Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 42


__ADS_3

Mobil kak Andra melaju cepat membelah ramainya lalu lintas kota. Sesekali aku melirik ke belakang untuk melihat, apakah mobil mas Darren ada di belakang kami ataukah tidak.


Perasaanku cukup lega karena setelah beberapa saat kak Andra melajukan mobilnya, tidak ada tanda-tanda bahwa mas Darren mengejar kami.


"Syukurlah," ucapku seraya menghembuskan napasku lega.


"Kei, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan kakak kamu, mas Darren?" tanya kak Andra. Sepertinya dia sangat penasaran mengenai hal itu. Karena tadi saat aku meneleponnya untuk meminta bantuan, aku tidak menjelaskan secara detail mengenai apa yang terjadi sebenarnya.


"Ceritanya panjang Kak. Maaf, karena aku belum bisa cerita sekarang. Kepalaku pusing, perutku juga mual karena belum makan apa-apa sejak bangun tidur."


"Serius? Kebetulan sekali kalau begitu. Tadi, waktu kamu mengirim pesan meminta bantuan, aku baru saja selesai membeli sarapan untuk om Eja."


Aku sangat terkejut. "Apa Kak? Berarti om Reza belum sarapan. Gimana dong ...? Om Reza 'kan nggak boleh telat makan."


Seketika aku merasa bersalah dan khawatir. Jangan sampai gara-gara aku, penyakit lambung om Reza jadi kambuh. Lagi-lagi aku membuat ulah karena meminta bantuan pada kak Andra.


"Sudah, makan saja. Tidak apa-apa. Makanan itu untuk kamu saja, karena kata bik Asih, dia sudah membuatkan bubur untuk om Eja, dan tadi om Eja sudah sarapan," jelas kak Andra.


Syukurlah. Aku merasa cukup lega mendengarnya. Tadinya aku pikir gara-gara aku meminta bantuan kak Andra untuk datang menolongku, om Reza jadi menunda sarapannya, dan itu tidak baik untuk kesehatan lambung beliau.


Rasa lapar yang melandaku membuatku tidak mau malu-malu lagi untuk membongkar paper bag yang saat ini berada di atas dash board mobil kak Andra, tepatnya di hadapanku. Aku segera membuka paper bag yang berisi dua porsi bubur ayam tersebut lalu mengambil salah satunya.

__ADS_1


"Kak Andra mau?" tanyaku. Rasanya sangat tidak sopan jika aku melahap bubur ayam itu tanpa menawarkan kepada pemiliknya terlebih dahulu. Meski pun sebenarnya aku hanya berbasa-basi.


"Nanti saja. Kamu saja dulu yang makan. Aku bisa sarapan nanti setelah kita sampai di rumah sakit," jawab kak Andra.


Setelah lima sendok bubur masuk ke dalam perutku, tiba-tiba aku teringat pada ponselku. Sekarang aku sudah tidak bersama mas Darren lagi, jadi untuk apa lagi aku menyembunyikannya. Tadinya saat aku masih bersama dengan mas Darren, ponselku aku sembunyikan di saku belakang celana jeans yang aku kenakan, takut ketahuan oleh mas Darren kalau aku sebenarnya sudah mengambilnya.


Begitu aku cek, layar ponselku ternyata sedang berkedip-kedip. Ada panggilan telepon masuk dari mas Darren. Sepertinya sekarang dia sudah menyadari kalau aku sedang kabur darinya. Langsung saja aku tolak panggilannya dan nomornya langsung aku blokir. Aku tidak mau lagi mas Darren kembali menghubungiku apa pun alasannya.


Setelah aku cek kembali, rupanya ada puluhan panggilan tidak terjawab di ponselku. Bukan hanya dari mas Darren saja, tapi juga ada dari ibu dan tante Rena. Melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari mereka, seketika perasaanku menjadi tidak enak. Feeling ku mengatakan, bahwa pasti terjadi sesuatu pada kak Rey.


