
Keesokan harinya.
Aku dan kak Rey sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Sekarang kami berdua sudah kembali ke kamar meninggalkan para kerabat terdekat kami yang masih asyik bercengkerama sambil menikmati suguhan yang disediakan.
Kami memutuskan untuk kembali ke kamar karena kak Rey sudah tidak kuat lagi berdiri atau pun duduk selama lebih dari 1 jam lamanya menyambut para keluarga kami masing-masing yang sempat hadir meramaikan acara pernikahan yang diselenggarakan dengan sangat sederhana ini.
"Pelan-pelan," ucapku seraya membantu kak Rey untuk duduk di pinggir tempat tidur. Tadi aku memapahnya masuk ke dalam kamar.
Sekarang kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri, tapi entah mengapa kami malah merasa canggung. Atau mungkin hanya aku yang merasa demikian, sedangkan kak Rey tidak. Aku juga tidak tahu kenapa. Padahal sebelum-sebelumnya aku merasa biasa-biasa saja saat berdekatan dengannya.
"Bisa minta tolong turunkan suhu AC nya? Aku merasa sedikit gerah," pinta kak Rey.
"Eh? Menurutku suhu 21°C sudah lumayan dingin. Apa menurut kamu masih perlu diturunkan lagi?" tanyaku pada kak Rey. Aku merasa sedikit kebingungan.
"Oh. Kalau begitu tidak perlu. Mungkin jas ini yang membuatku gerah. Sepertinya aku harus membukanya Sekarang." Kak Rey berkata lalu membuka jasnya sendiri tanpa meminta bantuanku. Padahal biasanya, apa apa harus aku yang mengerjakan semuanya untuknya.
Entah mengapa suasana menjadi terasa kikuk di antara kami setelah kami resmi menjadi sepasang suami istri. Padahal sebelumnya aku tidak pernah melihat kak Rey terlihat salah tingkah begini, bahkan sebelum dia mengalami amnesia.
Cukup lama kami berdua sama-sama diam dan duduk di pinggir tempat tidur. Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Hingga aku memutuskan untuk mengganti kebaya pengantinku dengan pakaian yang lebih nyaman.
"Kamu mau ke mana?" Kak Rey tiba-tiba saja menarik pergelangan tanganku begitu melihat aku berdiri.
Aku tidak langsung menjawab, malah asyik saling menatap bersama dengan kak Rey. Hari ini aku melihat ada yang berbeda dari tatapannya. Entah apa itu? Aku juga tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Pokoknya, sangat jauh berbeda dengan tatapan kak Rey akhir-akhir ini. Biasanya dia sering menatapku dengan tatapan tajam dan dingin, bahkan kerap kali dia membuat aku kesal dengan permintaan tidak masuk akalnya.
"Ak-aku ... aku mau ganti baju," jawabku sedikit gugup. Ada sesuatu yang membuat dadaku berdetak tidak menentu.
__ADS_1
"O-oh. Kalau begitu ... pergilah ganti baju." Kak Rey berkata seraya melepaskan tanganku. Sepertinya dia tidak kalah gugupnya dariku.
Aku lalu masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, aku merasa kesulitan untuk membuka ritsleting belakang kebayaku sendiri, jadi mau tidak mau aku harus meminta bantuan kak Rey untuk membantuku menurunkannya.
"Mm ... apa aku boleh minta tolong?" tanyaku sedikit malu-malu.
"Minta tolong apa?" tanya kak Rey.
Saat ini ternyata dia masih terlihat betah duduk di tempat semula. Padahal sebelum dia mengajakku untuk masuk ke dalam kamar, dia berkata kalau dirinya merasa sudah tidak kuat untuk duduk lebih lama lagi. Tadinya aku pikir dia akan langsung berbaring dan istirahat begitu masuk ke dalam kamar, ternyata tidak.
"Tolong bantu aku untuk menurunkan ritsleting kebayaku," jawabku sembari menunduk malu.
"O-oh, kalau begitu ... kalau begitu berbaliklah. Aku akan membantumu menurunkannya."
