Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 51


__ADS_3

"Begini, Tante sama om berpikir begini, bagaimana kalau kalian berdua menikah saja secepatnya? Mumpung ibu dan ayah kamu masih ada di kota ini, dan belum kembali ke Kota AB. Tante sama om juga sebenarnya tidak enak kalau harus terus merepotkan kamu untuk terus merawat Rey, apalagi kalian berdua belum ada ikatan pernikahan. Kalau kalian berdua sudah menikah, ya tidak ada masalah. Itu 'kan memang kewajiban kamu untuk merawat putra kami sebagai suami kamu." Tante Rena menjelaskan padaku panjang lebar.


Sementara itu, aku sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Dikarenakan dari awal aku memang sudah mempersiapkan diri untuk menikah dengan kak Rey cepat atau lambat.


"Kalau Kei mengikut apa pun keputusan Tante sama Om bersama ibu dan ayah Gilang," jawabku.


Tante Rena tersenyum. "Bagus. Tante sangat senang mendengarnya. Kalau begitu, persiapkan diri kalian untuk besok. Kalian akan menikah besok," imbuh tante Rena.


"Apa? Besok Tante?" tanyaku. Aku merasa sedikit terkejut. Apakah harus secepat itu kami menikah? Tadinya aku pikir masih ada waktu sekitar beberapa minggu lagi, mengingat kondisi kak Rey yang belum stabil hingga sekarang.


Tante Rena kembali tersenyum. Sementara kak Rey tidak menampakkan ekspresi apa-apa sama sekali. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Entah dia setuju dengan pernikahan kami atau tidak. Dia tidak memberikan tanggapan atau komentar apa pun.


"Maaf ya, Tante membuat kamu terkejut. Eh, lebih baik sekarang kamu memanggil Tante dengan sebutan Mama, karena besok kamu akan menjadi putri menantu Mama."


"Baik Tan, eh, baik Ma," jawabku. Aku masih belum terbiasa memanggil tante Rena dengan sebutan 'Mama'.


"Kalau begitu, Mama mau siap-siap dulu ya, Mama mau menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk besok." Mama Rena berkata seraya hendak beranjak dari duduknya.


"Eh, Ma. Tunggu sebentar." Aku menarik pergelangan tangan mama Rena. Aku masih ingin menanyakan sesuatu hal pada beliau.


"Ada apa Sayang?" tanyanya.


"Bagaimana dengan Rey, Ma? Rey 'kan masih belum sanggup berdiri teralu lama," tanyaku. Aku mengkhawatirkan kak Rey yang saat ini masih belum bisa berdiri dan duduk terlalu lama. Bahkan berjalan pun sekali-kali dia masih perlu dipapah.

__ADS_1


"Soal itu, kamu jangan khawatir. Mengetahui kalian akan menikah besok, Rey pasti bisa lebih bersemangat untuk sembuh," jawab mama Rena sembari tersenyum dan melirik putranya. "Iya 'kan, Rey?"


"Hem," jawab kak Rey.


Dari ekspresi kak Rey yang terlihat sangat datar, aku khawatir kak Rey masih belum bisa menerima aku untuk menjadi istrinya. Selain karena sikapnya yang berubah drastis setelah dia amnesia, dia juga belum mengingatku sama sekali. Mungkin bagi kak Rey, aku ini hanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya begitu dia terbangun dari tidur panjangnya.


Setelah mama Rena meninggalkan kami berdua saja, aku pun berkata pada kak Rey, "Kalau kamu belum siap menikah sama aku, nggak apa-apa kalau pernikahan kita ditunda dulu, sampai kamu sendiri sudah siap dan sudah mengingat siapa aku."


Mendengar ucapanku, bukannya menjawab, kak Rey malah menatapku dengan tatapan tajam. Apa dia sedang marah? Tapi apa yang membuatnya marah? Atau mungkin aku sudah salah bicara.


"Aku salah ngomong, ya?" tanyaku seraya menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Melihat tatapan kak Rey yang seperti itu membuatku jadi takut.


