa sebelum aku mengalami kecelakaan, kita sudah pernah menetapkan tanggal pernikahan?"