
"Kei, berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia sendiri perbuat. Apa kamu pikir, dengan kamu ikut menyalahkan Mas juga, Mas akan merasa kasihan dan merelekan kamu sama dia? No. Big no. Kamu salah. Mas akan terus memperjuangkan kamu bagaimana pun caranya. Termasuk dengan membawa kamu pergi jauh dari kota ini," ucap mas Darren.
"Mas! Mas Darren beneran udah gila, ya?"
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan mas Darren. Bisa-bisanya dia berpikiran nekat seperti itu dan mengambil keputusan dalam waktu singkat.
"IYA! Mas memang sudah gila! Bukannya tadi Mas sudah bilang, kamu yang sudah membuat Mas gila seperti ini!" teriaknya.
Melihat sikap mas Darren yang semakin menjadi-jadi, yang bisa aku lakukan hanya menangis. Aku tidak bisa berbuat apa-apa apalagi melawan.
Sudah sekitar setengah jam mas Darren melajukan mobilnya. Rupanya, tempat yang kami tuju saat ini adalah rumahnya mas Darren.
"Tetap di sini dan jangan ke mana-mana. Jangan pernah berpikir untuk kabur dari Mas." Mas Darren berkata seraya memperingatiku.
Dia lalu turun dari mobilnya. Dia membiarkan aku di dalam mobil sendirian dan mungunci pintunya sehingga aku tidak bisa melakukan usaha untuk kabur.
Aku hanya bisa menangis melihat punggung mas Darren hilang di balik pintu rumahnya. Tiba-tiba aku teringat dengan ponselku yang tadi dia lempar ke jok belakang mobilnya. Aku pun segera bergerak ke belakang untuk mencarinya. Tidak butuh waktu lama untuk aku mendapatkan apa yang aku cari karena rupanya ponselku mendarat cantik di jok penumpang paling belakang.
Aku mulai mengecek ponselku. Rupanya sedari tadi kak Andra kembali menghubungiku. Ada puluhan panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan darinya. Tadi aku tidak mendengar ponselku berdering karena ponselku dalam mode diam.
Buru-buru aku menghubungi kak Andra kembali sebelum mas Darren keluar dari rumahnya dan kembali masuk ke dalam mobil. Aku tidak mau ketahuan mas Darren, karena kalau aku sampai ketahuan, mas Darren pasti akan sangat marah. Entah apa yang akan dia lakukan nanti kalau dia marah padaku. Yang jelas, sosok mas Darren yang seperti sekarang ini membuat aku sangat takut.
"Kak Andra tolong aku ..." ucapku dengan lirih sambil terus menangis saat kak Andra menjawab panggilanku.
__ADS_1
"Kei, kamu di mana, dan apa yang terjadi sebenarnya?" Suara kak Andra terdengar sangat panik.
"Aku dikurung mas Darren di dalam mobil. Tolong cepat datang tolong aku Kak, sebelum mas Darren membawa aku pergi jauh."
"Mas Darren? Apa maksudnya ini Kei? Aku benar-benar tidak mengerti. Untuk apa kakakmu membawa kamu pergi, dan kenapa dia mau membawa kamu pergi? Dan, dan kakakmu mau membawa kamu pergi ke mana?" Kak Andra memberondongiku dengan beberapa pertanyaan.
Aku yakin, kak Andra pasti merasa kebingungan. Hal itu wajar saja karena tidak ada yang tahu menahu mengenai hubungan spesial yang sangat rumit yang sedang aku jalin dengan kakak tiriku tersebut.
"Aku nggak bisa jelasin sekarang Kak. Pokoknya Kak Andra datang aja ke sini, bawa aku kembali ke rumah sakit secepatnya. Aku khawatir terjadi apa-apa pada kak Rey kalau aku semakin lama meninggalkannya."
"Oh, oke. Share lokasi kamu sekarang. Biar aku bisa melacak keberadaan kamu," ucap kak Andra.
"Baik, Kak," jawabku.
