Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 15


__ADS_3

"Aduh, Aduh, tangan Kei sakit, Mas. Pelan-pelan dong," ucapku saat mas Darren tiba-tiba saja menyeretku masuk ke dalam toko kemudian naik ke lantai atas menuju kamarku.


"Duduk," titah mas Darren begitu dia menarikku masuk ke dalam kamar kemudian menyuruhku untuk duduk di pinggir tempat tidurku.


"Mas mau ngapain sih?" tanyaku saat melihat mas Darren mulai membuka pintu lemariku satu per satu.


"Mas mau memilihkan baju yang bagus dan cocok untuk kamu pakai berkencan lah Dek. Kamu pikir Mas mau apa lagi?" jawabnya seraya mulai memilih dan memilah isi lemariku.


"Tapi baju yang Kei pakai sekarang sudah bagus Mas, sudah cantik, sudah feminim. Kei nggak mau ganti ah," protesku sambil mengerutkan dahiku karena kesal.


Mas Darren kenapa sih? Dulu waktu awal-awal dia menjadi kakak tiriku, dia orangnya sangat baik, pengertian dan tidak suka memaksa. Tapi kenapa hari ini dia berubah menjadi kebalikannya.


Masa baju bagus begini dibilang jelek. Ada ada saja. Padahal, baju ini memang sengaja aku siapkan jauh-jauh hari begitu ada rencana untuk berkencan dengan kak Rey.


"Iya, Mas juga tahu Dek kalau baju yang kamu pakai sekarang itu bagus dan cantik," ujarnya lagi sambil mengacak-acak isi lemariku.


"Yang benar itu yang mana sih, Mas? Baju yang Kei pakai sekarang ini bagus apa jelek? Kalau Mas bilang bajunya bagus, terus kenapa Kei mesti disuruh ganti baju? Apa kurangnya coba baju yang Kei pakai ini, Mas ...?"


Aku tidak habis pikir dengan pola berpikir mas Darren. Kenapa sekarang dia berubah menjadi plin plan begini sih? Tadi waktu di depan kak Rey, dia bilang kalau baju aku jelek. Tapi sekarang, disaat kami hanya berdua saja, dia malah bilang kalau baju yang aku kenakan bagus dan cantik. Bagaimana sih?


"Dek, tadi Mas tidak mengatakan kalau baju yang kamu pakai sekarang itu jelek ya. Mas hanya mengatakan kalau penampilan kamu hari ini sangat jelek, bukan baju kamu yang jelek. Coba deh kamu ingat-ingat lagi."


"Jadi Mas bilang kalau Kei yang jelek?" tanyaku sambil mencebikkan bibirku. Aku sedih kalau mas Darren benar-benar menganggap aku jelek. Pantas saja sebelum kami menjadi saudara tiri, dia terus menolak cintaku.


Tiba-tiba mas Darren berbalik dan menghadap ke arahku. Dia menatapku dengan jengah.

__ADS_1


"Dek, kamu mengerti Bahasa Indonesia tidak sih? Mas tadi hanya mengatakan kalau penampilan kamu yang jelek, bukan baju kamu, apalagi kamu," jelasnya. Setelah itu mas Darren kembali mengacak-acak isi lemariku dari lemari yang satu ke lemari yang satunya lagi.


"Jangan diberantakin," ucapku.


"Iya, Mas tahu. Nanti Mas bereskan setelah kamu pergi," ucapnya.


"Nah, ini dia yang aku cari-cari." Mas Darren berbalik kemudian memperlihatkan baju dan celana pilihannya.


"Hah? Mas serius? Mas Darren mau Kei memakai baju dan celana kebesaran seperti itu untuk kencan perdana Kei dengan kak Rey?" tanyaku tidak percaya. Oh my God, Mas Darren ini benar-benar.


"Kenapa? Ini bagus loh, Dek. Sangat cocok untuk kamu. Buruan ganti baju," ucapnya seraya berjalan menghampiriku sambil tersenyum, seperti tidak ada rasa bersalah sedikit pun telah mengacaukan kencan pertamaku.


"Mas, jangan bercanda dong. Kei mau nge-date loh Mas, nge-date. Kei mau kencan sama pacarnya Kei. Bukannya mau jalan bareng sama temen. Mas Darren ngerti 'kan apa maksudnya?" tanyaku. "Dan satu lagi, asal Mas Darren tahu, celana kulot kebesaran itu punya ibu yang kelupaan. Jadi tidak mungkin cocok di pinggang Kei."


Aku sedikit menekankan ucapanku. Aku benar-benar tidak setuju mengganti gaunku dengan pakaian yang dipilihkan oleh mas Darren.


