
2 Bulan Kemudian.
Hari ini tepat hari pertama Kei's Cake dibuka. Banyak teman serta kerabat yang datang mengucapkan selamat serta membawakan bunga dan kado untukku.
"Selamat ya Kei. Semoga Kei's Cake bisa sukses dan banyak pelanggan. Aamiin," ucap Laras sambil memelukku.
"Aamiin. Makasih ya, Ras." Aku balas memeluk sahabat terbaikku itu.
"Kei, nanti seseorang yang sangat spesial akan datang ke sini mau ngucapin selamat buat kamu," ucap Laras sambil senyam-senyum tidak jelas.
"Orang spesial dari Hongkong. Ngawur kamu," protesku akan ucapan Laras.
Aku mana punya orang spesial. Laras ini memang terkadang suka ngawur kalau bicara. Dan terkadang juga omongannya tidak boleh dianggap serius karena anaknya suka sekali bercanda.
"Pokoknya ada, Kei. Aku serius. Lihat aja nanti," katanya sambil masih senyam-senyum.
"Siapa sih memangnya?" tanyaku penasaran. Sepertinya kali ini Laras benar-benar serius dengan ucapannya.
"Pokoknya ada deh ... rahasia. Aku senang lihat kamu penasaran." Laras terkikik setelah mengucapkannya. Dasar menyebalkan.
Pagi ini toko kueku lumayan ramai karena dihadiri oleh kerabat beserta teman-teman terdekatku.
Pagi tadi aku berangkat ke toko bersama ibu dan ayah Gilang. Sedangkan mas Darren, katanya dia akan menyusul di belakang. Dan hingga detik ini, mas Darren belum juga datang. Padahal, acara potong pita sebentar lagi akan di mulai. Aku sudah mulai gelisah menunggu kedatangannya.
Oh iya, selama 2 bulan terakhir, aku tinggal satu atap bersama mas Darren. Hari-hariku aku lalui lebih banyak bersamanya. Alhasil, sekarang kami berdua pun semakin dekat dan akrab. Serta rencanaku untuk menghilangkan perasaan cintaku terhadap kakak tiri tercintaku tersebut benar-benar gagal total. Justru perasaanku padanya makin terpupuk dan tumbuh kian subur seiring dengan kebersamaan kami setiap harinya.
Aku sadar, jika aku terus-terusan seperti ini, suatu saat nanti aku pasti akan kembali sakit hati ketika mas Darren sudah menemukan pendamping hidup untuk menggantikan Felicya.
Terkadang aku berpikir, bagaimana kalau aku melupakan mas Darren dengan cara membuka pintu hatiku untuk pria lain? Siapa tahu dengan menemukan orang spesial baru, aku bisa menghilangkan perasaanku padanya. Mm ... sepertinya itu bukan ide yang buruk.
Oh iya, berbicara tentang orang spesial, karena tadi Laras yang mulai membahas mengenai orang spesial, sekarang aku jadi kepikiran. Kalau aku pikir-pikir, selama ini tidak ada orang spesial lain di dalam hatiku selain mas Darren. Sepertinya aku harus belajar membuka hatiku dan menemukan orang spesial baru yang bisa menggantikan posisi mas Darren di dalam hatiku. Tapi ... siapa orangnya?
"Nah, Kei, itu dia orangnya." Laras berbisik di dekat telingaku seraya menunjuk seorang pria tampan dengan ekor matanya. Saat ini pria itu sedang berjalan menghampiri kami berdua sambil memamerkan senyuman termanisnya.
__ADS_1
"Hai, Kei. Selamat ya. Semoga bisnis kamu lancar dan bisa sukses ke depannya," ucap pria itu seraya bercipika-cipiki denganku.
"Aamiin. Makasih, Kak Rey," jawabku sambil tersenyum.
"Oh iya, ini ada bunga dan kado untuk kamu." Kak Rey tersenyum saat memberikan kedua benda itu padaku.
"Aduh, Kak Rey makasih banyak ya. Sebenarnya Kak Rey nggak perlu repot-repot bawa beginian," ucapku saat menerima pemberiannya.
"Tidak apa-apa. Justru aku merasa sangat senang karena akhirnya aku punya kesempatan untuk memberikan kamu bunga. Kemarin waktu kamu dan Laras wisuda, aku tidak sempat datang. Saat itu aku sangat sibuk."
Ternyata orang spesial yang Laras maksud tadi adalah kak Rey. Hng, dasar Laras. Hobinya memang begitu. Dia senang sekali menjadi mak comblang di antara aku dan pria itu.
Oh iya, namanya adalah kak Rheiner, biasa aku panggil kak Rey. Dia adalah kakak sepupunya Laras. Usianya hampir sama dengan mas Darren dan dia seorang pebisnis yang tergolong lumayan sukses di bidangnya.