"Bisa mundur-mundur sedikit, aku tidak bisa menjangkaunya," ucap kak Rey. Tanpa berkata apa-apa, aku pun langsung bergerak mundur mengikuti instruksinya.
Aku mulai merasakan kak Rey menurunkan ritsleting kebayaku, namun sepertinya gerakan tangannya terhenti tepat di tengah punggungku.
"Ada apa?" tanyaku saat merasakan kak Rey malah menaik turunkan ritsletingnya. Sepertinya ritsletingnya macet. Tapi kok bisa macet? Kebaya ini 'kan buatan desainer ternama. Ah, entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa bisa.
"Ritsletingnya sedikit macet. Aku akan mencoba memperbaikinya sebentar," jawab kak Rey.
Setelah dia menaik turunkan selama beberapa saat, akhirnya ritsleting kebayaku bisa turun dengan lancar hingga ke bawah.
"Terima kasih," ucapku seraya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Aku yakin, kak Rey pasti sudah melihat punggungku yang hanya ditutupi oleh kain pengait bra. Tapi tidak apa-apa sih kalau dia melihatnya. Toh sekarang dia adalah suamiku.
__ADS_1
***
Tidak terasa hari sudah malam, dan sekarang seluruh anggota keluarga besar kak Rey beserta ibu dan ayah Gilang sudah berkumpul di sebuah meja makan panjang untuk makan malam bersama.
"Pah, Mah, Om, Tante. Melihat Rey duduk berdampingan bersama Kei sebagai sepasang pengantin baru, Andra tiba-tiba jadi ingin menikah juga." Kak Andra tiba-tiba saja berceletuk memecah obrolan beberapa orang yang saat ini sedang duduk di meja makan.
Tidak sedikit yang tertawa mendengar celetukannya, termasuk aku, kak Rey, Laras, juga masih ada beberapa orang lainnya. Lain halnya dengan tante Dona dan om Doni, selaku kedua orang tua kak Andra dan Laras, serta papah Reza selaku adik kandung dari om Doni.
"Andra ... Andra. Kamu ini. Kalau mau menikah harus ada calon mempelai wanitanya dulu, kalau tidak ada calon, kamu mau menikah sama siapa?" tanya om Doni menanggapi ucapan putranya.
Sepertinya beliau menganggap kalau putranya tidak memiliki kekasi. Tapi setahuku, beberapa hari yang lalu kak Andra ingin menyatakan cintanya pada sekretarisnya. Tidak tahu mereka sudah jadian sekarang atau belum. Aku juga tidak pernah bertanya pada kak Andra mengenai hal tersebut.
"Iya, Ndra. Papahmu benar. Mamah tahu kalau kamu sudah lama menjomblo, karena kamu hanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Apa sekarang kamu sudah bertemu dengan wanita yang cocok untuk dijadikan sebagai calon istri?" Kali ini tante Dona yang bertanya pada putranya.
"Papah sama Mamah tidak perlu khawatir, Andra sekarang sudah punya pacar kok," jawab kak Andra. Wajahnya terlihat berseri-seri. Itu tandanya dia merasa sangat bahagia sekarang.
"Ndra, kalau kamu sudah punya calon, Om sarankan, sebaiknya kamu bawa gadis itu untuk bertemu dengan Papah dan Mamah kamu, biar bisa diseleksi cocok atau tidak untuk menjadi menantu Keluarga Bagaskara?" tambah papa Reza.
Bagaskara adalah nama kakek mertuaku. Ayah dari papa Reza dan om Doni. Kedua anak beserta ketiga cucunya menggunakan nama beliau di belakang nama mereka masing-masing.
Eh, tadi papa Reza bilang apa? Seleksi? Sepertinya keluarga ini cukup ketat dalam memilihkan jodoh untuk putra putri mereka, karena harus melewati tahap seleksi.
Tapi perasaan, aku masuk ke dalam keluarga ini tanpa melewati tahap seleksi apa pun. Kenapa calon istri kak Andra harus melewati tahap tersebut? Aneh. Jika sengaja di pikir, apa bedanya aku dengan gadis yang dipilih oleh kak Andra tersebut? Kenapa kami harus diperlakukan berbeda?
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1