Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 48


__ADS_3

"Loh, kenapa?" tanya kak Rey.


"Masih nanya loh kenapa, loh kenapa? Emang kamu nggak malu itumu aku liat," jawabku.


"Itu apa?"


"Itumu."


"Itu apa sih?" tanyanya lagi.


Sepertinya kak Rey memang sengaja ingin menggodaku. Lalu dengan malu-malu dan salah tingkah aku menunjuk 'itunya' menggunakan sorot mataku. "Itu."


Kak Rey tersenyum tipis. "Kenapa aku harus malu? Cepat atau lambat, kita berdua 'kan juga akan menikah. Apa kamu lupa? Kamu itu adalah calon istriku, dan aku adalah calon suamimu. Jadi tidak ada masalah."


"Eh, eh, eh, masa kamu bilang tidak ada masalah? Kita berdua ini masih sama-sama calon, belum jadi suami istri. Jadi belum boleh," protesku akan ucapan kak Rey.


"Terus nanti kalau mama pergi bagaimana? Siapa yang akan membantuku mengganti popok? Siapa yang akan membantu memandikanku?" tanyanya lagi, dan itu sukses membuatku memikirkan ucapannya.


Iya juga sih. Kak Rey pasti tidak mau kalau bi Asih yang membantunya untuk mandi dan berganti popok. Kalau pelayan laki-laki di rumah ini apa ada? Aku juga tidak begitu tahu keadaan di dalam mansion ini karena aku jarang keluar kamar.


"Mm ... Rey, apa di rumah ini ada pelayan laki-laki?"


"Tidak ada. Cepat suapi aku, aku lapar. Tidak usah banyak berpikir."


"Iya, iya ...."


****


"Tante berangkat dulu ya Sayang," ucap tante Rena seraya bercipika-cipiki denganku.


"Iya, Tante sama Om hati-hati di jalan."


"Tolong jaga Rey baik-baik," tambah om Reza.

__ADS_1


"Pasti Om, Tante, kalian jangan khawatir." Aku menjawab sembari tersenyum.


Saat ini aku dan kak Rey sedang mengantar kepergian tante Rena dan om Reza sampai di halaman depan mansion. Begitu tante Rena dan om Reza berangkat, aku pun mendorong kursi roda kak Rey kembali ke dalam.


"Kamu nggak mau jalan-jalan dulu sebelum kembali ke kamar?" tanyaku pada kak Rey. Saat ini kami masih berada di ruang tamu.


"Boleh. Terserah kamu," jawabnya.


"Kalau begitu kita putar balik."


***


Usai membawa kak Rey untuk jalan-jalan sekaligus berjemur, kami pun akhirnya kembali ke kamar.


"Rasanya tubuhku sangat lengket karena keringat. Aku ingin mandi sekarang. Bisakah kamu membantuku?" tanya kak Rey.


"Hah? Kamu mau mandi sekarang? Kenapa nggak besok aja kalau mama kamu sudah pulang?" tanyaku.


Bukankah seharusnya begitu ketimbang aku harus melihat yang belum seharusnya aku lihat.


"Bagaimana kalau aku bersihin badan kamu pakai tissu basah, atau kalau nggak pake handuk basah? Bagaimana? Aku sering melakukannya di rumah sakit saat kamu belum siuman."


Menurutku seperti itu jauh lebih baik ketimbang melihat tubuh kak Rey yang polos tanpa sehelai benang pun.


"Aku bilang aku mandi, bukan dilap pakai tissu basah atau pun handuk basah. Ayo cepat, bantu aku lepaskan pakaianku."


"Rey! Aku bilang aku nggak mau. Kamu mau buat aku jadi malu. Kamu ini, makin ke sini makin nyebelin, ya?" kesalku. Aku paling tidak suka dipaksa.


Ceklek.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan aku pun langsung menoleh. Terlihat kak Andra dan Laras muncul dari balik pintu.


"Kalian berdua kenapa? Berantem?" tanya kak Andra seraya berjalan menghampiri kami bersama Laras.

__ADS_1


Aku menunjuk kak Rey menggunakan ekor mataku. "Tuh, masa aku disuruh buat mandiin dia. Aku 'kan malu Kak."


Laras dan kak Andra terkekeh.


"Rey ... Rey. Jangan berani macam-macam kalau kamu sendiri masih belum kuat ngapa-ngapain. Bisa bahaya." Ucapan kak Andra terdengar sangat ambigu di telingaku, tapi aku tidak peduli. Setidaknya ada dia nanti yang bisa menggantikan aku untuk memandikan dan mengganti popok kak Rey.


"Sini, biar aku yang bantu kamu untuk mandi. Aku memang datang ke sini untuk itu," imbuh kak Andra seraya mendorong kursi roda kak Rey menuju kamar mandi.


Huft. Aku merasa sangat lega sekali. Akhirnya aku bisa terbebas dari desakan kak Rey. Ternyata merawat kak Rey setelah siuman tidak semudah yang aku bayangkan. Dia bahkan berubah menjadi sosok yang sangat menyebalkan di mataku. Dasar. Kenapa dia mesti pakai acara amnesia segala sih? Hufft.


"Kei, kamu belum ada rencana buat buka toko kamu lagi?" Laras bertanya padaku saat kami sudah sama-sama duduk di sofa.


"Nggak tau. Aku belum kepikiran soal itu. Sekarang, aku hanya ingin fokus merawat kak Rey aja dulu," jawabku.


Laras dan kak Andra bisa datang ke sini pagi-pagi karena hari ini adalah hari sabtu, jadi mereka berdua sedang libur dengan pekerjaan masing-masing selama 2 hari.


.


Beberapa saat kemudian. Ponselku tiba-tiba berdering, panggilan dari ibu.


"Iya, Bu. Ada apa?" jawabku.


"Key, kamu tahu tidak kalau masmu masuk rumah sakit?" tanya ibu.


"Apa, Bu?! Mas Darren masuk rumah sakit?" Saking terkejutnya, sontak saja aku langsung berdiri dari dudukku.


"Memangnya masmu tidak memberi tahu kamu soal ini?" tanya ibu lagi.


"Nggak, Bu," jawabku sembari kembali duduk di sofa tepat di samping Laras.


Bagaimana mas Darren bisa memberitahuku, aku sudah memblokir nomornya, dan kami berdua memang sedang ada masalah. Hanya aku,  mas Darren,  dan kak Andra saja yang tahu mengenai masalah itu. Aku lebih memilih merahasiakannya ketimbang memberitahukannya kepada yang lain. Terutamanya pada ibu dan ayah. Aku takut mereka berdua kecewa pada mas Darren dan mengakibatkan hubungan mereka menjadi merenggang.


"Kalau ada yang bisa menggantikan kamu untuk merawat nak Rey barang beberapa hari, pergilah tunggui masmu dulu di rumah sakit."

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2