.
Kurang lebih 10 menit kemudian. Mas Darren muncul dari balik pintu rumahnya sambil membawa sebuah koper berukuran besar. Sepertinya mas Darren serius ingin membawaku pergi bersamanya. Tapi aku tidak tahu dia mau membawaku pergi ke mana?
Aku sangat berharap, semoga saja kak Andra bisa segera datang dan menolongku. Lalu membawaku kembali ke rumah sakit. Pasalnya, sudah hampir satu jam aku meninggalkan kak Rey. Aku merasa sangat khawatir memikirkan keadaannya. Aku sangat takut kejadian beberapa waktu lalu kembali terulang.
Mas Darren berjalan menuju mobilnya sambil menarik koper dan berbicara dengan seseorang di telepon.
"Apa kamu sudah memesan tiket pesawatnya, Don?" Mas Darren bertanya pada lawan bicaranya di telepon saat dia baru saja masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Apa? Tiket pesawat? Mendengar kata tiket pesawat sukses membuat aku terkejut. Rupanya mas Darren tidak main-main ingin membawa aku pergi jauh bersamanya. Dia menyuruh Donny, manajernya di restoran untuk mem-booking tiket pesawat untuk kami.
Entah mas Darren mau membawa aku pergi ke kota mana. Semoga saja kak Andra bisa datang menolongku sebelum mas Darren terlanjur membawaku pergi jauh.
Begitu selesai berbicara dengan manajernya di telepon, mas Darren kembali melajukan mobilnya, dan aku sangat yakin bahwa tujuannya adalah bandara. Untungnya jalan menuju bandara harus melewati jalan menuju rumah sakit, jadi mas Darren harus putar balik lagi ke sana.
Aku sangat berharap bisa kabur dari mas Darren begitu kami sudah dekat dengan lokasi rumah sakit. Tapi aku juga sangat berharap kak Andra bisa datang secepatnya menolongku agar aku bisa segers kembali ke rumah sakit secepatnya.
Sepanjang perjalanan aku hanya terus terdiam dan terus-terusan menatap ke arah luar. Aku tidak mau lagi menatap wajah mas Darren. Entah mengapa melihat wajahnya saja aku enggan. Semakin menatapnya malah membuat aku semakin sakit hati.
Tapi ada yang aneh, sepertinya sakit hatiku bukan lagi sepenuhnya sakit hati karena putus cinta, tapi rasanya seperti sakit hati yang lain. Aku juga tidak mengatakan kalau aku membenci mas Darren. Tidak sama sekali. Hanya saja sikapnya pagi ini membuat aku jadi kurang respect lagi padanya.
Saat ini, anggapan aku terhadap mas Darren bahwa dia adalah seorang pria yang baik hati dan lembut sepertinya sudah tidak ada lagi. Tapi aku sadar, perubahan sikap mas Darren terjadi juga karena ulahku. Andai saja aku tidak menyakitinya, dia pasti tidak akan berubah menjadi seperti sekarang ini. Lagi-lagi aku berbuat ulah dan membuat orang-orang terdekatku menjadi korban. Huft.
.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, aku dan mas Darren sama-sama terdiam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua. Aku tidak lagi bertanya pada mas Darren ke mana dia akan membawaku, karena ujung-ujungnya pasti kami akan saling berdebat dan kembali melukai perasaan satu sama lain.
Hingga pada saat kami sampai di lampu merah. Aku melihat sebuah mobil putih yang tidak asing tepat di samping kiri mobil mas Darren. Sepertinya aku kenal dengan mobil itu.
Perlahan-lahan kaca mobil itu mulai turun dan menampakkan siapa pengemudinya. Aku merasa sangat bersyukur bisa melihat kak Andra di sana. Ternyata dewa penyelamatku sudah sangat dekat dengan posisiku. Kak Andra seperti memberiku kode isyarat agar aku keluar dari mobil mas Darren. Apa sekarang aku kabur saja ya?
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1