"Maaf. Aku pikir tadi kamu nggak mau nikah sama aku karena wajah kamu nyaris tanpa ekspresi saat mendengar ucapan mama yang ingin kita berdua segera menikah besok," ucapku lagi.


"Jadi kamu mau aku menanggapi ucapan mama seperti apa? Jingkrak-jingkrak kegirangan, atau menggendong kamu keliling komplek? Apa kamu lupa, aku masih belum bisa melakukan itu semua?" Jawaban kak Rey menurutku sedikit menohok. Padahal bukan itu sebenarnya yang ingin aku dengar. Alhasil aku hanya bisa menggaruk-garuk tengkukku yang tidak gatal. Aku tidak berani lagi berkata apa pun, takut malah kena semprot nanti. Apalagi melihat ekspresi wajah kak Rey yang sepertinya terkadang kurang bersahabat semenjak dia lupa ingatan dan melupakan segala hal tentang aku.


.


.


Dari sekian banyak kebaya pengantin, pilihanku jatuh pada kebaya berwarna putih yang terlihat lebih simpel dari yang lainnya. Tapi meski pun simpel, kebayanya tetap terlihat elegan.


Aku tidak terlalu suka kebaya yang terlalu wah dan mentereng, mengingat acara pernikahan kami hanya diselenggarakan secara sederhana besok, hanya mengundang kerabat terdekat saja. Sedangkan resepsinya rencananya akan diselenggarakan nanti begitu kak Rey sudah kembali pulih dan sehat seperti sedia kala.

__ADS_1


"Kenapa kami tidak memilih kebaya yang warna soft pink tadi? Yang itu menurutku paling cocok denganmu," tanya kak Rey begitu para karyawan butik sudah keluar semuanya meninggalkan kami berdua.


Aku menggeleng. "Aku lebih suka yang warna putih tadi karena di bagian dadanya lebih tertutup. Kalau yang berwarna soft pink itu memang cantik, tapi belahan dadanya terlalu rendah. Terlalu seksye menurutku."


"Ya sudahlah. Terserah kamu. Yang mau memakainya 'kan kamu, bukan aku. Jadi pendapatku barusan jangan terlalu kamu masukkan ke dalam hati."


.


.


Rasanya waktu berjalan dengan sangat cepat. Rasanya baru saja aku selesai memilih kebaya pengantin, dan baru saja selesai melakukan treatment kecantikan di dalam kamar, eh, tahu-tahunya hari sudah hampir malam saja. Oh iya, tadi siang juga datang 2 orang karyawan salon, mama Rena yang memanggilnya datang kemari untuk memberikanku perawatan kecantikan agar terlihat lebih cerah dan glowing besok. Hehe.


"Kei, sebaiknya kamu tidur di kamar Rey yang ada di lantai atas ya, Rey biar Mama yang menemani di sini untuk malam ini," ucap mama Rena.


"Baik, Ma." Aku menurut menurut saja apa pun yang dikatakan oleh mama Rena.


"Tapi, Ma-" Baru saja kak Rey ingin melakukan aksi protes akan keputusan mama Rena, tapi mama Rena langsung memotong ucapannya.


"Rey ... sebelum tiba waktu ijab qabul besok, kalian berdua tidak boleh bertemu. Mengerti!" tegas mama Rena.


"Tap-"


"Rey, dilarang protes. Lagian, apa susahnya sih menahan rindu sebentar saja? Tidak sampai 24 jam kok, ya?" ujar mama Rena lagi.

__ADS_1


"Kei, cepat ambil barang-barangmu dan bawa ke atas. Jangan pedulikan Rey yang merengek seperti anak kecil karena tidak mau berpisah sama kamu," titah mama Rena.


"Baik, Ma." Aku tersenyum melihat wajah kak Rey yang terlihat sangat tidak rela berpisah denganku. Dasar. Lupa sama aku tapi tidak mau berpisah. Selalu bikin kesal tapi tidak mau ditinggal. Dasar.


__ADS_2