
Tidak butuh waktu lama, Mawar akhirnya sampai di toko. Dia membawa bahan-bahan kue yang aku pesan. Kebetulan, bahan-vahan yang ada di dalam lemari dapur kurang lengkap. Mungkin karena sudah terlalu lama dapurnya tidak terpakai, sudah hampir 4 bulan.
"Rose, ke depannya aku mau, kamu yang kelola toko ini, ya?" ucapku pada Mawar, saat gadis itu tengah menemaniku dan aku ajari untuk membuat cake.
"Loh, kok gitu Kak? Emangnya Kakak mau ke mana?" tanyanya.
"Nggak kemana-mana sih. Cuma 'kan sekarang aku udah nikah, jadi nggak sebebas dulu lagi. Oh iya, sekarang kamu harus latihan bikin cake, biar kamu jago, dan supaya kamu juga bisa jadi tangan kanan aku yang handal di sini. Karena sejujurnya, aku nggak rela biarin toko ini tutup terus-menerus. Kamu tau sendiri 'kan alasannya Rose?" ucapku pada Mawar.
"Iya, aku tau Kak."
Mendiang ayah, beliau lah satu-satunya alasan kenapa aku tetap ingin mempertahankan toko ini. Andai saja bukan karena beliau, mungkin toko ini sudah aku jual ketika kak Rey melarang aku untuk turun tangan sendiri mengelolanya.
"Oh iya, ke depannya kamu aja yang ngatur gimana baiknya. Aku serahkan semuanya sama kamu. Kamu mau rekrut 2 sampai 3 orang karyawan buat bantuin kamu di sini ya terserah kamu. Dan kalau kamu nggak mau capek-capek bolak balik ke sini ke kontrakan kamu, kamu bisa tinggal di lantai atas. Daripada nggak ada yang nempatin, 'kan sayang."
"Iya Sayang, kamu panggil aku?" Kak Rey tiba-tiba saja menyela ucapan kami. Saat ini dia sedang duduk bosan sendirian di belakang meja kasir.
"Nggak. Aku lagi bicara sama Rose kok," jawabku sembari tersenyum padanya.
"Ck, aku pikir, kamu mau mengajak aku untuk naik ke kamar, Sayang."
Jleb. Rasanya aku ingin menyumpal mulut suamiku dengan kertas roti. Kenapa bicaranya tidak tahu malu sekali. Tidak malu apa sama Mawar.
Sementara itu, aku melihat Mawar sedang berusaha mengulum tawanya. Sepertinya dia mengerti dengan arah pembicaraan kak Rey.
"Bentar ya, Rose," ucapku pada Mawar sebelum berjalan menghampiri suamiku.
"Aku ngerti kok, Kak. Biasa, pengantin baru. Masih anget-angetnya kata orang." Mawar berkata seraya tersenyum.
Aku tersenyum malu-malu mendengar ucapan Mawar, sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Eh, Rose. Kamu bisa 'kan ambil alih kue itu sampai jadi?" tanyaku lagi pada Mawar.
Sebelum membawa kak Rey naik ke lantai atas, aku harus memastikan dulu kalau Mawar bisa menyelesaikan sendiri kue yang tadinya aku ajarkan padanya.
__ADS_1
"Bisa kok Kak, tenang aja. Kalau Kakak mau naik istirahat, naik aja. Nggak apa-apa." Mawar menjawab sambil masih tersenyum.
"Tuh 'kan Sayang, Mawar saja pengertian, masa kamu tidak," ucap kak Rey.
Melihat keduanya begitu kompak, aku jadi teringat, bahwa kak Rey dan Mawar memang pernah bekerja sama. Beberapa hari sebelum kak Rey melamarku waktu itu, tepatnya saat aku dan kak Rey keluar untuk kencan pertama kami, Mawar mengijinkan orang suruhan kak Rey untuk masuk memasang beberapa kamera tersembunyi di dalam toko tanpa seijinku. Bahkan di lantai atas juga terpasang kamera tersembunyi. Aku baru tahu hal itu saat menguping pembicaraan kak Rey dan mas Darren waktu itu.
.
.
Kurang lebih setengah jam kemudian.