Aku meletakkan wadah bubur ayamku ke dalam paper bag setelah menutupnya dengan rapat. Perasaan tidak enak yang muncul seketika itu membuat selera makanku lenyap begitu saja. Aku harus kembali menghubungi ibu atau pun tante Rena untuk memastikan kalau kak Rey baik-baik saja.


"Kenapa kamu hanya makan sedikit dan tidak menghabiskan buburnya?" tanya kak Andra.


Setelah beberapa saat, tidak ada yang menjawab panggilanku. Aku menelpon mereka berkali-kali tapi tidak ada yang menjawab. Aku jadi semakin gelisah dibuatnya. Aku yakin, pasti terjadi sesuatu.


Aku melihat jam di ponselku, rupanya sudah hampir 2 jam aku meninggalkan kak Rey. Hal itu membuat pikiranku semakin kacau karena aku sangat yakin kalau pasti terjadi sesuatu pada kak Rey. Sama seperti waktu itu saat aku meninggalkannya selama hampir 2 jam. Dia sampai mengalami kritis.


"Kak Andra, bisa lebih dipercepat lagi laju mobilnya. Aku ingin segera sampai di rumah sakit, Kak," ucapku lirih dengan suara bergetar menahan tangis.


"Baiklah," jawab kak Andra lalu melakukan seperti yang aku minta.

__ADS_1


Rey bertahanlah .... Aku janji sama kamu, begitu aku sampai di rumah sakit, aku akan langsung berjanji sama kamu, bahwa begitu kama sadar, aku akan menikah dengan kamu, menjalani hari-hariku bersamamu, dan menua bersamamu. Aku janji Rey, aku janji ... tapi kamu harus bangun sekarang juga. Kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku, meninggalkan semua orang. Janjiku dalam hati.


Seketika air mataku lolos begitu saja. Aku sudah tidak tahan lagi. Membayangkan kak Rey kembali mengalami kondisi kritis seperti waktu itu, aku sungguh tidak sanggup. Seketika janji yang dia minta dalam mimpi terucap begitu saja dalam hatiku, terucap dengan sungguh-sungguh, dan dari lubuk hatiku yang paling dalam.


.


.


Sekitar 10 menit kemudian. Aku dan kak Andra akhirnya sampai di rumah sakit. Begitu turun dari mobil, aku langsung berlari cepat menuju Paviliun Anggrek tempat kak Rey di rawat.


Setelah berlari beberapa saat, aku akhirnya hampir tiba di tempat tujuan. Dari jarak sekian puluh meter, aku melihat dokter Rizal bersama 2 orang perawat baru saja keluar dari kamar perawatan kak Rey. Aku ingin bertanya pada mereka tapi mereka juga sudah terlanjur menjauh. Aku tidak punya pilihan lain selain memastikan sendiri seperti apa kondisi kak Rey sekarang ini.


Begitu aku sampai di depan kamar perawatan kak Rey, buru-buru aku membuka pintu dari luar.


Ceklek.


Begitu aku masuk, jantungku semakin  berdetak hebat. Terlihat ibu, tante Rena, om Reza, Laras, bik Asih, semuanya ada di sini. Dan, dan, semuanya berkumpul dan duduk di sofa sambil menyeka air mata mereka masing-masing. Bahkan om Reza yang tidak pernah aku lihat menangis juga ikutan menangis. Hal itu membuat feeling ku menjadi semakin tidak enak. Ditambah lagi om Reza yang harusnya beristirahat di rumah sekarang ada di sini menggunakan kursi roda.


Pandanganku langsung aku tujukan pada kak Rey. Hatiku semakin remuk redam ketika melihat ada yang aneh. Selang oksigen yang biasanya selalu setia menempel di hidung kak Rey sudah di lepas, kemudian tubuhnya ditutupi dengan selimut sampai ke batas lehernya.


Jangan-jangan terjadi sesuatu, dan aku datang terlambat. Langsung saja aku berlari menghampirinya, air mataku yang tadinya sempat berhenti menetes kini kembali mengalir dengan deras.

__ADS_1


"Rey ... bangun Rey .... Huhuhu ...." Aku memeluk tubuh lemas tak berdaya itu sambil menangis dengan keras.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2