
Tanggal pernikahan? Untuk yang satu ini aku tidak boleh berbohong dan harus menjawabnya dengan jujur. Kenapa? Karena aku takut dalam salah memberikan jawaban.
"Belum. Kenapa kamu menanyakannya?" tanyaku pada kak Rey.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja."
"Oh," ucapku.
"Aku sudah lelah duduk, tolong bawa aku masuk ke dalam."
.
Setelah kak Rey tidur dan beristirahat, aku pun keluar kamar untuk menemui tante Rena. Mengenai kebohonganku kepada kak Rey beberapa hari yang lalu, beliau sudah tahu menahu mengenai hal itu dan tidak mempermasalahkannya sama sekali. Justru tante Rena malah mendukung. Dan saat ini, tante Rena adalah satu-satunya teman curhatku karena ibu sudah kembali ke Kota AB sehari sebelum kak Rey keluar dari rumah sakit.
"Tante, boleh Kei ijin keluar?" tanyaku pada tante Rena. Saat ini kami berdua sedang duduk di sofa ruang keluarga. Kamar yang ditempati oleh kak Rey juga tidak jauh dari sana.
"Boleh. Tapi untuk apa kamu keluar Sayang? Memangnya kamu mau pergi ke mana?" Tante Rena bertanya padaku. Dan aku pun menceritakan obrolanku beberapa hari yang lalu bersama kak Rey di hari pertama kak Rey siuman.
Setelah mendengarkan ceritaku, tante Rena terlihat tersenyum. "Masalah cincin tunangan, kamu tidak perlu khawatir. Sebentar ya, Tante ke kamar dulu. Kamu jangan ke mana-mana."
Berselang beberapa menit kemudian, tante Rena akhirnya kembali dari kamarnya. Dia membawa sebuah kotak perhiasan berwarna pink muda. Kotak cincin itu adalah kotak cincin yang sama yang diberikan oleh kak Rey waktu itu.
"Dari mana Tante mendapatkannya?" tanyaku penasaran.
"Waktu Rey kecelakaan, kotak ini ada di dalam saku jasnya. Jadi Tante menyimpannya baik-baik karena sudah menebak kalau cincin ini ingin dia berikan ke kamu."
Aku tersenyum lega. Akhirnya, aku tidak perlu lagi pergi keluar mencari cincin yang mirip. Dan satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya, aku juga tidak perlu lagi takut dan khawatir akan bertemu dengan mas Darren di luar sana.
"Sekarang pakailah." Tante Rena memberikan kotak cincin itu padaku, lalu aku langsung membukanya dan menyematkan cincin itu di jari manis kiriku.
"Sangat cantik, seperti orang yang memakainya," ucap tante Rena sambil tersenyum menatapku.
"Terima kasih Tante," ucapku balas tersenyum padanya.
.
__ADS_1
.
Hari sudah menjelang malam, dan sekarang aku sedang menyuapi kak Rey makan.
"Kapan kamu kembali?" tanya kak Rey setelah menelan bubur suapan pertama.
"Eh? Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.
"Itu." Kak Rey menunjuk cincin yang aku kenakan.
"Oh, ini." Aku tersenyum menatap cincin itu. Benar-benar cantik. Sepertinya selera kak Rey sangat bagus dalam memilih cincin.
"Apa kamu tidak takut meninggalkan aku di sini sendirian?" tanyanya sambil menatapku dengan lekat. Entahlah, kak Rey yang ada di hadapanku saat ini tidak seperti kak Rey yang sedang amnesia.
"Ap-apa maksudmu? Di sini ada banyak sekali pelayan. Kenapa aku harus takut? Di sini banyak sekali orang yang bisa menggantikan aku menjaga kamu kalau aku sedang pergi keluar," jawabku.
Aku yakin, kak Rey pasti berpikir bahwa aku pulang ke rumah untuk mengambil cincin ini. Padahal, aku tidak pernah keluar ke mana-mana.
"Kamu juga pergi tanpa sepengetahuanku, juga tanpa meminta ijin terlebih dahulu padaku," katanya lagi tanpa menghiraukan ucapanku barusan.
"Aku sudah kenyang." Kak Rey memalingkan wajahnya ke samping. Sepertinya dia sedang marah padaku.