"Ini, mas sudah mengganti celananya dengan punya kamu sendiri. Dan lagi, Mas tidak bercanda, Dek. Mas serius memilih pakaian ini untuk kamu. Jadi sekarang, cepat kamu ganti baju," ucapnya seraya meletakkan pakaian pilihannya itu di pangkuanku.


"Nggak mau." Aku menolak dengan wajah cemberut sambil membuang muka dan melipat kedua tanganku di depan dada. Pakaian yang tadi mas Darren letakkan di pangkuanku juga aku lemparkan ke lantai.


Mas Darren memungut pakaian itu lalu berjalan menghampiriku.


"Dek, ayolah. Menurut saja apa kata Mas, ya. Anak baik ..." bujuk Mas Darren seraya mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Sini, Mas tuntun kamu ke kamar mandi."


Saat mas Darren ingin menarik pergelangan tanganku, aku langsung menepis tangannya. "Mas Darren apa-apaan sih? Kalau Kei bilang nggak mau ya nggak mau. Mas jangan maksa dong."

__ADS_1


"Dek, ayolah ... Mas juga tidak mungkin memaksa kalau sedari tadi kamu langsung menurut apa yang Mas katakan."


Cukup lama mas Darren membujukku dan aku tidak kunjung mau menurut padanya. Mungkin karena dia sudah mulai kesal hingga akhirnya dia mulai mengancamku.


"Dek, kalau kamu tidak kunjung mau menurut, Mas tidak akan kasih kamu ijin untuk kencan dengan pacar kamu itu."


Sontak saja aku menatap mas Darren dengan tatapan tajam sekaligus kesal. "Mas Darren ih, nyebelin banget sih."


Asal mas Darren tahu ya, Kei mau pacaran dan menerima cinta kak Rey itu karena Kei ingin segera melupakan cinta Kei pada mas Darren. Ngerti kamu Mas!


Tentu saja aku hanya berani mengatakan kalimat itu di dalam hati. Aku tidak berani mengatakannya secara langsung pada mas Darren karena pastinya hubungan kami berdua nanti akan menjadi canggung.


Mau tidak mau aku terpaksa menuruti kemauannya. Kalau aku terus-terus menentang keinginan mas Darren, bisa-bisa sampai sore aku tidak jadi berangkat bersama kak Rey. Karena sepertinya mas Darren tidak mau mengalah, jadi lebih baik aku saja yang mengalah.


Ditambah lagi aku merasa sangat tidak enak pada kak Rey karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama di bawah. Apalagi jika harus membatalkan kencan kami hanya gara-gara mas Darren yang sudah merusak moodku.


Aku segera masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu saking kesalnya. Setelah mengganti gaunku dengan pakaian pilihannya, aku pun segera keluar dari kamar mandi dan masih dengan wajah yang cemberut.


"Mas puas sekarang?" tanyaku padanya. Saat ini dia sedang duduk menungguku di kursi meja riasku.


Sejenak mas Darren terdiam sambil menatapku. Aku bingung kenapa dia menatapku seperti itu. Jangan bilang dia masih ingin protes dan menyuruhku untuk ganti baju lagi. Mau baju yang bagaimana lagi, ini saja sudah oversize. Tapi ... memang seperti itu sih modelnya. Hehe.


Namun sesaat kemudian senyuman mengembang di wajah tampannya. "Nah, tuh 'kan? Baju pilihan Mas benar-benar bagus. Kamu terlihat semakin cantik mengenakan baju itu."


"Itu sih menurut Mas. Dan lagi, bajunya Kei memang nggak ada yang jelek ya Mas. Semua baju yang ada di dalam lemari Kei, semuanya bagus-bagus. Tapi yang ingin Kei protes, ini tuh bukan baju yang tepat buat di pake nge-date, Mas. Rasanya sekarang, Kei seperti salah kostum. Mas bisa ngebayangin nggak, gimana rasanya kalau mas ada meeting dengan klien, tapi mas ke sana cuma pake kaos oblong dan kolor doang. Nggak banget, 'kan? Nah, Kei juga ngerasa seperti itu sekarang. Kalau Kei mau jalan sama Laras, it's Ok, nggak ada masalah. Pakai baju begini juga fine fine aja. Tapi ini Kei mau jalan sama kak Rey, Mas ... kencan perdana lagi. Masa Kei kayak nggak ada niat buat kencan sama pacar Kei sih," cerocosku.

__ADS_1


"Sudah selesai ngomongnya?" tanya mas Darren, tapi aku tidak menjawab, justru malah membuang muka dan melipat kedua tanganku sambil cemberut.


"Mas tahu, salah kostum itu memang tidak enak. Tapi yang Mas mau tanyakan ke kamu, kamu pakai baju sekzie seperti tadi itu supaya apa? Hayo, Mas ingin mendengar penjelasan dari kamu." Kini gantian mas Darren yang menanyaiku dengan cara melipat kedua tangannya di depan dada.


__ADS_2