Aku kembali turun ke lantai bawah setelah mandi dan berganti pakaian. Sementara suamiku, dia memilih untuk tidur siang setelah mendapat apa yang dia mau.
"Rose, gimana kuenya? Udah matang?" Aku bertanya seraya menghampiri Mawar yang masih berkutat di dapur.
"Dikit lagi, Kak," jawabnya.
"Oh. Oh iya, Rose, ini buku resep buat kamu. Kamu bisa mempelajari banyak resep kue dari buku ini," ucapku seraya memberikan salinan buku resep milik mendiang ayah pada Mawar yang aku ambil dari kamarku.
"Sebelum kamu mulai membuka toko ini lagi, kamu bisa latihan dulu bikin cake, dan selagi aku masih ada di sini, aku bisa ngajarin kamu."
"Siap Kak." Mawar berkata seraya tersenyum lebar. Gadis itu terlihat sangat senang mendapat buku resep dariku.
Beberapa menit kemudian, cake buatan Mawar akhirnya matang. Setelah aku coba, hasilnya lumayan. Sepertinya anak itu juga memiliki bakat dalam membuat kue. Tidak salah jika aku memilihnya sebagai tangan kananku untuk mengelola toko ini.
"Rose, aku boleh minta tolong kamu buat beli butter? Tadi aku nggak liat kalau stoknya tinggal sedikit." Aku berencana untuk membuatkan kak Rey kue kesukaanya sebelum dia bangun.
Sembari menunggu Mawar kembali, aku pun memutuskan untuk membuat cake yang lain saja, sesuai dengan bahan yang ada. Ini untuk mengobati kerinduanku akan hobbiku.
Namun, disaat aku tengah asyik dengan kegiatanku, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Aku pikir, siapa lagi kalau bukan kak Rey.
"Akh! Bikin kaget aja. Tumben kamu bangunnya cepat?" tanyaku sembari fokus memasukkan bahan kue satu per satu ke dalam wadah mixer.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaanku, aku malah merasa suamiku memelukku dengan semakin erat, seolah tidak rela melepasku.
Awalnya aku membiarkannya dan tetap fokus pada pekerjaanku. Tapi lama kelamaan, aku mulai merasa ada yang aneh.
Aroma parfum ini ... jelas-jelas bukan milik suamiku. Tapi lebih mirip dengan aroma parfum orang lain.
Aku menelan ludahku dengan kasar, jantungku juga seketika berdetak dengan sangat kencang. Sebelum menoleh untuk memastikan kecurigaanku, terlebih dahulu aku menunduk melihat sepasang tangan yang melingkar erat di perutku.
Gawat! Jelas-jelas tangan ini bukan tangan suamiku. Tadi kak Rey hanya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih. Sedangkan sepasang tangan ini dibalut oleh jas berwarna abu-abu.
Gawat gawat! Apa yang harus aku lakukan? Batinku.
Disaat seperti ini, tidak ada yang bisa aku lakukan selain berusaha untuk melepaskan diri dari sepasang tangan itu. Aku berusaha meronta dan melepaskan diri, tapi sepasang tangan itu malah semakin erat memelukku.
"Lepaskan!" Aku berkata dengan nada setengah berteriak.
Disaat seperti ini, tidak ada yang bisa aku mintai pertolongan. Kak Rey sedang tidur di kamar, sedangkan Mawar baru saja keluar untuk membeli bahan kue.
"Bisakah kamu diam? Izinkan Mas untuk memeluk kamu sebentar lagi. Mas sangat merindukan kamu."
B e r s a m b u n g ...
...______________________________________...
Guys!!! Author punya karya baru nih. Author buat karena mau ikutan lomba 'Kisah di Sekolah' yang ada di bawah ini 👇
Judul karyanya adalah 'Dipaksa Menikah Dengan Guru Killer'. Ini dia covernya 👇
Ini dia sedikit sinopsisnya 👇
__ADS_1
Untuk sementara ceritanya belum muncul di mesin pencarian, tapi mungkin besok ceritanya sudah muncul. Semoga ada yang berkenan buat mampir dan mendukung ya😁 TQ.🤗