Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 63 - END


__ADS_3

2 Minggu sudah berlalu semenjak pertemuan aku dengan mas Darren waktu itu. Waktu itu Mas Dareen tidak banyak berkata-kata sebelum pergi meninggalkan aku sendirian di toko. Dan semenjak waktu itu, aku dan mas Darren tidak pernah lagi bertemu.


Aku sangat berharap, mas Darren bisa ikhlas melepaskan dan merelakan aku untuk hidup bahagia bersama suamiku. Aku sangat berharap, suatu saat nanti di luar sana, mas Darren bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari aku dan Felicya. Wanita yang bisa menerima segala lebih dan kurangnya mas Darren.


Oh iya, hari ini adalah hari dimana resepsi pernikahanku dengan kak Rey selenggarakan. Dan sekarang, aku sudah siap dengan gaun pengantinku.


Aku tersenyum menatap pantulan wajahku di cermin. Aku benar-benar sangat puas melihat hasil riasan MUA yang disewa oleh mama Rena untukku. Saking panglingnya, bahkan aku sendiri tidak bisa mengenali bahwa wanita cantik yang ada di dalam cermin itu adalah bayangan dari diriku sendiri.


"Sayang, apa kamu sudah siap?"


Mendengar suara suamiku dari arah belakang, aku pun langsung berbalik. Aku tersenyum saat melihat suamiku sekarang sudah berdiri sekitar 3 meter di hadapanku. Saat ini dia terlihat sangat tampan dengan balutan setelan jas berwarna putih.


Ku lihat kak Rey juga tersenyum menatapku. Dari caranya menatapku, sepertinya dia terpanah dengan penampilanku saat ini.


"Sayang, kamu cantik sekali hari ini," ucapnya seraya berjalan ke arahku.


Aku tersenyum sambil menunduk malu-malu saat kak Rey tak bisa berkedip menatapku.


Saat ini kak Rey sudah berdiri tepat di hadapanku. Dia melingkarkan tangan kirinya di pinggangku, sementara tangan kanannya membelai pipiku dengan lembut.


"Sayang, kamu benar-benar terlihat semakin cantik hari ini, rasanya aku ingin menculikmu dan membawamu ke kamar pengantin kita."


"Jangan bercanda, di luar sana sudah banyak tamu yang sedang menunggu kita." Aku berkata seraya tersenyum dan mendongak menatap wajah tampan milik suamiku.


Kak Rey tertawa kecil lalu mencium keningku cukup lama, membuat diriku merasakan kedamaian dan kesejukan di dalam dada. Aku benar-benar sangat bahagia bersamanya.


"Sayang, terima kasih karena kamu sudah memilihku. Memilikimu membuatku merasa bahwa aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini," ucapnya seraya menempelkan keningnya di keningku. Ujung hidung kami juga saling bersentuhan, sehingga kami bisa saling merasakan hangatnya hembusan napas yang menerpa wajah kami masing-masing.


"Bukan hanya kamu yang ingin berterima kasih, aku pun sama," jawabku.


"Untuk apa kamu berterima kasih padaku?" Kak Rey bertanya seraya menatapku dengan lekat.


Aku tersenyum, lalu menyentuh wajah suamiku menggunakan kedua tanganku. "Aku berterima kasih karena kamu juga sudah memilihku. Dari sekian banyak wanita cantik di luar sana, aku sangat berterima kasih karena kamu memilih aku, yang jelas-jelas memiliki banyak kekurangan serta kesalahan. Yang sebenarnya jika kamu mau, kamu bisa memilih wanita mana pun yang lebih dari segala-galanya dari-"


Kak Rey tiba-tiba saja menempelkan jari telunjuknya di bibirku. "Sst. Jangan bicara seperti itu Sayang. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Aku memilihmu karena hanya kamu satu-satunya yang mampu membuat hatiku bergetar sejak pertama kali melihatmu. Dan di mataku, kamu adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui."


Sejenak kami saling diam, lalu kemudian perlahan-lahan kak Rey mulai mendekatkan bi*irnya ingin menc*um bi*irku, sementara aku memilih untuk memejamkan mataku untuk menikmati sentuhan yang diberikan olehnya. Namun, belum sampai bi*bir kak Reyย  menyentuh bi*birku, tiba-tiba Laras datang dan mengacaukan semuanya.


"Ish, ish, ish .... Pantes aja kalian berdua nggak keluar keluar, ternyata kalian berdua lagi asyik mesra-mesraan di dalam sini," kata Laras.


Aku yang malu karena kepergok hanya bisa salah tingkah. Aku tertawa dan memeluk suamiku dengan erat. Aku menyembunyikan wajahku di balik dada bidangnya. Sedangkan kak Rey, dia juga ikut tertawa dan balas memelukku dengan sayang.


"Sudah, sudah. Mesra-mesraannya nanti kapan-kapan. Sekarang, ayo kalian berdua keluar dulu. Semua orang sudah menunggu kalian dari tadi," ucap Laras sebelum akhirnya menutup kembali pintu lalu pergi.