"Loh, kamu marah sama aku?" tanyaku pada kak Rey. Melihat kak Rey terdiam, sepertinya tebakanku memang benar. Dia sedang mengambek.
"Aku 'kan sudah minta maaf. Ayo, dimakan lagi buburnya," bujukku. Kak Rey sudah seperti anak kecil saja. Makan saja harus dibujuk.
Berkali-kali kemudian aku membujuk kak Rey, akan tetapi dia tetap pada pendiriannya, tetap tidak mau makan. Sampai aku kemudian berkata, "Rey, kalau kamu nggak mau makan, aku juga nggak akan makan."
Aku meletakkan mangkuk bubur kak Rey di atas meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Mendengar ancamanku, dia akhirnya berbalik menatapku lalu menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Ya sudah, suapi aku sekarang."
Aku tersenyum, lalu kembali menyuapi kak Rey hingga buburnya habis tak bersisa.
"Nah, gitu dong. Kamu harus makan banyak biar cepat sembuh. Liat tuh, dua bulan lebih di rumah sakit, badan kamu jadi kurus begitu."
__ADS_1
Kak Rey terdiam, dia tidak menggubris ucapanku sama sekali. Sampai aku kemudian hendak melangkah keluar dari kamarnya, dan dia pun berkata, "Kamu mau ke mana?"
"Aku mau keluar ke meja makan buat makan malam. Kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?" tanyaku ingin memastikan sebelum ikut bergabung di meja makan bersama penghuni lain di mansion ini.
"Tidak usah, kamu di sini saja," jawabnya.
"Loh, kenapa? Aku sudah ditunggu loh sama mama kamu."
"Kalau aku bilang tidak usah ya tidak usah. Kamu makan di sini saja. Nanti aku telepon kepala pelayan untuk membawakan makanan untukmu ke kamar."
"Tapi jawab dulu alasannya apa? Kenapa kamu melarang aku makan di luar?" tanyaku heran. Aku butuh penjelasan kenapa dia melarangku untuk keluar dari kamar.
"Siapa yang akan menemaniku di sini kalau kamu keluar?" tanyanya lagi.
"Oh, masalah itu. Aku bisa memanggil bi Asih untuk menemani kamu. Kamu nggak keberatan, 'kan ditemani oleh bi Asih?"
"Ck, pokoknya aku tidak mau. Aku hanya ingin ditemani oleh kamu, tidak mau yang lain."
Mau tidak mau aku pun terpaksa menuruti permintaan kak Rey. Entah mengapa dia terlihat sangat ngotot dan kekanak-kanakan setelah keluar dari rumah sakit.
Setelah memastikan aku makan malam di dalam kamar disaksikan langsung olehnya, kak Rey pun kemudian berbaring di bantu olehku. Katanya dia sudah sangat mengantuk dan ingin segera tertidur.
.
Setengah jam kemudian. Ku lihat kak Rey sudah tertidur dengan pulas, aku pun mengambil bantal dan selimut untuk berbaring di atas sebuah sofa panjang yang ada di dalam kamar itu. Karena tidak punya teman bebicara, aku pun jadi mengantuk dengan cepat, padahal baru jam 8 malam lewat sedikit.
"Kenapa kamu tidur di sofa?" Kak Rey bertanya padaku. Rupanya dia belum tertidur, tadinya aku pikir dia sudah terlelap.
"Memangnya aku harus tidur di mana kalau bukan di sini? Di kamar sebelah? Siapa yang membantu kamu kalau kamu tiba-tiba butuh sesuatu dan aku tidak ada di sini?" jawabku balik bertanya.
"Kamu tidur di sini." Kak Rey menepuk kasur yang ada di sebelahnya.
"Ih, enak saja. Kita belum menikah, jadi nggak boleh tidur bersama."
Kak Rey terlihat tersenyum. "Memangnya kamu pikir aku akan berbuat apa padamu? Bangun saja harus kamu bantu, bagaimana bisa melakukan hal yang lebih dari itu?"
__ADS_1
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Iya juga sih. Apa yang aku pikirkan. Dengan kondisinya yang sekarang, kak Rey tidak mungkin bisa macam-macam padaku.