"By the way, kamu makin cantik aja, Kei. Dan juga ... terlihat makin dewasa," puji kak Rey yang sukses membuatku shy-shy cat.
(Note : Bagi pembaca yang belum mengerti apa itu shy-shy cat, shy-shy cat adalah persamaan kata dari malu-malu kucing🤭)
"Iya 'kan, Ras?" Kali ini kak Rey beralih bertanya pada adik sepupunya. Dan tentu saja Laras langsung mengiyakan ucapan kakak sepupunya itu. Pokoknya, mereka berdua sangat kompak jika sedang menggodaku.
Konon kata Laras, kak Rey itu sudah menyukaiku sejak lama. Tapi aku tidak percaya karena kak Rey tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku secara langsung.
Apa mungkin kak Rey selanjutnya yang akan menjadi orang spesial yang bisa menggeser posisi mas Darren di hatiku?
"Ekhem!" Tiba-tiba suara deheman yang lumayan keras mengalihkan perhatian kami bertiga.
Aku menoleh. Ternyata suara deheman itu adalah suara deheman kakak tiriku, mas Darren. Dia datang sambil membawa sebuah bucket bunga yang berukuran sangat besar. Diantara semua bucket yang ada, bucket pemberian mas Darren lah yang paling besar. Ah, aku jadi baper.
"Mas Darren." Aku tersenyum lebar sambil berjalan menghampirinya. Aku merasa sangat senang dan bahagia sekali karena orang yang paling aku tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya datang dan memberikan kejutan yang sangat indah untukku.
"Selamat ya, Dek," ucap mas Darren seraya memberikan bucket bunga berukuran besar bernuansa pink dan putih itu padaku.
"Makasih, Mas. Bunganya cantik banget."
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Sekali lagi selamat ya. Semoga segala apa yang kamu cita-citakan bisa segera terwujud. Aamiin."
"Aamiin. Makasih Mas."
Mas Darren lalu memelukku, kemudian mencium keningku cukup lama. Aku lumayan terkejut mendapat perlakuan seperti itu darinya. Ini pertama kalinya mas Darren melakukan hal seperti itu. Ah, aku jadi baper lagi 'kan.
Memang dasar aku yang tukang baperan. Padahal, mas Darren melakukan itu karena menganggapku sebagai adik kesayangannya.
Setelah melepaskan ciumannya, mas Darren kembali memelukku dengan erat dan cukup lama. Aku bisa merasakan kalau mas Darren benar-benar sangat menyayangiku. Meski pun tidak dia ungkakan dengan kata-kata.
Kali ini mas Darren benar-benar membuat hatiku menjerit dan membuatnya dalam zona gawat. Aku tidak bisa tidak baper mendapat perlakuan manis seperti ini dari laki-laki yang teramat aku cintai.
.
.
Hari sudah menjelang siang, dan satu per satu tamu yang datang sudah mulai meninggalkan toko. Sekarang hanya tinggal aku, mas Darren, ibu, ayah, Laras, beserta kak Rey di dalam ruangan yang dindingnya 70 persen terbuat dari kaca ini.
Aku dan mas Darren duduk di belakang meja kasir. Sedangkan ibu, ayah, Laras, beserta kak Rey, mereka duduk di salah satu meja yang disiapkan khusus untuk pengunjung. Sedari tadi mereka berempat terlihat asyik mengobrol. Entah apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.
"Dek, siapa laki-laki itu?" tanya mas Darren. Pandangannya melihat ke arah kak Rey.
"Oh, itu Kak Rey, kakak sepupunya Laras, Mas," jawabku.
"Kamu dekat sama orang itu? Kok dia juga bisa datang ke sini?" tanyanya lagi.
Dekat? Bagaimana cara aku menjelaskannya ya? Aku ingin menjawab dekat, tapi kami tidak sedekat itu juga. Mau dijawab tidak dekat, tapi sedikit dekat. Eh, bagaimana sih cara mengatakannya? Aku jadi bingung sendiri 'kan.
"Mm ... lumayan dekat sih, Mas. Kenapa?" jawabku. Lumayan dekat mungkin adalah jawaban yang paling tepat.
"Tidak, tidak apa-apa. Mas hanya bertanya saja," jawabnya.
"Oh iya, sidang perceraian Mas kapan jadinya?" tanyaku penasaran. Aku tiba-tiba saja teringat akan hal itu.
__ADS_1
"Besok lusa. Doakan semoga lancar ya, Dek," ucapnya.
"Aamiin. Kei selalu mendo'akan yang terbaik untuk kebahagiaan Mas Darren."