"Ayo Sayang." Kak Rey berkata seraya menggenggam tanganku, sedangkan aku membalas ajakan suamiku dengan anggukan.

__ADS_1


Begitu kami keluar, sebelum memasuki ballroom hotel tempat resepsi pernikahan kami diselenggarakan, tanganku yang tadinya digenggam erat oleh kak Rey kini beralih menggandeng lengannya. Kedatangan kami disambut dengan penuh kekaguman dan penuh suka cita oleh para tamu undangan yang sudah ada di dalam sana.


Begitu kami sudah sampai di atas pelaminan, para tamu undangan datang silih berganti mengucapkan selamat pada kami berdua, hingga sampailah pada giliran seseorang yang membuat suamiku terlihat sangat tidak suka, tetapi dia tetap memaksakan untuk tersenyum. Mungkin takut ibu dan ayah Gilang curiga kalau hubungan kami berdua dengan mas Darren sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.


Selama beberapa saat, kami bertiga sama-sama saling terdiam, lalu kemudian mas Darren yang mulai membuka pembicaraan.


"Dek, selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia selalu." Mas Darren berkata seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Bibirnya terlihat tersenyum dipaksakan.


"Makasih, Mas," ucapku seraya ingin membalas uluran tangan mas Darren tapi langsung didahului oleh suamiku. Sekarang malah kak Rey yang berjabat tangan dengan kakak tiriku tersebut. Suamiku membalas uluran tangan mas Darren seraya mengucapkan terima kasih pula.


Mas Darren terlihat sangat kecewa, tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum paksa.


"Dek, hari ini ... Mas ingin pergi jauh meninggalkan kota ini. Mas harap, kamu berbahagia dengan pernikahanmu."


Aku hanya membalas ucapan mas Darren dengan anggukan kepala, tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya sedih juga melihat dia seperti sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi?


"Boleh Mas memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" Mas Darren bertanya seraya menatapku dengan lekat. Sedari tadi dia seperti enggan menatap pada kak Rey. Mungkin karena mereka saling bermusuhan tanpa diketahui oleh banyak orang.


Begitu mas Darren merentangkan sedikit tangannya untuk memelukku, tiba-tiba saja Kak Rey yang membalas pelukannya. Jangankan pelukan, berjabat tangan saja suamiku sampai menggantikan aku. Apalagi yang seperti ini.


"Terima kasih, terima kasih." Kak Rey berkata seraya menepuk-nepuk pelan punggung mas Darren, tidak lama kemudian mereka saling melepas pelukan.


Sebelum turun dari pelaminan, mas Darren berpesan pada suamiku, "Jaga dia baik-baik. Jangan pernah berani-berani menyakitinya, apalagi menyia-nyiakannya. Dan jangan pernah memberikan aku kesempatan untuk merebutnya kembali darimu."


"Kei, Mas pergi." Mas Darren berkata seraya turun dari pelaminan.


Setelah mas Darren turun, suamiku tiba-tiba saja merangkul pinggangku. Dia menunduk dan menatapku sambil tersenyum. Aku pun membalasnya dengan hal yang sama.


...****************...


Pesta telah usai. Sekarang aku dan kak Rey sudah berada di dalam kamar pengantin kami. Di dalam sebuah kamar presidential yang memang sengaja disiapkan untuk kami berdua.


"Sayang, aku punya sesuatu untuk kamu." Kak Rey berkata sambil tersenyum dan menggandeng tanganku menuju tempat tidur.


Terlihat dua buah kotak kado berukuran sama ada di atas tempat tidur sana. Yang berwarna biru itu adalah hadiah yang sudah aku siapkan untuk suamiku. Sedangkan yang berwarna merah muda itu, itu pasti kado yang ingin dia berikan untukku. Sepertinya kami berdua sama-sama memiliki hadiah kejutan kami masing-masing.


"Aku juga punya," ucapku sembari balas tersenyum padanya.


"Oh, ya? Kita lihat, kejutan siapa nanti yang paling bagus." Kak Rey berkata seolah-olah hadiah yang ingin dia berikan padaku adalah hadiah terbaik yang pernah ada.


"Baiklah. Siapa takut?" ucapku dengan penuh rasa percaya diri. Aku juga sangat yakin bahwa hadiah yang ingin aku berikan padanya tidak kalah bagusnya.


Sekarang, aku dan kak Rey sudah sama-sama duduk di atas tempat tidur. Dan kami sama-sama memegang kado masing-masing. Di tanganku sudah ada hadiah pemberian kak Rey, begitu pula sebaliknya.


"Sayang, kita buka sama-sama, ya. Jangan sampai ada yang menangis setelah membuka kadonya." Kak Rey berkata lalu tertawa. Aku jadi semakin penasaran, kira-kira hadiah apa yang ingin dia berikan padaku. Kenapa dia terlihat percaya diri sekali. Aku jadi semakin tidak sabar ingin segera membukanya.

__ADS_1


"Kita hitung sampai 3, kita buka bersamaan ya," ucap kak Rey dan aku langsung menyetujuinya.


"1, 2, 3."


Begitu sampai pada hitungan ke 3, kami berdua pun langsung membuka kado kami masing-masing. Dan seketika itu, ruangan luas ini langsung hening seketika.


Memang benar apa kata suamiku. Rasanya aku ingin menangis saking bahagianya begitu melihat isi kado pemberiannya. Sebuah kertas kecil yang bertuliskan 'Rumah Kita', dan di balik kertas kecil itu, ada beberapa lembar foto rumah peninggalan ayah yang dulu pernah kami jual. Dari foto yang aku lihat, sepertinya rumah itu sudah direnovasi hingga berubah menjadi lebih cantik seperti gambar di dalam foto. Tapi meski pun sudah direnovasi, akan tetapi aku tetap bisa mengenalinya. Dan aku tidak pernah menyangka, bahwa yang membeli rumah itu dulu adalah suamiku sendiri.


"Re-Rey, rupanya kamu ... rupanya kamu yang sudah membeli rumah ini." Saking terharu dan bahagianya, aku tidak bisa tahan untuk tidak menangis. Aku tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya aku bisa kembali lagi ke rumah itu.


"Hem," gumamnya dengan suara bergetar.


Eh, sepertinya ada yang salah dengan suara suamiku. Aku menoleh melihat ke arahnya, rupanya dia sudah menangis, bahkan air matanya lebih banyak dari air mataku.


"Eh, kamu kok juga menangis-" Ucapanku langsung terhenti saat suamiku langsung memelukku dengan erat.


"Terima kasih Sayang, terima kasih. Aku akui, hadiah yang kamu berikan untukku jauh lebih luar biasa dari apa yang aku berikan untukmu."


Aku tersenyum, sambil balas memeluknya. "Yang jelas, dua-duanya sama-sama luar biasa."


"Tidak Sayang. Yang jelas hadiahmu jauh lebih lebih dan lebih luar biasa. Sebentar lagi, kamu akan membuatku menjadi seorang ayah, dan aku memang sudah tidak sabar menantikan moment itu."


"Aku juga," ucapku sembari tersenyum.


Setelah beberapa saat berpelukan, Kak Rey akhirnya melepaskan pelukan kami. Dia kemudian beralih menciumi perutku yang masih rata.


"Halo Sayang, sepertinya Papa sudah tidak sabar harus menunggu sampai 8 bulan ke depan," ucapnya seraya mengusap lembut perutku yang masih rata dan masih ditutupi oleh gaun pengantin yang aku kenakan.


"Sayang, ayo kita lanjutkan yang tadi pagi, hal yang sempat tertunda karena kedatangan Laras." Kak Rey berkata seraya membelai rambut dan pipiku dengan lembut, dan aku kemudian menjawab ajakan suamiku dengan anggukan.


Perlahan-lahan kak Rey mulai mel*cuti kain yang menempel di tub*hku satu per satu. Setelah itu dia juga melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Setelah tub*h kami sama-sama pol*s, penyatuan pun kembali terjadi setelah kami melakukan pemanasan selama beberapa saat.


Ruangan ini menjadi saksi bisu cinta kami berdua. Setiap hentakan demi hentakan kak Rey lakukan dengan sangat pelan dan lembut, takut melukai malaikat kecil yang mulai tumbuh di dalam rahimku.


"I love you, Sayang."


"I love you too."


...~S e l e s a i~...


...____________________________________...


Huft leganya ... akhirnya cerita ini bisa tamat juga. Terima kasih buat teman-teman pembaca sekalian yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita receh ini. Author sadar, banyak pembaca yang kurang puas dengan alur dan akhir dari cerita ini. Terbukti saat banyak pembaca yang unfavoritkan cerita ini dari rak buku mereka๐Ÿ˜† Author tahu kok, cerita ini memang sangat menyebalkan, serta si tokoh utama yang juga tidak kalah menyebalkannya (Kei).๐Ÿ˜…


But, tidak apa-apa. Kalian para pembaca berhak untuk melakukan hal itu. Kalian membaca novel untuk mencari hiburan, bukan untuk mencari kerumitan, karena kehidupan di dunia nyata sebenarnya sudah cukup rumit bagi sebagian orang.๐Ÿคญย  Kalian sudah mampir dan membaca cerita ini setengah jalan saja Author sudah sangat berterima kasih, apalagi kalian yang sudah membaca cerita ini sampai akhir, Author mengucapkan beribu-ribu ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya pada kalian semua.

__ADS_1


Oh iya, karena cerita ini sudah tamat, bagi yang berkenan, boleh mampir dan mendukung karya baru Author. Judulnya 'One Night Love Devil'. Mungkin sebagian dari kalian sudah ada yang pernah membaca 3 bab yang Author upload sebelum mengupload bab ini, tapi mungkin ada juga yang belum tahu karena 3 bab itu sudah mereka skip.


Mungkin cukup sekian sapa-sapaan dari Author karena sepertinya sudah teramat panjang. Sekali lagi Author mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya pada kalian semua. See you again ๐Ÿ˜‰ Luv๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2